GADIS
DALAM KABUT
Dara
jelita dalam kisah tsunami
Wajah
yang anggun terkadang menyimpan rasa
Bertarung
untuk hidup
Belajar
untuk berjuang kedepan
Meraih
cita-cita yang lebih baik
Mimpi-mimpi
buruk dimasa lalu
Mimpi-mimpi
baik sekarang
Mimpi-mimpi
indah kebahagiaan dimasa datang dan selamanya
Hati
dara jelita terbuaikan kumbang
Namun
ketegaran hati dan ketabahan
Tak
akan pudar dari hatinya
Ia
tetap berdiri diatas kakinya
Dalam
suasana kelam tanah bergetar
Langit
laksana jatuh ketanah
Goncangan
yang meratakan istana-istana kecantikan
Kesenangan
dan kesedihan
Lalu
tanpa terduga laut berguncang, menggumpal
Ombak
besar bergulung-gulung menghampiri
Sosok
dara jelita menangis sendiri tak tahu arah
Kemana
hendak berlari
Dalam
suasana hati yang selalu mengucap Doa kehadirat ilahi
Tiba-tiba
ia tertolong oleh sebuah puing-puing pencakar langit
Yang
runtuh oleh amarah ombak
Bertahan
dan terus bertahan
Hingga
akhirnya kembali manapakkan kakinya
Ditanah
tercinta yang telah bersih dari segala dusta
Dan
segala dosa-dosa perbuatan hina
Popoen Atjeh
Akhir Ramadhan 2005
HARI
YANG KELAM
Batapa
damainya hari
Angin
indah datang menyapa
Terlihat
keanehan di ufuk timur
Burung-burung
camar berterbangan kearah gunung dan tak pernah kembali
Setitik
cahaya kilat malam merebak
Gerimis
senja datang
Menghampa
dalam genangan racun
Mencoba
berikan ungkapan hatinya
Malam
panjang penuh harapan untuk menanti esok tiba
Dimana
perasaan gundah gelisah
Takdir
hanya ungkapan alam
Sang
fajar datang menyelubungi dinding-dinding dan celah-celah
Kehidupan
yang akan datang
Semua
aktivitas berjalan semestinya
Tiba-tiba
guncangan tanah bergetar
Hati
dan jantung bagaikan terombang-ambing
Bangunan
hanya tinggal puing
Air
laut surut…
Namun
tiba-tiba gelombang itu menerpa
Gulungan
ombak air laut datang tanpa ada batas
Mengangkat
semua apa yang ada
Hingga
tinggal genangan merah mencekam
Aroma
pemakaman terhirup angin
Menyampaikan
pesan keseluruh pelosok
Ingin
mangatakan bahwa inilah azab dan kesengsaraan
Bagi
pemuja-pemuja kemunafikan
Popoen Atjeh
23-10-2005
MALAM-MALAM
PANJANG
Malam
gelap gulita
Setelah
keremangan senja datang
Segala
mata hati tertutup
Segala
tubuh terbujur kaku
Malam
berpakaian hitam
Untuk
menunjukkan duka citanya
Bagaikan
istri yang bergaun hitam
Setelah
suaminya berlalu menjadi debu!
Seorang
wanita dengan gaun merahnya
Datang
menyapaku
Aku
bertanya siapakah gerangan dirimu?
Aku
adalah sebutir mutiara tanpa kasihnya
Mahkotaku
telah hilang entah kemana
Kumencari
kasih abadi dalam gelap malam
Debu,
debu dan kembali menjadi debu
Sosok
wanita dengan gaun emasnya
Tiba-tiba
sedang berlari ketakutan
Karena
si pemilik emas yang beringas
Sedang
mengejarnya untuk membunuhnya
Ada
sosok anggun wanita bersetelan Gaun Putih
Berdiri
menantang angin berkaca dan bertanya
Apakah
kota ini masih menerimaku
Dengan
kedangkalan ilmuku dan kelemahan hatiku
Kemudian
dari sebuah lorong kecil
Keluar
sosok wanita bergaun perak menyala
Butiran-butiran
Kristal, berlian mengikuti langkahnya dibelakang
Ia
seolah-olah tersenyum
Tapi
kurasakan aku melihat ada titik hitam
Disalah
satu sudut hatinya
Yang
berwarna merah
Banyak
duka mengelilinginya
Akhirnya
aku memilih untuk pulang kembali
Menuju
jembatan hati penuh dengan mutiara jiwa
Pandangan
malam mulai memudar berganti putih
Ketika
fajar datang menyapa
Popoen Atjeh
26-10-1998
KETIKA
FAJAR MENYAPA
Disuatu
senja temaram
Alam
begitu tidak bersahabatnya
Denting-denting
gemerincing hujan jatuh
Kabut
menyelubungi alam kota yang masih berseri
Dengan
segala kegiatannya
Malam
melintasi jalan-jalan sunyi
Sudut
kota dimana kehidupan terpejam
Namun
beberapa pasang mata masih saja terbuka
Seperti
ular menggelayuti pohon berbuah emas
Hantu-hantu
bergentayangan mencari bunga-bunga kecil
Sosok
bidadari hatinya terkoyak kumandang doa-doa
Terucapkan
dari bibirnya yang suci
Dara
berpakaian putih mewarnai keputihan hatinya
Sang
fajar datang menyapa angin-angin sejuk berhembus
Aroma
segar tercium dari hati
Dara
suci selalu berucap terima kasih kepada Tuhan
Telah
kau berikan kehidupan satu hari lagi kepadaku
Namun
getaran-getaran tanah bergejolak bagaikan kapal terombang-ambing
Dilautan
tak bertepi
Tak
tau kemana kaki harus berpijak
Lalu
berhenti tanpa arti
Sejenak
waktu berjalan ribuan mata jauh memandang
Kabut
mahatinggi yang luas datang tanpa mereka sadari
Itulah
gulungan ombak kemarahan sang laut
Yang
tersiksa oleh jiwa-jiwa kotor
Hempasan
ombak itu menerpa
Dara
suci menangis sambil kaki terus berlari
Keinginan
hidup begitu besar membawanya ketempatan
Sebuah
Masjid dihadapannya
Dia
berlindung didalam kubahnya
Dengan
terus menyebut nama tuhan
Gulungan
ombak itu tak pernah bisa mengotori
Rumah
Sang Maha Penciptanya
Dara
suci terlindung sudah dari segala bahaya
Dalam
doa-doanya dia selalu berucap
Terima
kasih tuhan karena kau berikan aku hidup satu hari lagi
Alhamdulillah
Popoen Atjeh
05-11-2005
“BUNDA
DALAM HATI”
Ketika
senja datang
Hanya
suara angin lirih terdengarkan
Malam
berpakaian hitam
Untuk
menunjukkan betapa berartinya hidup
Bagaikan
istri bergaun hitam
Setelah
ditinggalkan suaminya pergi menjadi debu!
Debu
bertebaran dirumah ketika bunda pergi
Bunda
pergi karena cinta
Digenangi
racun menyelimuti ruang
Seperti
bulan berdinding kelam dan kedinginan
Sapuan
angin menusuk keraga
Jiwaku
gemetaran tak tertahankan
Kemanakah
harus mencari?
Permata
hati untuk kembali
Dan
berjuang demi negeri
Negeri
tercinta titipan ilahi
Membangun
kembali jiwa-jiwa telah rapuh
Jiwa-jiwa
telah kotor
Agar
kembali kejalannya biar selamat
Ketika
akan menghadap Ilahi
Walaupun
amal sangatlah dangkal
Namun
pintu surga tak pernah tertutup
Bagi
jiwa-jiwa yang kembali ke pangkuan Ibunda
Popoen Atjeh
30-10-2005
00:36
THE
LAST
Dahulu
pemimpin seorang Raja
Raja
bagi prajurit dan kaum sudra
Sekarang
prajurit telah naik pangkat
Kaum
sudra telah jadi pemimpin
Dan
mengusir raja dari tahtanya
Mereka
menganggap dirinya pembawa nama agama
Sedangkan
Tuhan tak pernah menyerukannya pada manusia
Hanya
berfirman sebutkan Namaku dalam doamu
Ketika
yang berhak tersingkirkan
Maka
pengemis-pengemis hina naik tahta menjadi pengurus
Namun
tak pernah mampu untuk bertanggung jawab
Bahkan
kepada anak buahnya sendiri
Dan
yang telah membantunya membesarkan namanya
Makan
terlalu banyak matipun terlalu sakit
Begitulah
cerita dari dulu sampai sekarang
Bagaimanakah
kehidupan diwaktu depan
Atau
hanya bisa mengucap dalam hati
Akankah
semua berubah atau mungkin malah sebaliknya
Popoen Atjeh
30-10-2005
00:40
Tidak ada komentar:
Posting Komentar