Kamis, 14 November 2013

BAB XI MALAM MALAM PANJANG




GADIS DALAM KABUT

Dara jelita dalam kisah tsunami
Wajah yang anggun terkadang menyimpan rasa
Bertarung untuk hidup
Belajar untuk berjuang kedepan
Meraih cita-cita yang lebih baik
Mimpi-mimpi buruk dimasa lalu
Mimpi-mimpi baik sekarang
Mimpi-mimpi indah kebahagiaan dimasa datang dan selamanya
Hati dara jelita terbuaikan kumbang
Namun ketegaran hati dan ketabahan
Tak akan pudar dari hatinya
Ia tetap berdiri diatas kakinya
Dalam suasana kelam tanah bergetar
Langit laksana jatuh ketanah
Goncangan yang meratakan istana-istana kecantikan
Kesenangan dan kesedihan
Lalu tanpa terduga laut berguncang, menggumpal
Ombak besar bergulung-gulung menghampiri
Sosok dara jelita menangis sendiri tak tahu arah
Kemana hendak berlari
Dalam suasana hati yang selalu mengucap Doa kehadirat ilahi
Tiba-tiba ia tertolong oleh sebuah puing-puing pencakar langit
Yang runtuh oleh amarah ombak
Bertahan dan terus bertahan
Hingga akhirnya kembali manapakkan kakinya
Ditanah tercinta yang telah bersih dari segala dusta
Dan segala dosa-dosa perbuatan hina
Popoen Atjeh
Akhir Ramadhan 2005

HARI YANG KELAM

Batapa damainya hari
Angin indah datang menyapa
Terlihat keanehan di ufuk timur
Burung-burung camar berterbangan kearah gunung dan tak pernah kembali
Setitik cahaya kilat malam merebak
Gerimis senja datang
Menghampa dalam genangan racun
Mencoba berikan ungkapan hatinya
Malam panjang penuh harapan untuk menanti esok tiba
Dimana perasaan gundah gelisah
Takdir hanya ungkapan alam
Sang fajar datang menyelubungi dinding-dinding dan celah-celah
Kehidupan yang akan datang
Semua aktivitas berjalan semestinya
Tiba-tiba guncangan tanah bergetar
Hati dan jantung bagaikan terombang-ambing
Bangunan hanya tinggal puing
Air laut surut…
Namun tiba-tiba gelombang itu menerpa
Gulungan ombak air laut datang tanpa ada batas
Mengangkat semua apa yang ada
Hingga tinggal genangan merah mencekam
Aroma pemakaman terhirup angin
Menyampaikan pesan keseluruh pelosok
Ingin mangatakan bahwa inilah azab dan kesengsaraan
Bagi pemuja-pemuja kemunafikan

Popoen Atjeh
23-10-2005




MALAM-MALAM PANJANG

Malam gelap gulita
Setelah keremangan senja datang
Segala mata hati tertutup
Segala tubuh terbujur kaku
Malam berpakaian hitam
Untuk menunjukkan duka citanya
Bagaikan istri yang bergaun hitam
Setelah suaminya berlalu menjadi debu!
Seorang wanita dengan gaun merahnya
Datang menyapaku
Aku bertanya siapakah gerangan dirimu?
Aku adalah sebutir mutiara tanpa kasihnya
Mahkotaku telah hilang entah kemana
Kumencari kasih abadi dalam gelap malam
Debu, debu dan kembali menjadi debu
Sosok wanita dengan gaun emasnya
Tiba-tiba sedang berlari ketakutan
Karena si pemilik emas yang beringas
Sedang mengejarnya untuk membunuhnya
Ada sosok anggun wanita bersetelan Gaun Putih
Berdiri menantang angin berkaca dan bertanya
Apakah kota ini masih menerimaku
Dengan kedangkalan ilmuku dan kelemahan hatiku
Kemudian dari sebuah lorong kecil
Keluar sosok wanita bergaun perak menyala
Butiran-butiran Kristal, berlian mengikuti langkahnya dibelakang
Ia seolah-olah tersenyum
Tapi kurasakan aku melihat ada titik hitam
Disalah satu sudut hatinya
Yang berwarna merah
Banyak duka mengelilinginya
Akhirnya aku memilih untuk pulang kembali
Menuju jembatan hati penuh dengan mutiara jiwa
Pandangan malam mulai memudar berganti putih
Ketika fajar datang menyapa

Popoen Atjeh
26-10-1998































KETIKA FAJAR MENYAPA

Disuatu senja temaram
Alam begitu tidak bersahabatnya
Denting-denting gemerincing hujan jatuh
Kabut menyelubungi alam kota yang masih berseri
Dengan segala kegiatannya
Malam melintasi jalan-jalan sunyi
Sudut kota dimana kehidupan terpejam
Namun beberapa pasang mata masih saja terbuka
Seperti ular menggelayuti pohon berbuah emas
Hantu-hantu bergentayangan mencari bunga-bunga kecil
Sosok bidadari hatinya terkoyak kumandang doa-doa
Terucapkan dari bibirnya yang suci
Dara berpakaian putih mewarnai keputihan hatinya
Sang fajar datang menyapa angin-angin sejuk berhembus
Aroma segar tercium dari hati
Dara suci selalu berucap terima kasih kepada Tuhan
Telah kau berikan kehidupan satu hari lagi kepadaku
Namun getaran-getaran tanah bergejolak bagaikan kapal terombang-ambing
Dilautan tak bertepi
Tak tau kemana kaki harus berpijak
Lalu berhenti tanpa arti
Sejenak waktu berjalan ribuan mata jauh memandang
Kabut mahatinggi yang luas datang tanpa mereka sadari
Itulah gulungan ombak kemarahan sang laut
Yang tersiksa oleh jiwa-jiwa kotor
Hempasan ombak itu menerpa
Dara suci menangis sambil kaki terus berlari
Keinginan hidup begitu besar membawanya ketempatan
Sebuah Masjid dihadapannya
Dia berlindung didalam kubahnya
Dengan terus menyebut nama tuhan
Gulungan ombak itu tak pernah bisa mengotori
Rumah Sang Maha Penciptanya
Dara suci terlindung sudah dari segala bahaya
Dalam doa-doanya dia selalu berucap
Terima kasih tuhan karena kau berikan aku hidup satu hari lagi
Alhamdulillah

Popoen Atjeh
05-11-2005





























“BUNDA DALAM HATI”

Ketika senja datang
Hanya suara angin lirih terdengarkan
Malam berpakaian hitam
Untuk menunjukkan betapa berartinya hidup
Bagaikan istri bergaun hitam
Setelah ditinggalkan suaminya pergi menjadi debu!
Debu bertebaran dirumah ketika bunda pergi
Bunda pergi karena cinta
Digenangi racun menyelimuti ruang
Seperti bulan berdinding kelam dan kedinginan
Sapuan angin menusuk keraga
Jiwaku gemetaran tak tertahankan
Kemanakah harus mencari?
Permata hati untuk kembali
Dan berjuang demi negeri
Negeri tercinta titipan ilahi
Membangun kembali jiwa-jiwa telah rapuh
Jiwa-jiwa telah kotor
Agar kembali kejalannya biar selamat
Ketika akan menghadap Ilahi
Walaupun amal sangatlah dangkal
Namun pintu surga tak pernah tertutup
Bagi jiwa-jiwa yang kembali ke pangkuan Ibunda

Popoen Atjeh
30-10-2005
00:36






THE LAST

Dahulu pemimpin seorang Raja
Raja bagi prajurit dan kaum sudra
Sekarang prajurit telah naik pangkat
Kaum sudra telah jadi pemimpin
Dan mengusir raja dari tahtanya
Mereka menganggap dirinya pembawa nama agama
Sedangkan Tuhan tak pernah menyerukannya pada manusia
Hanya berfirman sebutkan Namaku dalam doamu
Ketika yang berhak tersingkirkan
Maka pengemis-pengemis hina naik tahta menjadi pengurus
Namun tak pernah mampu untuk bertanggung jawab
Bahkan kepada anak buahnya sendiri
Dan yang telah membantunya membesarkan namanya
Makan terlalu banyak matipun terlalu sakit
Begitulah cerita dari dulu sampai sekarang
Bagaimanakah kehidupan diwaktu depan
Atau hanya bisa mengucap dalam hati
Akankah semua berubah atau mungkin malah sebaliknya

Popoen Atjeh
30-10-2005
00:40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar