BAB
I
SEBELUM
PAGI TIBA
SEBELUM
PAGI TIBA
Sebelum
pagi tiba
Kududuk
ditepian pantai
Kulihat
sepasang mata
Milik
wajah ayu
Sosok
gadis yang gelisah
Menanti
kapankah datangnya kebahagiaan
Tubuh
ini hanya untuk dicumbu
Bukan
untuk dimiliki
Demikianlah
hidup dalam kepahitan cinta
Saat
mentari datang
Wajah
ayu itu terlihat
Diam
membisu
Disebuah batu karang terjal
Ketika ombak datang
Membasahi seluruh tubuhnya
Dipipi yang basah terlihat
Senyuman indah yang tak terlihat
sebelumnya
Wajah ayu itu ceria
Telah melupakan semua penderitaan
Dan kembali ingin hidup
Dalam kasih sayang
Yang akan datang
Dari seorang kekasih
Yang mau mencintainya
Jan 2005
SERAMBI
TANAH INI
Dalam keheningan beranda tanah ini
Kesejukan malam membuai hati
Serambi lapang luas terhampar
Ribuan hati terpesona
Menyaksikan indahnya
Gaun suci dalam temaram malam
Lautpun berombak
Menebarkan buih-buih
Dari tiap-tiap buih
Menghasilkan bentuk seperti ini
Menbersihkan jiwa-jiwa berdosa
Agar mau kembali kejalan
Yang telah ditunjuknya
Dalam penyucian kembali
Tanah ini
Kuselalu berdoa agar diberikan karunia
Selalu dalam lindungan
Senantiasa terjaga dari
Mimpi-mimpi kemungkaran
Jangan sampai hati terkubur dalam dosa
Tak termaafkan
19 okt 2005
CAHAYA
SURGA
Tataplah
pesisir pantai disana
Terduduk
termenung sosok wanita berpakaian hitam
Penuh
luka, penuh duka
Kamu
hanya bisa tertawa
Riang
gembira
Sepi diluar sepi menekan mendesak
Lurus kaku pepohonan
Sampai ke puncak
Aku berkaca
Ini muka penuh luka siapa punya?
Bangkitkan kembali semangatmu
Tanah ini siapa punya?
Kau…!!!
Kaulah
segalanya bagi tanah air
Jangan
buang dirimu untuk
Kesenangan
sesaat
Kau
yang hanya duduk terdiam dalam sepi
Hidupkan
kembali perananmu
Dalam
perjuangan ini
Popoen Atjeh
11-09-2005
PUISI
SANG LAUT
Langit
kelam pertanda hilangnya cinta
Tanahku
bergetar bagaikan membelah
Bangunan-bangunan
kesenangan rata dengan tanah
Sang
laut marah
Cengkeraman sang laut datang mencakar
Jantung hati dan menariknya
Membersihkan dan menyucikan jiwa-jiwa
Yang telah kotor
Sang
laut marah mendengar ratapan
Tangis
Ibunda di dalam kuburnya
Meninggalkan
kepedihan dan kesedihan yang
Menyayat
hati
Saudaraku yang kucintai bersihkanlah
Dirimu dari segala dosa
Begitu pedih penderitaan yang kita alami
Begitu besarnya cinta yang kau berikan
Popoen
Atjeh
01-09-2005
SEBELUM
CAHAYA
Sebelum
pagi tiba
Sebelum
fajar menyapa
Sebelum
ruang dan waktu berganti
Kau
tersendiri di dalam sepi
Di
tepian telaga pencerahan hati
Merenungi
semua yang telah terjadi
Menangisi
keterhinaan atas penderitaan
Selubung
kabut dari penderitaan yang besar
Mengotori
roman muka yang cerah dari parasnya
Kesedihan
dan penyesalan yang mendalam
Memberatkan
lehernya
Jiwanya
terbagi-bagi sudah
Menjadi
belahan-belahan
Setiap
belahan memiliki hati nurani yang berbeda
Dia
merasa dirinya terbagi-bagi
Dalam
beberapa kehidupan
Sebelum
sang surya menyapa
Sebelum
seribu puisi terselesaikan
Sebelum
tangisan itu berhenti
Sebelum
kesedihan musnah
Sebelum
belahan-belahan jiwa itu menyatu
Sebelum
penderitaan pergi
Sebelum
hidupnya kembali berarti
Sebelum
cintanya kembali
Sebelum
semuanya kembali seperti semula
Sebelum
cahaya
Popoen Atjeh
020304
TANGISAN
PENANTIAN
Aku…
Dalam
kesengsaraan bencana ini
Kuberjalan
tertatih-tatih
Badanku
rasanya sakit sekali
Tapi
luka-luka takterasa lagi
Karena
aku percaya pada Tuhan
Dialah
cahaya Tuhan
Dialah
pencipta langit dan bumi
Hanya
sebuah doa yang kubawa
Padanya
aku menyerahkan jiwaku
Tapi
semangatku tak pernah hilang
Bila
jiwaku pergi buatkan aku satu ruang dibawah debu
Debu
bertebaran dirumah ketika ibu pergi
Tak
tahu harus kucari kemana
Karena
aku sendiri dengan kesedihanku
Aku
tidak boleh menangis
Aku
harus terus berjuang
Harus
terus bertahan untuk hidupku
Untuk
mencapai cita-cita para pendahuluku
Musibah
ini hanya cobaan bagi umatnya
Dimanakah
keyakinan manusia
Hanya
ada dihati yang ikhlas dan sabar
Created by :
popoen atjeh
09092005
Tatapan
matamu
Seperti
bola kristal dipagi hari
Kabut
disela pepohonan rindang
Semua
hanya kata ucapan
Makna
arti kehadiranmu
Hanya
hati yang berucap maaf
Mulut
hanya mengumam
Mata
tertutup debu
Debu
tertiup angin
Sosok
bidadari
Di
tepian sebuah telaga
Dalam
alunan nada-nada
Yang
dinyanyikan para penari
Yang
mengisi cawan-cawan indah
Dengan
harumnya mawar, melati, kenanga
Keindahan
dari dirinya yang mungil
Berbagai
wewangian menghiasi taman
Memikat
hati tuk mencium aroma
Sekuntum mawar laksana awan putih
Menarik
diri dari sekawanan kumbang
Bunga
yang harumkan kemurnian iman
Mahkota
setiap singgasana cinta
Tak
terbuaikan mimpi-mimpi
Hujan
di musim gugur
Memercikkan
senandung rindu
Nada-nada
kasih
Dalam
untaian mutiara hati dan jiwa
Yang
terbang kelangit
Seekor
kuda putih
Dinaiki
seorang putri
Yang
selalu tersenyum kebelakang
Dalam
keluguan hati
Kucoba
meresapi arti
Hati
yang terbuka dan mata tertutup
By : popoen atjeh
01022003
GADIS MUNGIL DIBALIK PINTU
Ketika hari nan sunyi
Disebuah bangunan tua
Ada satu pintu terbuka
Diantara pintu-pintu lain
Kumasuki pintu yang terbuka itu
Dalam remang-remang
Terdengar tangisan
Gadis mungil sambil memeluk
bonekanya
Terus menangis tanpa henti
Terlihat kesedihan diraut wajah
manisnya
Ketika kuperhatikan
Sepasang mata di wajah itu
Telah tertusuk puing kayu
Hatiku pedih melihatnya
Kugendong dara kecil itu
Yang sangat menderita
Oleh kepedihan yang dialaminya
Sambil berjalan mencari bantuan
Aku selalu berdoa
Agar dara mungil tidak merasakan
Pedihnya rasa sakit yang dialaminya
Hingga beberapa bidadari suci
Datang menolong
Langsung
Memberikan perlindungan dan
pertolongan kepadanya
Mengobati semua luka-lukanya
Hingga dara mungil tidak menangis
lagi
Karena masih ada jiwa-jiwa penolong
Yang akan selalu merawatnya
Senantiasa ada disisinya
Popoen
Atjeh
19082005
BINTANG JATUH
Pikiranku melayang
Melintasi fajar yang datang
Menyisir bumi
Segala aral melintang
Kemana harus mencari bayangmu
Begitu kaku dan kedinginan
Gemuruh angin menggulung ombak
Lautan menjadi cengkeraman maut
Jiwa-jiwa berguguran
Burung-burung melintasi
Menuju satu arah
Dan tak pernah kembali
Dalam kegelapan
Gelap dan gelap, ada setitik cahaya
putih
Kucoba untuk mengejar cahaya itu
Tapi tangan tak sampai
Kejang dan getar
Keheningan datang menyapaku
Tak ada satu nyawapun
Terduduk sepi merintangi
Menjelajahi alam yang telah tersapu
Kabut tebal prahara melintasi
Aral melintang tanpa batas
Air mata biru dari kaca hati
Begitu terbawa dalam keheningan
Hanya waktu yang mengerti
Semuanya….!!!
Popoen
19102005
JIWA YANG HILANG
Apalah artinya
Hidup laksana jarum jam
Yang berputar kekiri tidak kekanan
Apa yang salah dengan penunjuk
waktu
Tetap menunjukkan arah jarum jam
Kamu hanya manusia normal
Kamu hanya berbeda dengan lainnya
Sama sekali mustahil
Seorang kekasih mencari tanpa
dicari
Oleh kekasih hati
Jika kilat cinta telah menembus
hati ini
Ketahuilah bahwa ada cinta dihati
Tak pernah ada suara tepukan
sebelah telapak tangan
Tanpa telapak tangan yang lain
Dalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang terkadang dapat menghanyutkan
Dihati yang telah hancur
Keterhinaan atas penderitaan
Menyakiti hatimu
Popoen
19102005
NYANYIAN HATI
Segala yang ada dalam hidupku
Sesungguhnya hanyalah milik
Penciptaku
Aku malu menerima puji-pujian
Karena semua pujian hanyalah pantas
Untuk Tuhanku
Nyanyian hatiku selalu memujamu
Dan selalu memberi salam kepada
Rasulmu yang telah mengajarkan
tentang Cinta
Kepada seluruh umatmu
Agar mereka lebih menyayangi
keluarganya
Agar mereka melestarikan alam yang
telah kauciptakan
Agar mereka mempunyai kemampuan
untuk berfikir
Agar mereka bisa meraih semua
cita-cita
Karena engkaulah yang maha pencipta
Engkaulah sesembahan semesta
Dari seorang raja hingga pengemis
Dari yang sehat sampai yang cacat
dan para penderita sakit
Dari yang berkulit putih seputih
salju
Hingga yang berkulit hitam legam
seperti arang
Semuanya yang selalu memujamu
Memberi salam kepadamu dan juga
kepada rasulmu
Tuhanku selalu ada dan kekal abadi
Dalam kegelimangan bencana yang
amat pedih
Tuhankulah yang selalu menjadi pemecah
berbagai kesulitan
Hingga kami dapat berbagi dengan
mereka
Yang didera berbagai masalah
musibah konflik dan bencana
Dan hanya kepada tuhanku dan
rasulnya kami percaya
Tidak akan kami percaya kepada
kepalsuan yang lain
Popoen
Atjeh
o3
November 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar