Senin, 09 September 2013

BAB I SEBELUM PAGI TIBA



BAB I
SEBELUM PAGI TIBA
SEBELUM PAGI TIBA

Sebelum pagi tiba
Kududuk ditepian pantai
Kulihat sepasang mata
Milik wajah ayu
Sosok gadis yang gelisah
Menanti kapankah datangnya kebahagiaan
Tubuh ini hanya untuk dicumbu
Bukan untuk dimiliki
Demikianlah hidup dalam kepahitan cinta
Saat mentari datang
Wajah ayu itu terlihat
Diam membisu
Disebuah batu karang terjal
Ketika ombak datang
Membasahi seluruh tubuhnya
Dipipi yang basah terlihat
Senyuman indah yang tak terlihat sebelumnya
Wajah ayu itu ceria
Telah melupakan semua penderitaan
Dan kembali ingin hidup
Dalam kasih sayang
Yang akan datang
Dari seorang kekasih
Yang mau mencintainya
Jan 2005


SERAMBI TANAH INI

Dalam keheningan beranda tanah ini
Kesejukan malam membuai hati
Serambi lapang luas terhampar
Ribuan hati terpesona
Menyaksikan indahnya
Gaun suci dalam temaram malam
Lautpun berombak
Menebarkan buih-buih
Dari tiap-tiap buih
Menghasilkan bentuk seperti ini
Menbersihkan jiwa-jiwa berdosa
Agar mau kembali kejalan
Yang telah ditunjuknya
Dalam penyucian kembali
Tanah ini
Kuselalu berdoa agar diberikan karunia
Selalu dalam lindungan
Senantiasa terjaga dari
Mimpi-mimpi kemungkaran
Jangan sampai hati terkubur dalam dosa
Tak termaafkan

19 okt 2005


CAHAYA SURGA

Tataplah pesisir pantai disana
Terduduk termenung sosok wanita berpakaian hitam
Penuh luka, penuh duka
Kamu hanya bisa tertawa
Riang gembira
Sepi diluar sepi menekan mendesak
Lurus kaku pepohonan
Sampai ke puncak
Aku berkaca
Ini muka penuh luka siapa punya?
Bangkitkan kembali semangatmu
Tanah ini siapa punya?
Kau…!!!
Kaulah segalanya bagi tanah air
Jangan buang dirimu untuk
Kesenangan sesaat
Kau yang hanya duduk terdiam dalam sepi
Hidupkan kembali perananmu
Dalam perjuangan ini

Popoen Atjeh
11-09-2005
 

PUISI SANG LAUT

Langit kelam pertanda hilangnya cinta
Tanahku bergetar bagaikan membelah
Bangunan-bangunan kesenangan rata dengan tanah
Sang laut marah
Cengkeraman sang laut datang mencakar
Jantung hati dan menariknya
Membersihkan dan menyucikan jiwa-jiwa
Yang telah kotor
Sang laut marah mendengar ratapan
Tangis Ibunda di dalam kuburnya
Meninggalkan kepedihan dan kesedihan yang
Menyayat hati
Saudaraku yang kucintai bersihkanlah
Dirimu dari segala dosa
Begitu pedih penderitaan yang kita alami
Begitu besarnya cinta yang kau berikan

Popoen Atjeh
01-09-2005

SEBELUM CAHAYA

Sebelum pagi tiba
Sebelum fajar menyapa
Sebelum ruang dan waktu berganti
Kau tersendiri di dalam sepi
Di tepian telaga pencerahan hati
Merenungi semua yang telah terjadi
Menangisi keterhinaan atas penderitaan
Selubung kabut dari penderitaan yang besar
Mengotori roman muka yang cerah dari parasnya
Kesedihan dan penyesalan yang mendalam
Memberatkan lehernya
Jiwanya terbagi-bagi sudah
Menjadi belahan-belahan
Setiap belahan memiliki hati nurani yang berbeda
Dia merasa dirinya terbagi-bagi
Dalam beberapa kehidupan
Sebelum sang surya menyapa
Sebelum seribu puisi terselesaikan
Sebelum tangisan itu berhenti
Sebelum kesedihan musnah
Sebelum belahan-belahan jiwa itu menyatu
Sebelum penderitaan pergi
Sebelum hidupnya kembali berarti
Sebelum cintanya kembali
Sebelum semuanya kembali seperti semula
Sebelum cahaya
Popoen Atjeh
020304

 
TANGISAN PENANTIAN

Aku…
Dalam kesengsaraan bencana ini
Kuberjalan tertatih-tatih
Badanku rasanya sakit sekali
Tapi luka-luka takterasa lagi
Karena aku percaya pada Tuhan
Dialah cahaya Tuhan
Dialah pencipta langit dan bumi
Hanya sebuah doa yang kubawa
Padanya aku menyerahkan jiwaku
Tapi semangatku tak pernah hilang
Bila jiwaku pergi buatkan aku satu ruang dibawah debu
Debu bertebaran dirumah ketika ibu pergi
Tak tahu harus kucari kemana
Karena aku sendiri dengan kesedihanku
Aku tidak boleh menangis
Aku harus terus berjuang
Harus terus bertahan untuk hidupku
Untuk mencapai cita-cita para pendahuluku
Musibah ini hanya cobaan bagi umatnya
Dimanakah keyakinan manusia
Hanya ada dihati yang ikhlas dan sabar

Created by :
popoen atjeh
09092005

SEKUNTUM BUNGA BUAT BIDADARI

Tatapan matamu
Seperti bola kristal dipagi hari
Kabut disela pepohonan rindang
Semua hanya kata ucapan
Makna arti kehadiranmu
Hanya hati yang berucap maaf
Mulut hanya mengumam
Mata tertutup debu
Debu tertiup angin
Sosok bidadari
Di tepian sebuah telaga
Dalam alunan nada-nada
Yang dinyanyikan para penari
Yang mengisi cawan-cawan indah
Dengan harumnya mawar, melati, kenanga
Keindahan dari dirinya yang mungil
Berbagai wewangian menghiasi taman
Memikat hati tuk mencium aroma
Sekuntum mawar laksana awan putih
Menarik diri dari sekawanan kumbang
Bunga yang harumkan kemurnian iman
Mahkota setiap singgasana cinta
Tak terbuaikan mimpi-mimpi
Hujan di musim gugur
Memercikkan senandung rindu
Nada-nada kasih
Dalam untaian mutiara hati dan jiwa
Yang terbang kelangit
Seekor kuda putih
Dinaiki seorang putri
Yang selalu tersenyum kebelakang
Dalam keluguan hati
Kucoba meresapi arti
Hati yang terbuka dan mata tertutup

By : popoen atjeh
01022003

GADIS MUNGIL DIBALIK PINTU

Ketika hari nan sunyi
Disebuah bangunan tua
Ada satu pintu terbuka
Diantara pintu-pintu lain
Kumasuki pintu yang terbuka itu
Dalam remang-remang
Terdengar tangisan
Gadis mungil sambil memeluk bonekanya
Terus menangis tanpa henti
Terlihat kesedihan diraut wajah manisnya
Ketika kuperhatikan
Sepasang mata di wajah itu
Telah tertusuk puing kayu
Hatiku pedih melihatnya
Kugendong dara kecil itu
Yang sangat menderita
Oleh kepedihan yang dialaminya
Sambil berjalan mencari bantuan
Aku selalu berdoa
Agar dara mungil tidak merasakan
Pedihnya rasa sakit yang dialaminya
Hingga beberapa bidadari suci
Datang menolong
Langsung
Memberikan perlindungan dan pertolongan kepadanya
Mengobati semua luka-lukanya
Hingga dara mungil tidak menangis lagi
Karena masih ada jiwa-jiwa penolong
Yang akan selalu merawatnya
Senantiasa ada disisinya

Popoen Atjeh
19082005
BINTANG JATUH

Pikiranku melayang
Melintasi fajar yang datang
Menyisir bumi
Segala aral melintang
Kemana harus mencari bayangmu
Begitu kaku dan kedinginan
Gemuruh angin menggulung ombak
Lautan menjadi cengkeraman maut
Jiwa-jiwa berguguran
Burung-burung melintasi
Menuju satu arah
Dan tak pernah kembali
Dalam kegelapan
Gelap dan gelap, ada setitik cahaya putih
Kucoba untuk mengejar cahaya itu
Tapi tangan tak sampai
Kejang dan getar
Keheningan datang menyapaku
Tak ada satu nyawapun
Terduduk sepi merintangi
Menjelajahi alam yang telah tersapu
Kabut tebal prahara melintasi
Aral melintang tanpa batas
Air mata biru dari kaca hati
Begitu terbawa dalam keheningan
Hanya waktu yang mengerti
Semuanya….!!!
Popoen
19102005




JIWA YANG HILANG

Apalah artinya
Hidup laksana jarum jam
Yang berputar kekiri tidak kekanan
Apa yang salah dengan penunjuk waktu
Tetap menunjukkan arah jarum jam
Kamu hanya manusia normal
Kamu hanya berbeda dengan lainnya
Sama sekali mustahil
Seorang kekasih mencari tanpa dicari
Oleh kekasih hati
Jika kilat cinta telah menembus hati ini
Ketahuilah bahwa ada cinta dihati
Tak pernah ada suara tepukan sebelah telapak tangan
Tanpa telapak tangan yang lain
Dalam sebuah cinta terdapat bahasa
Yang terkadang dapat menghanyutkan
Dihati yang telah hancur
Keterhinaan atas penderitaan
Menyakiti hatimu
Popoen
19102005
NYANYIAN HATI

Segala yang ada dalam hidupku
Sesungguhnya hanyalah milik Penciptaku
Aku malu menerima puji-pujian
Karena semua pujian hanyalah pantas
Untuk Tuhanku
Nyanyian hatiku selalu memujamu
Dan selalu memberi salam kepada
Rasulmu yang telah mengajarkan tentang Cinta
Kepada seluruh umatmu
Agar mereka lebih menyayangi keluarganya
Agar mereka melestarikan alam yang telah kauciptakan
Agar mereka mempunyai kemampuan untuk berfikir
Agar mereka bisa meraih semua cita-cita
Karena engkaulah yang maha pencipta
Engkaulah sesembahan semesta
Dari seorang raja hingga pengemis
Dari yang sehat sampai yang cacat dan para penderita sakit
Dari yang berkulit putih seputih salju
Hingga yang berkulit hitam legam seperti arang
Semuanya yang selalu memujamu
Memberi salam kepadamu dan juga kepada rasulmu
Tuhanku selalu ada dan kekal abadi
Dalam kegelimangan bencana yang amat pedih
Tuhankulah yang selalu menjadi pemecah berbagai kesulitan
Hingga kami dapat berbagi dengan mereka
Yang didera berbagai masalah musibah konflik dan bencana
Dan hanya kepada tuhanku dan rasulnya kami percaya
Tidak akan kami percaya kepada kepalsuan yang lain
Popoen Atjeh
o3 November 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar