BAB IV
SAJADAH CINTA
DEBURAN
OMBAK
Suasana
damai dalam diri
Laksana
ruang tanpa udara
Bijaksananya
para pendosa
Tidak
termaafkan oleh bumi
Deburan
lautan berombak, dan
Tampaklah
kearifan abadi
Gulungan
ombak tiba-tiba bukanlah
Suatu
kenikmatan alam pantai
Dan
suara Adzan pun berkumandang
Begitulah
ungkapan para pendosa
Tak
sanggup menerima cobaan
Tak
mampu menahan gejolak
Lautan
penuh buih
Dan
dari tiap-tiap buih ini
Muncul
bentuk seperti ini
Dan
bintik-bintik itu tak lain sosok cengkeraman laut
Dan
tiap-tiap bintik yang berbentuk jasad
Yang
mendengar isyarat dari lautan itu
Bagaimana
aku meninggalkan kehidupan
Sedang
diriku begitu penuh dengan dosa
Lebur
dan kemudian kembali
Kelautan
jiwa yang telah melayang
Bersama
dengan terbitnya senja
Entah
berapa lama sudah aku berdiri
Bersedih
dan menangis
Popoen Atjeh
06102005
Sebuah kisah antara keyakinan dan
percintaan
Dikesunyian setelah bencana
SAJADAH
TUA
Lukisan
cinta disudut ruang
Bagaikan
saksi bisu berjuta kisah
Pelangi
yang melintasi bumi
Menebarkan
jutaan warna-warni kehidupan
Sinarnya
memancarkan bayangan
Hingga
sampailah disuatu surau
Diatas
bukit yang dikeliling oleh nuansa alam
Setiap
sembah sujud kehadirat Yang kuasa
Setiap
umat yang ingin menuju surganya
Selalu
menyempatkan diri untuk Shalat
Dengan
berwudhu disebuah mata air suci
Berasal
dari pegunungan diujung timur
Sebuah
sajadah tua menjadi saksi
Bagi
jutaan umat yang telah bersujud kehadirat tuhan
Selama
berjuta-juta waktu shalat lamanya
Sesungguhnya
kasihnya berjuta-juta
Dalam
dekapan cinta kepada tuhan dan rasulnya
Perjalanan
jauh nan berliku-liku
Akhirnya
sampailah pada surau itu
Dengan
segenap rasa tertumpah
Aku
bersujud kepadamu
Diatas
Sajadah tua yang selalu menjadi saksi
Sajadah
tua yang telah berusia ratusan tahun
Tidak
pernah ada yang tahu siapa gerangan pemiliknya
Karena
telah beratus tahun menemani surau itu
Untuk
mengantarkan umat yang selalu ingin
Bersembah
sujud kepadamu Ya Allah
Popoen Atjeh
20052006
PEMUSIK
DAN LUKISAN TUA
Dalam
sebuah keheningan diberanda rumah
Kesunyian
sepi dalam hati
Kekasih
meninggalkan cinta yang seharusnya dinikahi hari ini
Kekasih
yang telah memuja cinta
Melamar
dengan setetes embun dipagi hari
Sepucuk
cinta yang seharusnya diberikan
Tertunda
takdir yang datang tiba-tiba
Tak
disangka usia belia hanya tinggal nama
Cinta
dengan kegembiraannya mendatangi rumah kekasih
Ternyata
hanya mampu melihat jasad
Kematian
tak dapat ditunda, cinta terabaikan
Dalam
sebuah alunan nada-nada yang dimainkan pemusik jalanan
Terlintaskan
senyum cinta penuh kasih kehangatan
Duniamu
tidak akan berakhir hari ini karena ditinggalkannya
Duniamu
masih akan berlanjut
Karena
kamu terlalu indah untuk bersedih
Namun
cinta dalam jiwa hanyalah untuk kekasih
Bila
kepak-kepak sayap cinta telah datang kepadamu
Hanya
akan menyatukan cintamu dan kekasih yang baru hadir
Setiap
perkenalan akan mendatangkan kasih yang indah
Hanya
kepada mereka yang setia pada hati dan jiwa
Tidak
berpaling pada keangkuhan
Cinta
untukmu selamanya
Kasih
indah sebelum cahaya
Semua
cerita akan terjalin
Dan
tergoreskan oleh sebuah lukisan tua
Yang
telah lama tergantung di sudut ruang
Hingga
wajahmu kembali bercahaya
Hanya
cinta yang terwujud lewat kertas surat
Mampu
menghapus segala kesedihan
Mampu
menawarkan racun jingga
Mampu
memecah batu karang
Mampu
meninggalkan keegoisan demi cinta
Menerangi
kembali ruang-ruang hati
Naluri
membuka kembali diary cinta
Dalam
perjalanan panjang cinta
Untukmu
selamanya
Sebelum
cahaya
Dedicated to Cinta Fitri
Popoen Atjeh
21-10-2007
TANGISAN
MALAM
Dara
suci menangis di malam hari
Setetes
airmata menghiasi paras jelitanya
Sosoknya
menangis sendri
Ditengah
malam nan sunyi
Meratapi
kepedihan atas keterhinaan
Dari
penderitaan sangat menekan
Yang
menyelubungi hatinya
Dia
tak pernah berhenti
Meraung-raung
tangisannya
Seluruh
tubuhnya penuh luka
Bekas
hantaman timah panas
Dari
mata penuh benci
Seperti
anjing gila
Sosok
kehijauan dan coklat
Yang
tak pernah dapat
Merengkuh
kesuciannya
Dara
jelitaku
Dengan
menyebut nama Allah
Beserta
Rasulnya
Diatas
Sajadah cinta terbentang
Dia
mengutuk kedua sosok itu
Hingga
akhir hayatnya
Dedicated to women in Fairy Land
Popoen Atjeh
17-07-2000
SALAM
PERTAMA
Duhai
saudaraku..
Betapa
anggunnya dirimu ini
Telah
diberikan kehidupan oleh Allah
Segala
puji-pujian selalu kau panjatkan
Kehadiran
Ilahi
Apapun
pengaduan an kehidupan
Selalu
kau ucapkan doa
Memohon
kepadanya
Tak
pernah hati ingin
Memuji
diri
Selalu
merasa rendah
Itulah
yang menjadikanmu
Betapa
mulianya dihadapannya
Duhai
saudaraku…
Kepadanyalah
kau memohon Doa Restu
Popoen Atjeh
19-09-2005
SALAM
KEDUA
Wahai
saudaraku…
Bijaksananya
hati ini
Yang
selalu memanjatkan doa
Kehadiratnya
juga kepada junjungannya
Suara
Adzan berkumandang
Dipuncak
bukit kasihnya
Pertanda
kau selalu berdoa
Kehadirat
Allah dan Rasullulah
Wahai
saudaraku…
Semua
yang kucinta
Bersihkanlah
diri
Dari
segala dosa
Sucikan
hati dibulan suci
Untuk
mencapai fitrah
Yang
akan datang kemudian
Bahagialah
selalu
Dalam
lindungannya…
Popoen Atjeh
22-10-2005
DOSA
Dalam
keheningan yang teramat dalam
Sunyi
dan senyap
Merasakan
kejang dan getar
Dalam
urat nadi yang terputus
Tak
punya harapan
Terpuruk
dalam kegelapan
Bidadari
bernyanyi…
Nyanyian
hanya dia yang tau…
Para
malaikat yang tak bisa
Memaafkan
para pendosa
Bidadari
menuliskan…
Kata-kata
perasaan cintanya
Dengan
tinta darah dari
Urat
nadinya
Hening…
Sunyi
dan senyap…
Menyatu
dalam rimbunan semak
Melati,
mawar dan kenanga
Tercium
wangi hingga
Merasuk
kedalam diri
Bercampur
dengan darah
Dalam
udara pemakaman
Dipuncak
segala tangisan kesedihan
Popoen Atjeh
“20 05 2005”
KETIKA
SEMUANYA BERAKHIR
Ketika
suatu senja kumelihat
Wajah-wajah
tersenyum
Menyapa
dan ingin bertanya
Ada
apa gerangan kehadiran
Hanya
serajut bunga kembang
Perasaan
memiliki penuh arti
Kekasih
hati jauh dimata
Dekat
didalam hati
Ingin
jumpa walau hanya sebentar
Kala
samua terbaring terlelap
Aku
masih ingin mendengar suaranya
Walau
tak berjumpa
Namun
iya tak pernah sanggup
`tuk
menahan rasa kantuknya
Hinggaku
tak ingin mengganggu tidurnya
Biarlah
dia berbaring dengan segala mimpinya
Tentang
keinginannya, cita-citanya
Fajar
tiba inginku menyapa
Namun
tak ada kata yang terucap
Karena
semua makna hilanglah sudah
Berganti
dengan terang
Aku
hanya ingin mengucapkan
Selamat
tidur semoga esok hari kan lebih bercahaya
Dalam
hidupmu yang penuh arti
Bagi
dirimu, bagi diriku
Popoen Atjeh
“08102005”
KISAH
SEDIH
Kulihat
ramai orang-orang mengantar
Keluarga-keluarga
mereka tercinta
Untuk
menuju tempatnya sang Khaliq
Tempat
membersihkan diri dari dosa
Tempatnya
sang Empunya ilmu
Tempat
pelaksanaan rukun Islam terakhir
Hujan
gerimis melintas
Menghentikan
sejenak langkah
Entah
apa pertanda
Tak
pernah bisa memahaminya
Hingga
akhirnya mereka berangkat
Menuju
tanah Mekkah
Sabtu
malam kuberjalan menyendiri
Tiada
teman menemani
Disekitar
kulihat tiada seindah dulu
Semua
hanya memikirkan nafsu
Berpesta
pora seakan-akan
Tiada
lagi batas-batas kesucian
Tidak
mengenal tata krama
Apalagi
sopan santun
Semua
larut dalam kesenangan
Para
pengukir prahara
Berpesta
pora seakan-akan
Hanya
mereka didunia ini dan terus berpesta
Hingga
fajar tiba
Wajah-wajah
kotor dan bau
Masih
terlelap
Diantara
beberapa botol minuman keras
Dan
obat-obat pemuas nafsu
Muda-mudi
tidak kenal norma
Seperti
anjing liar
Berpesta
ria datang ke pesisir pantai
Tanpa
mereka sadari tanah bergejolak
Bergetar
bagaikan kemarahan alam
Air
laut surut entah kemana
Mereka
malah lebih berfoya-foya
Tanpa
tahu air laut menggumpal
Membentuk
bukit tangan
Tiba-tiba
ombak tinggi itu
Menerpa
daratan
Bergulung-gulung
membuncah
Melahap
segala yang ada dihadapannya
Kemudian
menyeretnya dan mengembalikannya
Kelautan
yang luas
Terdengarlah
ratapan-ratapan tangis
Para
pendosa yang tidak pernah
Berpikir
pada penciptanya
Hingga
senja tiba aku berpikir
Aku
tak sanggup melihat semua ini
Kuberharap
ini semua mimpi
Hingga
aku terbangun esok pagi
Mendapatkan
kembali kedamaian
Di
tanah ini
Dedicated to mereka yang jadi korban
Popoen Atjeh
28-12-2004
BIARLAH
CINTA YANG MENYATUKAN
Semua
insan akan bersujud
Dihadapan
sajadah cinta kepada Illahi
Karena
kecintaan itu
Tuhan
masih memberi kehidupan
Kau
selalu berucapkan
Tiada
yang lain selain Allah yang patut disembah
Dan
tiada lain rasul selain Muhammad
Yang
patut kamu percayai
Sebuah
sajadah panjang terbentang
Dibawah
teriknya matahari
Dibawah
hujan nan lebat
Hanya
untuk bersembah sujud
Kepada
Tuhanmu dihari kemenangan
Setelah
sekian lama perjuangan
Menahan
lapar dahaga
Setiap
keluarga yang telah lama terpisah jauh
Akhir
dipertemukan dihari yang Fitri
Karena
cinta Allah kepada umatnya
Semua
itu dapat terwujud
Sesungguhnya
hanya Allah yang patuh dipuja
Semua
puji-pujian terpanjat hanya kepadanya
Hanya
cinta yang menyatukan dirimu
Kehadirat
Allah
Popoen Atjeh
13-10-2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar