Senin, 09 September 2013

BAB IV SAJADAH CINTA



BAB IV
SAJADAH CINTA

DEBURAN OMBAK

Suasana damai dalam diri
Laksana ruang tanpa  udara
Bijaksananya para pendosa
Tidak termaafkan oleh bumi
Deburan lautan berombak, dan
Tampaklah kearifan abadi
Gulungan ombak tiba-tiba bukanlah
Suatu kenikmatan alam pantai
Dan  suara Adzan pun berkumandang
Begitulah ungkapan para pendosa
Tak sanggup menerima cobaan
Tak mampu menahan gejolak
Lautan penuh buih
Dan dari tiap-tiap buih ini
Muncul bentuk seperti ini
Dan bintik-bintik itu tak lain sosok cengkeraman laut
Dan tiap-tiap bintik yang berbentuk jasad
Yang mendengar isyarat dari lautan itu
Bagaimana aku meninggalkan kehidupan
Sedang diriku begitu penuh dengan dosa
Lebur dan kemudian kembali
Kelautan jiwa yang telah melayang
Bersama dengan terbitnya senja
Entah berapa lama sudah aku berdiri
Bersedih dan menangis

Popoen Atjeh
06102005
Sebuah kisah antara keyakinan dan percintaan
Dikesunyian setelah bencana
SAJADAH TUA

Lukisan cinta disudut ruang
Bagaikan saksi bisu berjuta kisah
Pelangi yang melintasi bumi
Menebarkan jutaan warna-warni kehidupan
Sinarnya memancarkan bayangan
Hingga sampailah disuatu surau
Diatas bukit yang dikeliling oleh nuansa alam
Setiap sembah sujud kehadirat Yang kuasa
Setiap umat yang ingin menuju surganya
Selalu menyempatkan diri untuk Shalat
Dengan berwudhu disebuah mata air suci
Berasal dari pegunungan diujung timur
Sebuah sajadah tua menjadi saksi
Bagi jutaan umat yang telah bersujud kehadirat tuhan
Selama berjuta-juta waktu shalat lamanya
Sesungguhnya kasihnya berjuta-juta
Dalam dekapan cinta kepada tuhan dan rasulnya
Perjalanan jauh nan berliku-liku
Akhirnya sampailah pada surau itu
Dengan segenap rasa tertumpah
Aku bersujud kepadamu
Diatas Sajadah tua yang selalu menjadi saksi
Sajadah tua yang telah berusia ratusan tahun
Tidak pernah ada yang tahu siapa gerangan pemiliknya
Karena telah beratus tahun menemani surau itu
Untuk mengantarkan umat yang selalu ingin
Bersembah sujud kepadamu Ya Allah

Popoen Atjeh
20052006



PEMUSIK DAN LUKISAN TUA

Dalam sebuah keheningan diberanda rumah
Kesunyian sepi dalam hati
Kekasih meninggalkan cinta yang seharusnya dinikahi hari ini
Kekasih yang telah memuja cinta
Melamar dengan setetes embun dipagi hari
Sepucuk cinta yang seharusnya diberikan
Tertunda takdir yang datang tiba-tiba
Tak disangka usia belia hanya tinggal nama
Cinta dengan kegembiraannya mendatangi rumah kekasih
Ternyata hanya mampu melihat jasad
Kematian tak dapat ditunda, cinta terabaikan
Dalam sebuah alunan nada-nada yang dimainkan pemusik jalanan
Terlintaskan senyum cinta penuh kasih kehangatan
Duniamu tidak akan berakhir hari ini karena ditinggalkannya
Duniamu masih akan berlanjut
Karena kamu terlalu indah untuk bersedih
Namun cinta dalam jiwa hanyalah untuk kekasih
Bila kepak-kepak sayap cinta telah datang kepadamu
Hanya akan menyatukan cintamu dan kekasih yang baru hadir
Setiap perkenalan akan mendatangkan kasih yang indah
Hanya kepada mereka yang setia pada hati dan jiwa
Tidak berpaling pada keangkuhan
Cinta untukmu selamanya
Kasih indah sebelum cahaya
Semua cerita akan terjalin
Dan tergoreskan oleh sebuah lukisan tua
Yang telah lama tergantung di sudut ruang
Hingga wajahmu kembali bercahaya
Hanya cinta yang terwujud lewat kertas surat
Mampu menghapus segala kesedihan
Mampu menawarkan racun jingga
Mampu memecah batu karang
Mampu meninggalkan keegoisan demi cinta
Menerangi kembali ruang-ruang hati
Naluri membuka kembali diary cinta
Dalam perjalanan panjang cinta
Untukmu selamanya
Sebelum cahaya
Dedicated to Cinta Fitri
Popoen Atjeh
21-10-2007
 
TANGISAN MALAM

Dara suci menangis di malam hari
Setetes airmata menghiasi paras jelitanya
Sosoknya menangis sendri
Ditengah malam nan sunyi
Meratapi kepedihan atas keterhinaan
Dari penderitaan sangat menekan
Yang menyelubungi hatinya
Dia tak pernah berhenti
Meraung-raung tangisannya
Seluruh tubuhnya penuh luka
Bekas hantaman timah panas
Dari mata penuh benci
Seperti anjing gila
Sosok kehijauan dan coklat
Yang tak pernah dapat
Merengkuh kesuciannya
Dara jelitaku
Dengan menyebut nama Allah
Beserta Rasulnya
Diatas Sajadah cinta terbentang
Dia mengutuk kedua sosok itu
Hingga akhir hayatnya

Dedicated to women in Fairy Land
Popoen Atjeh
17-07-2000







SALAM PERTAMA

Duhai saudaraku..
Betapa anggunnya dirimu ini
Telah diberikan kehidupan oleh Allah
Segala puji-pujian selalu kau panjatkan
Kehadiran Ilahi
Apapun pengaduan an kehidupan
Selalu kau ucapkan doa
Memohon kepadanya
Tak pernah hati ingin
Memuji diri
Selalu merasa rendah
Itulah yang menjadikanmu
Betapa mulianya dihadapannya
Duhai saudaraku…
Kepadanyalah kau memohon Doa Restu

Popoen Atjeh
19-09-2005
SALAM KEDUA

Wahai saudaraku…
Bijaksananya hati ini
Yang selalu memanjatkan doa
Kehadiratnya juga kepada junjungannya
Suara Adzan berkumandang
Dipuncak bukit kasihnya
Pertanda kau selalu berdoa
Kehadirat Allah dan Rasullulah
Wahai saudaraku…
Semua yang kucinta
Bersihkanlah diri
Dari segala dosa
Sucikan hati dibulan suci
Untuk mencapai fitrah
Yang akan datang kemudian
Bahagialah selalu
Dalam lindungannya…

Popoen Atjeh
22-10-2005
 
DOSA

Dalam keheningan yang teramat dalam
Sunyi dan senyap
Merasakan kejang dan getar
Dalam urat nadi yang terputus
Tak punya harapan
Terpuruk dalam kegelapan
Bidadari bernyanyi…
Nyanyian hanya dia yang tau…
Para malaikat yang tak bisa
Memaafkan para pendosa
Bidadari menuliskan…
Kata-kata perasaan cintanya
Dengan tinta darah dari
Urat nadinya
Hening…
Sunyi dan senyap…
Menyatu dalam rimbunan semak
Melati, mawar dan kenanga
Tercium wangi hingga
Merasuk kedalam diri
Bercampur dengan darah
Dalam udara pemakaman
Dipuncak segala tangisan kesedihan

Popoen Atjeh
“20 05 2005”

KETIKA SEMUANYA BERAKHIR

Ketika suatu senja kumelihat
Wajah-wajah tersenyum
Menyapa dan ingin bertanya
Ada apa gerangan kehadiran
Hanya serajut bunga kembang
Perasaan memiliki penuh arti
Kekasih hati jauh dimata
Dekat didalam hati
Ingin jumpa walau hanya sebentar
Kala samua terbaring terlelap
Aku masih ingin mendengar suaranya
Walau tak berjumpa
Namun iya tak pernah sanggup
`tuk menahan rasa kantuknya
Hinggaku tak ingin mengganggu tidurnya
Biarlah dia berbaring dengan segala mimpinya
Tentang keinginannya, cita-citanya
Fajar tiba inginku menyapa
Namun tak ada kata yang terucap
Karena semua makna hilanglah sudah
Berganti dengan terang
Aku hanya ingin mengucapkan
Selamat tidur semoga esok hari kan lebih bercahaya
Dalam hidupmu yang penuh arti
Bagi dirimu, bagi diriku
Popoen Atjeh
“08102005”


KISAH SEDIH

Kulihat ramai orang-orang mengantar
Keluarga-keluarga mereka tercinta
Untuk menuju tempatnya sang Khaliq
Tempat membersihkan diri dari dosa
Tempatnya sang Empunya ilmu
Tempat pelaksanaan rukun Islam terakhir
Hujan gerimis melintas
Menghentikan sejenak langkah
Entah apa pertanda
Tak pernah bisa memahaminya
Hingga akhirnya mereka berangkat
Menuju tanah Mekkah
Sabtu malam kuberjalan menyendiri
Tiada teman menemani
Disekitar kulihat tiada seindah dulu
Semua hanya memikirkan nafsu
Berpesta pora seakan-akan
Tiada lagi batas-batas kesucian
Tidak mengenal tata krama
Apalagi sopan santun
Semua larut dalam kesenangan
Para pengukir prahara
Berpesta pora seakan-akan
Hanya mereka didunia ini dan terus berpesta
Hingga fajar tiba
Wajah-wajah kotor dan bau
Masih terlelap
Diantara beberapa botol minuman keras
Dan obat-obat pemuas nafsu
Muda-mudi tidak kenal norma
Seperti anjing liar
Berpesta ria datang ke pesisir pantai
Tanpa mereka sadari tanah bergejolak
Bergetar bagaikan kemarahan alam
Air laut surut entah kemana
Mereka malah lebih berfoya-foya
Tanpa tahu air laut menggumpal
Membentuk bukit tangan
Tiba-tiba ombak tinggi itu
Menerpa daratan
Bergulung-gulung membuncah
Melahap segala yang ada dihadapannya
Kemudian menyeretnya dan mengembalikannya
Kelautan yang luas
Terdengarlah ratapan-ratapan tangis
Para pendosa yang tidak pernah
Berpikir pada penciptanya
Hingga senja tiba aku berpikir
Aku tak sanggup melihat semua ini
Kuberharap ini semua mimpi
Hingga aku terbangun esok pagi
Mendapatkan kembali kedamaian
Di tanah ini
Dedicated to mereka yang jadi korban
Popoen Atjeh
28-12-2004


BIARLAH CINTA YANG MENYATUKAN

Semua insan akan bersujud
Dihadapan sajadah cinta kepada Illahi
Karena kecintaan itu
Tuhan masih memberi kehidupan
Kau selalu berucapkan
Tiada yang lain selain Allah yang patut disembah
Dan tiada lain rasul selain Muhammad
Yang patut kamu percayai
Sebuah sajadah panjang terbentang
Dibawah teriknya matahari
Dibawah hujan nan lebat
Hanya untuk bersembah sujud
Kepada Tuhanmu dihari kemenangan
Setelah sekian lama perjuangan
Menahan lapar dahaga
Setiap keluarga yang telah lama terpisah jauh
Akhir dipertemukan dihari yang Fitri
Karena cinta Allah kepada umatnya
Semua itu dapat terwujud
Sesungguhnya hanya Allah yang patuh dipuja
Semua puji-pujian terpanjat hanya kepadanya
Hanya cinta yang menyatukan dirimu
Kehadirat Allah
Popoen Atjeh
13-10-2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar