Senin, 09 September 2013

TEUKU MOHAMMAD SYAH




PENGALAMAN  HIDUP DAN PERJUANGAN
DIMASA PENJAJAHAN BELANDA, DIMASA PENJAJAHAN JEPANG DAN MASA KEMERDEKAAN
MAYOR TEUKU MOHAMMAD SYAH

JANUARI 1917

LAHIR DI MATANG KEUPILA LHOKSUKON ACEH UTARA
SD – INLANDSCHE SCHOOL SELAMA 1 TAHUN
         H.I.S DI LHOKSEUMAWE
Setelah tamat dari HSJ saya tidak sambung lagi dan tinggal di kampong bersama orang tua.dalam pada itu oleh Kondraleus Lhoksukon namanya Pinter Rangking, saya dipanggil kekantornya dan disuruh belajar bekerja dikantornya sebagai magang dan ditempatkan dibawah pimpinan Mantri Polisi yaitu Haji Ibrahim ( almarhum )kira-kira 6 bulan saya sebagai magang oleh jawatan kereta api dulu namanya Aceh Tran diminta orang dari kantor Kontralum untuk mengisi kekosongan karcis verkopen di…………………….. ±6 KMdari lhoksukon.sebenarnya tempat itu sangat sepi dan pegawai yang lama dulu karena tidak tahan maka minta berhenti. Tetapi karena diharuskan juga saya harus menempati tempat itu maka sayapun mencoba bekerja disitu. Sedangkan gaji saya hanya diberikan 10% dari penghasilan tetap bulanan.ini memang sedikit sekali,tetapi pada masa itu buat seorang yang masih lajang boleh bilang mencukupi juga.
Kira-kira 3 bulan saya bekerja saya juga merasa tidak tahan,sebab memang terlalu sepi dan ditempat itu dan sekitarnya dikelilingi oleh hutan rumbia.kemudian sayapun meminta berhenti.
Saya kembali ke kampong pada tahun ±1933 saya melamar pekerjaan pada BPM dibahagian veld geolog onderzok dengan perantaraan family saya yang memang sudah bekerja disitu sebagai ………………… namanya T Muhammad Daud dari peureulak (Langsa)
Sayapun deterima dan mulai bekerja sebagai ………………….. Boormandun dengan gaji hanya F 0,75 (tujuh Puluh Lima Sen) perhari.setelah sebulan bekerja saya dinaikkan menjadi Boormandun pekerja d veld Geolog onderzok itu. Adalah urusanya alat pengeboran cara primitive sekali dan satu bor pekerja nonstop 24 jam dan dibagi masing masing 8 jam bekerja dan tiap tiap bor dipakai sebanyak 15 orang pekerja.pengeboran yang dilakukan sedalam maksimal 300 meter.
Gaji buruh waktu itu 1 hari dibayar F 0,45 (empat puluh lima sen) kalau sudah bekerja lama akan dibayar lebih tinggi maksimal F 0.55 (lima puluh lima sen).saya mempunyai gaji terakhir sampa F 115 ( satu rupiah lima belas sen) perhari.inipun tergantung pada kecakapan dan keahlian bekerja. Kalau dibandingkan tentang harga barang pada waktu itu seperti beras yang baik satu bambu hanya F 0.08 ( delapan sen ) dan 1 ekor sapi muda hanya F 5.00 (lima gulden) harga kain sarung pelekat nomor satu F 2.50 dan harga emas 1 mayam juga F 2.50 harga 1 bungkus rokok cap kereta angin F 0,07 dan cap daun  F 0.03 tetapi isinya 10 batang sedang cap kereta api isinya 20 batang.
Dimana saja kita beli harganya tetap,demikianlah kira-kira perbandingan harga barang pada waktu itu.harga 1 sepeda buatan jepang komplek pada waktu itu hanya F 15.00(lima belas gulden) tetapi kalau beradu pasti patah ini kualitas paling rendah.
Daerah-daerah yang kami kerjakan pengeboran dahulu ialah dalam daerah aceh dan sumatera timur pendeknya dimana sekarang ini telah pernah dibuka kembali oleh pertamina di tempat itu dulu pernah kami kerjakan dahulu.
Tidak lama kemudian maka belanda bekerja sama dengan pemerintahan amerika sewaktu saya masih bekerja di blang kolam (aceh utara) saya berteman akrab sekali dengan seorang pegawai (krani) namanya………………………
Ia pandai berbahasa inggris dan pandai pula bermain music (Guitar) dalam waktu senggang pada malam hari,kami meminta ajar dia mau mengajar bahasa inggris pada kami,yaitu saya sendiri dan semua kawan saya namanya M.Usman.
Setelah beberapa bulan kami belajar kira kira kami telah dapat juga berbicara sedikit-sedikit yang dibicarakan sehari-hari dan memang menurut momen inggris.hal mana diketahui diketahui oleh sep kami yang bernama Raden Atok kamipun dipanggil dan di ajak berbicara langsung dengan raden atok sendiri.
Rupanya menurut penilaiannya kami telah lulus dan kami pun dipindahkan bekerja bersama orang amerikayang waktu itu mulai bekerja di daerah aceh.pekerjaan yang dikerjakan orang amerika itu sudah lebih modern.mereka tidak perlu member sampai 300 meter tetapi cukup hanya 30 meter saja.jadi lubang2 yang bekas kami bor dahulu dibersihkan sampai 30 meter, kemudian dimasukkan dinamit dan menunggu perintah tembak dari bahagian petugas pembuat film(foto) yang dihubungi dengan telepon yang jauhnya kira-kira 500 meter.hasil dari tembakan itu ± sampai sedalam 2 s/d 300 meter dan bagaimana hasilnya tentang keadaan tanah,jadi tergambar pada foto(gambar)pada petapa pengambil gambar terhebat.
Kami bekerja di daerah pecan cunda dan tinggal di panggoi,suasana pengalaman kamidengan mereka sangat menyenangkan sekali karena walaupun mereka sebagai majikan mereka juga turut bekerja sama-sama seperti buruh dan berlumuran lumpur.
Dikala istirahat malam hari mereka suka sekali menonton bioskop dan diajaknya saya bersama-sama seperti kawan biasa saja.setelah itu kemudian saya dipindahkan pula terakhir ke leubu ( kecamatan Ganda Pura sekarang)
Tidak lama kemudian sayapun meminta berhenti ± pada tahun 1934 dan pergi merantau ke Palembang (sumatera selatan)
Kepergian saya itu disebutkan sesuatu hal pribadi yang tidak perlu dicatat disini.karena saya sudah bertekad akan berangkat.terpaksa keluarga saya dan anak saya yang masih kecil dengan terharu jika saya tinggalkan,bahkan seorang pun dari family,tak ada yang mengetahuikemana saya menghilang dari alue ie puteh.
Kepergian saya itu adalah seperti pengembara dan persendian belanja pun sangat terbatas sekali,tujuan saya untuk mencari pekerjaan disana.sebenarnya bagi saya sendiri kata Palembang masih asing.tetapi karena keinginan hati hendak mencoba merantau,terpaksa saya teruskan rencana itu.dalam perjalanan saya ke Palembang itu telah terjadi pula sesuatu hal yang benar-benar pengalaman penting bagi saya dan bagi siapa pun.kalaulah kita berlaku jujur dan berbuat baik untuk menolong seseorang dengan hati ikhlas langsung pula mendapat pembalasan dari Allah SWT.
Saya berangkat denga auto bus dari medandan sampai di Bukit Tinggi bermalam ,besoknya waktu mau berangkat lagi tiba-tiba ada seorang penumpang dari Bukit Tinggi yaitu seorang Wanita suku Tapanuli hanya dia sendiri juga maksud ke Palembang
Rupanya diapun belum pernah ke Palembang.sewaktu naik auto bis seorang agen berkata saat di Bukit Tinggi tolonglah menemani wanita itu karena sama-sama ke Palembang dan oleh wanita itupun langsung berbicara dengan saya sebagai berkenalan dan dia pun sendiripun harapkan bantuan saya.
Kamipun berangkat dan dalam kendaraan kami duduk berdekatan pula.intinya pemberitahuan para penumpang turun pergi makan atau minum dan kamipun pergi berdua.selesai makan terpaksa saya membayarnya karena malukalau bayar masing-masing sebenarnya saya meras sedikit keberatan,karena persediaan uang yang saya bawa pas pasanada sewa kendaraan,sewa penginapan  dan kalau sampai di Palembang mungkin ada sisa dua gulden lagi.tapi saya pikir tak apalah karena yang saya tolong wanita pula.
Didalam perjalanan dia terlalu banyak bicara Tanya ini itupada penumpang lain,untuk menjaga hal-hal yang akan mengecewakan maka saya bisikan padanya supaya ia jangan banyak bicara anggap saja saya sebagai suaminya supaya orang lain merasa segan.dan diapun patuh.sampai di muara teba kami menginap dihotel.dalam satu kamar kami ada 4 orang saya dan dia dan seorang wanita lain bersama anaknya yang masih kecil.
Mereka tidur diatas ranjang, sedang saya pakai tikar tidur dibawah,besoknya kami berangkat lagi dan dalam kendaraan saya berbicara pelan-pelan dengannya mengenai tujuannya ke Palembang.katanya dia mau menyusul suaminya dan diapun memperlihatkan briefkartyang dikirim oleh suaminya alamat pengirimMarakoh d/a silitonga agen singer di plaju Palembang.
Sayapun bertanya padanya yang nama saudara nama suaminya,katanya marakob.kalau begitu saudara marakob ini nampaknya belum bekerja tetap sebab alamatnya dia menumpang pada alamat agen singer.waktu saya katakan demikian iapun kaget sekali.sebab pikirannya suaminya itulah agen singer.maka ia mau menyusul ke Palembang kalau belum bekerja tentu ia tidak.  
Akan menyusahkannya,keadaan nya jadi panic sebentar,karena dia sempat gelisah sekali maka saya katakana supaya sabar dan tenang saja.mungkin juga dia agen singer.matilah kalau sudah ketemu dengan dia sendiri,baru jelas setelah kami sampai di lubuk linggau,kamipun naik kereta untuk terus ke Palembang.
Didalam kereta api diapun menyatakan kepada saya, kalaulah suaminya itu memang belum bekerja mungkin pula susah mencarinya,biarlah saya ikut abang  saja.kita nanti dapat berusaha mencari makan,sebab saya ada persediaan barang-barang emas perhiasan sekedarnya,demikian katanya.mendengar hal demikian, sayapun jadi terkejut juga dan apa yang dikatakan itu jadi problem baru bagi saya, apakah itu baik dan wajar jadi pemikiran saya untuk member kepastian padanya.
Oleh kerena saya tetap berhati jujur dan memang sama sekali tidak ada suatu niat yang buruk walaupun wanita itu telah menyatakan dirinya maka saya tolak dengan halus
Saya katakana padanya, nantilah kita cari Sdr. Marakob sampai jumpa.kalau memang tidak berjumpa, akan kita pikirkan lagi apa yang harus kita kerjakan,karena sayapun ke Palembang ini tidak ada orang yang saya kenal, bahkan bagaimana perkembangan selanjutnya nanti sayapun belum tahu lagi.dan adikpun jangan lekas putus asa dan panic.
Sesampai kami di kertapati, terus sambung lagi dengan kapal melalui sungai musi dan baru tiba di station Palembang. Kami turun dan menuju ke satu hotel dekat station itu dan sayapun titip wanita itu pada pemilik hotel. Sementara sayapun terus mencari alamat suaminya ke kantor singer di Palembang dengan membawa brifkaart itu.
Keterangan yang saya peroleh, bahwa nama marakob tidak ada agen singer kalau silitongga memang ada dan dia tinggal di plaju. Kalau saudara ke Plaju dari sini, naik becak kepelbuhan penyeberangan dan kemudian naik getek dimana sampai di seberang  terus naik taxi dan katakana saja mau ke kantor singer plaju.
Sampai di plaju kami turun dan persis di muka kantor singer tersebut. Saya membayar lagi ongkos taxi dan kamipun langsung bertemu saudara silitonga.saya ceritalah tentang ada wanita itu adalah isteri dari sdr, marakob menurut sdr silitonga bahwa sdr marakob dalam beberapa hari ini tidak pernah bertemu dengan dia mungkin dia berada di Palembang. Tetapi tidak apa nanti saya cari dia dan isterinya biarlah saya titip dulu di rumah kawan saya,katanya.
Kalau dibawa ke rumah saya, kurang baik karena sayapun belum beristeri dan dirumah banyak pula kawan-kawan yang lajang.dan katanya lagi kepada saya, sdr tinggal dimana? Sayapun menjawab, bahwa sayapun belum pernah ke Palembang dan tidak ada kenalan atau family saya disini. O kalau begitu baiklah sdr tinggal bersama dirumah saya katanya.bagaimana senangnya hati saya, allah lah yang maha mengetahui dan saya sangat bersyukur sekalisehingga saya tidak jadi gelandangan di Palembang.
Waktu itu sayapun berpisahlah dengan wanita itu dan dia dibawa kerumah kawan silitonga dan saya tinggal di rumah silitonga bersama kawan yang memang sudah menetap lama dirumah tersebut.
Waktu berpisah, wanita itu sambil menangis mengucapkan terima kasih pada saya dan sayapun turut terharu juga. Sebenarnya waktu saya bayar ongkos taksi tadi uang saya sudah habis, hanya tinggal sisa Fa.50 (lima puluh sen) lagi, kalau saya suruh bayar pada wanita itu tentu dia akan bayar, tetapi dia menyimpan uangnya agak tersembunyi dan payah mengambilnya, kalau tidak ke kamar mandi. Karena itulah maka sayapun terus saja membayarnya, sungguhpun persediaan saya sudah punah semua.
Kemudian setelah kira-kira 3 hari saya di plaju barulah saya temui sdr. Marakob di Palembang dan diapun dipertemukan dengan isterinya.
Mereka keduanya datang menemui saya dan oleh sdr, marakob mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saya terhadap isterinya.
Cobalah kita pikirkan kembali tentang kisah tersebut jika kita berbuat jujur dan ikhlas serta menolong seorang hamba allah, maka dengan sendirinya langsung pula mendapat pembalasan yang baik pila.sebagai buktinya, saya tidak menentu arah dan uangpun sudah habis, tetapi karena perbuatan yang baik tadi maka saya sudah mendapat saudara kenalan. Terutama sdr, silitonga dan 3 orang kawan-kawan lain serta tinggal bersama dan makan sayapun ditanggung oleh sdr, silitonga pada sebuah rumah makan.
Ini adalah sebuah hikmah yang sangat besar sekali nantinya. Tetapi kalu berbuat sebaliknyamungkin akan mendapat kutukan dari allah swt. Selama saya tinggal dirumah sdr, silitongga setiap hari kami pagi-pagi kami sudah siap dan berangkat cari pekerjaan masing-masing. Waktu itu kira-kira pada tahun 1934 suasana saat itu sangat sukar untuk mendapatkan pekerjaan. Kawan-kawan  kami serentak bertemu di kantor B.P.M di bahagian personel zakan, karena dibahagian itulah yang menerima seorang pegawai bila diperlukan. Akan tetapi memang sukar sekali berhasil, karena dari dulu pula sudah ada penyakit sogok menyogok. Jadi kalau kita lebih dulu datang ke rumah kepala kantor itu, urusan pegawai itu dengan membawa oleh-oleh ataupun orang yang pantas tentunya, baru akan berhasil.
Kami kesemuanya (4 orang) sdah terang tidak dapat berbuat seperti itu, karena untuk beli rokokpun tak ada uang, bahkan sebatang rokokpun kadang-kadang  bergantian mengisapnya. Kawan-kawan saya itu adalah juga orang-orang yang mempunyai bermacam-macam diploma,pendeknya bukanlah golongan buruh kasar. Tetapi karena didesak untuk mencari biaya hidup sehari-hari terpaksa mereka pulang ganti pakaian dan berusaha lagi mencari pekerjaan kasar(buruh) ke pelabuhan.
Kira-kira dua minggu saya bersama mereka saya mendapat pikiran baru yaitu saya akan menghadap langsung denga chef dari Afdeeling Veld Geoloog Onderzuk.hal ini memang menyimpang dari prosedurnya. Setelah saya dibawa kesitu oleh opas kantorlangsung saya masuk dan berbicara dengan belanda yang bernama : L. Theunissen orangnya masih muda dan peramah, kebetulan rezeki bigi saya.
Tanpa banyak pertanyaan saya diterima waktu itu saya hanya memperlihatkan kartu legimitasi bendys, bahwa saya pernah bekerja sebagai Boormandok di Veld Geoloog Onderzuk pangkalan berandan. Katanya kira-kira 3 hari lagi kita akan berangkat ke sungai Ibul dan harus segera datang lagi menemuinya di kantor.
Waktu saya kembali ke rumah, saya ceritakan kejadian itu pada kawan-kawan saya dan mereka merasa heran, karena saya begitu cepat dapat kerja. Sedang mereka sudah berbulan-bulan berusaha tetapi belum berhasil.
Disini saya teringat lagi mungkin karena saya pernah menolong wanita itu dengan ikhlas, maka tuhan yang maha esa telah membantu saya. Walau pada waktu itu saya pernah bertanya –tanya pada kawan-kawan saya itu mungkin mereka ada kenal dengan orang-orang aceh di Palembang atau plaju. Menurut mereka katanya ada seorang nama HARUN, dulu dia bekerja di sungai Gerong dan sekarang dia sudah berhenti dan sudah tinggal di lading sungai Batang Palembang, kira-kira 15 KM dari Palembang, tapi kalau menyeberang dengan kapal penyeberangan hanya kita bayar FO.25 saja.
Karena saya tidak ada uang dan kawan-kawan saya juga tidak punya uang maka terpaksa saya harus jalan kaki dari rumah ke Getek ±4 KM dan menyeberang ke Palembang saya jalan kaki lagi menurut arah jalan besar menuju ke sungai Batang yang jaraknya ± 15 KM itu.
Waktu itu matahari cukup panas, sayapun berjalan selangkah demi selangkah sambil istirahat ditempat-tempat teduh dan meminum air dingin yang ada orang sediakan dalam guci yang diletakan di muka pintu pagar rumah orang-orang tertentu. Hal mana dilakukan karena dikiri kanan rawa-rawa. Saya berangkat kira-kira jam  8 pagi dari rumah dan kira-kira jam 4 sore saya sampai di sungai batang, itupun saya bertanya-tanya pada siapa saja melalui pos di jalan berapa jauh lagi bisa tiba di sungai Batang.
Kemudian saya lihat ada kedai-kedai dan rumah-rumah di jalan itu dan saya mampir sebuah kedai orang jual pecal. Saya Tanya pada mereka dan katanya kalau bertemu nanti dengan rumah-rumah yang berderet panjang, salah satu rumah ujung sekali adalah tampak saudara harunsewa untuk tempat pangkas rambut.
Sayapun meneruskan perjalanan dan sampai disitu saya Tanya lagi pada orang jualan disitu kebetulan saja memang saudara harun memang dekat dengan dengan kedai itu dan sayapun langsung naik ke rumah itu serta member salam, setelah menjawab salam saya, saudara harun menyuruh duduk sambil ia menyelesaikan memangkas seseorang disitu. Setelah selesai diapun bersalaman dengan saya dan mulai bertanya-tanya dengan bahasa aceh bercampur melayu karena diapun tidak begitu lancar lagi bahasa aceh agak gagok sedikit. Sayapun ceritalah riwayat saya dan maksud tujuan ke Palembang dan lain-lain sebagainya. Hanya nama saya saja saya katakan MUHAMMAD SYAH dan teukunya tidak saya sebut. Dengan demikian agar dia tidak begitu meras segan tentunya, kemudian diapun terus tutup kedai itu dan diajaknya saya bersama-sama pulang ke rumahnya keladang kiran-kira 500 meter dengan kedai tersebut.
Sampai dirumah saya diperkenalkan pada isterinya seorang wanita sunda dan mempunyai satu orang anak laki-laki berumur ±6 tahun. Saya dihidangkan minuman dan kuwe-kuwe kemudian sudah disediakan nasi sesudah makan, sambil istirahat diapun berceritalah tentang perjalanannya waktu berangkat dari aceh dahulu masih ian anak-anak berumur ±12 tahun dengan bersembunyi disebuah kapal sampai ia ke Tanjung Priok. Setelah dewasa dia telah pernah bekerja di Tanjung Priok sebagai …………………………………………………….. yang terakhir di sungai Gerong. Dan kesimpulan dari saudara Harun karena saya menumpang di rumah orang, maka lebih baik dimintak supaya saya tetap terus di rumahnya saja. Sayapun menerima dengan sangat senang dan Alhamdulillah.
Dan saya katakana padanya bahwa saya harus kembali ke plaju karena saya sudah diterima bekerja pada Veld Geolog Onderzuk dan tinggal akan berangkat ke sungai Ibul. Besoknya saya diberi uang sebanyak F.O.50 (Lima Puluh Sen) untuk ongkos penyeberangan denga perahu sampai di Plaju saya menemui Kawan-kawan saya yang 3 orang itu dan Sdr Silitonga. Saya mengatakan bahwa saya sudah bertemu dengan Saudara Harun dan saya akan tinggal bersama dia di sungai Batang karena itu saya minta diri dan meminta terimakasih atas pertolongannya kepada saya selama tinggal di Plaju. Kemudian saya menemui tuan L Themisen dan katanya 1 minggu lagi berangkat. Sayapun balik ke lading sungai batang dan sampai batang dan sampai tanggal yang ditentukan sayapun berangkatlah bekerja di sungai Ibuh.
Satu bulan kami bekerja diberi istirahat satu minggu dan masing-masing kembali ketempatnya dan sayapun kembali ke rumah Sdr Harun yang sudah saya anggap sebagai saudara saya. Kamipun hidup  sebagai keluarga sendiri disitu sehabis istirahat saya kembali lagi ke sungai Ibuh , kira-kira 3 bulan kerja bekerja disitu pekerjaan di stop buat sementara.
Kamipun kembali ke pangkalan masing-masing sambil menunggu panggilan kembali nanti.selama di sungai batang saya sudah banyak berkenalan dengan kawan-kawan di daerah itu dan salah seorang pegawai kapal minyak, namanya Menangi telah menjadi kawan akrab sekali dengan saya. Kebanyakan diantara pegawai kapal minyak tadi adalah anggota Perindra ( Partai Indonesia Raya ) yang waktu itu sedang hangat-hangatnya dipalembang dan selalu dibuntuti oleh polisi belanda.
Sayapun mulai mendaftarkan diri ingin masuk partai tersebut. Menurut pimpinan katanya saya belum boleh langsung jadi anggota, akan tetapi harus jadi calon dulu dan harus selalu datang ke kantor partai untuk mengikuti ceramah ceramah dan lain-lain sebagainya agar lebih faham dan bagaimana bertanggung jawab dan resiko seseorang anggota partai.
Dan katanya kalau seseorang jadi anggota, harus benar-benar berani berkorban untuk kepentingan partai. Jadi tidaklah mudah masuk partai politik waktu itu. Berlainan dengan cara sekarang, dizaman merdeka sekarang seseorang masuk partai malah partai yang harus berkorban untuk orang itu jadi terbalik. Jadi sayapun selama 3 bulan jadi calon anggota barulah di sahkan menjadi anggota. Kawan kawan sayapun semakin bertambah banyak dan kehidupan sayapun banyak dibantu oleh kawan-kawan secara pribadi.
Tentang kawan saya di Plaju, sewaktu saya sudah bekerja dibagian nya Onderzuk dahulu, rupanya mereka ketiganya juga telah dapat pekerjaan masing-masing. Pada suatu hari waktu saya ketemu berjalan dipalembang kebetulan bertemu dengan mereka dan kamipun sangat gembira sekali dan kamipun pergi makan-makan di suatu restoran. Pada sangat hangat-hangatnya perkembangan partai politik dipalembang waktu itu almarhum pak IR SOEKARNO ex presiden RI masih dalam tahanan penjajah belanda di Bengkulu.
Pada suatu malam, waktu kami sedang kursus di gedung partai Perindra cabang sungai batang tiba-tiba saya dapat berita dari nsalah seorang kawan yang bekerja disungai Gerong (NKPM) bahwa 2 orang pegawai dari kapal “ Pendopo “ (kapal Minyak) telah minta berhenti. Kapal pendopo itu singgah di pelabuhan Sungai Gerong, tetapi kawatnya yang telah dikirim lebih dulu, supaya disediakan 2 orang penggantinya.
Dan setelah kapal tersebut tiba di pelabuhan, sdr Murangi yang juga anggota partai Perindra langsung menjumpai saya menawarkan pekerjaan tersebut. Saya tentu bersedia, tetapi bukan pernah bekerja di kapal. Cobalah saya Tanya pada sdr Harun kata saya! Bagaimana nanti pendapat dia akan saya khabarkan. Kebetulan sdr Harun punya surat berhenti bekas Stoker pada Nisem di TJ Priok dulu. Sayapun membawa surat itu pada sdr Murangi dan katanya cocok sekali karena yang dibutuhkan hanya orang yang sudah pernah bekerja di kapal.
Sayapun dibawa sdr Murangi pada bapak Mandur (kapal pegawai) pada kapal pendopo tersebut. Dan dapat diterima setelah melalui kier. Sayapun pergi ke rumah sakit di sungai Gerong untuk di kier dan mudah-mudahan Good Geuerd. Dan sayapun mintak izin doa restu dari sdr Harun dan mulai masuk jadi pegawai kapal pendopo. Kapal itu tugasnya mengangkut minyak keluar negeri hanya terbatas didaerah area saja. Biasanya ke hongkong, saingon, haipong (indocina), tien siem, shanghai, dan lain-lain.
Sebagaimana anak kapal pendopo nama saya ialah Harun. Sayapun mulai berkhayal tentang kota Hongkong dan lain-lain yang dulunya saya hanya tahu kalau melihat dalam kaart disekolah. Rencana saya kalau sudah, bekerja di kapal pendopo beberapa lamanya, nanti saya akan mintak berhenti dan melamar di kapal-kapal bersambungnya di Singapore dan akan berlayar ke Eropah. Kapal pendopo berupa kapal tangki. Alam ukuran besar setelah diisi minyak di sungai gerong terus berangkat ke hongkong, kira-kira pada jam 4 sore keluarlah kami dari sungai gerong melalui sungai ke lautan.
Kami singgah sebentar di tanjung uban dan terus berlayar lagi sampai tanjung cina rupanya gelombangpun mulai mengamuk, waktu itu saya bekerja dibahagian bawah sekali dekat mesin mulai pusing dan muntah-muntah untung ditolong sdr murangi dan dibawa ke atas dek ke kamar.
 Sayapun hampir tak sadarkan diri karena terus muntah-muntah setelah keadaan agak reda, sayapun masih merasa oyong dan sangat lemah sekali, kira-kira 7 hari lamanya berulah kami sampai dipelabuhan hongkong. Tapi waktu itu keadaan cuaca sangat dingin dan sedang musim kabut, jadi tak kelihatan apa-apa hanya gelap saja. Yang terdengar hanya suara-suara isyarat dari kapal-kapal yang berlabuh disekitar pelabuhan tidak bertabrakan satu dengan yang lain. Dan kapal-kapal itu semua harus berhenti ditempat.
Kira-kira 2 hari 2 malam lamanya barulah keadaan cuaca berubah jadi terang sedikit. Kamipun baru dapat mendekati pelabuhan dan setelah diperiksa oleh syahbandar, barulah kami boleh menuju ke pelabuhan tempat pembongkaran minyak, sampai dipelabuhan minyakpun dibongkar dan awak-awak kapal yang tidak bertugas dibenarkan turun ke darat(melancong) ke kota hongkong.
Saya dan beberapa kawan lain tidak turun kedarat. Dan saya sendiri karena kurang sehat dan uangpun tidak ada karena baru berkerja maka tidak turut turun ke darat.
Karena saya baru pertama kali mulai berkerja dikapal, banyak hal-hal yang aneh yang saya tidak ketahui yang terjadi diatas kapal tersebut, dari kapal mulai rapat dipelabuhan dan berhenti tiba-tiba saja sudah banyak amoy-amoy(wanita tuna susila)tegasnya wanita pelacuran telah sempat pula dengan cepat menerobos ke kapal dan langsung masuk dalam kamar-kamar untuk bersembunyi, padahal kapal itu tetap dijaga oleh polisi, jadi waktu diperiksa kelihatannya tidak ada orang luar sebab kapal minyak itu harus dijaga lebih ketat, jangan sampai kebakaran.
Karena saya berada didalam kamar, tiba-tiba ada orang masuk, sayapun jadi kaget sekali, lantas saya Tanya pada mereka kenapa berani masuk kamar, katanya itu soal biasa dan mereka rupanya sudah langganan masing-masing dengan awak kapal.Saya merasa heran sekali atas kejadian itu, rupanya begitulah yang terjadi selalu tentang permainan awak kapal. Tidak saja tentang soal sex, tapi juga tentang minuman keras dan berjudi.Melihat keadaan yang demikian itu, saya jadi kewalahan dan rencana saya kalau kembali ke Palembang akan minta berhenti disebabkan karena mabuk laut dan hal-hal lain yang terjadi dikapal itu.
Kira-kira 3 hari kami di Hongkong, kamipun berangkat kembali ke Palembang, rupanya dalam pelayaran kembali gelombang tidak mengamuk lagi dan keadaan dilaut tenang-tenang saja.
Karenanya sayapun tidak jadi minta berhenti. Kemudian berangkat yang kedua kali yaitu ke Saigon dan Haipong (bahasa Indochina) dan keadaan dilaut aman saja.Disaya pelabuhan minyak jauh diluar kota dan disitu saya turun bersama kawan-kawan melancong ke kota Saigon sejauh ± 6 KM. kami naik sado dan jam 8 malam kami berada di Saigon.Apa kerja kawan setiba dikota itu tak usah saya catat disini. Sama seperti hal diatas kapal, kecuali saya dan seorang teman (pegawai baru), kami berjalan-jalan ke pasar buah-buahan.
Saya membeli satu keranjang jambu monyet(jambu mete) untuk dibawa ke kapal sebagai persediaan kalau mabuk laut.Kira-kira pas jam 12 malam kami semua berangkat pulang dengan sado ke pelabuhan kami. Besoknya kapal berangkat lagi tujuan ke Haipong, di Haipong saya juga turun ke darat dan melancong naik Ricksaw yang ditarik oleh orang cina.
Dikota Haipong saya singgah disatu toko dan ada membeli 1 topi dan 1 Helm, kemudian kembali ke kapal. Bahasa yang dipakai disitu ialah bahasa prancis. Jadi waktu membeli sesuatu, kita terpaksa main kode dengan tangan, karena sayapun tidak tahu bahasa Perancis. Selama 2 hari di Haipong, kami berangkat kembali ke Palembang. Sesampainya dipelabuhan sungai genong, diadakan pengumuman bahwa buat sementara kapal pendopo tidak berlayar lagi, waktu itu kalau tidak salah sedang terjadi peperangan antara Belanda dan Jerman.
Jadi kapal-kapal dari belanda akan distop berlayar dilautan. Sayapun beristirahatlah kembali dirumah disungai batang, sambil memikirkan pekerjaan yang lain. Kebetulan pada saat itu saya dengar dari kawan yang berkerja disungai genong, bahwa ada pembukaan baru dari velogeoloog ouder quk yaitu dipekanbaru (riau) dan di Aceh. Sayapun langsung menghadap dan melamar kerja untuk ke Pekanbaru, akan tetapi karena saya emang dari Aceh, maka tenaga saya lebih dbutuhkan untuk ke Aceh.
Hal mana saya laporkan pada saudara saya Harun dan setelah pamitan sayapun dibekali 1 kaleng biscuit rending padang untuk dibawa ke kapal dan saya berkumpul dengan rombongan di Pelabuhan KPM Palembang.
Setelah hari cerah, kamipun berangkatlah,dalam rombongan kami sebagian buruh-buruh adalah anak-anak sunda, jawa dan lain-lain, sebagai chef kami adalah orang Indo Belanda Cina, namanya saya sudah lupa. Sampai di Belawan kami turun dan dan dengan 3 buah Auto Bus yang telah menunggu di Belawan, kami berangkat ke Aceh, yaitu ke Sigli (Aceh Pidie). Di Sigli hanya tinggal selama 3 hari kemudian berangkat ke pedalaman didaerah kunyet kecamatan padang tiji dan disana kami dirikan bivak dan mulai operasi/ berkerja di hutan-hutan lebat dari situ pindah lagi Loeng Poetoe dan kami buat Bivak di Panteue Breuh, juga dipinggir hutan dan kami bekerja dihutan lebah.
Selama bekerja dihutan-hutan itu, tidak kurang pula kami berjumpa dengan binatang-binatang buas dan ular-ular besar tetapi tidak ada terjadi sesuatu kecelakaan, selesai disitu kami pindah lagi ke Trieng Gadeng daerah operasi juga ke hutan-hutan di Culo dan lain-lain.
Disini kami tidak membuat bivak dan tinggal menyewa beberapa pintu kedai di Trieng Gadeng, selama di Trieng Gadeng, Saya berkenalan baik sekali dengan saudara Abah Rachman anak dari Syahbandar di kedai Trieng gadeng dan sampai sekarang sudah menjadi seperti saudara sendiri. Pekerjaan kami didaerah itu sudah selesai pula dan harus kembali ke Palembang.
Rombongan akan berangkat ke Sigli dan dengan kapal dari sigli ke Palembang, waktu dicek jumlah kami semua, saya tidak ada dalam rombongan itu dan sayapun dipanggil untuk berangkat, akan tetapi karena saya memang telah berniat tidak akan ke Palembang lagi dari telah sangat kangen untuk pulang kekampung menemui anak dan keluarga saya, maka mintak supaya diberikan kesempatan untuk pulang jalan darat saja, akan tetapi karena kapal telah dibeli, maka hal mana tidak dapat dikabulkan. Kalau begitu saya tinggal di Aceh saja dan dari chef saya itupun tidak keberatan.
Sayapun tinggal di Trieng Gadeng beberapa minggu lamanya dan kemudian sayapun berangkat langsung ke Aloe ie Poetih menemui keluarga saya yang sudah lama saya tinggalkan, saya beristirahat beberapa minggu sambil menghadapi suatu musibah, karena kakak saya perempuan namanya Cut Paridah dalam keadaan sakit berat, kalau diwaktu itu, kebanyakan orang-orang kita belum begitu yakin dengan pengobatan dokter hanya terus main dukun dan berobat cara jampi-jampi, kemasukan roh halus dan lain-lain, memperhatikan hal itu yang tidak akan menolong orang sakit itu, maka saya berikan penjelasan dengan yang mendalam, terutama pada abang ipar saya itu dan menurut dokter dari lhoksukon, harus segera dibawa ke kutaraja untuk dioperasi. Akan tetapi apa boleh buat beliau tidak dibawa dan memang telah agak terlambat menurut waktu yang telah ditentukan, walaupun demikian, saya ikut juga untuk membawa ke Kutaraja, ringkasnya dikutaraja pun tidak sanggup lagi dioperasi dan disuruh bawa kembali pulang ke kampong, dan kira-kira 2 minggu dikampung beliaupun meninggal dunia.
Kemudian dari itu saya dipanggil oleh abang saya T.M Ali dulu beliau sebagai kondektur kereta api (Aceh Trem) tinggal di lhoksukon. Saya berkerja sebagai karcis verkooloog untuk kereta api malam diloket lhoksukon. Sayapun terima pekerjaan itu dan bekerja di lhoksukon dan sewaktu-waktu saya dapat pulang lagi ke Aleu Ie Poetih mengurus urusan keluarga.
Pemerintah perjanjian belanda pada waktu itu dalam keadaan gelisah dan suasana agak sedikit panas, karena sudah mulai pecah perang dunia ke II dan jepang sudah mulai membom Singapore dan jepang juga tentu akan menguasai daerah Indonesia.
Militer-militer belanda yang berada di lhoksukon dan di lhokseumawe secara diam-diam sudah mulai bergerak berpindah ke takengon dan ke medan.
Memperhatikan suasana yang agak panas itu, masyarakat telah dapat menduga bahwa akan terjadi sesuatu kekacauan di Aceh nanti.
Selama saya berada di Lhoksukon sambil bekerja, saya juga dapat merasakan hal itu, karena ditiap-tiap kereta api malam saya lihat banyak serdadu-serdadu belanda diangkut ke medan dan pada waktu-waktu kalau malam hari, dilarang sama sekali menyalakan lampu seperti biasa, jadi harus dilindungi dengan kop supaya tidak Nampak terang untuk musuh (jepang).
Saya berteman akrab sekali dengan seorang kawan namanya Mohd. Amin bekerja sebagai mantri verpleger dirumah sakit lhoksukon.
dan kami selalu pula ngobrol-ngobrol dirumahnya tentang situasi pada saat itu, bahwa jepang mungkin akan datang kita tentu akan serang karena harga barang akan murah, begitulah khayalan kami kebetulan sedang kami berada dirumah saudara Mohd Amin tadi, kami mendengar suatu berita rahasia yang disampaikan oleh saudara M. Hasbi Usman (sekarang bupati pensiunan)di Langsa, Bahwa saudara tersebut memang dikirim oleh jepang chines untuk daerah aceh sebagai badan penghubung dan untuk menggerakkan sabotage-sabotage terhadap pemerintah belanda dan mengatur sesuatunya bila jepang masuk ke daerah Aceh nanti, rombongan yang dikirim itu termasuk Said Abukar, Nyak Neh, Ismail Mangki, Ismail Putih dan lain-lain dan termasuk saudara M. Hasbi Usman sendiri. Mereka ini dinamakan barisan F (Fuyinara Kikan) dan yang untuk Aceh dikepalai oleh Tuan Matsibusi, Jadi oleh saudara M. Hasbi Usman saya dan kawan-kawan lain diajak memasuki barisan F tersebut dan sayapun telah bersedia menjadi anggota F didaerah lhoksukon secara diam-diam kami bergeraklah mencari kawan-kawan lain dan memberikan pedoman bekerja baik sebelum jepang mendarat, lebih-lebih nanti waktu jepang telah mendarat. Iyah karena beritanya memang enak sekali, sebab bila jepang yang memerintah nanti tentu segala-galanya akan murah sekali, maka kamipun bekerja sungguh-sungguh menanti kedatangan jepang tersebut.
Kira-kira seminggu lagi jepang akan mendarat ke kutaraja, orang-orang belanda dan sebahagian serdadu-serdadunya demikian pula pimpinan pemerintahan sudah lebih dahulu angkat kaki dengan aman walaupun ada juga terjadi pertempuran dan pembunuhan yang terjadi didaerah Kutaraja.
Kebetulan di Lhokseumawe ada tinggal beberapa orang diantaranya ada seorang dokter yang diculiknya waktu mereka berkumpul di Lhokseumawe, dokter itu namanya I made Bagiantra sebagai dokter di Lhoksukon dahulu.
Kami para pemuda-pemuda di Lhoksukon telah mengatur satu barisan keamanan dan menjaga akan timbulnya perompakan dan lain-lain didaerah Lhoksukon, waktu kami membicarakan sesuatu tiba-tiba kami teringat tentang seorang dokter dilhoksukon yaitu dokter I Made Bagiantra tersebut yang masih berada di Lhokseumawe. Kamipun mupakat untuk mengambil kembali dan dibawa ke lhoksukon. Beberapa orang berangkat ke Lhokseumawe menjumpai beliau beserta isterinya dengan jaminan keamanan baginya, maka beliau kami bawa ke Lhoksukon kembali. Hanya sayang rumah tempat beliau tinggal dahulu, sudah kosong dan segala isinya sudah diangkut orang(dirampok), tapi beliaupun tetap bersabar, karena sudah selamat dari tipuan belanda.
Jepang sudah mendarat di Kutaraja dan mulai bergerak kejurusan timur dan ada juga yang dari jurusan timur ke Kutaraja. Bila mereka berhenti dan bermalam di Lhoksukon, kamilah yang menjadi badan perantara dan membantu sesuatunya, supaya mereka tidak bergerak sendiri masuk-masuk kampong atau rumah orang demi keamanan penduduk setempat.
Pada suatu hari saudara M. Hasbi Usman dan saya serta beberapa orang teman lain harus berangkat ke Kutaraja dan dengan sebuah auto sedan kamipun menuju Kutaraja, karena panggilan dari kepala F di Kutaraja. Setelah selesai pertemuan dengan kepala F tersebut, kamipun diberi tugas lain dan ditempatkan disebuah rumah(sekarang rumah pensiunan-pensiunan TNI) disamping pendopo, kamipun diberikan tugas menurut kecakapan masing-masing.
Diantaranya yang saya masih ingat, adalah saya sendiri, Hasbi Usman, Nyak Neh, Ismail Mangki, Ismail Putih, Said Ali, Said Usman dan lain-lain saya sudah lupa namanya.
Pemerintahan Jepang sudah mulai berjalan dan saya bertugas dibahagian Maimuda perijinan saya adalah tuan Ogawa (ini adalah orang jepang yang paling baik sekali dan tak pernah marah-marah.
Kantor zainuku itu ialah berfungsi membayar gaji para pegawai-pegawai dalam daerah kutaraja, kira-kira 6 bulan saya bekerja zainuku, saya dikirim ke Singapore dulu sjunanto guna mengikuti lilitan syonan kua kurusendjo, selama 3 bulan lamanya, dari Aceh waktu itu dikirim sebanyak 5 orang, diantaranya, T. Sulaiman Mahmud, T Abdullah, T Cut Husin (Tjuhe), Abdullah dari pulo pinang dan saya sendiri sebagai kepala rombongan.
Kami berangkat dengan sebuah auto sedan menuju medan dan bersama dengan rombongan lain. Kami berangkat dengan kapal laut ke Singapore(sjunanto).
Kami duduk selama 3 bulan bersekolah dan hanya belajar 1 buku bahasa jepang namanya buku momotaro sang.
Pada hakikatnya tujuan pendidikan itu hanya untuk menanam disiplin supaya bangsa kita patuh pada segala peraturan dan adat istiadat jepang, setelah tammat dari latihan kami kembali ke daerah masing-masing dan saya berkerja kembali dikantor Zainubu, gajinya waktu itu dari F 30,00 (tigapuluh rupiah) ditambah menjadi F 60,00 (enam puluh rupiah) penghidupan waktu itu pada ± setahun pemerintahan jepang masih normal seperti sebelumnya. Akan tetapi setelah meningkat setahun kedua dan selanjutnya, mulailah diusahakan kebersamaan terutama bagi masyarakat di pedesaan.
Barang-barang semakin berkurang apalagi kain-kain tak ada lagi dipasaran dan bagi masyarakat dikampung-kampung apalagi yang tinggal jauh dipelosok-pelosok dipedalaman, sampai-sampai memakai kulit kayu untuk penutup aurat.
Pendeknya kehidupan masyarakat pada umumnya sangat sengsara sekali.
Tidak lama kemudian oleh militer jepang diberi kesempatan kepada bangsa kita untuk dididik dan dijadikan opsir. Dalam propaganda mereka, nanti kalau tamat latihan akan diangkat jadi opsir dan pangkatnya juga seperti pangkat orang-orang jepang. Oleh karena tertarik oleh propaganda yang licik itu, dan memang kita tidak tahu benar tentang tipuannya, maka sayapun dan teman-teman lain juga mendaftarkan diri jadi anggota giyugun. Diantaranya Syamaun Gulam, T. A Hamid Azwar, T Abd Husin Yusuf, Bachtiar, T Abdullah Sigli, T Abd Rachman, Ismail Mangki, Nyak Neh, Said Ali, Said Usman, T Sawang, T M Ali Trieng Gading, dan lain-lain.
Sedangkan untuk kab Aceh Barat/ Selatan, diantaranya yang saya masih ingat ialah Mohd Nasir, Habib Mohamad Syarif, Iskandar Nyak Hukum, Tuan Manyak, Nyak Adam Kamil, T Usman Yacob, Zuhal Makmur, Hasan Ahmad, B.B Jalan, dan Cut Rachman Dll.
Setelah selesai mengikuti latihan yang sangat berat sekali dan tidak berperikemanusiaan dipukul dan dianiaya dan bermacam-macam benda sitaan, akhirnya kami semua dikumpul dan disatukan dan dilatih lagi di Idi.
Waktu itu telah bertambah lagi 2 orang kawan dari sumatera timur, yaitu Ahmad Tahir (sekarang jadi Menteri) dan Hotman Sitompul.
Kira-kira satu bulan di Idi kamipun diberangkatkan ke medan untuk dilantik dan kemudian masing-masing diberikan pula 1 stel pakaian seragam dan 1 pedang panjang, pedang itu bukan seperti samurai jepang. Tetapi samurai yang dibuat dari besi rel kereta api dan bentuknya pun agak kasar dan berat pula.
Pangkatnyapun tidak serupa seperti pangkat jepang. Kalau giyugun bentuk pangkatnya dua garis putih diatas dan dua bintang dibawah.
Pendeknya propaganda jepang itu adalah bohong semua dan kamipun baru mengetahui bahwa benar-benar telah tertipu. Tetapi jangan coba-coba membuka mulut.
Kamipun terimalah apa yang telah diberikan itu dan kembalilah ke daerah masing-masing. Selain dari itu ada juga beberapa kawan-kawan lain yang dari prajurit, karena kecakapannya ada yang diangkat jadi opsir atau pembantu opsir.
Disamping itu ada pula opsir-opsir dibagian lapangan udara, seperti T Hamzal, TA Hamdani, Abd Hamid, T Manyak dan lain-lain. Mereka bertugas di Blang Pulo (Lhokseumawe).
Saya dikembalikan ke Kutaraja dan ditempatkan mula-mula di Lam Kabeui kemudian pindah ke Seulimeum, waktu berlatih dulu, pernah juga saya dan Said Usman ditempatkan di Lam No dan kemudian dipindahkan ke Senagan Aceh Barat dan disana berkumpul bersama kawan-kawan yang dari Meulaboh.
Selama saya diseulimeum kami mempunyai kekuatan 1 kompi barisan giyugun. Teman-teman saya diantaranya Nyak Neh, Ibrahim Saidi, M Husin ( Tgk Husin). Pimpinan kami ialah Murakami Syoi.
Sehubungan dengan pemberontakan yang pernah terjadi di Bayu (Aceh Utara) maka kami dari kesatuan giyugun selama itu selalu mendapat pengawasan lebih ketat dari pihak militer jepang. Saya pernah ditanya oleh murakami syoi, bagaimana tentang T Nyak Arif.
Dalam kesempatan yang baik itu sayapun ceritalah tentang perjuangan Almarhum T Nyak Arif dimasa belanda yang cukup berani untuk membela rakyat Aceh.
Pendeknya, kalau ada hal-hal dan peraturan yang kurang wajar ataupun tekanan-tekanan yang akan menderita bagi rakyat, Almarhum langsung bertindak memprotesnya pada belanda. Setelah didengarnya ceritera saya itu, Nampak bukan rasa kagum dan katanya, T Nyak Arief orang hebatnya! Hai kata saya, karena itu sayapun telah jadi kawan baik dengan dia.
Kira-kira bulan lagi sebelum bukan, jepang mulai pula memberikan jasa-jasa baiknya kepada kami, terutama disuruh buat meunasah ( Tempat sembahyang) dalam asrama dan makananpun (ransum) telah mulai baik sedikit dari yang sudah-sudah.
Kalau tadinya beras harus campur jagung tanpa ditumbuk dulu dan sesudah bersih (ditampi) baru dicampur dengan beras untuk dimasak.
Dan kira-kira dalam bulan juli 1945, giyugun dibubarkan buat sementara katanya dan boleh pulang kampong masing-masing waktu mendengar berita itu tidak dapat sebarkan disini, bagaimana senang dan gembiranya hati mereka tak ubahnya seperti orang hukuman seumur dan mendapat kebebasan.
Kepada mereka diberikan kain-kain, beras dan uang, tetapi sangking senangnya, ada juga diantara mereka yang tak mau tunggu pembahagiaan, tapi langsung terus pulang.
Waktu itu terjadi dalam bulan puasa. Setelah perpisahan terakhir dengan sep saya murakami syoi dan setelah selesai urusan dengan anak-anak giyugun, maka sayapun diberikan hadiah, yaitu gerobak sapid an seekor lembu untuk penariknya, dan 2 goni beras dan lain-lain.
Sebenarnya, kalau beras, baru saja mendapat lebih banyak, tapi karena sukar untuk dibawa ke kutaraja, maka saya tidak ambil.
Kira-kira pada jam 5 sore sayapun berangkatlah dengan gerobak sapi menuju ke kutaraja yang dikemudikan oleh seorang anak giyugun yang kampungnya di lambaro.
Dalam cuaca yang sangat baik sekali, kebetulan bulan terang pula sayapun bergeraklah menurut kekuatan tarikan sapi dan pada jam 4 pagi (subuh) sedang orang makan sahur, sayapun tiba dirumah di kampong jawa. Tentu semua yang berada dirumah terkejut, karena saya pulang dengan gerobak sapi. Sayapun terangkan, bahwa kami sudah bukan dari giyugun dan sudah bebas sekarang, barulah family pada senang semua.
Selama dalam beristirahat, sayapun kadang-kadang berjalan-jalan dalam kota dengan sepeda menemui kawan-kawan lama dan sering pula duduk-duduk ditoko kami (dipasar jengek sekarang).
Sambil ngobrol-ngobrol karena jepang sudah kalah, banyaklah komentar kawan-kawan ada yang katakan mungkin pengganti jepang akan datang belanda lagi dan ada pula yang katakana mungkin inggris dan lain-lain.
Semuanya serba mungkin, karena memang kita tidak mengetahui yang pasti.
Tiba-tiba pada saat itu lewatlah sebuah auto kepunyaan Almarhum T Nyak Arief dan memasang bendera merah putih didepannya. Semua jadi keheran-heranan dan kalau begitu kita sudah merdeka kata kawan-kawan, kamipun masing-masing bukan dari situ dan menyelidiki keadaan lebih lanjut. Sedangkan jepang waktu itu masih berada di kutaraja dan kekuasaannya masih diperlihatkan seperti biasa.
Baik penjagaan-penjagaan maupun bendera hinomaru masih berkibar terus. Dalam suasana yang demikian itu, sayapun mencoba selidiki situasi yang sebenarnya dan dengan bersepeda saya berputar keliling-keliling kota dan disekitar kantor cukong. Saya melihat bahwa disana memang sudah berkibar bendera merah putih, walaupun jepang masih berada di kutaraja.
Kesimpulannya, memang Indonesia sudah merdeka.







PEMBENTUKAN A.P.I DALAM MASA KEMERDEKAAN

Atas inisiatif dari Almarhum T Nyak Arif waktu itu dianjurkan pada Syamaun Gaharu untuk membentuk A.P.I ( Angkatan Pemuda Indonesia)
Dengan mengambil tempat di Centraal Hotel maka terbentuklah A.P.I tersebut yang mempelopori sebagai kesatuan tentara yang rasmi. Diantara bekas opsir-opsir giyugun yang hadir waktu itu diantara lain-lain adalah : Syamaun Gaharu, T.A Hamid Azwar, T Mohd Syah, Said Ali, Said Usman, Husni Jusuf, Husin dan lain-lain bekas opsir giyugun, dan sebagai markas besar dari A.P.I tersebut telah ditempati sebuah gedung bekas Toko Murah Jepang dahulu di Peunayong sekarang bernama Eka Jaya (dibelakang Apotik Medika).
Sedangkan sebagai asramanya telah dipergunakan sebuah gedong yang terletak disamping rumah Dr R. Midi dulu bernama sabang coy dan sekarang sudah didirikan toko-toko.
Usaha pembentukan API itu berjalan dengan baik dan melalui ke seluruh daerah Aceh. Sebagai pimpinan ditunjuk Sdr. Syamaun Gaharu yang membawahi atau dibantu oleh sebuah stafnya yaitu T.A Hamid Azwar, Husni Yusuf, Said Ali, Said Usman, T Mohd Syah, Nyak Neh dan lain-lain.
API tersebut disusun berbentuk markas daerah sebagai pimpinan tertinggi berkedudukan di Kutaraja ditiap-tiap kabupaten dinamakan Wakil Markas Daerah ( WMD).
WMD-WMD tersebut dari WMD I sampai dengan WMD VII masing-masing berkedudukan :
1.       Kutaraja dipimpin oleh Nyak Neh dengan pasukannya yaitu:
Pasukan I di Kutaraja dipimpin oleh Said Ali
Pasukan II di Kutaraja dipimpin oleh Usman Nyak Gadeng
Pasukan III di Kutaraja dipimpin oleh Said Abdullah
Pasukan IV di Seulimeum dipimpin oleh T Manyak
2.       Sigli dipimpin oleh T.A Rachman dengan pasukannya yaitu :
Pasukan V di Sigli dipimpin oleh T Risah
Pasukan VI di Sigli dipimpin oleh Abd. Gani
Pasukan VII di Lamlho dipimpin oleh T Abdullah
Pasukan VIII di Meureudu dipimpin oleh Hasballah Haji
3.       Samalanga dipimpin oleh T.M Daud, dengan pasukannya yaitu :
Pasukan IX di Samalanga dipimpin oleh T Hamzah
Pasukan X di Bireun dipimpin oleh Agus Husin
Pasukan XI di Bireun dipimpin  oleh Husni Yusuf
Pasukan XII di Takengon dipimpin oleh Hanafiah
4.       Lhoksukon dipimpin oleh T. Mohd Syah dengan pasukannya yaitu :
Pasukan XIII di Lhokseumawe dipimpin oleh T Yacob Muli
Pasukan XIV di Lhokseumawe dipimpin oleh T Oesman Mahmud
Pasukan XV di Lhoksukon dipimpin oleh Ajad Musi
Pasukan XVI di Lhoksukon dipimpin oleh Hasbi Wahidi
5.       Langsa dipimpin oleh Bachtiar, dengan pasukannya yaitu :
Pasukan XVII di Idi dipimpin oleh M Nurdin Sufi
Pasukan XVIII di Langsa dipimpin oleh Ayub/ Hanafiah
Pasukan XIX di Kuala Simpang dipimpin oleh B. Nainggolan/ Abu Samah
6.       Kutacane dipimpin oleh Mohamad Din dan pasukannya belum tercatat
7.       Meulaboh dipimpin oleh Tjut Rahman dan Pasukannya belum tercatat
8.       Tapak Tuan dipimpin oleh Mohd Nasir dan pasukannya belum tercatat
Pada tanggal 12 oktober 1945 seluruh WMD-WMD dan pasukannya telah dilantik.
                Sesuai dengan situasi waktu itu, maka oleh markas daerah API mengumumkan bahwa API diseluruh Aceh ditukar namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
                Sehubungan dengan pertukaran nama tersebut maka oleh Residen Aceh (T Nyak Arief) mengadakan pertemuan dengan pimpinan TKR di Aceh Hotel dan memberikan beberapa petunjuk dalam menghadapi segala kemungkinan, agar benar-benar waspada. Kemudian dilanjutkan dengan penyumpahan terhadap pimpinan TKR dan dimulai oleh Syamaun Gaharu dan lain-lain.
                Pada permulaan terbentuknya API terutama di Kutaraja, telah tersusun pasukan-pasukan dan kita tuannya yang harus diasramakan dan pada saat itu, operasi yang utama harus dilakukan, ialah mengusahakan pengambilan senjata-senjata dari tangan jepang, karena pada waktu itu tentara jepang masih berada di Kutaraja.
                Pada waktu itu kami belum ada persediaan biaya untuk ransum prajurit yang biasa dimakan, karena dari pemerintah belum ada biaya untuk itu. Setelah berembuk dengan pimpinan (Syamaun Gaharu) maka saya, T.A. Hamid Azwar dan Wahab Makmur pergi menjumpai T.M Ali Panglima Polem yang waktu itu telah menjadi asisten residen diperbantukan pada residen Aceh, untuk mintak bantuan. Kepada kami diberikan uang secukupnya dan juga beras yang disuruh ambil pada toko Sufi Ismail di Spoorajk Kutaraja berapa jumlahnya saya tidak ingat lagi. Pendeknya dalam melengkapi semua keperluan TKR waktu itu, saya masih ingat sumbangan pribadi yang diberikan oleh T Hanafiah Tungkop berupa buah kelapa beberapa gerobak sapid an juga seekor lembu untuk disembelih menempati di asrama Kota Alam. Banyak lagi sumbangan-sumbangan lain yang diberikan oleh masyarakat secara ikhlas kepada kami. Keadaan tentara jepang semakin gelisah, karena dengan bermacam-macam cara kami telah dapat merampas beberapa senjata di Seulimeum.
Beberapa hari sebelumnya, telah kami gembleng sebahagian besar rakyat daerah seulimeum untuk turun ke seulimeum mengadakan demonstrasi pada jepang pos seulimeum supaya mereka serahkan senjatanya, caranya diatur sedemikian rupa sehingga jepang semakin gelisah dibuatnya. Sebenarnya kami telah tegaskan kepada rakyat banyak itu agar terus nonstop berjalan mondar-mandir disekeliling tangsi seulimeum, hanya itu saja yang mereka lakukan, kemudian beberapa sebagai delegasi memasuki kedalam asarama jepang untuk mintak senjata. Yang masuk ke asrama antaranya T Abdullah Seulimeum, T Abdullah Tanoh Abie, T Hamid Azwar, T Mohd Syah, dan sdr Wahab Ibrahim setelah berbicara kira-kira sampai 2 jam lebih dengan menakut-nakutkan mereka, mau diserbu rakyat banyak, barulah mendapat persetujuan dari komandan kompinya dan kami buatlah naskah serah terima, disamping itu oleh pihak jepang mintak suatu jaminan dari TKR agar mereka tidak diganggu oleh rakyat, bahkan supaya member bantuan jika mereka butuhkan, seperti barang-barang makanan dan lain-lain yang akan mereka bayar (beli). Dalam hal itupun kami sudah membuat surat pernyataan. Waktu kami naik dan masuk ke asrama tadi, diluar sudah menunggu beberapa pimpinan rakyat dan TKR diantaranya T Rasyid, Twk Tahir, T Ibrahim, Kecik Ali, Tgk Raden, Tgk Husin, Ibrahim Saidy dan lain-lain.
Setelah senjata diturunkan kebawah, keluar tangsi, maka dilainpun rakyat banyak, kami mengumumkan bahwa senjata telah diserahkan seluruhnya kepada kita dan senjata itu akan dipergunakan oleh tentara kita yaitu TKR. Dan bagi tentara jepang yang masih tinggal di asrama, supaya mereka jangan diganggu dan peliharalah keamanan sebaik-baiknya. Rakyat banyakpun menyambut dengan baik dan gembira atas berhasilnya usaha pada hari itu.
Kemudian, mereka kami suruh bubar dan kembali ketempat masing-masing kamipun kembali ke Kutaraja. Perkembangan TKR semakin bersemangat karena hasil dari seulimeum itu menjadi daya pendorong untuk mencoba pula di asrama Lhoknga.
Akan tetapi, sangat disayangkan sekali, karena perampasan senjata di Lhoknga bukan secara tipu muslihat, bahkan tidak terjadi dengan pertempuran oleh rakyat dari Leupung yang dipimpin oleh Pawang Leman dan rakyat dari Lhoknga sendiri dan rakyat dari Kutaraja (Pelanggahan). Dalam penyerangan-penyerangan itu kedua belah pihak terdapat beberapa orang yang korban. Pertempuran tersebut telah dapat dikendalikan kembali dengan datang satu rombongan dari Kutaraja terdiri dari Kempitulo, T Nyak Arif, Twk Mahmud, T.M Ali Panglima Polem dan T Ali Lembayung. Setelah berembuk dengan pimpinan tentara jepang Lhoknga, maka masing-masing dari rombonganpun kembali ke kutaraja.
Karena kejadian itu maka tentara jepang yang berada di Lhoknga, terpaksa mengungsi ke Blang Bintang bersatu dengan angkutan laut mereka. Di Blang Bintang mereka lebih memperkuat pertahanannya, sehingga tidak mudah ditaksir oleh kita, pada waktu itu, di Kutaraja telah terbentuk juga organisasinPesindo dan Mujahidin dengan masing-masing mempunyai Lasykarnya. Pesindo dipimpin oleh NyakNeh Lhoknga dan Mujahidin dipimpin oleh Cekmat Rahmani,. Pada tanggal 15 desember 1945, tentara jepang yang berada di Blang Bintang akan bergerak menuju ke Ulee Lheue (Ulele) untuk menghindari gangguan-gangguan ataupun hadangan dari rakyat atau TKR.
Dengan tidak diduga-duga mereka telah lebih dahulu mengepung tangsi Kota Alam (markas TKR) dan tangsi Kraton pada malam hari, dan pada jam 7 pagi sewaktu kami Staf markas TKR berada di Tangsi Kota Alam, tiba-tiba telah dikejutkan oleh tentara jepang yang telah tiarap disemak-semak, bahkan saya sendiri waktu itu sedang berada digudang memeriksa sesuatu. Dengan agak kaget, langsung disebut nama saya oleh salah seorang jepang yang kenal dengan saya, yaitu jepang waktu di Seulimeum di Giyugun dulu (kami pernah namakan dia Apa Husin). Katanya : Teuku Mohamadsyah’ angkat tangan! Sayapun kaget dan terpaksa angkat tangan, kemudian kawan-kawan saya yang lain juga sudah ditangkap. Sayapun dibawa bersama-sama dan disuruh naik dalam panser wagen. Yang ditangkap diantaranya ialah, Syamaun Gaharu, T.A Hamid Azwar, Husin Yusuf, Taico Sandang, Abdul Rasyid dan saya sendiri, Said Abdullah pernah ditangkap juga, tetapi kemudian dia dapat lolos. Karena semua dibawa ke Ulee  Lheue dan ditempatkan dibawah bangunan yang sudah usang (dek) yang terletak diujung jembatan Ulee Lheue sebelah kiri. Kami dijaga ketat sekali oleh tentara angkatan laut jepang, selama ditahan kami diperlakukan dengan baik dan diberi makanan ransum tentara laut.
Senjata-senjata kami yang disimpan dibawah pengawasan Said Ali kebetulan saja dilarikan dan disembunyikan sebagian kecil dapat dirampas mereka kembali.
Said Usman juga sempat lolos, karena terlambat masuk dan ia sampai pula merampas sebuah mobil kempitan (sedan loreng) dan bersembunyi ke kampong jawa. Tindakan tentara jepang tersebut rupanya untuk menghindarkan dari pencegahan atau pertempuran dari TKR atau rakyat banyak. Dari itu, lebih dahulu mereka tangkap pimpinan-pimpinannya, agar tak ada lagi yang memberi komando. Setelah kami semua sampai di Ulee Lheue, saya sendiri disuruh naik lagi dalam pantser dan dibawa kembali ke Kutaraja sampai di Tangsi kraton saya diturunkan dan bersama jepang dengan dikawal, dia menyuruh cari meriam yang adadi Kraton mau dibawa oleh mereka. Tetapi meriam itu, bahkan sanjata-senjata berat lainnya sudah dipindahkan dan disembunyikan oleh pasukan kita.
Sayapun dibawa kembali ke Ulee Lheue, kira-kira 4 hari lamanya kami dalam tahanan, datanglah T.M Ali Panglima Polem menjumpai pimpinan jepang di Ulee Lheue. Kami sempat melihat waktu beliau lewat dari jalan menuju ke pelabuhan. Tidak lama kemudian kamipun dibawa kembali ke Kutaraja dan diantar kerumah T.A hamid Azwar di Taman sari. Kecuali Syamaun Gaharu yang masih belum dikembalikan, karena jepang memintak dikembalikan orang-orang jepang yang telah menggabungkan diri dengan kami diantaranya Kozuwa (Kecik Ali) Naguci (Rusli) dan lain-lain. Akan tetapi pengembalian tersebut tidak berhasil sebab mereka sudah dicari tapi tidak ditemui(ini hanya alas an kami), kemudian barulah Syamaun Gaharu dibebaskan dan kembali ke Kutaraja. Pada saat itu jepangpun meninggalkan daerah Aceh diangkut dengan kapal sekutu dan pelabuhan Ulee Lheue.
Disamping itu, kesempatan baik pula oleh oknum-oknum tertentu yang berusaha memiliki sisa perlengkapan jepang yang masih ada dan tinggal dipelabuhan Ulee Lheue seperti kendaraan dan lain-lain untuk prbadinya.
Perkembangan TKR berjalan terus dengan baik dan demi untuk penyempurnaan susunan dan teknik dari markas daerah TKR pada umumnya, maka telah dikeluarkan pengumuman-pengumuman kepada pemuda-pemuda yang berumur 18 tahun keatas untuk mendaftarkan diri masuk anggota TKR. Pada waktu itu memang banyak pemuda-pemuda yang berumur 18 tahun keatas untuk mendaftarkan diri masuk anggota TKR. Pada waktu itu memang banyak pemuda-pemuda dari Blang Oi, dari setoy dan lain-lain yang mempunyai kesediaan masing-masing dan telah melatih diri seperti TKR. Saya sendiri waktu itu pernah meninjau langsung ketempat mereka dan pernah pula memberikan senjata(senapan Kayu) untuk alat latihan mereka.
Kalau di Blang Oi dipimpin oleh T Usman Basyar dan mereka semua kemudian dimasukkan jadi anggota TKR, begitu juga yang dari setuy, disamping itu berhubung dengan pengumuman kami, tiba-tiba telah datang menghadap ke kantor saya beberapa orang pemuda untuk masuk TKR.
Saya perintahkan kepada Sdr Mohamad Z sebagai sekretaris saya (sekarang Letkol Purnawirawan) untuk mencatat nama-nama tersebut. Diantara mereka ada yang saya kenal, yaitu sdr A. Muzakkir Walad, sdr Ahmad Marzuki, sdr T. Hamdan dan lain-lain yang saya sudah lupa namanya. Pada waktu itu saya bertemu langsung dengan mereka dan berikan penjelasan padanya bahwa menjadi anggota TKR adalah berat sekali, terutama harus diasramakan, makan nasi ransum yang tidak enak, latihanpun sangat berat.
Saya jelaskan demikian, karena beberapa orang mereka itu, kelihatannya agak istimewa saya rasa saudara-saudara nanti tidak tahan. Cobalah saya berikan waktu beberapa hari untuk dipikirkan matang-matang dan kalau benar-benar ingin juga, datanglah kembali untuk diberi keputusan.
Rupanya dalam waktu 1 hari tempo saja saudara-saudara itu sudah datang kembali dan mengatakan bahwa mereka benar dengan keinginan keras ingin diterima jadi anggota TKR. Merekapun diterima dan saya suruh urus sesuatunya pada sekretaris. Kemudian saya panggil kepala pelatih saya yaitu sdr Buntak Budiman (letkol purnawirawan) almarhum dan saya nyatakan padanya supaya melatih langsung sendiri untuk beberapa orang itu karena mereka itu agak istimewa dari yang lain-lain. Karena orangnya memang pandai-pandai dalam beberapa minggu latihan, mereka mudah berhasil. Waktu itu saya tinggal dirumah yang dimiliki oleh pak Ibnu Syahdan residen pensiunan sekarang. Tiba-tiba waktu saya pulang kerumah kira-kira jam 7 malam saya lihat mereka yang jaga disitu. Setelah bersalaman dan laporan aman, maka saya suruh istirahat dan masuk kerumah saya. Karena saya memang kenal mereka, maka dalam istirahat itu diperlakukan seperti kawan dan saya suruh beli mie rebus dan kamipun makan-makan bersama.
TKR waktu itu telah tersusun lebih baik dan formasi dari kesatuan-kesatuanpun telah berisi, walaupun belum komplet benar. Untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dari pihak musuh, maka dibentuk pula satu badan konsentrasi pertahanan umum yang bernama markas umum perjuangan dan pertahanan rakyat, dengan susunan pimpinannya :
Ketua                    : Syamaun Gaharu (TKR)
Wakil Ketua        : T Mohd Syah (TKR)
Anggota-anggotanya terdiri dari : Husin Yusuf (TKR), Abdurrahman (Polisi), Nyak Umar (Polisi), Cecep (Polisi Istimewa), A. Hasyimi (Pesindo), Jailani (Pesindo), Tgk M. Daud Bereueh (Mujahidin) dan T Muhamad Amin (Mujahidin). Markas umum ini adalah kumpulan dari seluruh tenaga perjuangan seperti tersebut diatas.
Saya sedikit lupa, bahwa sewaktu saya ditunjuk jadi WMD di Lhoksukon dahulu (WMD II) kedudukan saya telah diganti oleh Cut Rahman dan saya dipindahkan ke Kutaraja. Kira-kira pada awal desember 1945, terjadi suatu perselisihan perebutan senjata di Sigli antara Pusa dan beberapa oknum hulubalang sebenarnya dalam persekolahan ini mungkin dapat diatasi dengan baik akan tetapi ada seorang gembong PKI yang diguling namanya Natal Zainuddin, dan oknum inilah termasuk seorang yang gigih mengadu domba dengan bermacam-macam alasan yang kurang masuk akal, sehingga hasil di Sigli itu nihil dan terus merambat pula terjadinya perselisihan antara kaum Pusa dan Hulubalang di Cumbok yang cukup menyedihkan dan meninggalkan kesan yang mengharukan (waktu itu tidak disadari bagaimana peranan yang dimainkan oleh Natal Zainuddin tersebut).
Dalam pemberontakan di Lamlo itu dari pihak cumbok mempunyai senjata lebih banyak karena diperoleh dari tentara jepang yang pernah tinggal Lamculo, bahkan mereka juga punyai meriam. Sedang dari pihak Pusa lebih banyak massanya (rakyat) daripada senjata. Dari pihak cumbok, termasuk pula seorang komandan pasukan TKR yang bertugas diLamculo yaitu T Abdullah yang telah bersekutu memimpin pasukan cumbok. Yang kemungkinan terjadi karena perhubungan family mereka.
Karena merasa dirinya cukup kuat, mereka selalu pula mempertunjukkan kekuasaan (machteritory dan mengadakan patrol dengan track yang penuh dengan anak buahnya serta kadang-kadang menembak-nembak pula, sampai-sampai ada rumah rakyat yang terbakar. Karenanya tindakan-tindakan yang sangat memuakkan itu, bertambahlah terbakar hati rakyat untuk menentangkannya.
Laporan-laporan serta pernyataan-pernyataan dari partai sudah datang bertubi-tubi, tentang kejadian itu dan ditambah pula desakan-desakan dari pihak lain dengan keterangan-keterangan yang luar biasa yang diuraikan oleh natal zainuddin PKI itu yang katanya dari pihak cumbok telah menginjak-injak Qur’an dan orang yang telah tewas dipotong-potong dagingnya dan diberikan pada anjing dan malam-malam lagi provokasi yang hebat-hebat.
Disamping itu ditambah lagi oleh Tgk Ismail Yakob yang membenarkan apa yang diterangkan oleh Natal Zainuddin itu. Ini adalah suatu problema yang benar-benar sangat gawat sekali yang harus diselidiki kebenarannya dan harus dipertimbangkan dalam suatu siding chusus untuk dapat diambil suatu keputusan.
Maka pada tanggal 5 januari 1946 dengan bertempat di markas TKR daerah Aceh di Kota Alam, berlangsunglah siding pertama markas umum daerah Aceh yang dihadiri oleh anggota-anggotanya dengan acara judul “ Kekacauan di Pihak Pidie”
Hasil dari siding tersebut, ialah mengambil suatu resolusi yang berbunyi :
A.      Markas umum daerah Aceh mengambil resolusi, setelah mendengar keterangan anggota-anggota.
-          Setelah menyelidiki dengan seksama.
-          Seteleh menimbang dengan sedalam-dalamnya dan sebagainya
1.       Menetapkan :
Bahwa segala perusuh-perusuh yang bertindak dipihak Pidie yang berpusat di Cumbok adalah pengkhianat tanah air (musuh nyata Rep. Indonesia)
2.       Memutuskan :
a.       Menyampaikan resolusi ini kepada wakil pemerintah daerah dan pusat komite Nasional Daerah Aceh
b.      Mengajukan kepada segenap rakyat Indonesia untuk menentang barisan pengkhianat tanah air itu.
B.      Bertindak
Mendesak wakil pemerintah daerah Aceh untuk menyetujui resolusi ini dengan mengirim 3 orang wakil, tuan-tuan Syamaun Gaharu, Tengku Ismail Yacob dan T A Sam
Resolusi tersebut ditanda tangani oleh kepala markas umum daerah Aceh yaitu Syamaun Gaharu. Guna diketahui oleh umum, maka resolusi atau salinan resolusi tersebut dikirim kepada seluruh instansi pemerintahan dan partai-partai/ organisasi yang berada di Kutaraja. Berdasarkan resolusi tersebut oleh pemerintahan daerah telah member peringatan ke Cumbok, tetapi tidak diindahkan. Karenanya dikirimlah Ultimatum yang ditanda tangani oleh Syamaun Gaharu dan TM Ali Panglima Polem sebagai wakil pemerintahan, yang isinya sebagai berikut :
Dengan ini memberitahukan golongan yang berpusat di Lamculo dan ditempat-tempat lain yang memegang senjata dan mengadakan perlawanan terhadap rakyat umum, supaya menyerah dan menghentikan perlawanannya mulai pukul 12 siang hari kamis tanggal 10 Januari 1946.
Kalau tidak mau menyerah dan menghentikan perlawanannya maka mereka itu akan ditundukkan dengan kekerasan. Ultimatum tersebut bertanggal 8 januari 1946. Setelah ultimatum berakhir saatnya, maka dikirimlah TKR dan Barisan Rakyat menggempurnya. Terakhir mereka ditembak dengan meriam yang kami ambil dulu dari Seulimeum dan barulah mereka melarikan diri ke jurusan seulawah dan akhirnya mereka pada 13 januari 1946 tertangkap di wisfel wasten eleiding. Diantaranya ialah T Muhammad Daud Cumbok sendiri dan pengikut-pengikutnya dan mereka ditahan di sanggeui dan garot.
Menurut siding komite nasional dipendopo oleh Mr S.M Amin yang waktu itu selaku kepala kehakiman daerah Aceh, mengusulkan agar orang-orang yang ditahan itu dapat dimajukan kesidang pengadilan untuk diperiksa dan diadili secara hukum. Usul itu dapat diterima oleh siding tapi rupanya dari pihak lain tidak dipatuhi instruksi pemerintah itu tidak berjalan.
Dalam pada itu TKR telah dirubah menjadi T.R.I ( Tentara Rakyat Indonesia) dan T Nyak Arif telah diangkat menjadi general mayor, TRI oleh Presiden dengan kabar kawat yang dikirim dari Jakarta dan memberi kekuasaan penuh dalam mengkoordinir TRI daerah Aceh.
Untuk kesempurnaan TRI didaerah Aceh maka oleh kepala staf umum TRI komando Sumatera General Mayor R. Suharjo Harjawan Jaya dengan Surat Keputusan tanggal 23 januari 1946 no 28-KK-6- terhitung sejak 1 januari 1946 , Syamaun Gaharu diangkat menjadi Divisi keamanan TRI Aceh dan kepala pertahanan daerah dengan pangkat colonel.
Latihan ketentaraan dipergiat terus setiap hari dan pada tanggal 16 februari 1946 TRI divisi Aceh yang terdiri dari Resimen Kutaraja, resimen Meulaboh dan resimen Bireuen mengadakan demonstrasi peperangan didaerah Aceh Kutaraja. Inspeksi latihan tersebut turut dilakukan oleh jenderal mayor T Nyak Arief, Opsir-opsir staf divisi dan pembesar-pembesar pemerintahan daerah. Latihan besa-besaran dari TRI ini adalah dalam rangka menyambut setengah tahun kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Tepat pada tanggal 17 pebruari 1946 divisi TRI Aceh dilantik oleh jenderal mayor T Nyak Arief atas nama staf umum komando sumatera.
Dalam peresmian pertukaran nama TKR menjadi TRI divisi Aceh, maka atas nama Negara Republik Indonesia, serentak telah melantik para opsir-opsir dari TRI tersebut, diantaranya :
Kolonel Syamaun Gaharu Divisi keamanan TRI Aceh
Mayor T.A Hamid Azwar Chef staf divisi
Mayor Husin Yusuf sekretaris umum staf divisi
Mayor Said Usman Chef Intedans staf divisi
Mayor Bachtiar chef financien staf divisi
Mayor T.M Daud chef gonie staf divisi
Mayor Mohamad Din chef polisi tentara staf divisi
Mayor T. Mohd Syah resiment komandan Kutaraja
Mayor Cut Rachman Resimen komandan Bireuen
Mayor Mohd Nazir resimen komandan Meulaboh
Mayor Abdul Wahab Makmur chef staf resimen Kutaraja
Mayor T Usman yakob chef staf resimen meulaboh
Upacara pelantikan tersebut berlangsung diKutaraja dilapangan Blang Padang yang dihadiri oleh para opsir-opsir lainnya serta seluruh prajurit yang berada di Kutaraja dan yang turut mengadakan parade pada saat itu.
Sebagai komando upacara adalah mayor T Mohd Syah (komando resimen kutaraja) sedangkan inspektur upacara ialah jenderal Mayor T Nyak Arief. Pada upacara tersebut juga dihadiri oleh para undangan lainnya dari kalangan instansi pemerintahan sipil dan kepolisian serta rakyat umum.
Sungguhpun pada saat itu perlengkapan pakaian prajurit belum sempurna, hanya berupa baju puntung dan celana pendek dari kain bercorak-corak (kain kasur), tetapi karena dilengkapi pula topi waja dan lain-lain dari peninggalan tentara jepang, maka parade yang diadakan pertama kali itu telah memperlihatkan cukup bersemangat dan meriah.
Barisan palang merah yang terdiri dari wanita-wanita juga turut ambil bahagian dalam parade tersebut. Perkembangan TRI bertambah baik dan para pimpinan dari staf divisi maupun dari resiment-resiment telah bekerja dengan giat sekali dan jujur tanpa memikirkan gaji dan penghasilan lain-lain.
Pada waktu itu kami memang benar-benar memikirkan, bagaimana caranya untuk meningkatkan keutuhan TRI, tanpa santunan yang wajar.
Setelah selesai parade yang sangat meriah itu kami para perwira-perwira berkumpul dalam satu tempat sambil berbincang-bincang atas keberhasilan parade tersebut. Seluruh anggota staf dan para perwira-perwira sangat intim sekali dalam pergaulan sehari-hari demikian juga para prajurit yang diasramakan, tetap tabah dan patuh, walaupun ransum makanan dan lain-lain yang mereka terima adalah belum memadai sepantasnya.
Demikianlah perkembangan TRI pada waktu itu dibawah pimpinan colonel Syamaun Gaharu. Selaku Divisi komando TRI Aceh.
Disamping tentara (TRI) di Aceh, badan perjuangan lainnya juga sangat giat dalam organisasi masing-masing diantaranya telah berdiri pula suatu badan perjuangan yang dinamakan Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) yang berkedudukan di Idi selain dari anggota-anggotanya sendiri, dalam tubuh TPR ini telah menyusup pula beberapa orang dan perwira TRI dan anggota-anggotanya yang berada di Idi apa yang terjadi denganTPR tersebut, baiklah saya uraikan sedikit, dengan mengungkapkan beberapa hal yang menjadi catatan sejarah bagi pribadi saya dan juga bagi kawan-kawan saya yang dilibatkan didalamnya.
Adapun duduk persoalannya adalah seperti berikut dibawah ini. Sebagaimana dapat dimaklumi, bahwa susunan formasi TRI meliputi seluruh daerah Aceh. Dalam susunan tersebut masih terdapat kekurangan-kekurangan ataupun kekeliruan-kekeliruan untuk menempatkan seseorang pada tempatnya ataupun pengambilan kekosong-kosongan yang masih ada.
Pada suatu hari salah seorang staf divisi yaitu sdr Husin Yusuf bermaksud pulang ke bireuen untuk menjemput keluarganya akan dibawa ke Kutaraja. Maksud itu mendapat persetujuan dari divisi komandan dan Syamaun Gaharu menitip pesan padanya, yang katanya sambil urusan keluarga dibenarkan bertindak memperbaiki sesuatunya dalam tubuh TRI atas nama komando Divisi.
Kemudian sdr Husin Yusuf bermaksud pun berangkatlah ke Bireuen, yang kemudian rupanya terus ke Idi. Sesampai di Idi, ianya mengirim sepucuk kawat kepada Divisi komandan yang bunyinya dimintak persetujuan/ pengesahan untuk diangkat Tgk Amir Husin Al Mujahid menjadi mayor dan Abdul  Manaf pangkat kapten, masing-masing sebagai komandan PT (Polisi Tentara) Daerah Aceh dan sebagai kepala stafnya. Kawat tersebut, sangat mengejutkan Syamaun Gaharu dan langsung dibawa dalam rapat staf. Setelah diadakan beberapa pertimbangan, maka keputusannya supaya dikawatkan ke Idi dan mintak segera sdr Husin Yusuf kembali ke Kutaraja sama dibicarakan hal tersebut.
Kalau dipelajari isi kawat tersebut, sebenarnya masih sifat 1 bulan. Tapi pada kenyataannya Tgk Amir Husin Al Mujahid, dan Abdul Manaf memang telah diangkatnya langsung dan mereka telah aktif memakai pangkatnya didaerah sana.
Kira-kira beberapa hari kemudian sdr Husin Yusufpun kembali ke Kutaraja menjumpai Divisi komandan. Sebelum kejadian itu Husin Yusuf memang seperti biasa, tetapi setelah kembali dari Idi itu nampaknya agak lain dan rupanya sudah dimasuki ide baru yang berlatar belakang politik.
Dalam hal ini kami sebenarnya sama sekali tidak menduga, kalau-kalau sdr tersebut rupanya sudah lama sebelumnya dipengaruhi oleh orang-orang politik dan telah mempunyai rencana lain. Para anggota staf divisi dan saya sendiri telah dipanggil oleh divisi komandan dan kira-kira pada jam 7 malam diadakan rapat staf dirumahnya. Yang hadir ialah sdr Husin Yusuf, T Said Usman, saya sendiri, Said Ali, T.A Hamid Azwar dan lain-lain. Syamaun Gaharu terus mulai berbicara tentang maksud dari isi kawat yang dikirim oleh Husin Yusuf dan ditanyakan pendapat kami. Setelah kami berikan pendapat, dan keputusannya bahwa usulan tersebut ditolak (tidak diterima) dengan alasan, bahwa pangkat tersebut terlalu tinggi bagi seorang baru yang bukan dari bekas-bekas giyugun dan lain-lain, sedangkan kedudukannya juga kurang tepat.
Tetapi kalaulah ditempatkan di Batalyon dan dengan pangkat letnan, mungkin dapat disetujui (inipun harus melalui latihan-latihan kemiliteran lebih dulu) karena usulan itu ditolak, Husin Yusuf pun langsung memberikan tantangan dengan katanya. Kalau usulan saya itu tidak diterima, kalau nanti terjadi sesuatu hal terhadap TRI atas nama rakyat banyak bagaimana? Apakah nanti tidak menyesal? Dan kalau terjadi sesuatunya kita tentu akan mengatasinya, jawab Syamaun Gaharu. Kemudian Husin Yusuf pun dengan perasaan kurang senang, tanpa bicara apa-apa lagi dan dengan rasa marah terus keluar dari rumah dan pergi.
Sebenarnya tindak-tanduk Husin Yusuf waktu itu seolah-olah dia bukan lagi salah seorang staf divisi, padahal sebelumnya ia sangat tekun berkerja dibidang administrasi, siang malam terus saja mengetik, bahkan kadang-kadang sampai lupa makan. Kadang-kadang dimalam hari ia sempat pula mencatat berita-berita dan siaran luar negeri dan pagi-pagi sudah dibagi-bagikan pada staf divisi. Memang atas keaktifannya itu, kami semua terpaksa angkat saluut kepadanya. Kepergian Husin Yusuf sehabis rapat itu, sampai beberapa hari lamanya kami tidak tahu kemana menghilangnya dia. Kamipun tidaklah memperhatikan apa yang akan terjadai, kami tidak menduga sedikitpun bahwa sadr Husin Yusuf telah begitu jauh memisahkan diri dengan kami dengan membuat suatu rencana jahat yang tidak pantas itu.
Pada suatu hari, tiba-tiba kami mendengar kabar bahwa diseulimeum telah berada rombongan TPR dan beristirahat disitu. Kemudian munculah sdr Husin Yusuf diKutaraja menjumpai Syamaun Gaharu dan menyatakan bahwa ia adalah sebagai atasan dari rombongan TPR hendak membicarakan sesuatunya . pada saat itu kira-kira pada jam 6 sore dalam hujan lebat, kami diantaranya, saya sendiri selaku resimen komando Kutaraja, Said Usman, Said Ali, T.A Hamid Azwar dan Syamaun Gaharu sendiri + Husin Yusuf pergi ke Kampong Ateuk dan mengadakan pertemuan dengan utusan TPR dirumah T.M Ali Panglima Polem (Asisten Residen diperbantukan). Menurut pembicaraan dalam pertemuan itu bahwa TPR bermaksud untuk mengambil alih pimpinan TRI (coup) karenanya mereka mintak agar bersedia menyerahkannya.
Mendengar pernyataan yang demikian, saya selaku resimen komandan tidak dapat menyetujui maksud mereka itu, karena bagaimana mungkin TRI yang resmi harus diserahkan kepada pihak yang bukan tentara resmi. Akan tetapi pendapat dari pihak divisi komandan sendiri dan artvil dari T Nyak Arif, demi menghindarkan pertumpahan darah sesame kita biarlah diterima saja permintaan-permintaan mereka, asal saja tidak ada ekor-ekornya lagi. Pada saat itu juga Husin Yusuf terus menjawab, bahwa tidak aka nada ekor-ekornya. Maksudnya setelah diserahkan pimpinan tidak akan ada tindakan-tindakan lain, seperti penangkapan-penangkapan dan sebagainya. Kata Syamaun Gaharu lagi saya harap teruskanlah melengkapi kekurangan-kekurangan dar TRI kita supaya tetap baik.
TRI sekarang ini, ibarat sebelah rumah yang sudah siap dibangun, hanya perlu dicat dihiasi dan lain-lain. Jadi janganlah rumah itu dibongkar kembali sebab payah waktu mendirikan dulu, hanya hiasilah sebaik-baiknya supaya lebih utuh, walaupun didiami oleh penghuni baru. Sebab pertukaran penghuninya, itu soal biasa. Besoknya, masuklah rombongan TPR ke Kutaraj dengan kereta api dan dengan jalan darat. Rombongan dipimpin oleh Tgk Husin Al Mujahid. Dalam rombongan tersebut turut juga beberapa anggota TRI diantaranya Nurdin Sufi dan lain-lain.
Orang-orang yang pro mereka, baik dari Lhoknga, Ulee Lheue, Montasik dan dari Seulimeum juga tidak menggabungkan diri dengan TPR. Setelah tiba di Kutaraja mereka mengambil tempat Istirahat yang berpencar-pencar dan markasnya di gedong Bank Indonesia sekarang. Dengan adanya TPR di Kutaraja sebahagian besar masyarakat di Kota dan sekitarnya telah diperintahkan untuk mengadakan beberapa kelompok dapur umum untuk menyediakan makanan bagi rombongan TPR tersebut seolah-olah mereka baru pulang dari peperangan dan seperti orang menang perang.
Dari pihak pasukan TRI kita waktu itu tidak dibenarkan keluar asrama. Dan sebenarnya mereka sudah siap-siap untuk bertindak asal saja ada perintah dari atasannya. Karena anggota-anggota TRI juga sebelumnya sudah tahu bahwa kita sudah dicoup oleh TPR, mereka terpaksa dengan hati yang sedih sekali terpaksa menahan diri dan menunggu apa yang akan terjadi.
Pada saat itu, seluruh pasukan TRI yang berada diKutaraj telah dikumpulkan dilapangan Kota Alam dibawah pimpinan saya sendiri untuk diserahkan pada TPR. Setelah siap barisan semua, dan melaporkan kepada divisi komandan, maka Syamaun Gaharu mulailah berpidato dihadapan pasukan tersebut, bahwa mulai dari saat ini pimpinan Divisi V Kutaraja telah diserahkan pada pimpinan TPR atau Tgk Amir Husin Almujahid, oleh karena itu diharapkan agar semua anggota TRI supaya patuh dan tunduk dibawah pimpinan yang baru.
Kemudian Syamaun Gaharu terus membuka pangkatnya dan diserahkan kepada Amir Husin Yusuf. Pada saat itu tidak dapat saya lukiskan bagaimana terharunya perasaan hati masing-masing prajurit dan opsir-opsirnya bahkan ada yang terisak-isak menangis. Kemudian dilanjutkan penyerahan staf divisi serta alat-alat kelengkapannya menurut bidang masing-masing.
Setelah dilakukan coup oleh TPR Idi tanpa perlawanan dan mintanya apa-apa, maka Syamaun Gaharu dan T.A Hamid Azwar telah bebas dari tugasnya masing-masing. Saya masih tetap sebagai Resiment komandant sedangkan staf divisi telah dirombak dan disusun kembali menurut selera mereka. Komandan PT (Polisi Tentara) masih Sabar Datuk. Kira-kira beberapa hari berselang sesudah coup itu, tiba-tiba Syamaun Gaharu dan T.A Hamid Azwar telah ditangkap dan ditahan di Pendopo. Kemudian terjadi pula penangkapan atas diri T Nyak Arif dan ditahan di Takengon. Dalam pemerintahan sipil juga terjadi beberapa perubahan dengan dimasukkan orang-orang baru dari partai dan yang pegang peranan politik adalah T.M Amin dengan pangkat asisten residen diperbantukan TPR kemudian bergerak menuju ke Aceh Barat, Aceh Selatan dan Singkil. Sementara itu di Kutaraja telah terjadi pula penangkapan atas diri Hulubalang-hulubalang dan ditahan dipendopo juga.
Dengan terjadinya coup tersebut dan ditangkapnya kawan-kawan saya tanpa suatu sebab bahkan telah ingkar dari janji mereka waktu penyerahan dulu, maka sayapun telah terasa kurang tenang dan telah kurang bergairah berkerja. Kira-kira dalam bulan maret 1946 disusunlah formasi baru dari pimpinan divisi TRI Aceh yaitu seperti berikut :
1.       Amir Husin Al Mujahid pangkat jendral mayor sebagai pengganti kedudukan T Nyak Arief
2.       Husin Yusuf pangkat colonel sebagai pengganti kedudukan Syamaun Gaharu
3.       Nurdin Sufi pangkat letnan colonel sebagai pengganti kedudukan T.A Hamid Azwar
4.       Bachtiar pengkat mayor sebagai kepala staf divisi
5.       Abu Bakar Majid pangkat kepala PT dan lain-lain penggantian seterusnya
Sebelum menaikkan pangkatnya yang tersebut diatas, tadinya Amir Husin Al Mujahid adalah dari anggota Partai. Husin Yusuf berpangkat mayor, Nurdin Sufi berpangkat mayor juga Abu Bakar Majid juga dari partai.
Demikianlah susunan yang diatur dan mengangkat diri sendiri setelah mereka menguasai TRI. Apa yang terjadi dengan tindakan dari TPR itu, sebenarnya mereka yang turut dalam rombongan, katanya untuk pergi ke Sabang menguasai jika disana, jadi tentang tujuan coup itu adalah macam-macam rahasia bagi orang-orang tertentu saja. Ini memang satu tipuan yang licik sehingga dari pihak TRI sendiri karena kurang siasat jadi termasuk perangkap. Indah kelihaian dari beberapa orang pimpinan dan rombongan TPR itu, sehingga dengan mudah saja telah terjadi penyerahan dari TRI (tentara republic Indonesia) yang resmi kepada TPR (Tentara perjuangan rakyat) itu.
Tidak berapa lama mereka memimpin di Kutaraja, kemudian staf divisi dipindahkan ke Bireuen oleh Husin Yusuf selaku komandan divisi yang baru. Adapun orang-orang yang ditahan dipendopo itu dipindahkan ke takengon disuatu tempat diluar kota Takengon yaitu di Sadong.
Turut juga ditahan 2 orang ulama, yaitu Tgk M Hasbi As Shidiqi dan Ayahanda Tgk Syeh Ibrahim Lambuk. Jadi yang ditahan disitu, ialah T Nyak Arif, Syamaun Gaharu, T Hamid Azwar + 2 orang ulama tadi dan lain-lain. Dan kemudian, Syamaun Gaharu dan T.A Hamid Azwar dipindahkan pula ke tempat lain yaitu ke Tangse. Waktu dalam tahanan oleh ayah Daud Tangdse pernah datang melihatnya dan dia adalah juga orang perjuangan yang ditakuti, karena pasukannya mempunyai beberapa senjata berat dan lain-lain. Waktu bertemu dengan ayah Daud Tangse mereka berdua menceritakanlah apa yang teleh terjadi di Kutaraja, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Amir Husin Al Mujahid. Rupanya ayah Daud pun merasa kurang senang dan menjadi tantangan saja………………….. kemudian dipindahkan pula ketempat-tempat lain dan akhirnya ke Sigli.
Setelah Amir Husin Al Mujahid aktif sebagai general mayor dan dengan memakai kendaraan sedan beserta pengawal-pengawalnya, selalu saja bolak balik dari Kutaraja ke Langsa dan sebaliknya. Kadang-kadang saya sendiri selaku Resiment Komandant tidak pernah ketahui dengan resmi bahwa dia telah berada diKutaraja karena tidak pernah menerima laporan dan ajudannya ataupun dari pengawalnya demikian pula waktu dia pergi dari Kutaraja. Setelah beberapa hari dia menghilang dari sini dan tiba-tiba telah muncul lagi dan menginap di Aceh Hotel tanpa ada laporan. Pada saat hamper bersamaan kebetulan pula telah datang 1 rombongan orang-orang perjuangan yang dipimpin oleh ayah Daud Tangse lengkap dengan senjatanya memasuki ke Kutaraja mereka kira-kira ada 20 orang. Saya mengetahui hal itu, dari laporan seorang anggota PT Hasan namanya. Mereka datang ke Kutaraja bermaksud melihat keadaan disini, karenanya sayapun tidak menaruh curiga pada mereka. Dan suasana keamanan waktu itu belum berjalan dengan baik dan demikian juga TRI sebagai alat Negara, belum dapat menguasai sepenuhnya, karena dari pihak Rakyat umum ataupun organisasi-organisasi dan perorangan, masih memiliki senjata.
Sesudah 1 malam mereka berada di Kutaraja, maka pada malam berikutnya, dengan tiba-tiba syaa diundang oleh sdr Yusuf Haji Saleh untuk berhadir kerumahnya karena ada kenduri katanya. Sehabis mahgrib, sayapun datanglah dan sesampai dirumahnya diKp Ateuk, saya lihat telah banyak kawan-kawan lain yang sudah duluan hadir, diantaranya, Said Usman, Said Ali, Sabar Datuk, Abdullah Masry, T Abdullah Hasan dan lain-lain yang saya belum kenal, yaitu ayah Daud Tangse dan pengikut-pengikutnya. Sesudah makan kenduri, sambil duduk-duduk dimulailah pembicaraan oleh ayah Daud Tangse tentang tindakan Amir Husin Al Mujahid yang dianggapnya tidak patut demikian. Kenapa dia berani mengangkat diri sendiri dan apakah dia saja orang perjuangan? Saya juga orang perjuangan, begitulah yang diucapkan ayah Daud Tangse tadi, kemudian disambungnya lagi, saya harus bertindak dan saya juga berhak pakai jendral mayor. Walaupun pada itu, kamipun turut berbicara dan memberikan beberapa pandangan yang baik agar jangan terjadi kekacauan.
Diantaranya saya pernah jelaskan pada bahwa menurut berita dalam surat kabar, katanya dia diangkat atas kemauan rakyat. Jadi kalau benar demikian, nanti pada hari senin pagi, kebetulan akan diadakan pelantikan ABRI, dilapangan Taman Sari, disaat itu, Amir Husin Al Mujahid tentu turut hadir. Dan dalam kesempatan itu, kita Tanya saja pada rakyat yang hadir, apakah benar mereka telah mengangkat Amir Husin Al Mujahid jadi jenderal Mayor, kalau nanti dijawab tidak, dengan sendirinya pangkal jenderal mayor itu harus dicopot kembali. Dan komandan ABRI yang akan dilantik itu, adalah Said Usman yang turut bersama-sama berbicara tentang rencana itu, rupanya oleh ayah Daud Tangse sudah dapat disetujui. (sebenarnya, apa yang kami usulkan itu hanya sekedar suatu alasan saja, agar dia tidak bertindak diluar garis).
Malam pembicaraan itu, adalah malam minggu, setelah selesai pembicaraan itu kamipun bubar dan kembali kerumah masing-masing. Pada hari minggu ±jam 8 pagi saya pergi ke Ulee Lheue (Landtory) untuk shalat dan mandi-mandi disana. Pada jam 12 siang saya telah berada kembali di Kutaraja dan duduk minum-minum didepan Balai Teuku Umar (BTU). Dulunya dibahagian muka ada disedia zeije untuk tamu-tamu dan saya duduk menghadap ke Kali Aceh.
Kebetulan pada saat itu saya lihat dia beberapa orang anggota PT (Polisi Tentara) sedang lari-lari menuju kearah Mesjid Raya. Saya tidak menjadi perhatian apa-apa tentang kejadian itu, saya pikir mungkin mereka sedang mengadakan latihan. Kemudian saya pulang kerumah. Sekarang rumah dok Abna saya dan T Nyak Arif.
Karena lelah, sayapun tertidur dirumah. Kira-kira pada jam 2 sore, baru saya terbangun, dikagetkan oleh seorang pelopor yang menyatakan bahwa jenderal mayor Amir Husin Al Mujahid telah diculik oleh rombongan pejuang dari tangse bersama anggota PT dan telah dibawa kea rah Seulimeum, mendengar chabar tersebut, sayapun melapor kepada Residen Aceh. Jadi laporan saya agak sedikit terlambat, berita itu telah disampaikan terus ke Sigli dan Bireuen pada staf Divisi oleh T Daud Syah. Waktu tiba di Seulimeum rupanya mereka agak lama berhenti dan kejadian itu dapat dilihat oleh isteri T Taib. Ada kejadian yang lucu, karena sedang mereka mencari-cari benzin untuk autonya, tiba-tiba Amir Husin Al Mujahid sempat melarikan diri menuju ke Kenaloi.
Oleh sdr Hasan (bekas mandor Tahunan) dulu mengejarnya sambil berteriak, Nica, Nica, Tangkap. Oleh rakyat banyak disitu lalu ditangkap dan waktu dibawa kembali, dia diikat tangan dan kaki lalu dipikul dengan 2 orang, tak ubahnya seperti orang memikul barang. Setiba ditempat Abdullah masyarakat sangat marah atas perbuatan sdr Hasan itu dan lalu segera dilepaskan ikatannya. Sewaktu dikejar tadi, kebetulan sdr Hasan pernah juga menembak dengan pestol kolt yang sudah tua rupanya bukan pelor yang keluar, tapi loopnya sekali terbang dan memang tidak mengena. Kemudian mereka bawa terus maksud tujuan ke Sanggeue (Sigli). Dalam auto yang dibawa ialah Amir Husin Al Mujahid, Abu Bakar Majid dan Ibnu Rasyid. Mereka ini terlibat didalamnya, karena mereka diculik dulu di Aceh Hotel, kebetulan Abu Bakar Majid dan Ajudannya Ibnu Rasyid berada dalam kamar sedang berbicara dengan Amir Husin Al Mujahid yang dituju sebelahnya hanya ia sendiri, tapi agar jangan diketahui oelh umum nanti terpaksa diangkat ketiga-tiganya.
Atas laporan dari residen T Daudsyah tadi, rupanya tentara yang berada di Padang Tiji telah menunggu kedatangan auto yang membawa Amir Husin Al Mujahid dan kebetulan rombongan tentara yang di Bireuen dan Sigli sudah tiba juga disitu. Achirnya yang menculik, tidak diculik kembali, yakni telah ditangkap oleh tentara yang membelanya dan terus dibawa ke Sigli.
Walaupun mereka telah ditangkap kembali, tetapi tidak diperlakukan secara kasar, karena dilarang oleh Amir Husin Al Mujahid, akibat kata-kata Abdullah Masry di Seulimeum yang memahami sdr Hasan yang berbuat sedikit kejam terhadapnya. Rupanya baik juga pikiran Amir Husin Al Mujahid itu, mereka yang ditangkap ditahan dan diperiksa di Sigli dan kemudian mereka bersama-sama rombongan dibawa ke seulimeum dan ditahan sementara di Simeuleum. Sedangkan Mujahid terus menuju kutaraja dengan rombongannya bersama divisi komandan dan stafnya. Waktu Abdullah Masry dan kawan-kawannya ditahan di Seulimeum, pernah mereka dibawa ke suatu tempat untuk digertak mau dibunuh. Sesampai ditempat itu, salah seorang kawannya menangis, Abdullah Masry lalu berkata dengan lantang jangan menangis, nanti kalau mati biar kata jadi setan dan kita habisi semua nyawa saudara-saudara yang membunuh kita ini. Rupanya mereka memang tidak ada tujuan untuk dibunuh, hanya gertak saja atau sebagai pukul semangat supaya takut dan mereka dibawa kembali ke Seulimeum, kemudian ke Kutaraja. Setiba rombongan Divisi komandan ke Kutaraja, salah seorang dari anggota PT baru namanya Said Ali (berasal dari Perlak) datang kekantor saya di Kota Alam dan menyampaikan perintah komandan divisi (Kolonel Husin Yusuf) supaya datang ke Aceh Hotel untuk sesuatu keperluan saya bawa auto sendiri, katanya tidak usah, lebih baik bersama auto mereka saja.
Saya sendiri telah dapat merasakan bahwa saya pasti akan ditangkap. Sampai di Aceh Hotel saya dibawa bertemu dengan Abu Bakar Majid (Kepala PT) dan menyampaikan kepada saya bahwa sehubungan dengan penculikan Mujahid, maka saya perlu didengar sedikit keterangan tentang itu. Dan untuk itu saya disuruh auto ketempat pemeriksaan yang berkantor di Peunayong yaitu dikantor kodam I sekarang.
Setiba saya disitu, saya tidak dibenarkan kembali dan buat sementara harus tinggal ditempat itu. Waktu itu saya baru pindah rumah yang tadinya didekat gereja pante Pirak, kemudian pindah kerumah H Ibu Saa’dan. Sekarang dijalan T. Nyak Arif menjaga jangan sampai diketahui isteri saya bahwa saya sudah ditahan, maka saya buat surat diantar oleh seorang prajurit kerumah, saya katakan bahwa saya banyak tugas, mungkin tak sempat pulang,supaya dibelikan sebuah kasur dan kelambu + bantal untuk tempat tidur dikantor. Achirnya isteri saya tahu juga bahwa saya ditahan, diberi tahu oleh Hasim Saleh, waktu dia datang kerumah saya. Yang aneh lagi, begitu saya ditahan terus saja datang orang-orang dari mereka diantaranya Said Ali PT dan lain-lain, untuk memeriksa sesuatunya dan tentu teleponpun disikatnya, kemudian memeriksa seluruh pelosok rumah mencari senjata. Mendengar pemeriksaan tersebut saya kirim kabar supaya Isteri saya pulang segera ke kampong meninggalkan rumah itu dan bawa pulang semua barang-barang kita yang ada disitu. Setelah isteri saya kembali ke kampong jawa (dirumah sendiri) pernah juga datang lagi dari mereka yaitu Said Ali PT hendak memereiksa lagi atau menggeledah rumah saya itu kalau-kalau ada disimpan senjata. Tindakan mereka itu adalah sia-sia saja. Selama saya dalam tahanan. Kira-kira beberapa hari lamanya, barulah mulai diperiksa. Pertanyaan-pernyataan yang diajukan pada saya sama sekali tidak berarti sebagai suatu pemeriksaan. Dan mereka lebih banyak mengulur-ulur waktu supaya saya terus dalam tahanan.
Dalam suasana yang demikian itu, saya dengar pula bahwa Said Ali Kampung Jawa juga sudah ditahan kemudian Said Usman turut ditahan. Said Usman ditangkap ditangkap di Lhokseumawe waktu mau berangkat tugas ke Bukit Tinggi. Kereta api yang ditumpangi Said Usman dari Lhokseumawe, sampai dikandang di stop dan Said Usman diberitahu bahwa ada suatu hal penting yang berhubungan dengan ABRI di Kutaraja supaya segera kembali ke lhokseumawe dan ditahan disitu, kemudian dia dibawa ke Kutaraja dan ditahan di Aceh Hotel juga.
Selain dari itu semua anggota PT lama juga telah ditahan semua senjata dilucuti beberapa hari kemudian, saya dengar chabar dari seorang prajurit yang menjaga saya, bahwa T Nyak Arif telah meninggal dunia sekarang dibawa pulang dengan kereta api ke Kutaraja. Sayapun jadi tersentak dan perasaan saya jadi terharu sekali, karena teringat tentang perjuangan beliau yang membela rakyat, walau dizaman belanda dan juga dimasa jepang. Saya benar-benar sangat terharu sekali pada waktu itu. Beliau benar-benar seorang pahlawan tanah air. Sebenarnya, ditangkapnya T Nyak Arief itu tujuan utama ialah untuk mencopot pangkatnya guna dipakai dibahu Tgk Amir Husin Al Mujahid. Walaupun diatur dengan segala macam alasan-alasan yang memang tidak masuk akal. Beliau itu jelas seorang patriot yang gigih menghadapi segala tindakan belanda maupun jepang yang menindas rakyat, apalagi dimasa kemerdekaan, tentu beliau akan berbuat lebih banyak lagi, demi untuk kepentingan rakyat banyak.
Waktu beliau ditahan disadong dulu, sebenarnya beliau menderita penyakit kencing manis, pernah dimintak datang Dr Mahyuddin ke Sadong, tapi mereka tidak izinkan, dan tentang meninggalnya beliau itu apakah karena penyakitnya itu, ataupun suatu pembunuhan masih tanda Tanya. Dan tentang tahanan 2 orang ulama itu, menurut keterangan yang diperoleh mereka dibebaskan oleh Abubakar Majid, Komandan PT karena Tgk M Hasbi adalah bekas gurunya di Merduati dulu. Setelah saya dengar berita tentang meninggalnya T Nyak Arif, maka melihat-melihat juga dari jauh menuju ke station kereta api, rupanya jenazah beliau tidak ditemukan di Kutaraja, melainkan diturunkan di Lambaro dan terus dibawa ke Lamreung. Dan jenazah beliau dimakamkan di Lamreung yang dihadiri oleh ribuan rakyat dan Alim Ulama. Kita kembali tentang orang-orang yang dalam tahanan waktu itu, diantaranya : saya sendiri, Said Usman, Said Ali, T.A Hamdan, Sabar Datuk, T Abdullah, Abdullah Masry, Yusuf Haji Saleh, dan teman lain-lain dari korps PT(Polisi Tentara) yang namanya saya sudah lupa. Kemudian dikumpulkan dan sebagian ditahan di asrama Neusu dan kecuali teman-teman dari PT ditahan ditempat lain.
Dalam tahanan bersama saya, ialah Said Usman, Said Ali, T.A Hamdani, Yusuf Haji Saleh, ayah Daud Tangse, Oom Sumamparo dan ada beberapa orang lagi dari anggota TRI juga, saya lupa namanya. Pada waktu itu kami hanya menunggu-menunggu, kapan dari kami masing-masing karena kamu sudah lama tidak dibayarkan ransum tentara, maka pada suatu hari, saya, Said Usman dan Said Ali mintak izin pada pengawal di asrama neusu, mau keluar dan menjumpai seorang PT (namanya Tgk Ali Piyeueng) dikantornya diseberang jalan dari asrama Neusu.
Maksud kami ialah untuk menanyakan tentang penyelesaian catu kami yang sudah lama belum diberikan. Kebetulan waktu keluar dari asrama itu kami berjalan bersama-sama sesampai ditangga kantor PT tersebut, tau-tau Tgk Ali Piyeueng telah menelepon pada komandan P.T Abubakar Majid, yang katanya kami telah berdemonstrasi menuju kepadanya sedang dia telah menghilang pula dari kantornya.
Kami terpaksa menunggu-nunggu dikantornya dan tiba-tiba datanglah sebuah kendaraan bus mini yang dikawal oleh seorang anggota PT namanya Yusuf Sokonia Auto itu berhenti pergi dimuka pintu asrama dan Yusuf Sokony langsung menemui kami dan katanya atas perintah komandan PT kami harus dipindahkan ke Lhoknga, semua harus siap-siap untuk naik ke mobil itu. Mendengar hal tersebut. Saya langsung pula mintak padanya supaya kami dibawa menghadap Divisi komandan dulu. Kenapa kami harus dibawa ke Lhoknga? Itu kan markas Pesindo dan kami anggota militer kalau mau dibawa ketempat militer.
Sayapun dan Said Usman, Said Ali terus naik ke auto dan diantar untuk menemui Divisi komandan. Waktu itu Ayah Daud Tangse telah siap dengan bungkusan tikarnya mau naik untuk pindah ke Lhoknga, lantas saya bilang padanya supaya kembali saja ke asrama dulu, kamipun berangkat dan mencari Husin Yusuf, kebetulan dia berada dikantor sentral telepon dan katanya pada Yusuf Sokoni supaya kami dibawa saja berbicara dengan Abu Bakar Majid yang berkantor di K.M.K (sekarang kantor kodim).
Setiba kami disitu. Kebetulan Tgk Ali Piyeung juga sudah berada disitu. Kamipun menghadaplah dan ditanya oleh Abubakar Majid kena apa kami berdemonstrasi tadi. Kamipun heran dan kami jawab, bahwa bukan demonstrasi, kami sebenarnya ada urusan masing-masing kebetulan berjalan bersma-sama bermaksud menjumpai Tgk Ali Piyeung menanyakan tentang penyelesaian catu-catu kami yang sudah beberapa bulan belum dibayar. Dan kami keluar dari asrama adalah seizin pengawal, itulah yang ada kami lakukan dan bukan berdemonstrasi. Belum lagi kami sempat meneruskan pembicaraan maka oleh Tgk Ali Piyeung pun terus mengaku suatu kesilapan atas tindakannya itu dan mintak maaf pada kami.
Sesudah jelas duduk persoalanya, kemudian oleh Abubakar Majid menyurh kami pindah dan ditahan dirumahnya dirumah Pembina diujung sekali yang berhadapan dengan perusahaan listrik Neusu. Yang ditahan disitu, ialah saya sendiri, Said Usman, Said Ali dan T.A Hamdani dan lainnya masih ditahan di Asrama Neusu dan tidak jadi dibawa ke Lhoknga. Selama kami ditahan dirumah Abubakar majid, tidak ada diadakan pengawalan. Jadi kami bebas, hanya dalam lingkungan pekarangan rumah itu saja. Dan Abubakar Majid hanya sendirian, belum bawa keluarganya. Ada suatu kejadian, bahwa pada suatu waktu kira-kira jam 5 sore, saya mendengar bel telepon dirumah, karena dia tidak ada, terpaksa saya yang meladeninya. Rupanya yang bicara waktu adalah Syamaun Gaharu yang ditahan di Sigli, mau berbicara dengan Abubakar Majid, jadi kamipun tertawalah sambil bicara dan saya katakana Abu Bakar Majid Sudah keluar. Sedang kami berbicara, tiba-tiba perhubungan diputuskan oleh central. Pada waktu itu masih diadakan sensor bicara dengan telepon maupun surat-surat dan pos juga disensor.
Sesudah beberapa minggu kami ditahan disitu, atas permintaan kami, dibolehkan pulang kerumah secara bergiliran, pulang jam 12 malam dan harus kembali pada jam 5 pagi. Sesudah beberapa bulan kami dalam tahanan, baru dikumpulkan kesemua para tahanan disatu tempat di rumah komandan kodim I sekarang, dulu rumah itu kosong, kepunyaan DKA. Pada suatu hari, kami dapat berita-berita bahwa kepada kami semua dibenarkan berolah raga dilapangan, dibenarkan gerak jalan pagi-pagi dan dibenarkan pula nonton bioskop.
Keadaan indah lebih diperlonggar, dan memang kalau dipikirkan secara wajar, kami juga bukan orang yang bersalah, tapi dicari-cari kesalahan supaya kami tersisih dari klik mereka. Memang begitulah situasi pada waktu itu. Pada suatu hari, datang panggilan pada kami, yaitu : T. Mohd Syah, Said Usman, Said Ali, T.A Hamdani, Yusuf Haji Saleh, Abdullah Masry, T Abdullah dan lain-lain, untuk diadakan persidangan oleh pengadilan yang dikepalai oleh hakim yaitu Mr S.M Amin dan jaksa penuntut adalah sdr Hasan Ali dengan anggota-anggota siding yaitu Tgk Hasballah Indrapuri, Tgk Kamal dan lain-lain.
Persidangan diadakan dalam ruangan kantor PT (kodim sekarang). Perkara yang dituntut atas diri kami, terutama atas diri saya sendiri, yaitu tentang terjadinya penculikan atas diri Amin Husin Al Mujahid. Setelah dibacakan beberapa laporan dan proses verbal oleh jaksa, maka secara ringkas oleh hakim memberikan keputusannya, masing-masing kami dikenakan hukuman 6 bulan penjara karena bersalah. “Mengetahui akan terjadinya suatu kekacauan, tetapi tidak melaporkan kepada pihak atasan” kira-kira begitulah artikel yang dikenakan atas diri kami, sebelum diketok palu, kami harap-harap mungkin salah seorang dari para ulama yang hadir itu akan memberikan sedikit pembelaan, rupanya mereka diam saja. Dan kepada kami diberikan kesempatan membela diri, tetapi kemudian palupun diketok dengan keputusan tetap 6 bulan penjara. Kemudian dinyatakan kepada kami, dalam waktu 2 minggu boleh naik banding pada hakim tinggi atau ke Jakarta.
Sesudah putus perkara, saya sendiri, Said Usman, Said Ali, T.A Hamdani dan Yusuf Haji Saleh boleh bebas diluar sementara waktu 2 minggu itu, sedangkan teman-teman lain, Abdullah Masry dan kawan-kawannya dari bekas PT dan anak buah Ayah Daud Tangse dibawa ke Bireuen dan dimasukkan dalam penjara disana. Selama kami mulai dibenarkan bebas diluar dengan sendirinya kami terus berfikir dan berusaha mencari jalan keluar, jangan sampai masuk penjara.
Dalam pada itu Jenderal mayor Amir Husin Al Mujahid telah menetap tinggal di Kutaraja yaitu dirumah Aceh Tram dahulu di Neusu atau bekas kantor penguna perang daerah Aceh yang banyak oknum-oknum tertentu menjadi kaya dari hasil pembahagian ialah karet dan lain-lain. Dalam waktu 2 minggu itu kami terus berpikir dan berpikir bagaimana caranya mengajukan banding ataupun mintak kebebasan, kalau urusan ke Jakarta, itu tak mungkin sama sekali karena dalam suasana waktu itu rasanya belum mengizinkan sampai ke pusat.
Sedangkan ditilik dari keputusan Hukum yang dijatuhkan atas diri kamipun nampaknya belumlah secara keadilan menurut hukum yang sebenarnya, dan waktu itu, keadaanpun belum normal betul, justru masih berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dan berkuasa, dialah yang menang dan dapat berbuat sesukanya. Entah bagaimana, kebetulan terpikir oleh kami, lebih baik kita coba mengadap Jenderal Mayor Amir Husin Al Mujahid. Menurut perembukan kami, sebelum kita menghadap, lebih baik kita antar dulu sesuatu buah tangan kepadanya, karena 1 minggu lagi akan mulai mamegang puasa, pendapat kami itu memang cocok  dan oleh Yusuf Haji Solehpun membeli seekor lembu dan dibawanya sebagai buah tangan kepada beliau itu. Besoknya kamipun pergi menghadap kerumahnya dan diterima dengan baik sekali. Kamipun mulai buka bicara, bahwa kami ini kesemuanya sudah bersalah dan oleh pengadilan sudah dijatuhkan hukuman masing-masing 6 bulan penjara. Kami pikir, daripada dihukum, lebih baik kami dikirim saja ke fion bertempur dengan musuh sebagai menebus kesalahan kami. Dan karena satu minggu lagi akan memasuki bulan puasa, sedangkan kami harus masuk penjara, kalau boleh kami harap sangat atas bantuan ayah agar kami dibenarkan tinggal diluar selama dalam bulan puasa. Setelah didengarnya keterangan dan permintaan kami itu, iapun terus mengatakan bahwa yang sebenarnya sdr-sdr ini semua tidak ada yang bersalah, dan saya lebih kenal sdr-sdr. Ini hanya urusan Husin Yusuf saja, maka jadi begitu. Kalau begitu baiklah sdr-sdr tinggal dirumah saja dan nantiu dihari mamegang puasa datanglah kemari mengambil daging sedikit, karena sayapun ada memotong sapi. Demikianlah jawabannya kepada kami.
Kamipun bukan main merasa gembira dan setelah mengucapkan ribuan terima kasih, kamipun pulang. Tiba dihari megang, kami masing-masing datang ke Neusu dan menerima pembahagian 2 tumpuk seorang. Didalam bulan puasa kebetulan sdr-sdr Syamaun Gaharu dan T.A Hamid Azwar telah dibawa kembali dari Sigli ke Kutaraja dalam keadaan bebas, tetapi masih dalam pengawasan mereka. Syamaun Gaharu ditempatkan dirumah Pak H Ibnu Sa’adan sekarang dan dijaga oleh seorang polisi dan T.A hamid Azwar tinggal dirumahnya sendiri di Taman Sari.
Pada waktu itu kamipun boleh bertemu dengannya dan berbicara-berbicara seperti biasa. Tapi secara tidak langsung, kami juga ketahui bahwa selalu saja ada mata-mata yang mengikuti langkah kami. Yang kalau mau bicara hal-hal yang penting sekali harus cari tempat yang aman. Dalam kesempatan yang baik itu, setelah berbuka puasa dirumah masing-masing, kami berkumpul kembali dan selalu duduk-duduk didalam halaman Balai Teuku Umar (BTU) sambil minum-minum. Disitulah kami buat satu rencana, guna menghindarkan diri dari tekanan-tekanan hukum rimba yang telah diperlakukan atas diri kami.
Apakah rencana itu??
Rencana itu ialah rencana untuk keluar dari Aceh dan bagaimana caranya supaya bisa keluar, baiklah akan saya uraikan seperti berikut :
Kami sengaja duduk-duduk dihalaman Balai Teuku Umar dan berbicara bisa lebih leluasa karena keempat-empat penjuru, kami dapat kuasai kalau-kalau ada mata-mata yang mendengar pembicaraan kami. Dan karena tempat ini, cukup tenang, pasti tidak mereka duga ada suatu pembicaraan rahasia dsb. Dan kalau ada orang yang kami curigai, kami kodekan dan mengalihkan pembicaraan lain. Kadang-kadang sampai mintak-mintak tambah minuman atau makanan supaya dapat bicara lebih panjang. Mula-mula kami rencanakan keluar dengan sebuah motor boat yang dipimpin oleh Mr Brem, tetapi karena keadaan cuaca dan suasana di laut sangat buruk (Musim Barat) terpaksa diurungkan padahal persediaan bahan bakar dan lain-lain sudah tersedia semua.
Rencana kedua melalui jalan darat jurusan medan, inipun menurut pertimbangan banyak pertimbangan banyak rintangan dijalanan terutama di Sigli, Bireuen dan seterusnya, lebih banyak mush daripada kawan dan pasti gagal. kemudian rencana yang ketiga, yaitu melalui Aceh Barat, kami sependapat semua, dan cocok karena didaerah sama banyak kawan, akan tetapi masih terbentur tentang perhubungan dan dengan apa kami harus berangkat. Kalau dengan auto, waktu itu auto sangat sukar sekali kecuali auto tentara, kalau bisa satu-satunya jalan harus dengan auto tentara. Tetapi inipun soal yang sangat pelik sekali dan sama dengan memasukkan diri dalam perangkap. Kemudian sayapun mengajukan satu usul, kalau mungkin dapat diterima. Saya katakan bahwa sdr Hasballah Haji (Komandan Resimen I) sebagai pengganti saya, adalah kawan baik sekali dengan saya, kami dulu dizaman jepang, satu cufay di Lamno dan selalu bertukar fikiran, mengenai pertentangan ulama dan Ulee Balang. Dan pendirian dia memang baik dan dapat disesuaikan bagaimana yang sebenarnya, jadi tidak berpihak-pihak.
Satu-satunya jalan sekarang, ialah kita mintak bantuan dari Hasballah, mendengar keterangan saya itu, oleh T.A Hamid Azwar terus saja kurang setuju, katanya diakan orangnya Daud Bereueh. Itu benar, tapi dia dapat memisahkan diri antara yang baik dan yang tidak baik, artinya kalau tujuan kita baik, saya yakin dia pasti dapat dan mau membantu kita, sebabnya sudah mendalami benar-benar isi hatinya, selama kami bersama-sama di Lamno dulu. Dan itu maka saya kemukakan, kepada dialah kita mintak bantuan. Dan kalau saudara-saudara percaya kepada saya, kan saya juga tidak mau sampai ditangkap lagi, kita ini kami senasib.
Sesudah itu, masanya hening sebentar, dan kemudian diserahkanlah atas kebijaksanaan saya dalam hal itu. Besoknya pagi-pagi jam 8 pagi, sayapun langsung pergi menemui sdr Hasballah dan kebetulan saya menemui dia yang baru saja turun dari rumah ayah Gani disamping gereja Peunayong. Sayapun berbicara dengan dia dan mintak agar dia bersedia member waktu untuk bertemu dengan kami dirumah tahanan Syamaun Gaharu, karena ada hal sangat penting yang akan dibicarakan.
Baiklah katanya dan kamipun pergi bersama-sama menuju kerumah Syamaun Gaharu. Kawan-kawan lain sudah duluan menunggu disitu. Setiba disitu, kamipun mulai bicara bahwa keadaan kami sekarang nampaknya tidak diterima lagi di Aceh. Oleh orang-orang tertentu, karenanya lebik baik kami keluar dari Aceh untuk berjuang diluar Aceh jadi kami mintak bantuan saudara untuk menolong dalam hali ini. O, boleh saja katanya, kenapa tidak bilang dari dulu-dulu saya sendiri boleh antar, dan kapan mau berangkat. Demikian spontan sambutan baik daripadanya. Kemudian kami lanjutkan, caranya jangan begitu. Kalau sdr Hasballah yang mengantarnya, nanti akan terjadi hal-hal yang kurang baik bagi sdr sendiri. Caranya yang lebih baik, ialah kami dapat lolos dan dari pihak sdr-sdrpun tidak ada resiko apa-apa menurut yang kami rencanakan, sdr Hasballah atas nama komandan Resimen I Aceh, membuat 1 surat perintah resmi kepada 3 orang, 2 supir dan 1 montir namanya sdr Raba, Andah dan Basmian untuk pergi ke Meulaboh dengan kendaraan Pick Up guna mengambil sesuatunya yang kira-kira ada di Meulaboh. Hanya itu saja yang perlu sdr Hasballah buat dan kami nanti membonceng dalam auto tersebut. Atas kemauan kami, seperti halnya orang-orang preman biasa mintak numpang auto tentara jadi dengan cara demikian, kami rasa kita sama-sama terlepas dari tindakan pihak lain.
Cara yang kami atur itu memang sangat cocok sebelum berangkat, T.A Hamid Azwar telah lebih dulu membisikkan kepada T Hamzah selaku kepala bahagian angkutan Divisi V supaya mempersiapkan perkakas-perkakas serapnya dan lain-lain. Srd Abd Salam sebagai pembantu T Hamzah terpaksa kerja siang malam melengkapi kendaraan tersebut. Untuk menghilangkan kecurigaan orang, maka kopor pakaian kami masing-masing beberapa hari sebelumnya, telah kami titip dan disimpan dirumah supir-supir itu.
Kami ambil ketetapan, bahwa kami akan berangkat nanti pada 27 hari puasa dan persis pada saat sedang orang-orang berbuka puasa. Secara ………… bahwa kalaulah kita berjalan-jalan kira-kira 15 menit lagi sebelum waktu berbuka menuju ke tempat kendaraan yang sudah menunggu, kalaupun kita bertemu dengan orang lain (siapa saja) sudah tentu mereka tidak mempunyai perhatian apa-apa, karena pada saat-saat hampir berbuka itu, perhatian mereka tertuju dan terbayang semata-mata tentang persediaan makanan yang ada dirumah. Jadi persis pada saat-saat itulah kami berjalan masing-masing satu persatu menuju ke kendaraan yang sudah menunggu ditepi jalan, dimuka kantor Ipeda sekarang. (waktu itu disitu sangat sepi sekali dan gelap).
Kami semua sudah berada ditempat kendaraan kecuali Syamaun Gaharu. Sebab dirumah Syamaun ada seorang polisi juga. Untuk dapat keluar dengan bebas, kami sudah berikan suatu akal padanya, supaya menyuruh beli rokok kaleng merk luar negeri pada polisi itu sampai dapat dan supaya diberikan 7 wangnya yang cukup + hadiah buat polisi itu agak besar sedikit supaya dia cari benar-benar sampai dapat. Padahal rokok kaleng tersebut waktu itu masih sukar didapati di Kutaraja, halmana dilakukan, hanya untuk mengulur waktu agar Syamaun Gaharu dapat keluar dengan bebas. Begitu polisi tadi pergi, maka Syamaun Gaharu pun keluar menuju ke Kendaraan. Kami semua pakai uniform tentara. Syamaun Gaharu duduk disamping supir dan kami berempat duduk dibelakang. Dimuka kendaraan dipasang bendera Komandan Divisi, waktu itu, kalau tidak salah, benderanya warna kuning dan gambar hati ditengah-tengahnya?
Jadi penumpang kendaraan itu ialah:
Syamaun Gaharu              Kolonel
T.A Hamid Azwar              Mayor
T Mohd Syah                      Mayor
Said Usman                         Mayor
T.A Hamdani                       Letnan Satu
Supirnya Rabu dan Andal
Montirnya Basiman
Perlengkapan-perlengkapan yang dibawa :
Makanan-makanan dalam kaleng
Rokok dan minuman-minuman dalam kaleng
Kopor pakaian masing-masing
Senjata pistol ada 3 pucuk dan alat-alat kendaraan (serapnya) cukup semua.
Kira-kira persis sedang waktu berbuka, kamipun start melalui jalan Jambo Tape-Taman Pahlawan-Jalan Neusu-melalui jalan muka halaman bangunan Listrik Neusu-Jalan raya yang menuju ke Lhoknga.
Yang kami sedikit sangsikan, ialah kalau-kalau sampai dipos jaga Lhoknga. Tetapi karena perhitungan kami memang sudah matang sekali dan waktunya sedang berbuka puasa, sudah tentu penjaga pos tersebut juga sibuk dengan makan-makan dan pasti dia agak lengah waktu itu. Dan yang jaga itupun adalah tentara yang belum terlatih sama sekali dan apa arti jaga itupun dia belum tahu. Yang dengan pertolongan Allah SWT, memang pos jaga di Lhoknga kosong dan auto kamipun seolah-olah seperti terbang saja melewati pos itu.
Sesudah melewati pos Lhoknga, perasaan kami sudah sedikit lega dan dengan kecepatan tinggi auto berjalan terus dengan aman cukup waspada, kalau-kalau ada rintangan lain. Kira-kira sampai ditanjakan gunung kulu, kebetulan dari hadapan kami ada sebuah auto yang berhenti karena mogok karena jalan agak sempit, auto kamipun berjalan pelan-pelan dan tiba-tiba datang seorang yang kami kenal yaitu anggota PT dari Aceh Barat dan dia berasal dari montasik, diapun menegur kami dengan sebutan Merdeka! Saya jawab Merdeka! Dan dia Tanya mau kemana pak, saya jawab mau ke Meulaboh, tolonglah Autonya itu digeser sedikit kepinggir, agar bisa kami lewat, kata saya, menurut penglihatan kami anggota PT itu nampaknya ada sedikit curiga, kelihatan dari pandangannya waktu berhadapan muka dengan kami. Tapi diapun tidak tanyakan lebih lanjut. Lewat dari situ kami telah masuk daerah Lamno dan kami kejar ke rakit Lam Besoe, setelah menyeberang barulah kami dapat bernapas dengan lega dan benar-benar merasa aman.
Kami berangkat lagi, hanya satu kali bocor ban dan kemudian kira-kira pada jam 6 pagi kami baru sampai di Meulaboh dan terus kerumah sdr Wahab Makmur, selaku komandan Resimen Meulaboh waktu itu. Diapun agak terkejut melihat kami tiba-tiba telah berada dirumahnya. Kami ceritakan sedikit tentang rencana kami sambil makan pagi dirumahnya. Diapun menyokong sepenuhnya. Dan kami mintak kesediaannya pda itu hari juga mengadakan latihan perang-perangan di meulaboh dari yang penting agar sentral telepon segera dikuasai serta memutuskan perhubungan. Ini maksudnya supaya kalau ada telepon dari Kutaraja, buat sementara tidak dapat dilayani, sambil memberi waktu kepada kami dalam perjalanan menuju ke Aceh Selatan (Tapak Tuan). Waktu berangkat dari meulaboh, memang ada beberapa anggota PT yang berada dijalanan melihat kami dalam kendaraan.
Sampai disatu tempat penyeberangan yaitu namanya Kroung Baro? Kebetulan auto kami tidak bisa lewat karena air pasang besar dan jembatan disitu sudah rusak jadi harus masuk dalam sungai kalau mau lewat ke seberang. Secara kebetulan saja dan memang semua itu adalah atas kehendak Allah SWT, diseberang sana telah ada pula satu kendaraan lain yaitu mobil penumpang yang mau kembali ke Tapak Tuan. Kamipun berpisah dengan kawan-kawan kami yang setia itu, yaitu sdr Rabu, Andal dan Basiman dengan saling meneteskan airmata dan sungguh sangat terharu sekali waktu itu.
Sebab rencana semula, kendaraan yang kami bawa itu akan dipakai terus sampai ditempat tujuan, melalui jalan Runding ke Aceh Tenggara dan terus ke Medan, tapi karena terhalang disitu, terpaksalah mereka kembali dengan sangat sedih sekali kami telah berikan nasehat-nasehat pada mereka apa dalam pemeriksaan nanti dapat menjawab dengan tepat, sehingga mereka terhindar dari suatu tuduhan.
Kamipun naik mobil penumpang tersebut dan dengan selamat tibalah di Tapak Tuan, komandan batalyon di Tapak Tuan adalah Habib Muhamad Syarif (sekarang Letkol Purnawirawan). Kamipun menceritakan sesuatunya yang terjadi diKutaraja. Kami disambutnya dengan baik dan gembira sekali. Waktu itu ialah pada 29 hari puasa dan besoknya Hari raya. Pada malam hari sambil istirahat, kamipun ceritera lagi tentang coup yang dilakukan oleh TPR, karenanya kami mau berangkat terus ke Prapat menghadap Panglima Sumatera (General Mayor R Suharjo Harjowarjoyo) dari itu lebih baik kami berangkat besoknya. Kami tidak diizinkan berangkat dan tinggal beberapa hari di Tapak Tuan, dan segala resiko saya tanggung katanya. Saya tidak tahu kalau sekarang Husin Yusuf jadi Divisi Komandan di Kutaraja karena tidak ada hitam atas putih dimeja saya.
Yang saya ketahui sdr Syamaun Gaharulah selaku Divisi komandan sekarang. Tidak usah takut-takut saya jamin keselamatan sdr-sdr kira-kira begitulah yang saya masih ingat kata-kata yang diucapkan oleh habib Muhamad Syarif waktu itu. Kemudian kami nyatakan padanya, bahwa sambutan habib itu sangat kami hargakan, akan tetapi, walau bagaimanapun mereka sekarang berkuasa dan untuk menghindari pengejaran terhadap kami, baiklah kami tinggal disini untuk 2 malam saja.
Besoknya pada hari raya, chusus untuk pesta kecil dengan kami, Habib sudah menyuruh potong seekor kambing dan pengurusannya diatur oleh seorang opsir namanya Amiruddin. Kemudian dengan sebuah kendaraan (Motor barang) yang sudah tua sekali, dari batalyon dan diantar oleh seorang opsir namanya Iskandar kamipun berangkat menuju bakongan. Akan tetapi kami tidak dapat terus dengan motor tersebut karena disuatu tempat ada jembatan rusak dan terpaksa kami turun disitu. Sdr Iskandar mencari 2 buah sepeda untuk pengangkut barang-barang kami dan sambil mendorong speda tersebut berganti-ganti sejauh kira-kira 30 Km. berjalan kaki.
Bagaimana letihnya kami waktu itu dan sebentar-bentar kami berhenti cari air minum ditelaga yang berada ditepi-tepi hutan bakau ditepi jalan. Badan kami basah kuyub dengan keringat karena jalan didaerah itu memang ditepi pantai jadi kalau speda itu didorong, kadang-kadang bukan maju tapi bannya masuk kedalam pasir, apalagi barang-barang kamipun sedikit berat. Walaupun demikian kami toch selalu dalam gembira. Kira-kira pada jam 5 sore, kamipun telah sampai dari jauh, kami lihat sepasukan tentara (TRI) berdiri dalam barisan.
Rupanya pasukan itu, ialah sebagai penghormatan menyambut kedatangan divisi komandan ke Bakongan. Sesudah itu, kamipun dibawa ke Asrama(rumah) yang memang sudah dipersiapkan lebih dahulu untuk menerima kami. Kami disajikan minuman dan diberitahukan dimana kamar tidur, kamar mandi dan sebagainya, sesudah maghrib, kamipun dibawa untuk bersantap malam disuatu tempat yang sudah disediakan secara baik sekali.
Menurut penyelidikan kami rupanya oleh Habib memang sudah ditelepon lebih dulu tentang kedatangan Divisi komandan dan staf akan datang ke Bakongan. Dari itulah maka terjadi penyambutan yang meriah terhadap kami.
Mereka tidak ketahui tentang keadaan kami yang sebenarnya, sambil duduk-duduk dengan para opsir-opsir disitu, Syamaun Gaharu menerangkan, sebenarnya kami dengan auto sendiri mau mengadakan inspeksi ke daerah ini, tapi karena jembatan rusak, maka terpaksa jalan kaki.
Maksud kami ialah untuk meninjau dari dekat keadaan-keadaan didaerah ini dan kami akan berangkat terus ke Singkil. Yang saya masih ingat, diantara tentara yang mengambil kami dibakongan itu, ada seorang yang saya kenal namanya Zulyaden daripada waktu jalan pernah diangkat jadi perwakilan pemerintahan di Sinabang.
Besoknya maksud kami terus mau berangkat lagi dan pada malamnya kami suruh lihat-lihat ke pelabuhan, apakah mungkin ada perahu layar (Pencalang) yang menuju ke Singkil. Kebetulan saja, memang seperti telah disediakan dan ada satu pencalang yang mau berangkat ke Singkil besok, memang telah ditakdirkan Allah SWT, sehingga perjalanan kami tidak pernah terhalang dan seperti sudah diatur. Kami tidak pernah terhalang dan seperti sudah diatur. Kami hanya menyediakan bahan makanan mentah (beras, ikan asin, kopi dan gula) dan besoknya berangkatlah naik pencalang menuju ke Singkil. Sebelum tiba disingkil, kami mendarat disatu kampong dan daerah itu dipimpin oleh seorang kepala negeri atau camat kalau sekarang. Jadi kami tidak jadi melalui laut lagi dan bermalam dirumah camat itu (saya lupa namanya) kami diladeni seperti tamu terhormat dan ramah sekali.
Besoknya setelah makan pagi kami berangkat lagi dengan 3 buah sampan, melalui tali air yang berliku-liku melalui hutan-hutan dan kira-kira pada jam 5 sore, kami sampai disungai Singkil yang lebar dan nampaknya agak ngeri. Dari sungai Singkil kira-kira setengah jam didayung sampailah kami dipelabuhan (boom) Singkil yang sudah usang, kamipun terus mendarat dan menuju kerumah komandan tentara disingkil waktu sampai disitu, kebetulan pula sdr Nyak Adam Kamil telah berada disitu.
Rupanya dia dalam urusan tugas ke Singkil waktu malamnya sedang kami duduk-duduk tiba-tiba datang beberapa orang tamu, ingin bertemu dan berkenalan dengan kami, yaitu dari instansi kepolisian dan kejaksaan daerah Singkil. Kami sedikit terkejut juga, dan kami sangka ada urusan yang berhubungan dengan kepergian kami itu. Rupanya tamu itu hanya sebagai satu kehormatan, ingin bertemu dengan komandan Divisi dan kamipun berbicaralah secara biasa.
Pada malam itu juga kami suruh lihat ke pantai, mungkin ada pencalang yang mau ke Sibolga, kebetulan saja memang sudah ada 1 pencalang disitu dan tujuan ke sibolga. Disinipun satu hal yang memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Kami hanya disuruh sediakan bahan-bahan makanan untuk 3 hari lamanya. Besoknya kira-kira jam 8 pagi kamipun berangkatlah dengan pencalang itu.
Muatan pencalang hanya daun nipah (daun rokok) dan lain-lain. Sedang penumpangnya hanya kami 5 orang. Jadi semuanya 7 orang dengan juru mudi dan pembantunya. Kira-kira pada sore hari kami sampai disatu pulau tempat singgahan perahu-perahu seperti halnya (terminal bus) dan kami menginap disitu. Pulau itu sungguh indah, pasirnya putih dan banyak tumbuh kelapa-kelapa yang berjatuhan. Disitu telah ada juga 2 buah perahu lain yang lebih dulu singgah dipulau itu.
Besoknya setelah sarapan pagi, udara sangat cerah dan baik sekali maka oleh pak juragan menanya pada kami, apa kita berangkat? Kami tentu tidak mengetahui tentang keadaan laut, tentu saja setuju untuk berangkat apalagi udaranya memang baik sekali. Kira-kira 15 menit baru keluar dari pulau itu, tiba-tiba saja dengan tidak diduga-duga udarapun kembali menjadi gelap dan turunlah hujan lebat dan badaipun datang serta gelombangpun mulai mengganas.
Jurumudi kami jadi panic karena pencalang sudah dihantam gelombang dari kiri kekanan da iapun perintahkan kami supaya menimbang perahu dan cari keseimbangan agar pencalang jangan berat sebelah. Pendeknya suasana benar-benar telah sangat menakutkan, karena kami tidak dapat melihat apa-apa selain menghadapi gelombang yang semakin dahsyat sekali.
Sebenarnya kami belum jauh dari pangkalan tadi, tetapi karena tak tentu arah lagi dan sangat gelap pula, maka kami diombang-ambing terus sehari suntuk dan achirnya kira-kira pada jam 5 sore, barulah keadaan sedikit reda dan kami rupanya sudah dekat dengan pulau sorkam. Pencalang kami berhenti dan berlabuh dekat pantai. Kami Tanya pada juru mudi apa kita bisa mendarat ke Sorkam. Bisa katanya dan kira-kira setengah jam berperahu sampai ke pantai sorkam. Kalau begitu cobalah diperiksa dulu ke pulau itu apa ada orang. Kebetulan disitu ada 2 orang dan dengan 2 perahunya sudah penuh muatan kelapa dan mau kembali besoknya ke Sorkam. Kamipun mintak pada juru mudi supaya diturunkan disitu saja, kamipun membayar ongkos pencalang dan dengan perahu kecil kami diantar kepantai pulau itu. Setiba disitu kami terus menjumpai 2 orang yang ada disitu dan mintak bantuan agar kami mau dibawa ke sorkam.
Katanya, perahu kami sudah penuh dengan buah kelapa bagaimana. Begini kata kami, buah kelapa itu kalau dijual berapa harganya semua, barulah kami bayar harganya itu dan bongkar saja dulu, antar kami kedarat. Nanti terserah apa sdr-sdr mau ambil lagi kelapanya, sesudah diantar kami. Orang itupun tentu sangat senang. Pada malam itu kami hanya makan nasi tok campur dengan kelapa tanpa garam, karena persediaan orang itupun sudah habis semua, untung  ada sisa beras sedikit. Dan dipulau itu katanya banyak ular, jadi kalau tidur nanti harus dipasang api didekat kita kami dimalam itu tidak bisa tidur, mana perut rasa lapar dan takut ular lagi.
Besoknya berangkatlah kami dengan perahu itu kedarat, sampai didarat, disitu ditepi pantai, kebetulan ada warung nasi kecil-kecilan, kamipun makanlah sekenyang-kenyangnya sambil istirahat sebentar dan menanyakan keadaan disitu pada salah seorang yang kebetulan orang itu juga sengaja menemui kami untuk berkenalan. Kemudian kami mintak supaya ditolong membawa kami menjumpai kepala pemerintah di Sorkam. Saudara itupun terus dengan senang hati membawa kami dan sampai bertemu dengan kepala pemerintahan tersebut yaitu camat sorkam.
Kamipun tinggal dirumah camat dan bermalam disitu. Dalam pembicaraan dengan camat kami sengaja lebih memperkenalkan dan menjelaskan diri kami. Karena sepintas lalu nampaknya dia ada menaruh kecurigaan, karena yang menjadi pertanyaan baginya, mengapa kami mendarat dari satu pulau.
Dan dari pihak orang yang membawa kami tadi rupanya dia sudah melaporkan juga pada alat Negara yang berada di Sorkam (TRI). Jadi kira-kira mereka menyangka bahwa kami ini menyamar sebagai anggota  TRI dan mereka duga kami ini adalah dari pihak NiCa.
Perhubungan dari Sorkam ke Sibolga hanya dengan kendaraan (bus) tetapi inipun jarang-jarang ada bus yang datang kesitu. Karena kami telah hamper seminggu tinggal di Sorkam, dan keterangan-keterangan yang didengar dari kami, semakin jelas bagi camat dan iapun tidak mencurigai lagi bagi kami, hanya bagi TRI yang berada disorkam itu, masih mengawasi kami secara tidak langsung dan dia sudah melaporkan ke sibolga dan dari sibolga supaya memerintahkan supaya kami harus tetap tinggal di sorkam. Maksudnya mereka dari sibolga akan datang ke sorkam untuk membekuk kami. Dan orang yang membantu kami dipantai itu rupanya mata-mata.
Pada suatu waktu pernah Syamaun Gaharu pergi menjumpai pak Dr F.L Tobing yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari sorkam arah ke sibolga. Sebab dia mempunyai kendaraan pribadi. Tapi hasilnya gagal. Dalam pada itu datanglah sebuah bus ke Sorkam, kamipun bersiaplah untuk berangkat, tapi oleh anggota tentara yang mengawasi mintak supaya kami jangan berangkat dulu, nanti akan dijemput katanya, tidak usah dijemput, biarlah dengan bus itu saja dan sdr boleh ikut bersama ke sibolga. Sebenarnya selama di sorkam, kami dapat rasakan, bahwa kami secara tidak langsung adalah sebagai tahanan mereka. Alhasil kami dan 2 orang anggota tentara turut bersama-sama dalam bus berangkat menuju ke sibolga, sampai ditengah jalan, bus itu distop oleh rombongan tentara yang datang dari sibolga dengan kendaraannya.
Kamipun turun dan semua dengan pakaian militer. Melihat kami dalam keadaan demikian, kepala rombongan yang dari sibolga tadi terus saja memberi hormat, dan sambil marah-marah diapun memanggil 2 orang tentara tadi dan dimarahin lagi. Katanya kenapa kami tidak jemput bapak-bapak ini, apa kamu tidak turut perintah. Untuk menghindari kemarahan mereka itu kamipun mencampuri persoalanyannya dengan menyatakan bahwa dia tidak bersalah, kami yang mau naik bus ini. Tak usah dimarahi dia lagi, marilah kita berangkat terus ke sibolga nanti disana kita bicara lebih lanjut. Sampai ke sibolga bus tadi kami suruh berhenti dimuka kantor PT (Polisi Tentara) di Sibolga.
Kami semua masuk dalam kantor dan menjumpai kepala PT dan disitu kami jelaskanlah tentang diri kami dan tentang situasi yang terjadi di Aceh. Pendeknya kami ceriterakan sevara terus terang semuanya kepada PT tadi. Dan untuk lebih mendekatkan perhatiannya kepada kami, pernah kami Tanya padanya apakah dia kenal seorang bernama A. Muzakkir Walad yang dulu pernah mengikuti sekolah PT di Bukit Tinggi. Kebetulan sekali katanya, bahwa sdr itu sama-sama disekolah itu katanya.
Dan sdr A Muzakkir Walad bahkan yang paling pandai disekolah dulu. Kemudian diapun telah memahami dan percaya penuh apa yang kami terangkan itu. Dan kepala PT itupun adalah keturunan orang baik-baik pula. Setelah selesai pembicaraan, kamipun mintak tolong mencari tempat (hotel) untuk menginap dan atas tanggungan kami sendiri. Diapun memerintahkan pada seorang PT untuk mengurus kami sampai beres.
Kamipun menginap disebuah hotel dan istirahat disitu kira-kira seminggu lamanya, sambil memikirkan bagaimana caranya untuk pergi ke Prapat. Waktu itu dari sibolga ke Prapat banyak sekali rintangan, kalau kami sendiri yang pergi tidak mungkin bisa tembus. Karenanya kami buatlah rencana baru lagi yang kira-kira akan berhasil baik. Waktu itu komandan resimen di Sibolga ialah Mohamad Din. Kamipun pergilah menjumpai dia dirumahnya sambutannya kurang menyenangkan dan angkuh. Kamipun kembali ke Hotel dan kemudian menjumpai lagi kepala PT. kami mintak supaya diberikan 2 orang anggota PT guna membawa kami ke prapat untuk menghindari pemeriksaan dijalan-jalan oleh pos-pos tentara atas diri kami, maka selama dalam perjalanan itu, anggap saja kami ini seorang tahanan yang akan diserahkan ke komando sumatera diprapat, jadi tegasnya 2 orang PT itu atas perintah kepala PT sibolga, pergi ke prapat membawa 5 orang tahanan untuk diserahkan kepada komando sumatera.
Dan senjata kami, kami serahkan pada PT tadi, segala ongkos-ongkos dan wang makannya, kami yang tanggung semua. Demikianlah rencana yang kami atur dan kesemuanya itu disetujui oleh kepala PT sibolga. Dengan menyewa sebuah kendaraan, kamipun berangkatlah menuju ke Prapat. Sampai disiborong-borong, PT tadi pergi melapor pada komandan pasukan disana dan sampai 2 jam lebih mereka berurusan, barulah selesai dan terus berangkat.
Rupanya menurut PT itu mereka hendak mengambil senjata yang kami serahkan itu tadi tapi dipertahankannya dengan cukup alasan. Sampai di balige, kami mintak diturunkan oleh komandan pasukan disitu dan setelah dilihatnya, kamipun dibenarkan berangkat. Disini kami sedikit gentar juga, karena kami lihat mereka itu rambut panjang, pakai kalung dileher dan nampaknya agak angker sedikit.
Kamipun sampai di Prapat dan langsung masuk ke komplek komando sumatera, tetapi sayang sekali karena bapak Jenderal Mayor R Suharjo Harjowarjoyo tidak ada ditempat, sudah pergi ke Tanjung Karang (Sumatera Selatan) dan wakilnya Pak Hasan Kasim juga sudah pergi ke Aceh mengikuti rombongan Pak A.K Gani. Oleh karena itu, terpaksa kami teruskan ke Pematang Siantar. Kami terus melapor pada komandan Divisi yaitu Hackman Sitompul dan kepala komandan PT Ahmad Taher (sekarang Menteri) kedua-duanya adalah kawan baik kami waktu di Giyugun dahulu.
Kami tinggal dipenginapan menyewe 2 kamar dan istirahat di Siantar sambil menunggu kembalinya pak Hasan Kasim dari Aceh. Selama di P. Siantar kami pergi menjumpai pak gubernur Mr Hasan dan senjata kami jual padanya untuk tambah belanja kami. Kira-kira 15 hari kami di Pematang Siantar, kembalilah rombongan pak Dr A.K Gani dan istirahat di P.Siantar. kamipun menghadap dan hal-hal yang akan kami bicarakan telah disusun oleh Pak Syamaun Gaharu diatas kertas untuk diserahkan nanti waktu hari pertama, kami hanya dapat bertemu dengan pak Dr A.K Gani dan diterima dengan baik. Setelah diserahkan kertas tadi hanya yang ditanya, kena apa T Nyak Arif dibunuh di Aceh, oleh Syamaun Gaharu diberilah beberapa penjelasan dalam rangka meninggalnya T Nyak Arif.
Kemudian katanya lagi, ini hari Pak hasan kasim tidak ada, kembalilah besok pagi lagi. Besoknya kami kembali dan kebetulan kedua beliau-beliau itu ada disitu. Tanpa banyak bicara oleh pak Dr A.K. Gani terus member perintah, sdr-sdr semua bekerja kembali, Syamaun Gaharu, T.A Hamid Azwar dan T. Mohd Syah pindah ke Sub Komandemen I di Palembang dan Said Usman dan T.A Hamdani pindah ke sub komandemen II di Bukit Tinggi.
 Berangkat bersama-sama rombongan pak Gani begitulah perintahnya dengan lisan kepada kami dan besok kita berangkat. Tak usah bawa pakaian banyak-banyak disana banyak pakaian, kata pak Gani lagi kepada kami. Kamipun berangkatlah bersama dengan rombongan yang diatur oleh seorang PT dan Palembang namanya Ahmad Malaiya.
Dalam perjalanan singgah di Padang Sidempuan dan terus ke Bukit Tinggi, mayor Said Usman dan Hamdani tinggal di Bukit Tinggi, pada Sub Komandemen II. Kira-kira 2 malam di bukit Tinggi berangkat lagi menuju ke Lahat dan waktu rombongan singgah di Muara Tebo, bertemu dengan rombongan General mayor R Suharjo Harjowardoyo. Setelah melaporkan diri kepadanya, maka Syamaun Gaharu  dan T.A Hamid Azwar turut bersama rombongan Pak Harjo ke Jambi dan saya sendiri terus dengan rombongan Pak Gani. Rombongan Pak Gani menginap 1 malam di Muara Tebu besoknya terus berangkat menuju ke Lahat. Dari lahat dengan kereta api ekstra menuju ke kreta pati dan dengan kapal melalui sungai musi terus ke station kota di Palembang. Selama dalam perjalanan banyak juga tempat-tempat yang diadakan pidato-pidato oleh pak Gani. Waktu sampai di Station Kerta Pati, penyambutan disitu sangat meriah sekali, kira-kira seperti menyambut disitu sangat meriah sekali. Kira-kira seperti menyambut kedatangan presiden, padahal beliau hanya kembali ke posnya di Palembang. Kebetulan saja waktu saya melihat-lihat keliling diantara para opsir-opsir TRI yang dalam barisan disitu saya lihat beberapa orang yang saya kenal yaitu Letnan Kolonel Barlian, dan Letnan Kolonel A Bunyani.
Kedua-duanya adalah pernah dikirim ke Singapore oleh jepang dulu dalam mengikuti sekolah syonan Kda Kunrenzyo, selama 3 bulan lamanya, jadi kami memang sudah berkenalan selama sama-sama disana. Sampai di Palembang saya disuruh istirahat dulu dirumah Pak Gani sendiri.
Setelah beberapa hari disitu, baru datang T.A Hamid Azwar dan Syamaun Gaharu, karena kami lihat dirumah Pak Gani itu sangat bebas sekali, kamipun merasa kurang enak dan kami pindah ke penginapan. Saya ditempatkan di Staff Sub Komandemen I dan TA Hamid Azwar dibahagian Intendance. Sedangkan Pak Syamaun Gaharu selalu bersama Pak Suharjo melakukan Inspeksi. Sebagai komandan Sub Komandemen I ialah Kolonel M Simbolon.
Beberapa bulan kemudian Palembang diserang oleh Belanda dan terjadi perlawanan dengan TRI dalam suasana pertempuran itu, sebenarnya dari pasukan belanda telah pernah mintak perdamaian, tetapi dari pihak kita tidak begitu mengacuhkan, hal mana ialah dari desakan-desakan dari organisasi-organisasi yang berada di Palembang mengusulkan pada Panglima supaya hantam terus saja, padahal, mereka itu hanya omong besar saja, sedang persediaan, kita mengenai persendjataan dan perlengkapan lain-lain telah semakin berkurang, lebih-lebih tentang amunisinya.
Alhasil kemudian, dari pihak kita pula yang mintak perdamaian dan dari pihak belanda pun tentu lebih licik dan disuruh pimpinan kita menjumpai mereka dengan mengibarkan bendera putih untuk berunding. Keputusannya kita harus mengosongkan daerah Kota Palembang dan mundur ke Lahat setelah beberapa bulan berada di Lahat, timbul lagi klets dengan belanda dan kita mundur lagi ke lubuk linggau.
Syamaun Gaharu, waktu itu telah berada di Lampreng, memimpin resimen disana, selama bermarkas di Lahat, tentara kita terus bergerak bergerilya dihutan-hutan dan setelah markas kita berada di Lubuk Linggau, kami dapat chabar bahwa colonel Bambang Oetoyo selaku Komandan Divisi VIII Palembang telah cedera tangannya, waktu mencoba tes sebuah granat tangan yang dibuat sendiri oleh kita.
Selama dalam perawatan dirumah sakit lubuk linggau, banyak juga dibantu oleh Dr Ibnu Sutowo yang waktu itu beliau termasuk staf sub komandemen I. kami sudah saling kenal-mengenal, karena sama-sama staf komandemen I.
Selama dilubuk linggau saya sudah ditugaskan sebagai kepala sub SK IIa sektor Daerah Divisi VIII Palembang terhitung mulai 1 september 1947 saya selalu bolak balik dari Lubuk Linggau ke Jambi mengurus perlengkapan Tentara, karena Jambi ditetapkan sebagai pusat pembelian.
Suasana pertempuran dengan Belanda berjalan terus dipedalaman daerah Palembang karena merasa capek sekali, apalagi selama saya bertugas di intendance itu tidak ada istirahat, siang malam jalan terus dengan sebuah auto tua, bahkan saya terbalik disatu tempat untung saja tidak mendapat cedera, maka sayapun mintak cuti dan pergi ke bukit tinggi, apalagi sudah kangen sekali ingin pulang ke aceh. Saya buat permohonan pada panglima komandemen sumatera waktu itu dijabat oleh pak General Mayor R Sutopo dan permohon saya diperkenankan.
Saya diberi cuti selama 3 bulan dan pada tgl 15 april 1948 saya berangkat kembali ke Aceh dengan menumpang kendaraan dari bukit tinggi sampai Sibolga. Kemudian dari sibolga menumpang dengan perahu pencalang ke Aceh. Bersama saya kebetulan ada pula seorang yang baru pulang dari Idi namanya Abdurrahman dan seorang lagi dari bukit tinggi yaitu Ahmad Abdullah.
Suasana dilaut, waktu itu belum aman betul, karena masih selalu saja tentara belanda mengganggu dimana-mana. Akan tetapi demi panggilan untuk pulang menemui anak isteri saya yang sudah 1 tahun lebih saya tinggalkan, saya nekad saja mengarungi lautan dengan pencalang pakai layar. Tetapi saya sudah sedia 2 buah kopor, 1 untuk pakaian preman dan 1 lagi pakaian militer. Kalau ada pencegatan oleh belanda, koper pakaian militer akan saya lenyapkan ke laut demikian rencana saya. Kebetulan keadaan dilaut aman saja dan pencalang kami berlayar dengan cepat karena angin baik sekali.
Berangkat dari sibolga pada waktu malam dan pada jam 4 sore besoknya kami singgah disuatu tempat kira-kira 4 km jauhnya sebelum Meukek. Kami turun disitu dan berjalan kaki ke Meukek, sebelumnya, kami sampai di kantor kecamatan dan menginap disitu 1 malam.
Besoknya kami terus menuju ke kota meukek dan dengan kendaraan bus terus menuju ke kota meukek dan dengan kendaraan bus terus ke meulaboh. Sampai di Blang Pidie, kami tidak dapat meneruskan perjalanan, karena waktu itu sedang hebatnya pertempuran antara Raja Tampak dengan Tentara kita. Saya menemui Habib Mohamad Syarif di Blang Pidie, karena dia adalah sebagai pimpinan dari pasukan kita yang menghadapi Raja Tampak tersebut. Menurut Habib, katanya tak usah buru-buru pulang, nginap di Blang Pidie dulu beberapa hari lamanya, karena situasi dalam perjalanan belum mengizinkan. Kamipun pernah dijamu makan dirumahnya di Blang Pidie, sesudah keadaan agak reda sedikit, kamipun boleh berangkat, dan sampai di Lam Ze (markas pos TRI) kami menginap disitu 2 malam, kemudian dengan diantar oleh 2 orang prejurit menumpang kendaraan umum baru kami berangkat dari Lam Ze menuju ke Meulaboh. Dengan perlindungan dari ALLAH SWT mudah-mudahan selama dalam perjalanan tidak terjadi apa-apa dan kira-kira pada jam 10 pagi kami tiba di Meulaboh setelah satu malam dalam perjalanan.
Saya terus menuju ke kantor resimen meulaboh dan bertemu dengan Mayor T Manyak kepadanya saya mintak bantuan untuk menyuruh antar saya dengan autonya ke Kutaraja. Pada malam itu saya menginap dirumah Kapten Ibrahim Hatta sebagai kepala staff resimen, besoknya saya berangkat menuju ke Kutaraja. Sesampainya di Lamno saya telepon kepada sdr Hasballah komandan Resimen Kutaraja untuk tolong dikabarkan kerumah saya bahwa saya sudah kembali kira-kira pada jam 6 sore saya sudah sampai dirumah di kampong jawa.
Bagaimana terharunya perasaan saya waktu bertemu dengan anak dan istri saya yang sekian lama ditinggalkan tidak dapat dilukiskan disini. Sebenarnya isteri saya benar-benar sangat tabah dan sabar menanti saya kembali, walaupun selama ditinggalkan cukup menderita lahir batin. Syukur saya panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah melindungi hambanya yang demikian sabar itu.
Selama kami berangkat keluar daerah Aceh, pernah juga dari pihak mereka mengadakan propokasi bahwa kami sudah ditangkap lagi. Katanya setelah beberapa lama saya istirahat, sambil mengunjungi kawan-kawan lama yang saya tinggalkan, saya mendengar berita, bahwa Panglima komandemen sumatera dengan rombongannya akan tiba di Kutaraja. Sayapun ingin menemuinya mau mintak pindah ke Kutaraja.
Permintaan saya dikabulkan dan dengan siap. Panglima Divisi X TNI komandemen Sumatera tanggal 21 Juni 1948 no DX-158/SP/1948 yang ditandatangani oleh kepala staf (Kolonel H Sitompul) saya ditempatkan dalam staf resimen II dan berfungsi sebagai kepala staf Resimen. Sebagaimana telah diterangkan bahwa, setelah dilakukan Coup itu oleh TPR. Maka pimpinan Divisi V berpindah ke tangan Kolonel Husin Yusuf sebagai komandan Divisi V Kutaraja.
Pada masa itu telah berdiri pula barisan-barisan pejuang bersenjata diantaranya :
Divisi Rencong Komandannya Nyak Neh Lhoknga
Divisi Mujahidin Komandannya CikMat Rahmany
Divisi Paya Bakong Komandannya Husin Al Mujahid
Dalam awal tahun 1947 Divisi V berubah menjadi Divisi Gajah I, kemudian Divisi Gajah I dan Divisi Gajah II diconsolider menjadi 1 Divisi yaitu Divisi X TRI staf divisi berkedudukan di Bah Jambi (Pematang Siantar)
Susunan staf sebagai berikut :
Komandan Divisi               : Kolonel Husin Yusuf
Kepala Staf                          : Kolonel H Sitompul
Komandan Resimen I     : Letkol Jamin Ginting
Komandan Resimen II    : Letkol Kasim Nasution
Komandan Resimen III   : Ricardo Siahaan
Komandan Resimen IV  : Letkol Hasballah
Komandan Resimen V    : Letkol Cut Rachman
Komandan Resimen VI  :Letkol A Wahab Makmur
Komandan Artileri            : Letkol Nurdin Sufi
Pada pertengahan tahun 1947, yaitu masa agresi pertama, divisi X TRI pecah, resimen II dan III pindah ke Tapanuli. Anggota dan Divisi X yang dapat mengundurkan diri arah ke Aceh, menyusun kembali kekuatannya dan dengan demikian staf divisi mempunyai bentuk susunan baru yaitu :
Komandan Divisi               : Jenderal Mayor Tgk Mohd Daud Bereueh, tevens Gubernur Militer Aceh dan Tanah Kalo
Kepala Staf                          : Kolonel H Sitompul
Komandan-komandan Resimen tetap sebagai semula, terkecuali Resimen II dan III yang telah masuk daerah Tapanuli, dalam agresi ini dibentuk komando sector barat, utara (KSBD) di medan area dengan komandannya Mayor nyak Adam kamil. Pada tanggal 1-2-1948 diadakan seleksi dalam tentara dan penurunan pangkat setingkat dari letnan dua keatas, kemudian terjadi penggabungan Tentara dan Laskar menjadi Divisi X TNI (Tentara nasional Indonesia)
Dengan gabungan yang terjadi ini divisi X TNI terbentuk lagi dengan susunannya yang baru pula yaitu:
Komandan Divisi               : Jenderal Mayor Tgk Mohd Daud Bereueh
Kepala Staf                          : Letkol Cut Mat Rahmany
Komandan Resimen I     : Mayor Hasballah
Komandan Resimen II    : Kapten Abdurrahman (Alm)
Komandan Resimen III   : Kapten T. Manyak
Komandan Resimen IV  : Mayor Jamin Ginting
Komandan Resimen V    : Kapten Alamsyah
Komandan Artileri            : Mayor Nyak Neh Lhoknga
Pada tanggal 9-10-1948 diadakan Reconstruksi, rasionalisasi. Dalam masa ini, susunan komando dan ketentuan Divisi X Berobah menjadi :
Komandan Divisi               : Tetap Jenderal Mayor Tgk Daud Bereueh
Kepala Staf                          : Letkol Askari
Komandan Brigade I        : Mayor Hasballah, stafnya di Bireuen
Komandan Brigade II      : Mayor Mohd Nazir, stafnya di Langsa
Komandan Brigade III     : Mayor Jamani Ginting, stafnya di Kotacane
Komandan Brigade IV     : Mayor Nyak Neh
Brigade Mohd Nazir diliquider dan sebagian besar pindah ke Sumatera Timur, brigade Jamin Ginting juga pindah ke Sumatera Timur. Pada pertengahan tahun 1950 territorium Aceh dileburkan dan dibentuklah Brigade 24 (Husin Yusuf dipecat oleh Kolonel Kawilarang) timbang terima dilakukan oleh komandan Brigade 24 yaitu mayor Hasballah dengan Ex Komandan Territorium Aceh Letkol Husin Yusuf. Demobilisasi dijalankan dengan teratur dan pada tanggal 1 juni 1950 Brigade Aceh mempunyai susunan seperti berikut :
Komandan Brigade          : Mayor Hasballah
Brigade Mayor                   : Mayor Husnisyah
Kapten Staf                         : Kapten T. Mohd Syah
Komandan Batalyon I     : Kapten Nyak Adam kamil
Komandan batalyon II    : Kapten alamsyah
Komandan Batalyon III   : Kapten Hasan Saleh
Perwira Territorial            : Kapten S.M Gedong
7 kompi territorial dan 2 kompi pengawal kompi-kompi territorial tersebut ialah :
1.       Kapten T. Manyak Komandan Kompi Territorial 1/A di Meulaboh
2.       Kapten A.M Namploh Komandan Kompi Territorial 2/A di Bireuen
3.       Kapten Hasbi Wahidi Komandan Kompi Territorial 3/A di Sigli
4.       Kapten Abd Rachman Komandan Kompi Territorial 4/A di Kutaraja
5.       Kapten M Nurdin Komandan Kompi Territorial 5/A di Kutaraja
6.       Letnan 1 M. Daud Hasan Komandan Kompi Territorial 6/A di Bireuen
7.       Kapten Ajad Musji Komandan Kompi Territorial 7/A di Kutaraja
Jumlah tenaga manusia semua = 5336 orang
Brigade A (Aceh) tersebut kemudian dinamakan Brigade CC yang susunan staff dan kesatuannya adalah sama. Brigade CC tersebut tunduk ke T & T I Sumatera Utara di Medan. Kemudian atas perintah dan Panglima T & T I staf brigade CC dipindahkan ke Tarutung. Batalyon I yang dipimpin oleh Nyak Adam kamil pindah ke Padang Sidempuan, batalyon II yang dipimpin oleh Kapten Alamsyah tetap di Langsa dan Batalyon III yang dipimpin oleh Kapten Hasan Saleh bertugas ke Sulawesi.
Tidak lama saya bertugas di Tarutung, kemudian dipindahkan ke komando T & T I di medan dan diperbantukan di Bahagian IV. Selama bertugas di T & T I saya lebih banyak menekan perasaan karena, rumah tidak diberikan, tugas yang tertentupun tidak diberikan dan banyak hal-hal lain lagi yang menjatuhkan wibawa saya selaku seorang Kapten. Karenanya saya mintak pindah ke kesatuan lain ataupun tugas di lapangan. Inipun tidak diperkenankan.
Kemudian saya mintak berhenti dan dalam hal ini oleh Panglima M. Simbolon tidak dibenar dan disuruh bersabar. Pada suatu hari saya menghadap kepala staf, yaitu Letkol M MR Karta Kusuma hendak bicara sesuatunya. Waktu saya berhadapan dengannya, penerimaannya agak kurang wajar.

BERHENTI DARI TNI ATAS PERMINTAAN SENDIRI

Dan agak kasar terhadap saya, karena itu sayapun terpaksa menentangnya dan terjadilah pertengkaran, tapi kemudian pergi, tidak mau meladeni lagi. Besoknya saya ingin bertemu lagi dengan Kepala Staf, tapi dia menghilang dan nampaknya tidak mau meladeni saya. Sayapun datang kerumahnya, juga tidak mau diterimanya, katanya pada pengawal berurusan di Kantor saja. Sayapun tidak mengerti mengapa dia begitu kurang senang menemui saya. Waktu itu saya memang sudah kesal sekali dan tanpa pikir panjang sayapun membuat permohon berhenti ataupun diberikan cuti.
Saya diperkenankan cuti tanpa batas. Selama dalam cuti sayapun kembali ke Kutaraja dan tinggal dirumah di kampong jawa. Untuk mencari suatu kesibukan sehari-hari maka saya membuat suatu rencana tentang perusahaan unggas (peternakan itik dan ayam). Sudah kira-kira 3 bulan saya dalam cuti, barulah saya terima surat pemberhentian saya dengan hormat terhitung mulai 1 desember 1951 dengan pangkat terakhir Kapten TNI.
Kemudian tentang rencana pemeliharaan itik dan ayam saya lanjutkan dan dengan bantuan dari adik ipar saya (Abdullah Masry) saya diberinya pokok kerja sebanyak Rp 15.000,- (jumlah ini waktu itu cukup besar). Dengan pokok sebanyak itu sayapun mulailah membangun kandang-kandangnya dan membeli alat-alat yang diperlukan.
Saya punya kawan 2 orang yaitu Abubakar Sungkar dan Abdul Jalil, kami bekerja sama untuk membangun perusahaan tersebut. Setelah siap kandangnya, sayapun pergi ke Medan mencari bibit Itik yang sudah besar di Padang Blarang Binjai. Sebab disitu dulu ada orang cina piara itik besar-besaran dan waktu saya masih di Medan dulu, sering datang kesitu melihat-lihat dan saya janjikan dengannya nanti saat-saat saya akan piara itik juga dan saya beli bibit dari sini, bloeh saja katanya.
Rupanya waktu saya datang kesitu, perusahaan itu sudah tidak ada lagi, hanya tinggal kebun rambutan saja. Sayapun cari ditempat lain, tapi bibit itik yang sudah besar memang tidak ada. Karena sudah gagal, maka saya pergi ke Centraal Pasar Medan dan disitu memang ada satu toko chusus ditetaskan telur itik dan ayam. Saya beli anak itik sebanyak 1100 ekor dimasukkan dalam peti-peti sebanyak 10 buah peti dan dengan kapal terbang saya bawa pulang ke Aceh. Tempat usaha saya ialah di Pelanggahan diatas tanah kepunyaan adik saya Abdullah Masry.
Kira-kira 5 bulan saya usaha, hanya tinggal 300 ekor lainnya mati semua. Dibulan yang ke 6 barulah mulai bertelur satu-satu ekor. Karena tempat pemeliharaan itu kurang cocok mati lagi 100 ekor. Alhasil tinggal sebanyak 200 ekor saja. Walaupun waktu itu saya cukup merana, apalagi karena yang dua orang itu sudah undur diri, tapi saya masih bertahan terus.
Dalam pada itu pada suatu hari, datanglah sdr Hasan Saleh ketempat saya. Dia dalam cuti rupanya, bicara-bicara sebentar dengan saya kemudian diapun pergi. Saya heran juga atas kedatangannya itu dan tidak ada yang penting yang dibicarakan. Katanya hanya melihat kawan lama.
Sesudah itu kira-kira 1 minggu berselang, dia datang lagi menemui saya. Tapi tak ada yang penting dalam pembicaraan kami. Saya Tanya apa mau juga piara itik seperti saya, diapun hanya ketawa saja. Katanya sekedar melihat-lihat saja. Kalau menurut penglihatan saya sebenarnya dia memang ada sesuatu maksud, tetapi mungkin tidak berani membicarakan. Karena telah mulai suka meneruskan pemeliharaan di Pelanggahan, maka perusahaan saya, diungsikan ke Tungkop pada tanah T Sulaiman adik dari T Hanafiah Tungkop. Disitu kebetulan ada rumah yang dalam dan tetap tergenang air. Kebetulan pula dia punya gudang tempat sale kelapa yang kosong itik saya dimasukkan disitu sebagai kandangnya, dan pagi hari saya lepaskan dalam sawah tadi. Selama disitu, itik saya sangat gembira sekali, karena dia dapat makan istimewa seperti anak-anak ikan dan lain-lain sehingga kira-kira 1 minggu saya disitu, itik sayapun mulai bertelur tiap-tiap hari sebanyak 40 butir. Telur tersebut setelah dikumpulkan lebih banyak maka saya asinkan sendiri. Permasarannya saya bawa pulang kerumah di Kampong Jawa dan orang-orang kampong sangat suka membelinya, karena telur saya itu dijamin baik. Jadi tidak sempat dibawa ke pasar dikampungpun sudah habis.
Sebenarnya ditinjau dari sudut perusahaan saya sudah banyak rugi. Tetapi karena saya mulai piara dari anak itik yang baru menetas dan sampai dia bertelur, saya anggap itu satu keuntungan juga bagi saya sebagai pengalaman. Kira-kira 1 Bulan saya tinggal di Tungkop, sayapun telah letih sekali dan ingin beristirahat. Itik-itik saya itu saya jual semua kepada T. Hanafiah abang dari T. Sulaiman. Demikian juga semua alat-alat lain yang masih berada dipelanggahan, saya jual semua kepada sdr Ibrahim Miga. Rencana saya mau keluar dan akan pergi ke Jakarta. Dalam pada itu saya selalu duduk-duduk sambil tukar pikiran dengan kawan-kawan di Kamar kerja sdr Ibrahim Miga ditoko Meuraksa (Toko Meubel) dibahagian atas.
Menurut perhitungan saya kira-kira 1 minggu lagi akan berangkat. Akan tetapi sebelum tiba saatnya rupanya rupanya sudah terjadi hal yang mengejutkan. Yakni pohon-pohon asam dipinggir jalan antara Tanjung ke Lambaro telah ditumbangkan ke Jalan. Jelasnya pada tanggal 23 september 1953 terjadilah pemberontakan DI. Menentang pemerintahan RI. Sebelum dimulainya pemberontakan itu, sebenarnya segala-galanya memang sudah Nampak ada gejala lain. Waktu saya ungsikan itik saya ke Tungkop dulu, selalu saya lihat kesibukan tentang pembentukan Pandu-pandu Islam, pidato-pidato di Mesjid, bahkan kadang-kadang mereka berpapasan dengan saya dijalanan. Pendeknya pada masa itu lebih banyak mereka tonjolkan soal agama.
Barulah saya ingat kembali tentang kedatangan Hasan Saleh 2x ketempat saya di Peulanggahan, mungkin dia mau ajak saya turut memberontak, tetapi tidak jadi dibicarakan, pada saat itu dari pihak pemerintahpun mulai sibuk untuk menghadapi peristiwa itu. Orang-orang yang dicurigai mulai ditangkap. Sebahagian besar anggota TNI yang terdiri dari putra-putra Aceh di Kutaraja dan ditempat lain, banyak yang ditangkap. Komandan K.M.K di Kutaraja juga telah ditangkap (waktu itu Hasbi Wahidi).
Melihat kejadian itu, sayapun turut kecewa, jangan-jangan saya akan ditangkap pula karena banyak juga yang dari bekas Tentara yang telah ditangkap. Karenanya dalam suasana yang amat panas itu, sayapun pergi menjumpai Kapten Sumarhadi selaku perwira urusan Territorial di kodam I, bersama dengan Abdullah Masry, guna memperkenalkan diri, jangan sampai salah pengertian terhadap diri saya, saya katakan terus terang bahwa kalau saya 100% anti mereka.
Oleh Kapten tersebut rupanya dapat difahami mengenai keterangan saya itu. Kemudian katanya kepada saya, kalau begitu sdr harus menolong membantu kami dalam mengatasi pemberontakan itu. Saya bersedia, tetapi keadaan saya harus dijamin pula, pertama saya harus diberikan senjata dan kedua tentang pembiayaan saya. O, itu boleh saja, katanya. Dan langsung itu hari juga saya diberinya sepucuk pestol dan pelurunya. Tentang pembiayaan, nanti bisa dihubungi saja Abdullah Masry. Dan tugas yang diberikan pada saya itu adalah dibidang hal-hal yang menyangkut urusan Territorial dalam daerah Aceh. Sayapun menerima sepucuk pestol + surat keterangan dan kembali kerumah.
Kemudian dalam beberapa hari sesudah itu Abdullah Masry ditugaskan ke Aceh Pidie di Sigli untuk pejabat PDM disana, menggantikan PDM lama sdr Syahadat. Dan sayapun ditugaskan ke Sigli dan kami berangkat bersama 1 Batalyon Tentara yang komandannya Kapten Bauwadi, kami berangkat dengan sebuah kapal. Sebenarnya desas desus akan meletusnya pemberontakan di Aceh telah santer sekali, karena terjadinya ketegangan-ketegangan disana-sini, karena penghapusan Propinsi Aceh dan disatukan dengan Propinsi Sumatera Utara, maka daerah Aceh, menjadi satu Keresidenan yang dipimpin oleh Pak Danubroto sebagai Residen Koordinator dan tinggal di Kutaraja. Dalam suasana yang demikian hangat dan tegang itu dengan bermacam propokasi yang dilontarkan atas dirinya Pak Danubroto, maka pak Danubrotopun terpaksa angkat kaki dari Aceh.
Penggantinya ialah Tgk Sulaiman Daud, yang tadinya adalah Bupati Aceh Utara. Dan waktu itu Tgk M Daud Bereueh telah kembali kekampungnya di Usi Beureeneun. Banyak laporan-laporan yang tegas telah dikirim ke pusat (Jakarta) terutama dari masyarakat Aceh Pidie, bahwa dalam waktu dekat akan terjadi pemberontakan di Aceh. Akan tetapi dari pusat menganggap sepi (tidak jadi perhatian). Mungkin disana ada oknum-oknum yang mengelabui mata pemerintahan. Kalau pusat hendak mencek Via Instansi pemerintah sendiri ke Aceh, sudah pasti keadaannya tidak apa-apa katanya, karena dan justru mereka sendirilah yang akan melakukan pemberontakan itu.
Sebagai buktinya bahwa, Tgk Sulaiman Daud Residen Koordinator pun turut serta dalam pemberontakan itu. Dan dari Aceh Pidie sejak dari bupatinya wedananya, camat-camatnya dan lain-lain oknum, tegasnya seluruh Instansi pemerintahan sipil telah vacuum di Aceh Pidie dan demikian pula banyak bupati-bupati didaerah lain yang telah turut serta dalam pemberontakan. Selama kami berada di Aceh Pidie yaitu di Sigli waktu itu daerah yang aman hanya dalam kota Sigli saja. Diluar kota, bahkan Pekan Pidie pun dikuasai oleh mereka. Abdullah Masry telah mulai Aktif dalam urusan PDM dan saya turut membantunya dalam bidang pemberian Territorial, kami tinggal disatu rumah usang dekat jembatan berhadapan dengan kantor bupati. Kamipun siang malam memikirkan bagaimana caranya mengatasi kekacauan itu.
Alat Negara (Tentara) yang ditugaskan ke Sigli terjadi beberapa pergantian-pergantian dan tiap-tiap pasukan baru itu mempunyai cara-cara tersendiri pula, inipun kadang-kadang menimbulkan problema yang rumit yang harus dihadapi, pada prinsipnya, untuk menumpas pemberontakan itu, telah dikeluarkan satu buku/consepsi oleh panglima KDMA (Mayor Syamaun Gaharu) yang namanya “Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana” tentang gagasan itu, semua orang sudah tahu dan juga dapat baca namanya itu. Tetapi bagaimana yang sebenarnya dapat berhasil, kalau tidak disusun secara mendetail, cara-cara pemulihan keamanan, cara-cara bekerja oleh pihak Tentara kita yang silih bertukar-tukar atau berganti-ganti itu. Sedang yang mereka lakukannya hanya operasi dari tembak gerombolan. Pendeknya asal dicurigai, hantam terus. Padahal alat Negara kita sendiri, sebenarnya belum kenal yang mana gerombolan DI/TII dan yang mana rakyat biasa (yang bukan DI/TII)
Kalaulah kita belum bisa memisahkan diantara Rakyat dan gerombolan, sudah tentu menyulitkan bagi kita dalam bertindak sehari-hari. Kalau ini belum dapat dipisahkan, maka tindakan kita akan menimbulkan pengorbanan bagi yang tidak bersalah. Sering terjadi dalam tindakan operasi kepedalaman, kadang-kadang ada penduduk yang ketakutan, tentu mereka lari, kalau ini dilihat oleh tentara kita yang sedang beroperasi tadi, sudah pasti terus ditembak tanpa ampun, karena disangkanya tentu gerombolan. Banyak terjadi bermacam-macam hal karena belum kenal kawan dan lawan (Penduduk biasa dan Gerombolan) apalagi cara-caranya pelaksanaan pemulihan keamanan itu belum mempunyai cara-cara tersendiri dan ini termasuk dalam Psikological (Ilmu jiwa) karena kerukunan Instansi pemerintahan di Aceh Pidie maka salah seorang pegawai dari kantor Bupati Pidie yaitu Pak M. Ilyas Komin dialah yang memkoordineer urusan badan lain. Sebagai Gubernur Sumatera Utara, ialah Pak Mr S.M Amin.
Daerah Pidie, adalah satu-satunya daerah yang termasuk pusat kegiatan pemberontakan, dan seluruh Pamong Praja mulai dari Bupati, wedana, Assisten wedana dari guru-guru kepala penerangan dan lain-lain turut terlibat dalam pemberontakan itu. Dalam pada itu datanglah meninjau ke Sigli Gubernur dan rombongan. Diantaranya kami lihat turut dalam rombongan itu ialah T.M Ali Panglima Polem. Rupanya kedatangan gubernur itu adalah dalam rangka pelantikan T.M Ali Panglima Polem menjadi bupati Pidie. Sebelum gubernur datang ke Sigli, kami masing-masing T Mohd Syah, T Sulaiman Effendi, T Sulaiman Syah telah diangkat oleh suatu badan pemerintahan Kabupaten Pidie. Untuk menjadi wedana Sigli, wedana Kota Bhakti dan wedana Meureudu.
Dengan terisinya jabatan bupati itu, urusan Pemerintahan telah mulai berjalan dengan baik dan pengisian camat-camat pun mulai disusun kembali, diantara mana-mana camat itu yang saya masih ingat ialah : T.H Oebit, T Sulaiman, Pak Musa, T Raja Ibrahim, T Harun, Anas Ramli, T.R Abdullah, T.M Ali. T. Abd Hamid Nyak Abid, Pak Zainuddin, T Abubakar dan lain-lain.
Waktu itu sebenarnya sangat sukar sekali dicari orang-orang yang mau bersedia duduk dalam badan pemerintahan, seperti diangkat untuk jadi camat, tantangannya adalah nyawanya. Dengan tersisanya lowongan-lowongan itu, maka secara merangkak, pemerintahan di Kecamatan-kecamatan telah dapat berjalan, walaupun bermacam-macam rintangan harus dihadapinya. Didaerah-daerah yang belum ada alat Negara yang menetap disana, maka camat-camat hanya bekerja disiag hari saja sedang pada malamnya terpaksa kembali ke Kota Sigli, kerja sama antara tentara kepolisian dan pemerintahan sipil baik sekali. Dalam pada itu telah dibentuk juga satu badan yang namanya Badan Keamanan kabupaten.
Guna memisahkan rakyat yang tidak bersalah dengan yang turut memberontak, maka kami menemui satu cara, membuat pengumuman yang meluas kedaerah yang berdekatan dengan Kota Sigli, supaya masing-masing penduduk yang tidak turut dengan pemberontak, hendaklah melaporkan diri ke Sigli kekantor PDM Sigli, dengan membawa bendera putih dan berjalan dalam satu kelompok bersama-sama. Setelah beberapa hari setelahnya pengumuman itu banyak jumlah rakyat turun ke Sigli dengan membawa bendera putih. Sampai di Sigli mereka diterima dengan baik, kemudian diberikan beberapa petunjuk dan diberikan surat jalan. Kemudian mereka kembali kekampongnya masing-masing sebenarnya untuk memisahkan mereka itu agak sukar juga, karena waktu itu hamper seluruh daerah pedalaman didesa-desa sudah dikuasai gerombolan pemeberontak.
Karena mereka bermukim disana, dengan sendirinya penduduk yang tinggal disitu harus pula menurut perintah mereka. Kalau tidak tentu berbahaya bagi diri mereka. Dan kalau kita Tanya keadaan gerombolanpun, mereka tidak berani memberikan sesuatu keterangan. Kalau ketahuan mereka akan ditindak oleh gerombolan, bahkan kadang-kadang sampai dibunuh. Sungguhpun demikian masih ada jalan keluar yang akan ditempuh. Kami selalu mengadakan diskusi dengan alat Negara yang beroperasi dan menyampaikan ide-ide yang baik sehingga hasilnya untuk memperkecil musuh dan memperbanyak kawan.
Kalau terjadi vuur kontak antara gerombolan dan alat Negara, kadang-kadang dari pihak kita suka membalas begitu saja, darimana sasaran datangnya peluru. Yang penting bagi mereka, tembakan balasan. Apakah menguntungkan atau rugi kurang diperhitungkan. Kadang-kadang pihak gerombolan menyerang dimalam hari. Dan pihak kitapun tanpa pikir panjang membalasnya kearah itu. Padahal habis mereka tembak, terus lari.
Karena kami juga bekas tentara, sudah tentu serba sedikitnya masih mengerti tentang taktik-taktik pertempuran dan lain-lain. Oleh karenanya kami selalu pula memberikan pandangan yang berguna kepada Alat Negara kita, umpamanya kalau ada terjadi tembakan-tembakan dari pihak gerombolan, ini harus diselidiki benar-benar dari arah mana datangnya letusannya.
Sebab mereka kadang-kadang bersembunyi didalam mesjid atau surau, atau meunasah, kemudian mereka tembak, supaya kita akan membalas kearah itu. Apa yang terjadi? Mesjid tadi jadi tertembak, dan apa kata mereka? Nah lihat mesjidpun ditembak oleh kafir. Dan bagi rakyatpun hal itu bertambah marah sekali. Dengan demikian rakyat telah ditarik oleh mereka, dan secara politik kita sudah kalah. Kemudian ada lagi yang mereka takut-takutkan rakyat, katanya kalau lihat tentara pancasila datang, terus lari, kalau tidak nanti ditembak. Sebenarnya karena mereka larilah, maka ditembak, sebab oleh tentara kita disangkanya mereka gerombolan.
Kalau mereka tidak lari, tentu tidak akan ditembak, tetapi dengan cara propaganda demikian, maka dengan sendirinya rakyat banyak dipedalaman akan terpengaruh sekali dan bertambah anti terhadap kita. Kemudian ada satu cara lain lagi, biasanya kalau tentara kita sedang patrol dan bertemu dengan rakyat dipedalaman, kadang-kadang tentara kita bertanya apa ada lihat gerombolan disini, maka oleh Rakyat dijawabnya Islam bahasa daerah Hom (artinya tidak tahu) padahal mungkin mereka tahu. Tetapi jawaban hom itu maksudnya, jangan dicampurkan urusan saya dengan urusan dia, berarti jangan Tanya-tanyalah, dan cari sendiri sebab kalau mereka beri tahu, pasti mereka nanti akan dapat siksaan dari gerombolan.
Ada cara lain lagi yang mereka lakukan, umpannya sengaja disuruh beritahu pada rakyat, bahwa gerombolan ada bersembunyi disatu tempat, supaya tentara datang kesitu. Nanti kalau tentara kita datang mereka tentu sudah pergi. Dan yang beritahu tadi tentu kena marah dari tentara kita. Hal inipun supaya rakyat bertambah anti pada tentara pancasila.
Kadang-kadang mereka bersembunyi didalam kawanan lembu, dan mereka tembak terhadap tentara kita, dan membalas kearah itu, sudah tentu akan kena lembunya, sedang mereka sudah lari. Lantas katanya pada rakyat, nah lihat, lembu-lembupun ditembak. Apa itu bukan kapir. Itu semua adalah rencana mereka, supaya rakyat semakin jauh dan tidak percaya pada tentara kita lagi. Pendeknya bermacam-macam cara yang mereka lakukan dan kalau pihak kita tidak hati-hati maka rakyat banyak akan menjadi musuh kita, secara tidak langsung. Kami mencoba memberikan beberapa pandangan luas dalam cara menghadapi mereka itu yaitu seperti berikut :
1.       Dalam faktor pemberontakan itu, mereka lebih banyak tergantung atas bantuan rakyat. Kalau tidak dibantu oleh rakyat, mereka tidak bisa bertahan lama, karena soal makanan ialah pokok utama.
2.       Jadi mereka sekarang sudah menarik dan menguasai rakyat banyak menjadi kawan mereka disamping dengan kekerasan (paksaan), ditambah lagi dengan bermacam-macam cara menakutkan seperti yang telah diterangkan diatas tadi.
3.       Bagi mereka setiap saat dapat mengetahui dimana kita berada, berapa kekuatan kita, pendeknya mereka dapat ketahui semua keadaan kita dengan mudah, karena mereka suruh selidiki dengan perantaraan rakyat. Mereka telah atur sesuatunya, seperti kode-kode tanda bahaya dan sebagainya, yang semua itu disampaikan oleh rakyat dengan kode-kode pula.
4.       Pemulihan keamanan baru dapat berhasil baik, apabila kita dapat menarik kembali dan menguasai pula rakyat banyak itu, supaya menjadi kawan saja. Jadi kita tidak perlu harus langsung berhadapan gerombolan. Kita harus menarik lebih dulu rakyat yang telah dikuasai oleh mereka. Kalau ini telah tercapai, maka dengan mudah mereka (gerombolan) akan menyerah dengan Cuma-Cuma.
5.       Dalam operasi kita kekampong-kampong itu, kita harus lebih banyak membujuk, memperlihatkan achlak yang baik, bawa obat-obat dan lain-lain yang dibutuhkan rakyat. Pendeknya kita harus lebih banyak mendekatinya agar dapat kepercayaan kembali. Dalam hal mana, kita harus hati-hati dan waspada jangan sampai masuk perangkap. Dan yang penting sekali kita harus pandai mengambil hati rakyat, kalau telah dapat kepercayaan dari rakyat, berarti kita telah dapat menarik mereka untuk membantu kita.
Dengan demikian, maka pihak gerombolan akan bertambah sulit, karena suplay makanan akan macet dan berita-berita tentang kita pun tidak akan mereka terima lagi. Lama kelamaan mereka akan menjauhkan diri terus ke gunung-gunung dan kalaulah kita hanya jaga-jaga saja diperbatasan, sudah pasti mereka akan terjepit dan jalan keluar bagi mereka hanya menyerah.
Problema pemulihan keamanan memang ada bermacam-macam cara, tapi yang kami kemukakan itu adalah lebih efficien dan memang harus demikian. Sebab kalau kita belum dapat menarik rakyat untuk kawan kita, saya rasa kita harus menghadapi banyak rintangan-rintangan, selain menghadapi gerombolan sendiri, juga harus menghadapi rakyat banyak yang turut memusuhi kita.
Apa yang kami kemukakan itu dari pihak alat Negara kitapun telah dapat dipahami dan telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan memperoleh hasil yang sukses pula.selama bupati T.M Ali Panglima Polem di Sigli banyak pula hal-hal yang sulit yang dapat diatasi beliau, waktu sedang putus perhubungan darat dan economi pun dalam keadaan kacau, maka atas kebijaksanaan bupati telah pergi ke Medan dan tiba-tiba waktu kembali telah membawa kapal Nukaha serta bermacam-macam barang kebutuhan rakyat di Aceh Pidie.
Waktu itu pelabuhan sigli sudah ditutup, tapi karena kapal sudah mulai datang lagi, maka pelabuhan pun dibuka kembali dengan aktif. Dan T Bitai telah pula mendirikan Veem. Selain itu ia adalah juga sebagai agen dari kapal tersebut. Kegiatan kerja selama Bupati T.M Ali Panglima Polem bertugas di Sigli bertambah maju. Kewedanaan-kewedanaan telah terisi dan dibidang lalu lintas ekonomi rakyatpun telah mulai berjalan sedikit demi sedikit, terutama dengan adanya kapal Nukaha secara kontinu singgah di pelabuhan Sigli.
Kemudian bupati T.M Ali Panglima Polem dipindahkan ke Medan dan diganti oleh bupati Tgk Usman Aziz. Dalam rangka meningkatkan pemulihan keamanan di kabupaten Pidie, maka kami telah membuat rencana penerangan dari bergerak ke kecamatan-kecamatan dengan satu rombongan yang terdiri dari kepala pemerintahan, kepala penerangan, alim ulama, Dr kepala kesehatan, dari instansi militer dan kepolisian, dari pekerjaan umum dan lain-lain lengkap semuanya.
Didalam perjalanan, kadang-kadang rombongan kami pernah diserang oleh gerombolan, akan tetapi dengan lindungan Allah SWT tidak ada yang korban, ditiap-tiap kecamatan telah ditempati pos-pos alat Negara dan camat-camatpun semua telah mulai tinggal didaerahnya masing-masing. Dengan demikian maka pemerintahan sudah berjalan lebih luar lagi dan rakyatpun telah banyak yang sadar dan insyaf dan lebih banyak yang sadar dan insyaf dan lebih banyak memberikan bantuan kepada pemerintahan RI.
Kemudian saya dipindahkan ke Meureudu karena wadana T Sulaimansyah telah ditahan oleh alat Negara di mereudu (waktu itu batalyon Darmansyah) yang bertugas di Meureudu. Setelah saya berada di Meureudu, datanglah Bupati dan kami bersama kepala polisi Pak Pudilang menghubungi komandan batalyon (Darmansyah) membicarakan tentang penahanan T Sulaimansyah, agar dapat dibebaskan kembali. Karena dia memang bukan kesalahan berat, sedikit urusan sentiment, maka diapun dapat dibebaskan. Setelah kami nasehati seperlunya, maka dia dipindahkan ke Kantor Bupati Sigli.
Saya terus diklet aseering sampai 6 bulan lamanya di Meureudu waktu itu suasana keamanan masih terganggu. Kepala-kepala kampong dan kepala mukim, karena kesalahfahaman, ada yang ditahan oleh alat Negara. Tetapi dengan memberikan penjelasan-penjelasan kepada alat Negara maka mereka dapat dilepaskan kembali. Dalam daerah kewedanaan Meureudupun kami terus bergerak dengan rombongan Tentara dan sipil memberikan penerangan-penerangan ke pelosok-pelosok pedesaan.
Suatu ketika, waktu kami berangkat menuju ke Jangka Buya, pihak gerombolan rupanya sudah tahu lebih dulu dan mereka telah siap menunggu rombongan kami dipendakian Uelee Gle. Tetapi dengan pertolongan ALLAH SWT, kebetulan saja kira-kira ± 100 meter lagi mau mendaki, auto saya jeep merah mogok. Karena itu terpaksa rombongan berhenti. Oleh gerombolan yang telah menunggu dipegunungan itu, disangkanya kami sengaja berhenti untuk mengadakan Linderlaag, maka diam-diam telah menghilang dari situ. Kemudian dalam waktu ½ jam jeep saya hidup kembali dan rombonganpun berangkat. Setelah mengadakan penerangan dan mengobati orang-orang sakit oleh bahagia kesehatan, kami kembali ke Meureudu. Tetapi sampai disatu bukit antara jangka Buya dengan Oelee Gle, kami ditembak oleh gerombolan. Disitu terjadi sedikit heboh, karena kekeliruan dari pihak anggota kepolisian yang turut rombongan pengamanan. Padahal gerombolan hanya menembak 2x untuk mengejutkan dan terus lari.
Tetapi oleh kepolisian tadi yang berada dibagian belakang rombongan, terus saja membalas yang bertubi-tubi tanpa turun dari kendaraan, karena tempat kejadian itu sudah dekat dengan pos alat Negara yang berada Oelee Gle, maka merekapun sudah siap hendak membantu. Kemudian oleh komandan keamanan dari rombongan (tentara) memerintahkan supaya distop tindakan polisi itu, karena tindakan tersebut salah sekali dalam taktik pertempuran. Pengejaran dilakukan ke sawah-sawah dan ke bukit-bukit tadi, tapi gerombolan telah menghilang lebih jauh dan keadaan telah aman kembali.
Kamipun berangkat lagi menuju ke Meuereudu. Dari tentara Oelee Gle, kami dapat keterangan, bahwa mereka telah menyerang gerombolan tadi malam. Jadi gerombolan rupanya hendak membalas kembali dan menunggu rombongan kami dipendakian bukit Oelee Gle. Karena disitu mereka gagal, maka coba peruntungan menunggu ditempat tadi. Barulah kami ketahui keadaan sebenarnya.
Besoknya kami berangkat lagi menuju ke kecamatan Trieng Gadeng ke Kampong Peudoek, dan mereka yang merasa takut-takut akibat tembakan di Jangka Buya, banyak tidak turut serta dan barisan keamananpun hanya dari tentara saja. Tetapi kendaraan di Peudoek itu tiada gangguan apa-apa.
Demikianlah penerangan-penerangan yang kami lakukan ke beberapa pedesaan dalam kewedanaan Meureudu dan keadaan keamananpun semakin meningkat. Selama 6 bulan saya didetasir, kemudian dengan resmi dipindahkan menjadi wedana Meureudu. Dalam waktu itu, keadaan sudah berubah, karena telah diadakan perdamaian dengan status yang terbatas harus dipatuhi oleh mereka.
Sayapun telah agak bebas pulang balik ke Sigli, karena selama saya pindah ke Meureudu, keluarga saya masih tinggal di Sigli. Tidak lama kemudian, sayapun dipindahkan ke Lhokseumawe dengan kenaikan pangkat, menjadi Patih Kabupaten Aceh Utara. Selama beberapa tahun saya bertugas di Aceh Utara kemudian saya dipindahkan lagi ke Banda Aceh ke kantor gubernur. Dikantor gubernur saya tidak diberikan tugas tertentu dan saya ditempatkan dalam 1 kamar dengan Abdul Wahab Dahlawy dan Abdul Gafur. Pada waktu itu adalah dalam masa peralihan dari gubernur A. Hasyimi kepada gubernur Nyak Adam Kamil. Kira-kira beberapa bulan dikantor Gubernur kemudian saya dipindahkan ke kantor walikiota. Walikotanya ialah T Usman Yakob.
Selama dipindahkan ke Banda Aceh, saya cukup menderita rumah tidak diberikan dan saya terpaksa menumpang dirumah adik saya Abdullah Masry di merduati. Sebenarnya dalam rangka kepindahan saya ke banda Aceh, saya telah berhak dinaikkan satu tingkat menjadi bupati, tetapi karena format telah tertutup, katanya, maka dipindahkan ke Kotamadya, karena disana masih terbuka lowongan bupati.
Setelah beberapa lama kemudian, barulah saya diusahakan ke pusat tentang kenaikan tersebut hal mana lama juga terpendam di kementrian dalam negeri. Susulan diteruskan beberapa kali. Tapi belum juga ada keputusan . kemudian saya kirim surat pada anak saya HT A Mahmudy, karena dia bertugas di kementrian agama pusat, dan dengan pengurusannya pada staf kementrian dalam negeri. Barulah dikeluarkan surat keputusan dan dinaikkan jadi bupati (ahli tata praja).
Berhubung walikota T Usman Yakob telah habis masa tugasnya maka ia diberhentikan dengan hormat dari jabatan walikota dan diganti oleh saya sebagai pejabat walikota atas penunjukan pemerintah pusat. Selama dalam jabatan tersebut, saya cukup menderita, karena apa yang diserahterimakan kepada saya hanyalah hutang-hutang pemerintah dan beberapa perkara yang belum dan yang dalam pengurusan pengadilan negeri.
Dalam memimpin pemerintahan kotamadya Banda Aceh saya tidak dapat berbuat banyak, selain meneruskan mempersiapkan pembangunan pasar ikan dan daging di Peunayong. Tentang kebersihan kota yang menjadi pembicaraan sehari-hari dan masyarakat kota dan perbaikan jalan-jalan yang berlubang-lubang dalam kota, hanya dapat dilakukan dengan timbal sulam secara darurat dari aspal Gle Genteng.
Sebenarnya dalam periode tersebut, kotamadya sangat tertekan sekali, disebabkan ada sedikit ketegangan antara T Usman Jakob dengan Nyak Adam Kamil. Oleh karenanya segala bantuan dari kantor gubernur menjadi macet. Selain dari itu, tugas saya yang prinsip sekali ialah menyusun anggota DPRD GR yang disesuaikan menurut procedure yang sebenarnya. Setelah menyusun anggota DPRD GR dengan lengkap dari masing-masing fraksi, yang kemudian mendapat pengesahan dari pihak atasan.
Mulailah para anggota yang terhormat itu mengadakan sidangnya, memilih ketua dan wakil ketua dan lain-lain hal yang diperlukan sama kelengkapan alat-alat pekerjaan DPRD GR itu. Achirnya mulai pulalah mereka memilih calon walikota baru. Suasana memilih calon walikota itu bukanlah seperti yang lazim berlaku, tetapi ada mengandung suatu urusan politik yang telah ditentukan oleh pihak penguasa dan tercatatlah 2 orang, yaitu kapten T Ibrahim dan H Jafar Hanafiah. Calon yang kedua ini, sebenarnya hanya melengkapi saja, sebab tidak boleh calon tunggal yang sebenarnya T Ibrahim itu adalah tunjukan dari kodam I (T Hamzah).
Waktu saya dilantik dulu gubernur propinsi Aceh ialah Brigjen Nyak Adam Kamil. Pada siangnya saya dilantik dan pada malamnya saya disuruh datang kerumahnya dalam urusan dinas. Saya pernah uraikan panjang lebar tentang kesukaran-kesukaran yang saya hadapi dan sangat perlu bantuan biaya dan lain-lain demi berjalannya program kerja kotamadya. Oleh gubernurpun langsung katanya boleh membantu. Dulu katanya tertahan, karena ada sedikit klep dengan T Usman yacob. Sedang saya membuat suatu rencana kerja yang akan diajukan ke Propinsi, rupanya dengan mendadak, yakni baru seminggu saja bertugas, tiba-tiba tanpa saya ketahui, Nyak Adam Kamil dipindahkan berangkat Ke jawa (Untuk Sekolah) dan penggantinya sementara diserah terimakan kepada Residen fahim Hasyimi dan Bupati Kuswandi kemudian, untuk pejabat gubernur Aceh ditunjuk Kolonel Hasbi Wahidy, yang tadinya selaku kepala staf kodam I.
Susunannya atas keberangkatan Nyak Adam Kamil untuk melanjutkan sekolahnya ke Jakarta, saya sungguh sangat sedih sekali, karena saya sudah mengharap-harap akan mendapat bantuan yang lebih banyak selama saya menjabat walikota. Tetapi semua itu, memang tidak dapat kita tentukan, karena segala putusan terachir adalah dari ALLAH SWT. Sayapun bekerja seperti biasa saja menurut keadaan yang cukup gawat apa yang ditinggalkan oleh T Usman Yacob.
Kemudian pada sidang DPRD GR chusus untuk memilih walikota baru itu, terpilihlah T Ibrahim menjadi walikota kotamadya Banda Aceh. Dan setelah timbang terima dengan saya, maka sayapun dipindahkan ke kantor gubernur dan ditempatkan dibagian Inspektorat/ pengawasan. Kemudian dalam rangka pemilihan gubernur definitif maka terpilih pula sdr Muzakkir Walad menjadi gubernur Propinsi Aceh. Setelah bertugas beberapa lama kemudian masa pensiunpun telah tiba, dan sayapun dipensiunkan dengan pangkat terachir sebagai bupati (golongan IV a).
Demikianlah uraian saya semua itu untuk menjadi kenang-kenangan bagi saya sendiri dan bagi siapa yang membacanya.

                                                                                                                                                Banda Aceh 31 mai 1984

                                                                                                                                                                T. Mohd Syah
ditulis kembali oleh popoen atjeh dari text asli bahasa aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar