PENGALAMAN
HIDUP DAN PERJUANGAN
DIMASA PENJAJAHAN BELANDA, DIMASA
PENJAJAHAN JEPANG DAN MASA KEMERDEKAAN
MAYOR TEUKU MOHAMMAD SYAH
JANUARI 1917
LAHIR DI MATANG KEUPILA
LHOKSUKON ACEH UTARA
SD – INLANDSCHE SCHOOL SELAMA
1 TAHUN
H.I.S DI LHOKSEUMAWE
Setelah tamat
dari HSJ saya tidak sambung lagi dan tinggal di kampong bersama orang tua.dalam
pada itu oleh Kondraleus Lhoksukon namanya Pinter Rangking, saya dipanggil
kekantornya dan disuruh belajar bekerja dikantornya sebagai magang dan
ditempatkan dibawah pimpinan Mantri Polisi yaitu Haji Ibrahim ( almarhum
)kira-kira 6 bulan saya sebagai magang oleh jawatan kereta api dulu namanya
Aceh Tran diminta orang dari kantor Kontralum untuk mengisi kekosongan karcis
verkopen di…………………….. ±6 KMdari lhoksukon.sebenarnya tempat itu sangat sepi dan
pegawai yang lama dulu karena tidak tahan maka minta berhenti. Tetapi karena
diharuskan juga saya harus menempati tempat itu maka sayapun mencoba bekerja
disitu. Sedangkan gaji saya hanya diberikan 10% dari penghasilan tetap
bulanan.ini memang sedikit sekali,tetapi pada masa itu buat seorang yang masih
lajang boleh bilang mencukupi juga.
Kira-kira 3
bulan saya bekerja saya juga merasa tidak tahan,sebab memang terlalu sepi dan
ditempat itu dan sekitarnya dikelilingi oleh hutan rumbia.kemudian sayapun
meminta berhenti.
Saya kembali
ke kampong pada tahun ±1933 saya melamar pekerjaan pada BPM dibahagian veld
geolog onderzok dengan perantaraan family saya yang memang sudah bekerja disitu
sebagai ………………… namanya T Muhammad Daud dari peureulak (Langsa)
Sayapun deterima dan mulai
bekerja sebagai ………………….. Boormandun dengan gaji hanya F 0,75 (tujuh Puluh Lima
Sen) perhari.setelah sebulan bekerja saya dinaikkan menjadi Boormandun pekerja
d veld Geolog onderzok itu. Adalah urusanya alat pengeboran cara primitive
sekali dan satu bor pekerja nonstop 24 jam dan dibagi masing masing 8 jam
bekerja dan tiap tiap bor dipakai sebanyak 15 orang pekerja.pengeboran yang
dilakukan sedalam maksimal 300 meter.
Gaji buruh waktu
itu 1 hari dibayar F 0,45 (empat puluh lima sen) kalau sudah bekerja lama akan
dibayar lebih tinggi maksimal F 0.55 (lima puluh lima sen).saya mempunyai gaji
terakhir sampa F 115 ( satu rupiah lima belas sen) perhari.inipun tergantung
pada kecakapan dan keahlian bekerja. Kalau dibandingkan tentang harga barang
pada waktu itu seperti beras yang baik satu bambu hanya F 0.08 ( delapan sen )
dan 1 ekor sapi muda hanya F 5.00 (lima gulden) harga kain sarung pelekat nomor
satu F 2.50 dan harga emas 1 mayam juga F 2.50 harga 1 bungkus rokok cap kereta
angin F 0,07 dan cap daun F 0.03 tetapi
isinya 10 batang sedang cap kereta api isinya 20 batang.
Dimana saja
kita beli harganya tetap,demikianlah kira-kira perbandingan harga barang pada
waktu itu.harga 1 sepeda buatan jepang komplek pada waktu itu hanya F
15.00(lima belas gulden) tetapi kalau beradu pasti patah ini kualitas paling
rendah.
Daerah-daerah yang kami
kerjakan pengeboran dahulu ialah dalam daerah aceh dan sumatera timur pendeknya
dimana sekarang ini telah pernah dibuka kembali oleh pertamina di tempat itu
dulu pernah kami kerjakan dahulu.
Tidak lama
kemudian maka belanda bekerja sama dengan pemerintahan amerika sewaktu saya
masih bekerja di blang kolam (aceh utara) saya berteman akrab sekali dengan seorang
pegawai (krani) namanya………………………
Ia pandai
berbahasa inggris dan pandai pula bermain music (Guitar) dalam waktu senggang
pada malam hari,kami meminta ajar dia mau mengajar bahasa inggris pada
kami,yaitu saya sendiri dan semua kawan saya namanya M.Usman.
Setelah
beberapa bulan kami belajar kira kira kami telah dapat juga berbicara
sedikit-sedikit yang dibicarakan sehari-hari dan memang menurut momen
inggris.hal mana diketahui diketahui oleh sep kami yang bernama Raden Atok
kamipun dipanggil dan di ajak berbicara langsung dengan raden atok sendiri.
Rupanya
menurut penilaiannya kami telah lulus dan kami pun dipindahkan bekerja bersama
orang amerikayang waktu itu mulai bekerja di daerah aceh.pekerjaan yang
dikerjakan orang amerika itu sudah lebih modern.mereka tidak perlu member
sampai 300 meter tetapi cukup hanya 30 meter saja.jadi lubang2 yang bekas kami
bor dahulu dibersihkan sampai 30 meter, kemudian dimasukkan dinamit dan
menunggu perintah tembak dari bahagian petugas pembuat film(foto) yang dihubungi
dengan telepon yang jauhnya kira-kira 500 meter.hasil dari tembakan itu ±
sampai sedalam 2 s/d 300 meter dan bagaimana hasilnya tentang keadaan tanah,jadi
tergambar pada foto(gambar)pada petapa pengambil gambar terhebat.
Kami bekerja
di daerah pecan cunda dan tinggal di panggoi,suasana pengalaman kamidengan
mereka sangat menyenangkan sekali karena walaupun mereka sebagai majikan mereka
juga turut bekerja sama-sama seperti buruh dan berlumuran lumpur.
Dikala
istirahat malam hari mereka suka sekali menonton bioskop dan diajaknya saya
bersama-sama seperti kawan biasa saja.setelah itu kemudian saya dipindahkan
pula terakhir ke leubu ( kecamatan Ganda Pura sekarang)
Tidak lama
kemudian sayapun meminta berhenti ± pada tahun 1934 dan pergi merantau ke
Palembang (sumatera selatan)
Kepergian
saya itu disebutkan sesuatu hal pribadi yang tidak perlu dicatat disini.karena
saya sudah bertekad akan berangkat.terpaksa keluarga saya dan anak saya yang
masih kecil dengan terharu jika saya tinggalkan,bahkan seorang pun dari family,tak
ada yang mengetahuikemana saya menghilang dari alue ie puteh.
Kepergian
saya itu adalah seperti pengembara dan persendian belanja pun sangat terbatas sekali,tujuan
saya untuk mencari pekerjaan disana.sebenarnya bagi saya sendiri kata Palembang
masih asing.tetapi karena keinginan hati hendak mencoba merantau,terpaksa saya
teruskan rencana itu.dalam perjalanan saya ke Palembang itu telah terjadi pula
sesuatu hal yang benar-benar pengalaman penting bagi saya dan bagi siapa
pun.kalaulah kita berlaku jujur dan berbuat baik untuk menolong seseorang
dengan hati ikhlas langsung pula mendapat pembalasan dari Allah SWT.
Saya
berangkat denga auto bus dari medandan sampai di Bukit Tinggi bermalam
,besoknya waktu mau berangkat lagi tiba-tiba ada seorang penumpang dari Bukit
Tinggi yaitu seorang Wanita suku Tapanuli hanya dia sendiri juga maksud ke
Palembang
Rupanya
diapun belum pernah ke Palembang.sewaktu naik auto bis seorang agen berkata
saat di Bukit Tinggi tolonglah menemani wanita itu karena sama-sama ke
Palembang dan oleh wanita itupun langsung berbicara dengan saya sebagai
berkenalan dan dia pun sendiripun harapkan bantuan saya.
Kamipun
berangkat dan dalam kendaraan kami duduk berdekatan pula.intinya pemberitahuan
para penumpang turun pergi makan atau minum dan kamipun pergi berdua.selesai
makan terpaksa saya membayarnya karena malukalau bayar masing-masing sebenarnya
saya meras sedikit keberatan,karena persediaan uang yang saya bawa pas pasanada
sewa kendaraan,sewa penginapan dan kalau
sampai di Palembang mungkin ada sisa dua gulden lagi.tapi saya pikir tak apalah
karena yang saya tolong wanita pula.
Didalam
perjalanan dia terlalu banyak bicara Tanya ini itupada penumpang lain,untuk
menjaga hal-hal yang akan mengecewakan maka saya bisikan padanya supaya ia
jangan banyak bicara anggap saja saya sebagai suaminya supaya orang lain merasa
segan.dan diapun patuh.sampai di muara teba kami menginap dihotel.dalam satu
kamar kami ada 4 orang saya dan dia dan seorang wanita lain bersama anaknya
yang masih kecil.
Mereka tidur
diatas ranjang, sedang saya pakai tikar tidur dibawah,besoknya kami berangkat
lagi dan dalam kendaraan saya berbicara pelan-pelan dengannya mengenai
tujuannya ke Palembang.katanya dia mau menyusul suaminya dan diapun
memperlihatkan briefkartyang dikirim oleh suaminya alamat pengirimMarakoh d/a
silitonga agen singer di plaju Palembang.
Sayapun
bertanya padanya yang nama saudara nama suaminya,katanya marakob.kalau begitu
saudara marakob ini nampaknya belum bekerja tetap sebab alamatnya dia menumpang
pada alamat agen singer.waktu saya katakan demikian iapun kaget sekali.sebab
pikirannya suaminya itulah agen singer.maka ia mau menyusul ke Palembang kalau
belum bekerja tentu ia tidak.
Akan
menyusahkannya,keadaan nya jadi panic sebentar,karena dia sempat gelisah sekali
maka saya katakana supaya sabar dan tenang saja.mungkin juga dia agen
singer.matilah kalau sudah ketemu dengan dia sendiri,baru jelas setelah kami
sampai di lubuk linggau,kamipun naik kereta untuk terus ke Palembang.
Didalam kereta
api diapun menyatakan kepada saya, kalaulah suaminya itu memang belum bekerja
mungkin pula susah mencarinya,biarlah saya ikut abang saja.kita nanti dapat berusaha mencari
makan,sebab saya ada persediaan barang-barang emas perhiasan
sekedarnya,demikian katanya.mendengar hal demikian, sayapun jadi terkejut juga
dan apa yang dikatakan itu jadi problem baru bagi saya, apakah itu baik dan
wajar jadi pemikiran saya untuk member kepastian padanya.
Oleh kerena
saya tetap berhati jujur dan memang sama sekali tidak ada suatu niat yang buruk
walaupun wanita itu telah menyatakan dirinya maka saya tolak dengan halus
Saya katakana
padanya, nantilah kita cari Sdr. Marakob sampai jumpa.kalau memang tidak
berjumpa, akan kita pikirkan lagi apa yang harus kita kerjakan,karena sayapun
ke Palembang ini tidak ada orang yang saya kenal, bahkan bagaimana perkembangan
selanjutnya nanti sayapun belum tahu lagi.dan adikpun jangan lekas putus asa
dan panic.
Sesampai kami
di kertapati, terus sambung lagi dengan kapal melalui sungai musi dan baru tiba
di station Palembang. Kami turun dan menuju ke satu hotel dekat station itu dan
sayapun titip wanita itu pada pemilik hotel. Sementara sayapun terus mencari
alamat suaminya ke kantor singer di Palembang dengan membawa brifkaart itu.
Keterangan
yang saya peroleh, bahwa nama marakob tidak ada agen singer kalau silitongga
memang ada dan dia tinggal di plaju. Kalau saudara ke Plaju dari sini, naik
becak kepelbuhan penyeberangan dan kemudian naik getek dimana sampai di
seberang terus naik taxi dan katakana
saja mau ke kantor singer plaju.
Sampai di
plaju kami turun dan persis di muka kantor singer tersebut. Saya membayar lagi
ongkos taxi dan kamipun langsung bertemu saudara silitonga.saya ceritalah
tentang ada wanita itu adalah isteri dari sdr, marakob menurut sdr silitonga
bahwa sdr marakob dalam beberapa hari ini tidak pernah bertemu dengan dia
mungkin dia berada di Palembang. Tetapi tidak apa nanti saya cari dia dan
isterinya biarlah saya titip dulu di rumah kawan saya,katanya.
Kalau dibawa
ke rumah saya, kurang baik karena sayapun belum beristeri dan dirumah banyak
pula kawan-kawan yang lajang.dan katanya lagi kepada saya, sdr tinggal dimana?
Sayapun menjawab, bahwa sayapun belum pernah ke Palembang dan tidak ada kenalan
atau family saya disini. O kalau begitu baiklah sdr tinggal bersama dirumah
saya katanya.bagaimana senangnya hati saya, allah lah yang maha mengetahui dan
saya sangat bersyukur sekalisehingga saya tidak jadi gelandangan di Palembang.
Waktu itu
sayapun berpisahlah dengan wanita itu dan dia dibawa kerumah kawan silitonga
dan saya tinggal di rumah silitonga bersama kawan yang memang sudah menetap
lama dirumah tersebut.
Waktu
berpisah, wanita itu sambil menangis mengucapkan terima kasih pada saya dan
sayapun turut terharu juga. Sebenarnya waktu saya bayar ongkos taksi tadi uang
saya sudah habis, hanya tinggal sisa Fa.50 (lima puluh sen) lagi, kalau saya
suruh bayar pada wanita itu tentu dia akan bayar, tetapi dia menyimpan uangnya
agak tersembunyi dan payah mengambilnya, kalau tidak ke kamar mandi. Karena
itulah maka sayapun terus saja membayarnya, sungguhpun persediaan saya sudah
punah semua.
Kemudian
setelah kira-kira 3 hari saya di plaju barulah saya temui sdr. Marakob di
Palembang dan diapun dipertemukan dengan isterinya.
Mereka keduanya
datang menemui saya dan oleh sdr, marakob mengucapkan banyak terima kasih atas
bantuan saya terhadap isterinya.
Cobalah kita
pikirkan kembali tentang kisah tersebut jika kita berbuat jujur dan ikhlas
serta menolong seorang hamba allah, maka dengan sendirinya langsung pula
mendapat pembalasan yang baik pila.sebagai buktinya, saya tidak menentu arah
dan uangpun sudah habis, tetapi karena perbuatan yang baik tadi maka saya sudah
mendapat saudara kenalan. Terutama sdr, silitonga dan 3 orang kawan-kawan lain
serta tinggal bersama dan makan sayapun ditanggung oleh sdr, silitonga pada
sebuah rumah makan.
Ini adalah
sebuah hikmah yang sangat besar sekali nantinya. Tetapi kalu berbuat
sebaliknyamungkin akan mendapat kutukan dari allah swt. Selama saya tinggal
dirumah sdr, silitongga setiap hari kami pagi-pagi kami sudah siap dan
berangkat cari pekerjaan masing-masing. Waktu itu kira-kira pada tahun 1934
suasana saat itu sangat sukar untuk mendapatkan pekerjaan. Kawan-kawan kami serentak bertemu di kantor B.P.M di
bahagian personel zakan, karena dibahagian itulah yang menerima seorang pegawai
bila diperlukan. Akan tetapi memang sukar sekali berhasil, karena dari dulu
pula sudah ada penyakit sogok menyogok. Jadi kalau kita lebih dulu datang ke
rumah kepala kantor itu, urusan pegawai itu dengan membawa oleh-oleh ataupun
orang yang pantas tentunya, baru akan berhasil.
Kami
kesemuanya (4 orang) sdah terang tidak dapat berbuat seperti itu, karena untuk
beli rokokpun tak ada uang, bahkan sebatang rokokpun kadang-kadang bergantian mengisapnya. Kawan-kawan saya itu
adalah juga orang-orang yang mempunyai bermacam-macam diploma,pendeknya
bukanlah golongan buruh kasar. Tetapi karena didesak untuk mencari biaya hidup
sehari-hari terpaksa mereka pulang ganti pakaian dan berusaha lagi mencari
pekerjaan kasar(buruh) ke pelabuhan.
Kira-kira dua
minggu saya bersama mereka saya mendapat pikiran baru yaitu saya akan menghadap
langsung denga chef dari Afdeeling Veld Geoloog Onderzuk.hal ini memang
menyimpang dari prosedurnya. Setelah saya dibawa kesitu oleh opas
kantorlangsung saya masuk dan berbicara dengan belanda yang bernama : L.
Theunissen orangnya masih muda dan peramah, kebetulan rezeki bigi saya.
Tanpa banyak
pertanyaan saya diterima waktu itu saya hanya memperlihatkan kartu legimitasi
bendys, bahwa saya pernah bekerja sebagai Boormandok di Veld Geoloog Onderzuk
pangkalan berandan. Katanya kira-kira 3 hari lagi kita akan berangkat ke sungai
Ibul dan harus segera datang lagi menemuinya di kantor.
Waktu saya
kembali ke rumah, saya ceritakan kejadian itu pada kawan-kawan saya dan mereka
merasa heran, karena saya begitu cepat dapat kerja. Sedang mereka sudah
berbulan-bulan berusaha tetapi belum berhasil.
Disini saya
teringat lagi mungkin karena saya pernah menolong wanita itu dengan ikhlas,
maka tuhan yang maha esa telah membantu saya. Walau pada waktu itu saya pernah
bertanya –tanya pada kawan-kawan saya itu mungkin mereka ada kenal dengan
orang-orang aceh di Palembang atau plaju. Menurut mereka katanya ada seorang
nama HARUN, dulu dia bekerja di sungai Gerong dan sekarang dia sudah berhenti
dan sudah tinggal di lading sungai Batang Palembang, kira-kira 15 KM dari
Palembang, tapi kalau menyeberang dengan kapal penyeberangan hanya kita bayar
FO.25 saja.
Karena saya
tidak ada uang dan kawan-kawan saya juga tidak punya uang maka terpaksa saya
harus jalan kaki dari rumah ke Getek ±4 KM dan menyeberang ke Palembang saya
jalan kaki lagi menurut arah jalan besar menuju ke sungai Batang yang jaraknya
± 15 KM itu.
Waktu itu
matahari cukup panas, sayapun berjalan selangkah demi selangkah sambil
istirahat ditempat-tempat teduh dan meminum air dingin yang ada orang sediakan
dalam guci yang diletakan di muka pintu pagar rumah orang-orang tertentu. Hal
mana dilakukan karena dikiri kanan rawa-rawa. Saya berangkat kira-kira jam 8 pagi dari rumah dan kira-kira jam 4 sore
saya sampai di sungai batang, itupun saya bertanya-tanya pada siapa saja
melalui pos di jalan berapa jauh lagi bisa tiba di sungai Batang.
Kemudian saya
lihat ada kedai-kedai dan rumah-rumah di jalan itu dan saya mampir sebuah kedai
orang jual pecal. Saya Tanya pada mereka dan katanya kalau bertemu nanti dengan
rumah-rumah yang berderet panjang, salah satu rumah ujung sekali adalah tampak
saudara harunsewa untuk tempat pangkas rambut.
Sayapun
meneruskan perjalanan dan sampai disitu saya Tanya lagi pada orang jualan
disitu kebetulan saja memang saudara harun memang dekat dengan dengan kedai itu
dan sayapun langsung naik ke rumah itu serta member salam, setelah menjawab
salam saya, saudara harun menyuruh duduk sambil ia menyelesaikan memangkas
seseorang disitu. Setelah selesai diapun bersalaman dengan saya dan mulai
bertanya-tanya dengan bahasa aceh bercampur melayu karena diapun tidak begitu
lancar lagi bahasa aceh agak gagok sedikit. Sayapun ceritalah riwayat saya dan
maksud tujuan ke Palembang dan lain-lain sebagainya. Hanya nama saya saja saya
katakan MUHAMMAD SYAH dan teukunya tidak saya sebut. Dengan demikian agar dia
tidak begitu meras segan tentunya, kemudian diapun terus tutup kedai itu dan
diajaknya saya bersama-sama pulang ke rumahnya keladang kiran-kira 500 meter
dengan kedai tersebut.
Sampai
dirumah saya diperkenalkan pada isterinya seorang wanita sunda dan mempunyai
satu orang anak laki-laki berumur ±6 tahun. Saya dihidangkan minuman dan
kuwe-kuwe kemudian sudah disediakan nasi sesudah makan, sambil istirahat diapun
berceritalah tentang perjalanannya waktu berangkat dari aceh dahulu masih ian
anak-anak berumur ±12 tahun dengan bersembunyi disebuah kapal sampai ia ke
Tanjung Priok. Setelah dewasa dia telah pernah bekerja di Tanjung Priok sebagai
…………………………………………………….. yang terakhir di sungai Gerong. Dan kesimpulan dari
saudara Harun karena saya menumpang di rumah orang, maka lebih baik dimintak
supaya saya tetap terus di rumahnya saja. Sayapun menerima dengan sangat senang
dan Alhamdulillah.
Dan saya
katakana padanya bahwa saya harus kembali ke plaju karena saya sudah diterima
bekerja pada Veld Geolog Onderzuk dan tinggal akan berangkat ke sungai Ibul.
Besoknya saya diberi uang sebanyak F.O.50 (Lima Puluh Sen) untuk ongkos
penyeberangan denga perahu sampai di Plaju saya menemui Kawan-kawan saya yang 3
orang itu dan Sdr Silitonga. Saya mengatakan bahwa saya sudah bertemu dengan
Saudara Harun dan saya akan tinggal bersama dia di sungai Batang karena itu
saya minta diri dan meminta terimakasih atas pertolongannya kepada saya selama
tinggal di Plaju. Kemudian saya menemui tuan L Themisen dan katanya 1 minggu
lagi berangkat. Sayapun balik ke lading sungai batang dan sampai batang dan sampai
tanggal yang ditentukan sayapun berangkatlah bekerja di sungai Ibuh.
Satu bulan
kami bekerja diberi istirahat satu minggu dan masing-masing kembali ketempatnya
dan sayapun kembali ke rumah Sdr Harun yang sudah saya anggap sebagai saudara
saya. Kamipun hidup sebagai keluarga
sendiri disitu sehabis istirahat saya kembali lagi ke sungai Ibuh , kira-kira 3
bulan kerja bekerja disitu pekerjaan di stop buat sementara.
Kamipun
kembali ke pangkalan masing-masing sambil menunggu panggilan kembali
nanti.selama di sungai batang saya sudah banyak berkenalan dengan kawan-kawan
di daerah itu dan salah seorang pegawai kapal minyak, namanya Menangi telah
menjadi kawan akrab sekali dengan saya. Kebanyakan diantara pegawai kapal
minyak tadi adalah anggota Perindra ( Partai Indonesia Raya ) yang waktu itu
sedang hangat-hangatnya dipalembang dan selalu dibuntuti oleh polisi belanda.
Sayapun mulai
mendaftarkan diri ingin masuk partai tersebut. Menurut pimpinan katanya saya
belum boleh langsung jadi anggota, akan tetapi harus jadi calon dulu dan harus
selalu datang ke kantor partai untuk mengikuti ceramah ceramah dan lain-lain
sebagainya agar lebih faham dan bagaimana bertanggung jawab dan resiko
seseorang anggota partai.
Dan katanya
kalau seseorang jadi anggota, harus benar-benar berani berkorban untuk
kepentingan partai. Jadi tidaklah mudah masuk partai politik waktu itu.
Berlainan dengan cara sekarang, dizaman merdeka sekarang seseorang masuk partai
malah partai yang harus berkorban untuk orang itu jadi terbalik. Jadi sayapun
selama 3 bulan jadi calon anggota barulah di sahkan menjadi anggota. Kawan
kawan sayapun semakin bertambah banyak dan kehidupan sayapun banyak dibantu
oleh kawan-kawan secara pribadi.
Tentang kawan
saya di Plaju, sewaktu saya sudah bekerja dibagian nya Onderzuk dahulu, rupanya
mereka ketiganya juga telah dapat pekerjaan masing-masing. Pada suatu hari
waktu saya ketemu berjalan dipalembang kebetulan bertemu dengan mereka dan
kamipun sangat gembira sekali dan kamipun pergi makan-makan di suatu restoran.
Pada sangat hangat-hangatnya perkembangan partai politik dipalembang waktu itu
almarhum pak IR SOEKARNO ex presiden RI masih dalam tahanan penjajah belanda di
Bengkulu.
Pada suatu
malam, waktu kami sedang kursus di gedung partai Perindra cabang sungai batang
tiba-tiba saya dapat berita dari nsalah seorang kawan yang bekerja disungai
Gerong (NKPM) bahwa 2 orang pegawai dari kapal “ Pendopo “ (kapal Minyak) telah
minta berhenti. Kapal pendopo itu singgah di pelabuhan Sungai Gerong, tetapi
kawatnya yang telah dikirim lebih dulu, supaya disediakan 2 orang penggantinya.
Dan setelah
kapal tersebut tiba di pelabuhan, sdr Murangi yang juga anggota partai Perindra
langsung menjumpai saya menawarkan pekerjaan tersebut. Saya tentu bersedia,
tetapi bukan pernah bekerja di kapal. Cobalah saya Tanya pada sdr Harun kata
saya! Bagaimana nanti pendapat dia akan saya khabarkan. Kebetulan sdr Harun
punya surat berhenti bekas Stoker pada Nisem di TJ Priok dulu. Sayapun membawa
surat itu pada sdr Murangi dan katanya cocok sekali karena yang dibutuhkan
hanya orang yang sudah pernah bekerja di kapal.
Sayapun
dibawa sdr Murangi pada bapak Mandur (kapal pegawai) pada kapal pendopo
tersebut. Dan dapat diterima setelah melalui kier. Sayapun pergi ke rumah sakit
di sungai Gerong untuk di kier dan mudah-mudahan Good Geuerd. Dan sayapun
mintak izin doa restu dari sdr Harun dan mulai masuk jadi pegawai kapal pendopo.
Kapal itu tugasnya mengangkut minyak keluar negeri hanya terbatas didaerah area
saja. Biasanya ke hongkong, saingon, haipong (indocina), tien siem, shanghai,
dan lain-lain.
Sebagaimana
anak kapal pendopo nama saya ialah Harun. Sayapun mulai berkhayal tentang kota
Hongkong dan lain-lain yang dulunya saya hanya tahu kalau melihat dalam kaart
disekolah. Rencana saya kalau sudah, bekerja di kapal pendopo beberapa lamanya,
nanti saya akan mintak berhenti dan melamar di kapal-kapal bersambungnya di
Singapore dan akan berlayar ke Eropah. Kapal pendopo berupa kapal tangki. Alam
ukuran besar setelah diisi minyak di sungai gerong terus berangkat ke hongkong,
kira-kira pada jam 4 sore keluarlah kami dari sungai gerong melalui sungai ke
lautan.
Kami singgah
sebentar di tanjung uban dan terus berlayar lagi sampai tanjung cina rupanya
gelombangpun mulai mengamuk, waktu itu saya bekerja dibahagian bawah sekali
dekat mesin mulai pusing dan muntah-muntah untung ditolong sdr murangi dan
dibawa ke atas dek ke kamar.
Sayapun hampir tak sadarkan diri karena terus
muntah-muntah setelah keadaan agak reda, sayapun masih merasa oyong dan sangat
lemah sekali, kira-kira 7 hari lamanya berulah kami sampai dipelabuhan
hongkong. Tapi waktu itu keadaan cuaca sangat dingin dan sedang musim kabut,
jadi tak kelihatan apa-apa hanya gelap saja. Yang terdengar hanya suara-suara
isyarat dari kapal-kapal yang berlabuh disekitar pelabuhan tidak bertabrakan
satu dengan yang lain. Dan kapal-kapal itu semua harus berhenti ditempat.
Kira-kira 2
hari 2 malam lamanya barulah keadaan cuaca berubah jadi terang sedikit. Kamipun
baru dapat mendekati pelabuhan dan setelah diperiksa oleh syahbandar, barulah
kami boleh menuju ke pelabuhan tempat pembongkaran minyak, sampai dipelabuhan
minyakpun dibongkar dan awak-awak kapal yang tidak bertugas dibenarkan turun ke
darat(melancong) ke kota hongkong.
Saya dan
beberapa kawan lain tidak turun kedarat. Dan saya sendiri karena kurang sehat
dan uangpun tidak ada karena baru berkerja maka tidak turut turun ke darat.
Karena saya
baru pertama kali mulai berkerja dikapal, banyak hal-hal yang aneh yang saya
tidak ketahui yang terjadi diatas kapal tersebut, dari kapal mulai rapat
dipelabuhan dan berhenti tiba-tiba saja sudah banyak amoy-amoy(wanita tuna
susila)tegasnya wanita pelacuran telah sempat pula dengan cepat menerobos ke
kapal dan langsung masuk dalam kamar-kamar untuk bersembunyi, padahal kapal itu
tetap dijaga oleh polisi, jadi waktu diperiksa kelihatannya tidak ada orang
luar sebab kapal minyak itu harus dijaga lebih ketat, jangan sampai kebakaran.
Karena saya
berada didalam kamar, tiba-tiba ada orang masuk, sayapun jadi kaget sekali, lantas
saya Tanya pada mereka kenapa berani masuk kamar, katanya itu soal biasa dan
mereka rupanya sudah langganan masing-masing dengan awak kapal.Saya merasa
heran sekali atas kejadian itu, rupanya begitulah yang terjadi selalu tentang
permainan awak kapal. Tidak saja tentang soal sex, tapi juga tentang minuman
keras dan berjudi.Melihat keadaan yang demikian itu, saya jadi kewalahan dan
rencana saya kalau kembali ke Palembang akan minta berhenti disebabkan karena
mabuk laut dan hal-hal lain yang terjadi dikapal itu.
Kira-kira 3
hari kami di Hongkong, kamipun berangkat kembali ke Palembang, rupanya dalam
pelayaran kembali gelombang tidak mengamuk lagi dan keadaan dilaut
tenang-tenang saja.
Karenanya
sayapun tidak jadi minta berhenti. Kemudian berangkat yang kedua kali yaitu ke
Saigon dan Haipong (bahasa Indochina) dan keadaan dilaut aman saja.Disaya
pelabuhan minyak jauh diluar kota dan disitu saya turun bersama kawan-kawan
melancong ke kota Saigon sejauh ± 6 KM. kami naik sado dan jam 8 malam kami
berada di Saigon.Apa kerja kawan setiba dikota itu tak usah saya catat disini.
Sama seperti hal diatas kapal, kecuali saya dan seorang teman (pegawai baru),
kami berjalan-jalan ke pasar buah-buahan.
Saya membeli
satu keranjang jambu monyet(jambu mete) untuk dibawa ke kapal sebagai
persediaan kalau mabuk laut.Kira-kira pas jam 12 malam kami semua berangkat
pulang dengan sado ke pelabuhan kami. Besoknya kapal berangkat lagi tujuan ke
Haipong, di Haipong saya juga turun ke darat dan melancong naik Ricksaw yang
ditarik oleh orang cina.
Dikota
Haipong saya singgah disatu toko dan ada membeli 1 topi dan 1 Helm, kemudian
kembali ke kapal. Bahasa yang dipakai disitu ialah bahasa prancis. Jadi waktu
membeli sesuatu, kita terpaksa main kode dengan tangan, karena sayapun tidak
tahu bahasa Perancis. Selama 2 hari di Haipong, kami berangkat kembali ke
Palembang. Sesampainya dipelabuhan sungai genong, diadakan pengumuman bahwa
buat sementara kapal pendopo tidak berlayar lagi, waktu itu kalau tidak salah
sedang terjadi peperangan antara Belanda dan Jerman.
Jadi
kapal-kapal dari belanda akan distop berlayar dilautan. Sayapun beristirahatlah
kembali dirumah disungai batang, sambil memikirkan pekerjaan yang lain. Kebetulan
pada saat itu saya dengar dari kawan yang berkerja disungai genong, bahwa ada
pembukaan baru dari velogeoloog ouder quk yaitu dipekanbaru (riau) dan di Aceh.
Sayapun langsung menghadap dan melamar kerja untuk ke Pekanbaru, akan tetapi
karena saya emang dari Aceh, maka tenaga saya lebih dbutuhkan untuk ke Aceh.
Hal mana saya
laporkan pada saudara saya Harun dan setelah pamitan sayapun dibekali 1 kaleng
biscuit rending padang untuk dibawa ke kapal dan saya berkumpul dengan
rombongan di Pelabuhan KPM Palembang.
Setelah hari
cerah, kamipun berangkatlah,dalam rombongan kami sebagian buruh-buruh adalah
anak-anak sunda, jawa dan lain-lain, sebagai chef kami adalah orang Indo
Belanda Cina, namanya saya sudah lupa. Sampai di Belawan kami turun dan dan
dengan 3 buah Auto Bus yang telah menunggu di Belawan, kami berangkat ke Aceh, yaitu
ke Sigli (Aceh Pidie). Di Sigli hanya tinggal selama 3 hari kemudian berangkat
ke pedalaman didaerah kunyet kecamatan padang tiji dan disana kami dirikan
bivak dan mulai operasi/ berkerja di hutan-hutan lebat dari situ pindah lagi
Loeng Poetoe dan kami buat Bivak di Panteue Breuh, juga dipinggir hutan dan
kami bekerja dihutan lebah.
Selama
bekerja dihutan-hutan itu, tidak kurang pula kami berjumpa dengan
binatang-binatang buas dan ular-ular besar tetapi tidak ada terjadi sesuatu
kecelakaan, selesai disitu kami pindah lagi ke Trieng Gadeng daerah operasi
juga ke hutan-hutan di Culo dan lain-lain.
Disini kami
tidak membuat bivak dan tinggal menyewa beberapa pintu kedai di Trieng Gadeng,
selama di Trieng Gadeng, Saya berkenalan baik sekali dengan saudara Abah
Rachman anak dari Syahbandar di kedai Trieng gadeng dan sampai sekarang sudah
menjadi seperti saudara sendiri. Pekerjaan kami didaerah itu sudah selesai pula
dan harus kembali ke Palembang.
Rombongan
akan berangkat ke Sigli dan dengan kapal dari sigli ke Palembang, waktu dicek
jumlah kami semua, saya tidak ada dalam rombongan itu dan sayapun dipanggil
untuk berangkat, akan tetapi karena saya memang telah berniat tidak akan ke
Palembang lagi dari telah sangat kangen untuk pulang kekampung menemui anak dan
keluarga saya, maka mintak supaya diberikan kesempatan untuk pulang jalan darat
saja, akan tetapi karena kapal telah dibeli, maka hal mana tidak dapat
dikabulkan. Kalau begitu saya tinggal di Aceh saja dan dari chef saya itupun
tidak keberatan.
Sayapun
tinggal di Trieng Gadeng beberapa minggu lamanya dan kemudian sayapun berangkat
langsung ke Aloe ie Poetih menemui keluarga saya yang sudah lama saya
tinggalkan, saya beristirahat beberapa minggu sambil menghadapi suatu musibah,
karena kakak saya perempuan namanya Cut Paridah dalam keadaan sakit berat,
kalau diwaktu itu, kebanyakan orang-orang kita belum begitu yakin dengan
pengobatan dokter hanya terus main dukun dan berobat cara jampi-jampi,
kemasukan roh halus dan lain-lain, memperhatikan hal itu yang tidak akan
menolong orang sakit itu, maka saya berikan penjelasan dengan yang mendalam,
terutama pada abang ipar saya itu dan menurut dokter dari lhoksukon, harus
segera dibawa ke kutaraja untuk dioperasi. Akan tetapi apa boleh buat beliau
tidak dibawa dan memang telah agak terlambat menurut waktu yang telah
ditentukan, walaupun demikian, saya ikut juga untuk membawa ke Kutaraja,
ringkasnya dikutaraja pun tidak sanggup lagi dioperasi dan disuruh bawa kembali
pulang ke kampong, dan kira-kira 2 minggu dikampung beliaupun meninggal dunia.
Kemudian dari
itu saya dipanggil oleh abang saya T.M Ali dulu beliau sebagai kondektur kereta
api (Aceh Trem) tinggal di lhoksukon. Saya berkerja sebagai karcis verkooloog
untuk kereta api malam diloket lhoksukon. Sayapun terima pekerjaan itu dan
bekerja di lhoksukon dan sewaktu-waktu saya dapat pulang lagi ke Aleu Ie Poetih
mengurus urusan keluarga.
Pemerintah
perjanjian belanda pada waktu itu dalam keadaan gelisah dan suasana agak
sedikit panas, karena sudah mulai pecah perang dunia ke II dan jepang sudah
mulai membom Singapore dan jepang juga tentu akan menguasai daerah Indonesia.
Militer-militer
belanda yang berada di lhoksukon dan di lhokseumawe secara diam-diam sudah
mulai bergerak berpindah ke takengon dan ke medan.
Memperhatikan
suasana yang agak panas itu, masyarakat telah dapat menduga bahwa akan terjadi
sesuatu kekacauan di Aceh nanti.
Selama saya
berada di Lhoksukon sambil bekerja, saya juga dapat merasakan hal itu, karena
ditiap-tiap kereta api malam saya lihat banyak serdadu-serdadu belanda diangkut
ke medan dan pada waktu-waktu kalau malam hari, dilarang sama sekali menyalakan
lampu seperti biasa, jadi harus dilindungi dengan kop supaya tidak Nampak
terang untuk musuh (jepang).
Saya berteman
akrab sekali dengan seorang kawan namanya Mohd. Amin bekerja sebagai mantri
verpleger dirumah sakit lhoksukon.
dan kami
selalu pula ngobrol-ngobrol dirumahnya tentang situasi pada saat itu, bahwa
jepang mungkin akan datang kita tentu akan serang karena harga barang akan
murah, begitulah khayalan kami kebetulan sedang kami berada dirumah saudara
Mohd Amin tadi, kami mendengar suatu berita rahasia yang disampaikan oleh
saudara M. Hasbi Usman (sekarang bupati pensiunan)di Langsa, Bahwa saudara
tersebut memang dikirim oleh jepang chines untuk daerah aceh sebagai badan
penghubung dan untuk menggerakkan sabotage-sabotage terhadap pemerintah belanda
dan mengatur sesuatunya bila jepang masuk ke daerah Aceh nanti, rombongan yang
dikirim itu termasuk Said Abukar, Nyak Neh, Ismail Mangki, Ismail Putih dan
lain-lain dan termasuk saudara M. Hasbi Usman sendiri. Mereka ini dinamakan
barisan F (Fuyinara Kikan) dan yang untuk Aceh dikepalai oleh Tuan Matsibusi,
Jadi oleh saudara M. Hasbi Usman saya dan kawan-kawan lain diajak memasuki barisan
F tersebut dan sayapun telah bersedia menjadi anggota F didaerah lhoksukon
secara diam-diam kami bergeraklah mencari kawan-kawan lain dan memberikan
pedoman bekerja baik sebelum jepang mendarat, lebih-lebih nanti waktu jepang
telah mendarat. Iyah karena beritanya memang enak sekali, sebab bila jepang
yang memerintah nanti tentu segala-galanya akan murah sekali, maka kamipun
bekerja sungguh-sungguh menanti kedatangan jepang tersebut.
Kira-kira
seminggu lagi jepang akan mendarat ke kutaraja, orang-orang belanda dan
sebahagian serdadu-serdadunya demikian pula pimpinan pemerintahan sudah lebih
dahulu angkat kaki dengan aman walaupun ada juga terjadi pertempuran dan
pembunuhan yang terjadi didaerah Kutaraja.
Kebetulan di
Lhokseumawe ada tinggal beberapa orang diantaranya ada seorang dokter yang
diculiknya waktu mereka berkumpul di Lhokseumawe, dokter itu namanya I made
Bagiantra sebagai dokter di Lhoksukon dahulu.
Kami para
pemuda-pemuda di Lhoksukon telah mengatur satu barisan keamanan dan menjaga
akan timbulnya perompakan dan lain-lain didaerah Lhoksukon, waktu kami
membicarakan sesuatu tiba-tiba kami teringat tentang seorang dokter dilhoksukon
yaitu dokter I Made Bagiantra tersebut yang masih berada di Lhokseumawe.
Kamipun mupakat untuk mengambil kembali dan dibawa ke lhoksukon. Beberapa orang
berangkat ke Lhokseumawe menjumpai beliau beserta isterinya dengan jaminan
keamanan baginya, maka beliau kami bawa ke Lhoksukon kembali. Hanya sayang
rumah tempat beliau tinggal dahulu, sudah kosong dan segala isinya sudah
diangkut orang(dirampok), tapi beliaupun tetap bersabar, karena sudah selamat
dari tipuan belanda.
Jepang sudah
mendarat di Kutaraja dan mulai bergerak kejurusan timur dan ada juga yang dari
jurusan timur ke Kutaraja. Bila mereka berhenti dan bermalam di Lhoksukon,
kamilah yang menjadi badan perantara dan membantu sesuatunya, supaya mereka
tidak bergerak sendiri masuk-masuk kampong atau rumah orang demi keamanan
penduduk setempat.
Pada suatu
hari saudara M. Hasbi Usman dan saya serta beberapa orang teman lain harus
berangkat ke Kutaraja dan dengan sebuah auto sedan kamipun menuju Kutaraja,
karena panggilan dari kepala F di Kutaraja. Setelah selesai pertemuan dengan
kepala F tersebut, kamipun diberi tugas lain dan ditempatkan disebuah
rumah(sekarang rumah pensiunan-pensiunan TNI) disamping pendopo, kamipun
diberikan tugas menurut kecakapan masing-masing.
Diantaranya
yang saya masih ingat, adalah saya sendiri, Hasbi Usman, Nyak Neh, Ismail
Mangki, Ismail Putih, Said Ali, Said Usman dan lain-lain saya sudah lupa
namanya.
Pemerintahan
Jepang sudah mulai berjalan dan saya bertugas dibahagian Maimuda perijinan saya
adalah tuan Ogawa (ini adalah orang jepang yang paling baik sekali dan tak
pernah marah-marah.
Kantor
zainuku itu ialah berfungsi membayar gaji para pegawai-pegawai dalam daerah
kutaraja, kira-kira 6 bulan saya bekerja zainuku, saya dikirim ke Singapore
dulu sjunanto guna mengikuti lilitan syonan kua kurusendjo, selama 3 bulan
lamanya, dari Aceh waktu itu dikirim sebanyak 5 orang, diantaranya, T. Sulaiman
Mahmud, T Abdullah, T Cut Husin (Tjuhe), Abdullah dari pulo pinang dan saya
sendiri sebagai kepala rombongan.
Kami
berangkat dengan sebuah auto sedan menuju medan dan bersama dengan rombongan
lain. Kami berangkat dengan kapal laut ke Singapore(sjunanto).
Kami duduk
selama 3 bulan bersekolah dan hanya belajar 1 buku bahasa jepang namanya buku
momotaro sang.
Pada
hakikatnya tujuan pendidikan itu hanya untuk menanam disiplin supaya bangsa
kita patuh pada segala peraturan dan adat istiadat jepang, setelah tammat dari
latihan kami kembali ke daerah masing-masing dan saya berkerja kembali dikantor
Zainubu, gajinya waktu itu dari F 30,00 (tigapuluh rupiah) ditambah menjadi F
60,00 (enam puluh rupiah) penghidupan waktu itu pada ± setahun pemerintahan
jepang masih normal seperti sebelumnya. Akan tetapi setelah meningkat setahun
kedua dan selanjutnya, mulailah diusahakan kebersamaan terutama bagi masyarakat
di pedesaan.
Barang-barang
semakin berkurang apalagi kain-kain tak ada lagi dipasaran dan bagi masyarakat
dikampung-kampung apalagi yang tinggal jauh dipelosok-pelosok dipedalaman,
sampai-sampai memakai kulit kayu untuk penutup aurat.
Pendeknya
kehidupan masyarakat pada umumnya sangat sengsara sekali.
Tidak lama
kemudian oleh militer jepang diberi kesempatan kepada bangsa kita untuk dididik
dan dijadikan opsir. Dalam propaganda mereka, nanti kalau tamat latihan akan diangkat
jadi opsir dan pangkatnya juga seperti pangkat orang-orang jepang. Oleh karena
tertarik oleh propaganda yang licik itu, dan memang kita tidak tahu benar
tentang tipuannya, maka sayapun dan teman-teman lain juga mendaftarkan diri
jadi anggota giyugun. Diantaranya Syamaun Gulam, T. A Hamid Azwar, T Abd Husin
Yusuf, Bachtiar, T Abdullah Sigli, T Abd Rachman, Ismail Mangki, Nyak Neh, Said
Ali, Said Usman, T Sawang, T M Ali Trieng Gading, dan lain-lain.
Sedangkan
untuk kab Aceh Barat/ Selatan, diantaranya yang saya masih ingat ialah Mohd
Nasir, Habib Mohamad Syarif, Iskandar Nyak Hukum, Tuan Manyak, Nyak Adam Kamil,
T Usman Yacob, Zuhal Makmur, Hasan Ahmad, B.B Jalan, dan Cut Rachman Dll.
Setelah
selesai mengikuti latihan yang sangat berat sekali dan tidak berperikemanusiaan
dipukul dan dianiaya dan bermacam-macam benda sitaan, akhirnya kami semua
dikumpul dan disatukan dan dilatih lagi di Idi.
Waktu itu
telah bertambah lagi 2 orang kawan dari sumatera timur, yaitu Ahmad Tahir
(sekarang jadi Menteri) dan Hotman Sitompul.
Kira-kira
satu bulan di Idi kamipun diberangkatkan ke medan untuk dilantik dan kemudian
masing-masing diberikan pula 1 stel pakaian seragam dan 1 pedang panjang,
pedang itu bukan seperti samurai jepang. Tetapi samurai yang dibuat dari besi
rel kereta api dan bentuknya pun agak kasar dan berat pula.
Pangkatnyapun
tidak serupa seperti pangkat jepang. Kalau giyugun bentuk pangkatnya dua garis
putih diatas dan dua bintang dibawah.
Pendeknya
propaganda jepang itu adalah bohong semua dan kamipun baru mengetahui bahwa
benar-benar telah tertipu. Tetapi jangan coba-coba membuka mulut.
Kamipun
terimalah apa yang telah diberikan itu dan kembalilah ke daerah masing-masing.
Selain dari itu ada juga beberapa kawan-kawan lain yang dari prajurit, karena
kecakapannya ada yang diangkat jadi opsir atau pembantu opsir.
Disamping itu
ada pula opsir-opsir dibagian lapangan udara, seperti T Hamzal, TA Hamdani, Abd
Hamid, T Manyak dan lain-lain. Mereka bertugas di Blang Pulo (Lhokseumawe).
Saya
dikembalikan ke Kutaraja dan ditempatkan mula-mula di Lam Kabeui kemudian
pindah ke Seulimeum, waktu berlatih dulu, pernah juga saya dan Said Usman
ditempatkan di Lam No dan kemudian dipindahkan ke Senagan Aceh Barat dan disana
berkumpul bersama kawan-kawan yang dari Meulaboh.
Selama saya
diseulimeum kami mempunyai kekuatan 1 kompi barisan giyugun. Teman-teman saya
diantaranya Nyak Neh, Ibrahim Saidi, M Husin ( Tgk Husin). Pimpinan kami ialah Murakami
Syoi.
Sehubungan
dengan pemberontakan yang pernah terjadi di Bayu (Aceh Utara) maka kami dari
kesatuan giyugun selama itu selalu mendapat pengawasan lebih ketat dari pihak
militer jepang. Saya pernah ditanya oleh murakami syoi, bagaimana tentang T
Nyak Arif.
Dalam
kesempatan yang baik itu sayapun ceritalah tentang perjuangan Almarhum T Nyak
Arif dimasa belanda yang cukup berani untuk membela rakyat Aceh.
Pendeknya,
kalau ada hal-hal dan peraturan yang kurang wajar ataupun tekanan-tekanan yang
akan menderita bagi rakyat, Almarhum langsung bertindak memprotesnya pada
belanda. Setelah didengarnya ceritera saya itu, Nampak bukan rasa kagum dan
katanya, T Nyak Arief orang hebatnya! Hai kata saya, karena itu sayapun telah
jadi kawan baik dengan dia.
Kira-kira
bulan lagi sebelum bukan, jepang mulai pula memberikan jasa-jasa baiknya kepada
kami, terutama disuruh buat meunasah ( Tempat sembahyang) dalam asrama dan
makananpun (ransum) telah mulai baik sedikit dari yang sudah-sudah.
Kalau tadinya
beras harus campur jagung tanpa ditumbuk dulu dan sesudah bersih (ditampi) baru
dicampur dengan beras untuk dimasak.
Dan kira-kira
dalam bulan juli 1945, giyugun dibubarkan buat sementara katanya dan boleh
pulang kampong masing-masing waktu mendengar berita itu tidak dapat sebarkan
disini, bagaimana senang dan gembiranya hati mereka tak ubahnya seperti orang
hukuman seumur dan mendapat kebebasan.
Kepada mereka
diberikan kain-kain, beras dan uang, tetapi sangking senangnya, ada juga
diantara mereka yang tak mau tunggu pembahagiaan, tapi langsung terus pulang.
Waktu itu
terjadi dalam bulan puasa. Setelah perpisahan terakhir dengan sep saya murakami
syoi dan setelah selesai urusan dengan anak-anak giyugun, maka sayapun
diberikan hadiah, yaitu gerobak sapid an seekor lembu untuk penariknya, dan 2
goni beras dan lain-lain.
Sebenarnya,
kalau beras, baru saja mendapat lebih banyak, tapi karena sukar untuk dibawa ke
kutaraja, maka saya tidak ambil.
Kira-kira
pada jam 5 sore sayapun berangkatlah dengan gerobak sapi menuju ke kutaraja
yang dikemudikan oleh seorang anak giyugun yang kampungnya di lambaro.
Dalam cuaca
yang sangat baik sekali, kebetulan bulan terang pula sayapun bergeraklah
menurut kekuatan tarikan sapi dan pada jam 4 pagi (subuh) sedang orang makan
sahur, sayapun tiba dirumah di kampong jawa. Tentu semua yang berada dirumah
terkejut, karena saya pulang dengan gerobak sapi. Sayapun terangkan, bahwa kami
sudah bukan dari giyugun dan sudah bebas sekarang, barulah family pada senang
semua.
Selama dalam
beristirahat, sayapun kadang-kadang berjalan-jalan dalam kota dengan sepeda
menemui kawan-kawan lama dan sering pula duduk-duduk ditoko kami (dipasar
jengek sekarang).
Sambil
ngobrol-ngobrol karena jepang sudah kalah, banyaklah komentar kawan-kawan ada
yang katakan mungkin pengganti jepang akan datang belanda lagi dan ada pula
yang katakana mungkin inggris dan lain-lain.
Semuanya
serba mungkin, karena memang kita tidak mengetahui yang pasti.
Tiba-tiba
pada saat itu lewatlah sebuah auto kepunyaan Almarhum T Nyak Arief dan memasang
bendera merah putih didepannya. Semua jadi keheran-heranan dan kalau begitu
kita sudah merdeka kata kawan-kawan, kamipun masing-masing bukan dari situ dan
menyelidiki keadaan lebih lanjut. Sedangkan jepang waktu itu masih berada di
kutaraja dan kekuasaannya masih diperlihatkan seperti biasa.
Baik
penjagaan-penjagaan maupun bendera hinomaru masih berkibar terus. Dalam suasana
yang demikian itu, sayapun mencoba selidiki situasi yang sebenarnya dan dengan
bersepeda saya berputar keliling-keliling kota dan disekitar kantor cukong.
Saya melihat bahwa disana memang sudah berkibar bendera merah putih, walaupun
jepang masih berada di kutaraja.
Kesimpulannya,
memang Indonesia sudah merdeka.
PEMBENTUKAN
A.P.I DALAM MASA KEMERDEKAAN
Atas
inisiatif dari Almarhum T Nyak Arif waktu itu dianjurkan pada Syamaun Gaharu
untuk membentuk A.P.I ( Angkatan Pemuda Indonesia)
Dengan
mengambil tempat di Centraal Hotel maka terbentuklah A.P.I tersebut yang
mempelopori sebagai kesatuan tentara yang rasmi. Diantara bekas opsir-opsir
giyugun yang hadir waktu itu diantara lain-lain adalah : Syamaun Gaharu, T.A
Hamid Azwar, T Mohd Syah, Said Ali, Said Usman, Husni Jusuf, Husin dan
lain-lain bekas opsir giyugun, dan sebagai markas besar dari A.P.I tersebut
telah ditempati sebuah gedung bekas Toko Murah Jepang dahulu di Peunayong
sekarang bernama Eka Jaya (dibelakang Apotik Medika).
Sedangkan
sebagai asramanya telah dipergunakan sebuah gedong yang terletak disamping
rumah Dr R. Midi dulu bernama sabang coy dan sekarang sudah didirikan
toko-toko.
Usaha
pembentukan API itu berjalan dengan baik dan melalui ke seluruh daerah Aceh.
Sebagai pimpinan ditunjuk Sdr. Syamaun Gaharu yang membawahi atau dibantu oleh
sebuah stafnya yaitu T.A Hamid Azwar, Husni Yusuf, Said Ali, Said Usman, T Mohd
Syah, Nyak Neh dan lain-lain.
API tersebut
disusun berbentuk markas daerah sebagai pimpinan tertinggi berkedudukan di
Kutaraja ditiap-tiap kabupaten dinamakan Wakil Markas Daerah ( WMD).
WMD-WMD
tersebut dari WMD I sampai dengan WMD VII masing-masing berkedudukan :
1. Kutaraja
dipimpin oleh Nyak Neh dengan pasukannya yaitu:
Pasukan I di
Kutaraja dipimpin oleh Said Ali
Pasukan II di
Kutaraja dipimpin oleh Usman Nyak Gadeng
Pasukan III
di Kutaraja dipimpin oleh Said Abdullah
Pasukan IV di
Seulimeum dipimpin oleh T Manyak
2. Sigli
dipimpin oleh T.A Rachman dengan pasukannya yaitu :
Pasukan V di
Sigli dipimpin oleh T Risah
Pasukan VI di
Sigli dipimpin oleh Abd. Gani
Pasukan VII
di Lamlho dipimpin oleh T Abdullah
Pasukan VIII
di Meureudu dipimpin oleh Hasballah Haji
3. Samalanga
dipimpin oleh T.M Daud, dengan pasukannya yaitu :
Pasukan IX di
Samalanga dipimpin oleh T Hamzah
Pasukan X di
Bireun dipimpin oleh Agus Husin
Pasukan XI di
Bireun dipimpin oleh Husni Yusuf
Pasukan XII
di Takengon dipimpin oleh Hanafiah
4. Lhoksukon
dipimpin oleh T. Mohd Syah dengan pasukannya yaitu :
Pasukan XIII
di Lhokseumawe dipimpin oleh T Yacob Muli
Pasukan XIV
di Lhokseumawe dipimpin oleh T Oesman Mahmud
Pasukan XV di
Lhoksukon dipimpin oleh Ajad Musi
Pasukan XVI
di Lhoksukon dipimpin oleh Hasbi Wahidi
5. Langsa
dipimpin oleh Bachtiar, dengan pasukannya yaitu :
Pasukan XVII
di Idi dipimpin oleh M Nurdin Sufi
Pasukan XVIII
di Langsa dipimpin oleh Ayub/ Hanafiah
Pasukan XIX
di Kuala Simpang dipimpin oleh B. Nainggolan/ Abu Samah
6. Kutacane
dipimpin oleh Mohamad Din dan pasukannya belum tercatat
7. Meulaboh
dipimpin oleh Tjut Rahman dan Pasukannya belum tercatat
8. Tapak
Tuan dipimpin oleh Mohd Nasir dan pasukannya belum tercatat
Pada tanggal 12 oktober 1945
seluruh WMD-WMD dan pasukannya telah dilantik.
Sesuai dengan situasi waktu itu, maka oleh markas
daerah API mengumumkan bahwa API diseluruh Aceh ditukar namanya menjadi Tentara
Keamanan Rakyat (TKR).
Sehubungan dengan pertukaran nama tersebut maka oleh
Residen Aceh (T Nyak Arief) mengadakan pertemuan dengan pimpinan TKR di Aceh
Hotel dan memberikan beberapa petunjuk dalam menghadapi segala kemungkinan,
agar benar-benar waspada. Kemudian dilanjutkan dengan penyumpahan terhadap
pimpinan TKR dan dimulai oleh Syamaun Gaharu dan lain-lain.
Pada permulaan terbentuknya API terutama di Kutaraja,
telah tersusun pasukan-pasukan dan kita tuannya yang harus diasramakan dan pada
saat itu, operasi yang utama harus dilakukan, ialah mengusahakan pengambilan
senjata-senjata dari tangan jepang, karena pada waktu itu tentara jepang masih
berada di Kutaraja.
Pada waktu itu kami belum ada persediaan biaya untuk
ransum prajurit yang biasa dimakan, karena dari pemerintah belum ada biaya
untuk itu. Setelah berembuk dengan pimpinan (Syamaun Gaharu) maka saya, T.A.
Hamid Azwar dan Wahab Makmur pergi menjumpai T.M Ali Panglima Polem yang waktu
itu telah menjadi asisten residen diperbantukan pada residen Aceh, untuk mintak
bantuan. Kepada kami diberikan uang secukupnya dan juga beras yang disuruh
ambil pada toko Sufi Ismail di Spoorajk Kutaraja berapa jumlahnya saya tidak
ingat lagi. Pendeknya dalam melengkapi semua keperluan TKR waktu itu, saya
masih ingat sumbangan pribadi yang diberikan oleh T Hanafiah Tungkop berupa
buah kelapa beberapa gerobak sapid an juga seekor lembu untuk disembelih
menempati di asrama Kota Alam. Banyak lagi sumbangan-sumbangan lain yang
diberikan oleh masyarakat secara ikhlas kepada kami. Keadaan tentara jepang
semakin gelisah, karena dengan bermacam-macam cara kami telah dapat merampas
beberapa senjata di Seulimeum.
Beberapa
hari sebelumnya, telah kami gembleng sebahagian besar rakyat daerah seulimeum
untuk turun ke seulimeum mengadakan demonstrasi pada jepang pos seulimeum
supaya mereka serahkan senjatanya, caranya diatur sedemikian rupa sehingga
jepang semakin gelisah dibuatnya. Sebenarnya kami telah tegaskan kepada rakyat
banyak itu agar terus nonstop berjalan mondar-mandir disekeliling tangsi
seulimeum, hanya itu saja yang mereka lakukan, kemudian beberapa sebagai
delegasi memasuki kedalam asarama jepang untuk mintak senjata. Yang masuk ke
asrama antaranya T Abdullah Seulimeum, T Abdullah Tanoh Abie, T Hamid Azwar, T
Mohd Syah, dan sdr Wahab Ibrahim setelah berbicara kira-kira sampai 2 jam lebih
dengan menakut-nakutkan mereka, mau diserbu rakyat banyak, barulah mendapat
persetujuan dari komandan kompinya dan kami buatlah naskah serah terima,
disamping itu oleh pihak jepang mintak suatu jaminan dari TKR agar mereka tidak
diganggu oleh rakyat, bahkan supaya member bantuan jika mereka butuhkan,
seperti barang-barang makanan dan lain-lain yang akan mereka bayar (beli).
Dalam hal itupun kami sudah membuat surat pernyataan. Waktu kami naik dan masuk
ke asrama tadi, diluar sudah menunggu beberapa pimpinan rakyat dan TKR
diantaranya T Rasyid, Twk Tahir, T Ibrahim, Kecik Ali, Tgk Raden, Tgk Husin,
Ibrahim Saidy dan lain-lain.
Setelah senjata
diturunkan kebawah, keluar tangsi, maka dilainpun rakyat banyak, kami
mengumumkan bahwa senjata telah diserahkan seluruhnya kepada kita dan senjata
itu akan dipergunakan oleh tentara kita yaitu TKR. Dan bagi tentara jepang yang
masih tinggal di asrama, supaya mereka jangan diganggu dan peliharalah keamanan
sebaik-baiknya. Rakyat banyakpun menyambut dengan baik dan gembira atas
berhasilnya usaha pada hari itu.
Kemudian,
mereka kami suruh bubar dan kembali ketempat masing-masing kamipun kembali ke
Kutaraja. Perkembangan TKR semakin bersemangat karena hasil dari seulimeum itu
menjadi daya pendorong untuk mencoba pula di asrama Lhoknga.
Akan
tetapi, sangat disayangkan sekali, karena perampasan senjata di Lhoknga bukan
secara tipu muslihat, bahkan tidak terjadi dengan pertempuran oleh rakyat dari
Leupung yang dipimpin oleh Pawang Leman dan rakyat dari Lhoknga sendiri dan
rakyat dari Kutaraja (Pelanggahan). Dalam penyerangan-penyerangan itu kedua
belah pihak terdapat beberapa orang yang korban. Pertempuran tersebut telah
dapat dikendalikan kembali dengan datang satu rombongan dari Kutaraja terdiri
dari Kempitulo, T Nyak Arif, Twk Mahmud, T.M Ali Panglima Polem dan T Ali
Lembayung. Setelah berembuk dengan pimpinan tentara jepang Lhoknga, maka
masing-masing dari rombonganpun kembali ke kutaraja.
Karena
kejadian itu maka tentara jepang yang berada di Lhoknga, terpaksa mengungsi ke
Blang Bintang bersatu dengan angkutan laut mereka. Di Blang Bintang mereka
lebih memperkuat pertahanannya, sehingga tidak mudah ditaksir oleh kita, pada
waktu itu, di Kutaraja telah terbentuk juga organisasinPesindo dan Mujahidin
dengan masing-masing mempunyai Lasykarnya. Pesindo dipimpin oleh NyakNeh
Lhoknga dan Mujahidin dipimpin oleh Cekmat Rahmani,. Pada tanggal 15 desember
1945, tentara jepang yang berada di Blang Bintang akan bergerak menuju ke Ulee
Lheue (Ulele) untuk menghindari gangguan-gangguan ataupun hadangan dari rakyat
atau TKR.
Dengan
tidak diduga-duga mereka telah lebih dahulu mengepung tangsi Kota Alam (markas
TKR) dan tangsi Kraton pada malam hari, dan pada jam 7 pagi sewaktu kami Staf
markas TKR berada di Tangsi Kota Alam, tiba-tiba telah dikejutkan oleh tentara
jepang yang telah tiarap disemak-semak, bahkan saya sendiri waktu itu sedang
berada digudang memeriksa sesuatu. Dengan agak kaget, langsung disebut nama
saya oleh salah seorang jepang yang kenal dengan saya, yaitu jepang waktu di
Seulimeum di Giyugun dulu (kami pernah namakan dia Apa Husin). Katanya : Teuku
Mohamadsyah’ angkat tangan! Sayapun kaget dan terpaksa angkat tangan, kemudian
kawan-kawan saya yang lain juga sudah ditangkap. Sayapun dibawa bersama-sama
dan disuruh naik dalam panser wagen. Yang ditangkap diantaranya ialah, Syamaun
Gaharu, T.A Hamid Azwar, Husin Yusuf, Taico Sandang, Abdul Rasyid dan saya sendiri,
Said Abdullah pernah ditangkap juga, tetapi kemudian dia dapat lolos. Karena
semua dibawa ke Ulee Lheue dan
ditempatkan dibawah bangunan yang sudah usang (dek) yang terletak diujung
jembatan Ulee Lheue sebelah kiri. Kami dijaga ketat sekali oleh tentara
angkatan laut jepang, selama ditahan kami diperlakukan dengan baik dan diberi
makanan ransum tentara laut.
Senjata-senjata
kami yang disimpan dibawah pengawasan Said Ali kebetulan saja dilarikan dan
disembunyikan sebagian kecil dapat dirampas mereka kembali.
Said Usman
juga sempat lolos, karena terlambat masuk dan ia sampai pula merampas sebuah
mobil kempitan (sedan loreng) dan bersembunyi ke kampong jawa. Tindakan tentara
jepang tersebut rupanya untuk menghindarkan dari pencegahan atau pertempuran
dari TKR atau rakyat banyak. Dari itu, lebih dahulu mereka tangkap
pimpinan-pimpinannya, agar tak ada lagi yang memberi komando. Setelah kami
semua sampai di Ulee Lheue, saya sendiri disuruh naik lagi dalam pantser dan
dibawa kembali ke Kutaraja sampai di Tangsi kraton saya diturunkan dan bersama
jepang dengan dikawal, dia menyuruh cari meriam yang adadi Kraton mau dibawa
oleh mereka. Tetapi meriam itu, bahkan sanjata-senjata berat lainnya sudah
dipindahkan dan disembunyikan oleh pasukan kita.
Sayapun
dibawa kembali ke Ulee Lheue, kira-kira 4 hari lamanya kami dalam tahanan,
datanglah T.M Ali Panglima Polem menjumpai pimpinan jepang di Ulee Lheue. Kami
sempat melihat waktu beliau lewat dari jalan menuju ke pelabuhan. Tidak lama
kemudian kamipun dibawa kembali ke Kutaraja dan diantar kerumah T.A hamid Azwar
di Taman sari. Kecuali Syamaun Gaharu yang masih belum dikembalikan, karena
jepang memintak dikembalikan orang-orang jepang yang telah menggabungkan diri
dengan kami diantaranya Kozuwa (Kecik Ali) Naguci (Rusli) dan lain-lain. Akan
tetapi pengembalian tersebut tidak berhasil sebab mereka sudah dicari tapi
tidak ditemui(ini hanya alas an kami), kemudian barulah Syamaun Gaharu
dibebaskan dan kembali ke Kutaraja. Pada saat itu jepangpun meninggalkan daerah
Aceh diangkut dengan kapal sekutu dan pelabuhan Ulee Lheue.
Disamping
itu, kesempatan baik pula oleh oknum-oknum tertentu yang berusaha memiliki sisa
perlengkapan jepang yang masih ada dan tinggal dipelabuhan Ulee Lheue seperti
kendaraan dan lain-lain untuk prbadinya.
Perkembangan
TKR berjalan terus dengan baik dan demi untuk penyempurnaan susunan dan teknik
dari markas daerah TKR pada umumnya, maka telah dikeluarkan
pengumuman-pengumuman kepada pemuda-pemuda yang berumur 18 tahun keatas untuk
mendaftarkan diri masuk anggota TKR. Pada waktu itu memang banyak pemuda-pemuda
yang berumur 18 tahun keatas untuk mendaftarkan diri masuk anggota TKR. Pada
waktu itu memang banyak pemuda-pemuda dari Blang Oi, dari setoy dan lain-lain
yang mempunyai kesediaan masing-masing dan telah melatih diri seperti TKR. Saya
sendiri waktu itu pernah meninjau langsung ketempat mereka dan pernah pula
memberikan senjata(senapan Kayu) untuk alat latihan mereka.
Kalau di
Blang Oi dipimpin oleh T Usman Basyar dan mereka semua kemudian dimasukkan jadi
anggota TKR, begitu juga yang dari setuy, disamping itu berhubung dengan
pengumuman kami, tiba-tiba telah datang menghadap ke kantor saya beberapa orang
pemuda untuk masuk TKR.
Saya
perintahkan kepada Sdr Mohamad Z sebagai sekretaris saya (sekarang Letkol
Purnawirawan) untuk mencatat nama-nama tersebut. Diantara mereka ada yang saya
kenal, yaitu sdr A. Muzakkir Walad, sdr Ahmad Marzuki, sdr T. Hamdan dan
lain-lain yang saya sudah lupa namanya. Pada waktu itu saya bertemu langsung
dengan mereka dan berikan penjelasan padanya bahwa menjadi anggota TKR adalah
berat sekali, terutama harus diasramakan, makan nasi ransum yang tidak enak,
latihanpun sangat berat.
Saya
jelaskan demikian, karena beberapa orang mereka itu, kelihatannya agak istimewa
saya rasa saudara-saudara nanti tidak tahan. Cobalah saya berikan waktu
beberapa hari untuk dipikirkan matang-matang dan kalau benar-benar ingin juga,
datanglah kembali untuk diberi keputusan.
Rupanya
dalam waktu 1 hari tempo saja saudara-saudara itu sudah datang kembali dan
mengatakan bahwa mereka benar dengan keinginan keras ingin diterima jadi
anggota TKR. Merekapun diterima dan saya suruh urus sesuatunya pada sekretaris.
Kemudian saya panggil kepala pelatih saya yaitu sdr Buntak Budiman (letkol
purnawirawan) almarhum dan saya nyatakan padanya supaya melatih langsung
sendiri untuk beberapa orang itu karena mereka itu agak istimewa dari yang
lain-lain. Karena orangnya memang pandai-pandai dalam beberapa minggu latihan,
mereka mudah berhasil. Waktu itu saya tinggal dirumah yang dimiliki oleh pak
Ibnu Syahdan residen pensiunan sekarang. Tiba-tiba waktu saya pulang kerumah
kira-kira jam 7 malam saya lihat mereka yang jaga disitu. Setelah bersalaman
dan laporan aman, maka saya suruh istirahat dan masuk kerumah saya. Karena saya
memang kenal mereka, maka dalam istirahat itu diperlakukan seperti kawan dan
saya suruh beli mie rebus dan kamipun makan-makan bersama.
TKR waktu
itu telah tersusun lebih baik dan formasi dari kesatuan-kesatuanpun telah
berisi, walaupun belum komplet benar. Untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan
yang akan terjadi dari pihak musuh, maka dibentuk pula satu badan konsentrasi
pertahanan umum yang bernama markas umum perjuangan dan pertahanan rakyat,
dengan susunan pimpinannya :
Ketua : Syamaun Gaharu (TKR)
Wakil
Ketua : T Mohd Syah (TKR)
Anggota-anggotanya
terdiri dari : Husin Yusuf (TKR), Abdurrahman (Polisi), Nyak Umar (Polisi),
Cecep (Polisi Istimewa), A. Hasyimi (Pesindo), Jailani (Pesindo), Tgk M. Daud
Bereueh (Mujahidin) dan T Muhamad Amin (Mujahidin). Markas umum ini adalah
kumpulan dari seluruh tenaga perjuangan seperti tersebut diatas.
Saya
sedikit lupa, bahwa sewaktu saya ditunjuk jadi WMD di Lhoksukon dahulu (WMD II)
kedudukan saya telah diganti oleh Cut Rahman dan saya dipindahkan ke Kutaraja.
Kira-kira pada awal desember 1945, terjadi suatu perselisihan perebutan senjata
di Sigli antara Pusa dan beberapa oknum hulubalang sebenarnya dalam
persekolahan ini mungkin dapat diatasi dengan baik akan tetapi ada seorang
gembong PKI yang diguling namanya Natal Zainuddin, dan oknum inilah termasuk
seorang yang gigih mengadu domba dengan bermacam-macam alasan yang kurang masuk
akal, sehingga hasil di Sigli itu nihil dan terus merambat pula terjadinya
perselisihan antara kaum Pusa dan Hulubalang di Cumbok yang cukup menyedihkan
dan meninggalkan kesan yang mengharukan (waktu itu tidak disadari bagaimana
peranan yang dimainkan oleh Natal Zainuddin tersebut).
Dalam
pemberontakan di Lamlo itu dari pihak cumbok mempunyai senjata lebih banyak
karena diperoleh dari tentara jepang yang pernah tinggal Lamculo, bahkan mereka
juga punyai meriam. Sedang dari pihak Pusa lebih banyak massanya (rakyat)
daripada senjata. Dari pihak cumbok, termasuk pula seorang komandan pasukan TKR
yang bertugas diLamculo yaitu T Abdullah yang telah bersekutu memimpin pasukan
cumbok. Yang kemungkinan terjadi karena perhubungan family mereka.
Karena
merasa dirinya cukup kuat, mereka selalu pula mempertunjukkan kekuasaan
(machteritory dan mengadakan patrol dengan track yang penuh dengan anak buahnya
serta kadang-kadang menembak-nembak pula, sampai-sampai ada rumah rakyat yang
terbakar. Karenanya tindakan-tindakan yang sangat memuakkan itu, bertambahlah
terbakar hati rakyat untuk menentangkannya.
Laporan-laporan
serta pernyataan-pernyataan dari partai sudah datang bertubi-tubi, tentang
kejadian itu dan ditambah pula desakan-desakan dari pihak lain dengan
keterangan-keterangan yang luar biasa yang diuraikan oleh natal zainuddin PKI
itu yang katanya dari pihak cumbok telah menginjak-injak Qur’an dan orang yang
telah tewas dipotong-potong dagingnya dan diberikan pada anjing dan malam-malam
lagi provokasi yang hebat-hebat.
Disamping
itu ditambah lagi oleh Tgk Ismail Yakob yang membenarkan apa yang diterangkan
oleh Natal Zainuddin itu. Ini adalah suatu problema yang benar-benar sangat
gawat sekali yang harus diselidiki kebenarannya dan harus dipertimbangkan dalam
suatu siding chusus untuk dapat diambil suatu keputusan.
Maka pada
tanggal 5 januari 1946 dengan bertempat di markas TKR daerah Aceh di Kota Alam,
berlangsunglah siding pertama markas umum daerah Aceh yang dihadiri oleh
anggota-anggotanya dengan acara judul “ Kekacauan di Pihak Pidie”
Hasil dari
siding tersebut, ialah mengambil suatu resolusi yang berbunyi :
A. Markas
umum daerah Aceh mengambil resolusi, setelah mendengar keterangan
anggota-anggota.
-
Setelah menyelidiki dengan seksama.
-
Seteleh menimbang dengan sedalam-dalamnya dan
sebagainya
1. Menetapkan
:
Bahwa
segala perusuh-perusuh yang bertindak dipihak Pidie yang berpusat di Cumbok
adalah pengkhianat tanah air (musuh nyata Rep. Indonesia)
2. Memutuskan
:
a.
Menyampaikan resolusi ini kepada wakil
pemerintah daerah dan pusat komite Nasional Daerah Aceh
b.
Mengajukan kepada segenap rakyat Indonesia untuk
menentang barisan pengkhianat tanah air itu.
B. Bertindak
Mendesak
wakil pemerintah daerah Aceh untuk menyetujui resolusi ini dengan mengirim 3
orang wakil, tuan-tuan Syamaun Gaharu, Tengku Ismail Yacob dan T A Sam
Resolusi
tersebut ditanda tangani oleh kepala markas umum daerah Aceh yaitu Syamaun
Gaharu. Guna diketahui oleh umum, maka resolusi atau salinan resolusi tersebut
dikirim kepada seluruh instansi pemerintahan dan partai-partai/ organisasi yang
berada di Kutaraja. Berdasarkan resolusi tersebut oleh pemerintahan daerah
telah member peringatan ke Cumbok, tetapi tidak diindahkan. Karenanya
dikirimlah Ultimatum yang ditanda tangani oleh Syamaun Gaharu dan TM Ali
Panglima Polem sebagai wakil pemerintahan, yang isinya sebagai berikut :
Dengan ini
memberitahukan golongan yang berpusat di Lamculo dan ditempat-tempat lain yang
memegang senjata dan mengadakan perlawanan terhadap rakyat umum, supaya
menyerah dan menghentikan perlawanannya mulai pukul 12 siang hari kamis tanggal
10 Januari 1946.
Kalau
tidak mau menyerah dan menghentikan perlawanannya maka mereka itu akan
ditundukkan dengan kekerasan. Ultimatum tersebut bertanggal 8 januari 1946.
Setelah ultimatum berakhir saatnya, maka dikirimlah TKR dan Barisan Rakyat
menggempurnya. Terakhir mereka ditembak dengan meriam yang kami ambil dulu dari
Seulimeum dan barulah mereka melarikan diri ke jurusan seulawah dan akhirnya
mereka pada 13 januari 1946 tertangkap di wisfel wasten eleiding. Diantaranya
ialah T Muhammad Daud Cumbok sendiri dan pengikut-pengikutnya dan mereka
ditahan di sanggeui dan garot.
Menurut siding
komite nasional dipendopo oleh Mr S.M Amin yang waktu itu selaku kepala
kehakiman daerah Aceh, mengusulkan agar orang-orang yang ditahan itu dapat
dimajukan kesidang pengadilan untuk diperiksa dan diadili secara hukum. Usul
itu dapat diterima oleh siding tapi rupanya dari pihak lain tidak dipatuhi
instruksi pemerintah itu tidak berjalan.
Dalam pada
itu TKR telah dirubah menjadi T.R.I ( Tentara Rakyat Indonesia) dan T Nyak Arif
telah diangkat menjadi general mayor, TRI oleh Presiden dengan kabar kawat yang
dikirim dari Jakarta dan memberi kekuasaan penuh dalam mengkoordinir TRI daerah
Aceh.
Untuk
kesempurnaan TRI didaerah Aceh maka oleh kepala staf umum TRI komando Sumatera
General Mayor R. Suharjo Harjawan Jaya dengan Surat Keputusan tanggal 23
januari 1946 no 28-KK-6- terhitung sejak 1 januari 1946 , Syamaun Gaharu
diangkat menjadi Divisi keamanan TRI Aceh dan kepala pertahanan daerah dengan
pangkat colonel.
Latihan
ketentaraan dipergiat terus setiap hari dan pada tanggal 16 februari 1946 TRI
divisi Aceh yang terdiri dari Resimen Kutaraja, resimen Meulaboh dan resimen
Bireuen mengadakan demonstrasi peperangan didaerah Aceh Kutaraja. Inspeksi
latihan tersebut turut dilakukan oleh jenderal mayor T Nyak Arief, Opsir-opsir
staf divisi dan pembesar-pembesar pemerintahan daerah. Latihan besa-besaran
dari TRI ini adalah dalam rangka menyambut setengah tahun kemerdekaan Negara
Republik Indonesia.
Tepat pada
tanggal 17 pebruari 1946 divisi TRI Aceh dilantik oleh jenderal mayor T Nyak
Arief atas nama staf umum komando sumatera.
Dalam
peresmian pertukaran nama TKR menjadi TRI divisi Aceh, maka atas nama Negara
Republik Indonesia, serentak telah melantik para opsir-opsir dari TRI tersebut,
diantaranya :
Kolonel
Syamaun Gaharu Divisi keamanan TRI Aceh
Mayor T.A
Hamid Azwar Chef staf divisi
Mayor
Husin Yusuf sekretaris umum staf divisi
Mayor Said
Usman Chef Intedans staf divisi
Mayor Bachtiar
chef financien staf divisi
Mayor T.M
Daud chef gonie staf divisi
Mayor
Mohamad Din chef polisi tentara staf divisi
Mayor T.
Mohd Syah resiment komandan Kutaraja
Mayor Cut
Rachman Resimen komandan Bireuen
Mayor Mohd
Nazir resimen komandan Meulaboh
Mayor
Abdul Wahab Makmur chef staf resimen Kutaraja
Mayor T
Usman yakob chef staf resimen meulaboh
Upacara
pelantikan tersebut berlangsung diKutaraja dilapangan Blang Padang yang
dihadiri oleh para opsir-opsir lainnya serta seluruh prajurit yang berada di
Kutaraja dan yang turut mengadakan parade pada saat itu.
Sebagai
komando upacara adalah mayor T Mohd Syah (komando resimen kutaraja) sedangkan
inspektur upacara ialah jenderal Mayor T Nyak Arief. Pada upacara tersebut juga
dihadiri oleh para undangan lainnya dari kalangan instansi pemerintahan sipil
dan kepolisian serta rakyat umum.
Sungguhpun
pada saat itu perlengkapan pakaian prajurit belum sempurna, hanya berupa baju puntung
dan celana pendek dari kain bercorak-corak (kain kasur), tetapi karena
dilengkapi pula topi waja dan lain-lain dari peninggalan tentara jepang, maka
parade yang diadakan pertama kali itu telah memperlihatkan cukup bersemangat
dan meriah.
Barisan
palang merah yang terdiri dari wanita-wanita juga turut ambil bahagian dalam
parade tersebut. Perkembangan TRI bertambah baik dan para pimpinan dari staf
divisi maupun dari resiment-resiment telah bekerja dengan giat sekali dan jujur
tanpa memikirkan gaji dan penghasilan lain-lain.
Pada waktu
itu kami memang benar-benar memikirkan, bagaimana caranya untuk meningkatkan
keutuhan TRI, tanpa santunan yang wajar.
Setelah
selesai parade yang sangat meriah itu kami para perwira-perwira berkumpul dalam
satu tempat sambil berbincang-bincang atas keberhasilan parade tersebut.
Seluruh anggota staf dan para perwira-perwira sangat intim sekali dalam
pergaulan sehari-hari demikian juga para prajurit yang diasramakan, tetap tabah
dan patuh, walaupun ransum makanan dan lain-lain yang mereka terima adalah
belum memadai sepantasnya.
Demikianlah
perkembangan TRI pada waktu itu dibawah pimpinan colonel Syamaun Gaharu. Selaku
Divisi komando TRI Aceh.
Disamping
tentara (TRI) di Aceh, badan perjuangan lainnya juga sangat giat dalam
organisasi masing-masing diantaranya telah berdiri pula suatu badan perjuangan
yang dinamakan Tentara Perjuangan Rakyat (TPR) yang berkedudukan di Idi selain
dari anggota-anggotanya sendiri, dalam tubuh TPR ini telah menyusup pula
beberapa orang dan perwira TRI dan anggota-anggotanya yang berada di Idi apa
yang terjadi denganTPR tersebut, baiklah saya uraikan sedikit, dengan
mengungkapkan beberapa hal yang menjadi catatan sejarah bagi pribadi saya dan
juga bagi kawan-kawan saya yang dilibatkan didalamnya.
Adapun
duduk persoalannya adalah seperti berikut dibawah ini. Sebagaimana dapat
dimaklumi, bahwa susunan formasi TRI meliputi seluruh daerah Aceh. Dalam
susunan tersebut masih terdapat kekurangan-kekurangan ataupun kekeliruan-kekeliruan
untuk menempatkan seseorang pada tempatnya ataupun pengambilan
kekosong-kosongan yang masih ada.
Pada suatu
hari salah seorang staf divisi yaitu sdr Husin Yusuf bermaksud pulang ke
bireuen untuk menjemput keluarganya akan dibawa ke Kutaraja. Maksud itu
mendapat persetujuan dari divisi komandan dan Syamaun Gaharu menitip pesan
padanya, yang katanya sambil urusan keluarga dibenarkan bertindak memperbaiki
sesuatunya dalam tubuh TRI atas nama komando Divisi.
Kemudian
sdr Husin Yusuf bermaksud pun berangkatlah ke Bireuen, yang kemudian rupanya
terus ke Idi. Sesampai di Idi, ianya mengirim sepucuk kawat kepada Divisi
komandan yang bunyinya dimintak persetujuan/ pengesahan untuk diangkat Tgk Amir
Husin Al Mujahid menjadi mayor dan Abdul
Manaf pangkat kapten, masing-masing sebagai komandan PT (Polisi Tentara)
Daerah Aceh dan sebagai kepala stafnya. Kawat tersebut, sangat mengejutkan
Syamaun Gaharu dan langsung dibawa dalam rapat staf. Setelah diadakan beberapa
pertimbangan, maka keputusannya supaya dikawatkan ke Idi dan mintak segera sdr
Husin Yusuf kembali ke Kutaraja sama dibicarakan hal tersebut.
Kalau
dipelajari isi kawat tersebut, sebenarnya masih sifat 1 bulan. Tapi pada
kenyataannya Tgk Amir Husin Al Mujahid, dan Abdul Manaf memang telah diangkatnya
langsung dan mereka telah aktif memakai pangkatnya didaerah sana.
Kira-kira
beberapa hari kemudian sdr Husin Yusufpun kembali ke Kutaraja menjumpai Divisi
komandan. Sebelum kejadian itu Husin Yusuf memang seperti biasa, tetapi setelah
kembali dari Idi itu nampaknya agak lain dan rupanya sudah dimasuki ide baru
yang berlatar belakang politik.
Dalam hal
ini kami sebenarnya sama sekali tidak menduga, kalau-kalau sdr tersebut rupanya
sudah lama sebelumnya dipengaruhi oleh orang-orang politik dan telah mempunyai
rencana lain. Para anggota staf divisi dan saya sendiri telah dipanggil oleh
divisi komandan dan kira-kira pada jam 7 malam diadakan rapat staf dirumahnya. Yang
hadir ialah sdr Husin Yusuf, T Said Usman, saya sendiri, Said Ali, T.A Hamid
Azwar dan lain-lain. Syamaun Gaharu terus mulai berbicara tentang maksud dari
isi kawat yang dikirim oleh Husin Yusuf dan ditanyakan pendapat kami. Setelah
kami berikan pendapat, dan keputusannya bahwa usulan tersebut ditolak (tidak
diterima) dengan alasan, bahwa pangkat tersebut terlalu tinggi bagi seorang
baru yang bukan dari bekas-bekas giyugun dan lain-lain, sedangkan kedudukannya
juga kurang tepat.
Tetapi
kalaulah ditempatkan di Batalyon dan dengan pangkat letnan, mungkin dapat
disetujui (inipun harus melalui latihan-latihan kemiliteran lebih dulu) karena
usulan itu ditolak, Husin Yusuf pun langsung memberikan tantangan dengan
katanya. Kalau usulan saya itu tidak diterima, kalau nanti terjadi sesuatu hal
terhadap TRI atas nama rakyat banyak bagaimana? Apakah nanti tidak menyesal?
Dan kalau terjadi sesuatunya kita tentu akan mengatasinya, jawab Syamaun
Gaharu. Kemudian Husin Yusuf pun dengan perasaan kurang senang, tanpa bicara
apa-apa lagi dan dengan rasa marah terus keluar dari rumah dan pergi.
Sebenarnya
tindak-tanduk Husin Yusuf waktu itu seolah-olah dia bukan lagi salah seorang
staf divisi, padahal sebelumnya ia sangat tekun berkerja dibidang administrasi,
siang malam terus saja mengetik, bahkan kadang-kadang sampai lupa makan.
Kadang-kadang dimalam hari ia sempat pula mencatat berita-berita dan siaran
luar negeri dan pagi-pagi sudah dibagi-bagikan pada staf divisi. Memang atas
keaktifannya itu, kami semua terpaksa angkat saluut kepadanya. Kepergian Husin
Yusuf sehabis rapat itu, sampai beberapa hari lamanya kami tidak tahu kemana
menghilangnya dia. Kamipun tidaklah memperhatikan apa yang akan terjadai, kami
tidak menduga sedikitpun bahwa sadr Husin Yusuf telah begitu jauh memisahkan
diri dengan kami dengan membuat suatu rencana jahat yang tidak pantas itu.
Pada suatu
hari, tiba-tiba kami mendengar kabar bahwa diseulimeum telah berada rombongan
TPR dan beristirahat disitu. Kemudian munculah sdr Husin Yusuf diKutaraja
menjumpai Syamaun Gaharu dan menyatakan bahwa ia adalah sebagai atasan dari
rombongan TPR hendak membicarakan sesuatunya . pada saat itu kira-kira pada jam
6 sore dalam hujan lebat, kami diantaranya, saya sendiri selaku resimen komando
Kutaraja, Said Usman, Said Ali, T.A Hamid Azwar dan Syamaun Gaharu sendiri +
Husin Yusuf pergi ke Kampong Ateuk dan mengadakan pertemuan dengan utusan TPR
dirumah T.M Ali Panglima Polem (Asisten Residen diperbantukan). Menurut
pembicaraan dalam pertemuan itu bahwa TPR bermaksud untuk mengambil alih
pimpinan TRI (coup) karenanya mereka mintak agar bersedia menyerahkannya.
Mendengar
pernyataan yang demikian, saya selaku resimen komandan tidak dapat menyetujui
maksud mereka itu, karena bagaimana mungkin TRI yang resmi harus diserahkan
kepada pihak yang bukan tentara resmi. Akan tetapi pendapat dari pihak divisi
komandan sendiri dan artvil dari T Nyak Arif, demi menghindarkan pertumpahan
darah sesame kita biarlah diterima saja permintaan-permintaan mereka, asal saja
tidak ada ekor-ekornya lagi. Pada saat itu juga Husin Yusuf terus menjawab,
bahwa tidak aka nada ekor-ekornya. Maksudnya setelah diserahkan pimpinan tidak
akan ada tindakan-tindakan lain, seperti penangkapan-penangkapan dan
sebagainya. Kata Syamaun Gaharu lagi saya harap teruskanlah melengkapi
kekurangan-kekurangan dar TRI kita supaya tetap baik.
TRI
sekarang ini, ibarat sebelah rumah yang sudah siap dibangun, hanya perlu dicat
dihiasi dan lain-lain. Jadi janganlah rumah itu dibongkar kembali sebab payah
waktu mendirikan dulu, hanya hiasilah sebaik-baiknya supaya lebih utuh,
walaupun didiami oleh penghuni baru. Sebab pertukaran penghuninya, itu soal
biasa. Besoknya, masuklah rombongan TPR ke Kutaraj dengan kereta api dan dengan
jalan darat. Rombongan dipimpin oleh Tgk Husin Al Mujahid. Dalam rombongan
tersebut turut juga beberapa anggota TRI diantaranya Nurdin Sufi dan lain-lain.
Orang-orang
yang pro mereka, baik dari Lhoknga, Ulee Lheue, Montasik dan dari Seulimeum
juga tidak menggabungkan diri dengan TPR. Setelah tiba di Kutaraja mereka
mengambil tempat Istirahat yang berpencar-pencar dan markasnya di gedong Bank
Indonesia sekarang. Dengan adanya TPR di Kutaraja sebahagian besar masyarakat
di Kota dan sekitarnya telah diperintahkan untuk mengadakan beberapa kelompok
dapur umum untuk menyediakan makanan bagi rombongan TPR tersebut seolah-olah
mereka baru pulang dari peperangan dan seperti orang menang perang.
Dari pihak
pasukan TRI kita waktu itu tidak dibenarkan keluar asrama. Dan sebenarnya
mereka sudah siap-siap untuk bertindak asal saja ada perintah dari atasannya.
Karena anggota-anggota TRI juga sebelumnya sudah tahu bahwa kita sudah dicoup
oleh TPR, mereka terpaksa dengan hati yang sedih sekali terpaksa menahan diri
dan menunggu apa yang akan terjadi.
Pada saat
itu, seluruh pasukan TRI yang berada diKutaraj telah dikumpulkan dilapangan
Kota Alam dibawah pimpinan saya sendiri untuk diserahkan pada TPR. Setelah siap
barisan semua, dan melaporkan kepada divisi komandan, maka Syamaun Gaharu
mulailah berpidato dihadapan pasukan tersebut, bahwa mulai dari saat ini
pimpinan Divisi V Kutaraja telah diserahkan pada pimpinan TPR atau Tgk Amir
Husin Almujahid, oleh karena itu diharapkan agar semua anggota TRI supaya patuh
dan tunduk dibawah pimpinan yang baru.
Kemudian
Syamaun Gaharu terus membuka pangkatnya dan diserahkan kepada Amir Husin Yusuf.
Pada saat itu tidak dapat saya lukiskan bagaimana terharunya perasaan hati
masing-masing prajurit dan opsir-opsirnya bahkan ada yang terisak-isak
menangis. Kemudian dilanjutkan penyerahan staf divisi serta alat-alat
kelengkapannya menurut bidang masing-masing.
Setelah
dilakukan coup oleh TPR Idi tanpa perlawanan dan mintanya apa-apa, maka Syamaun
Gaharu dan T.A Hamid Azwar telah bebas dari tugasnya masing-masing. Saya masih
tetap sebagai Resiment komandant sedangkan staf divisi telah dirombak dan
disusun kembali menurut selera mereka. Komandan PT (Polisi Tentara) masih Sabar
Datuk. Kira-kira beberapa hari berselang sesudah coup itu, tiba-tiba Syamaun
Gaharu dan T.A Hamid Azwar telah ditangkap dan ditahan di Pendopo. Kemudian
terjadi pula penangkapan atas diri T Nyak Arif dan ditahan di Takengon. Dalam
pemerintahan sipil juga terjadi beberapa perubahan dengan dimasukkan
orang-orang baru dari partai dan yang pegang peranan politik adalah T.M Amin
dengan pangkat asisten residen diperbantukan TPR kemudian bergerak menuju ke
Aceh Barat, Aceh Selatan dan Singkil. Sementara itu di Kutaraja telah terjadi
pula penangkapan atas diri Hulubalang-hulubalang dan ditahan dipendopo juga.
Dengan
terjadinya coup tersebut dan ditangkapnya kawan-kawan saya tanpa suatu sebab
bahkan telah ingkar dari janji mereka waktu penyerahan dulu, maka sayapun telah
terasa kurang tenang dan telah kurang bergairah berkerja. Kira-kira dalam bulan
maret 1946 disusunlah formasi baru dari pimpinan divisi TRI Aceh yaitu seperti
berikut :
1. Amir
Husin Al Mujahid pangkat jendral mayor sebagai pengganti kedudukan T Nyak Arief
2. Husin
Yusuf pangkat colonel sebagai pengganti kedudukan Syamaun Gaharu
3. Nurdin
Sufi pangkat letnan colonel sebagai pengganti kedudukan T.A Hamid Azwar
4. Bachtiar
pengkat mayor sebagai kepala staf divisi
5. Abu
Bakar Majid pangkat kepala PT dan lain-lain penggantian seterusnya
Sebelum
menaikkan pangkatnya yang tersebut diatas, tadinya Amir Husin Al Mujahid adalah
dari anggota Partai. Husin Yusuf berpangkat mayor, Nurdin Sufi berpangkat mayor
juga Abu Bakar Majid juga dari partai.
Demikianlah
susunan yang diatur dan mengangkat diri sendiri setelah mereka menguasai TRI.
Apa yang terjadi dengan tindakan dari TPR itu, sebenarnya mereka yang turut
dalam rombongan, katanya untuk pergi ke Sabang menguasai jika disana, jadi
tentang tujuan coup itu adalah macam-macam rahasia bagi orang-orang tertentu
saja. Ini memang satu tipuan yang licik sehingga dari pihak TRI sendiri karena
kurang siasat jadi termasuk perangkap. Indah kelihaian dari beberapa orang
pimpinan dan rombongan TPR itu, sehingga dengan mudah saja telah terjadi penyerahan
dari TRI (tentara republic Indonesia) yang resmi kepada TPR (Tentara perjuangan
rakyat) itu.
Tidak
berapa lama mereka memimpin di Kutaraja, kemudian staf divisi dipindahkan ke
Bireuen oleh Husin Yusuf selaku komandan divisi yang baru. Adapun orang-orang
yang ditahan dipendopo itu dipindahkan ke takengon disuatu tempat diluar kota
Takengon yaitu di Sadong.
Turut juga
ditahan 2 orang ulama, yaitu Tgk M Hasbi As Shidiqi dan Ayahanda Tgk Syeh
Ibrahim Lambuk. Jadi yang ditahan disitu, ialah T Nyak Arif, Syamaun Gaharu, T
Hamid Azwar + 2 orang ulama tadi dan lain-lain. Dan kemudian, Syamaun Gaharu
dan T.A Hamid Azwar dipindahkan pula ke tempat lain yaitu ke Tangse. Waktu
dalam tahanan oleh ayah Daud Tangdse pernah datang melihatnya dan dia adalah
juga orang perjuangan yang ditakuti, karena pasukannya mempunyai beberapa
senjata berat dan lain-lain. Waktu bertemu dengan ayah Daud Tangse mereka
berdua menceritakanlah apa yang teleh terjadi di Kutaraja, tindakan-tindakan
yang dilakukan oleh Amir Husin Al Mujahid. Rupanya ayah Daud pun merasa kurang
senang dan menjadi tantangan saja………………….. kemudian dipindahkan pula
ketempat-tempat lain dan akhirnya ke Sigli.
Setelah
Amir Husin Al Mujahid aktif sebagai general mayor dan dengan memakai kendaraan
sedan beserta pengawal-pengawalnya, selalu saja bolak balik dari Kutaraja ke
Langsa dan sebaliknya. Kadang-kadang saya sendiri selaku Resiment Komandant
tidak pernah ketahui dengan resmi bahwa dia telah berada diKutaraja karena tidak
pernah menerima laporan dan ajudannya ataupun dari pengawalnya demikian pula
waktu dia pergi dari Kutaraja. Setelah beberapa hari dia menghilang dari sini
dan tiba-tiba telah muncul lagi dan menginap di Aceh Hotel tanpa ada laporan.
Pada saat hamper bersamaan kebetulan pula telah datang 1 rombongan orang-orang
perjuangan yang dipimpin oleh ayah Daud Tangse lengkap dengan senjatanya
memasuki ke Kutaraja mereka kira-kira ada 20 orang. Saya mengetahui hal itu,
dari laporan seorang anggota PT Hasan namanya. Mereka datang ke Kutaraja
bermaksud melihat keadaan disini, karenanya sayapun tidak menaruh curiga pada
mereka. Dan suasana keamanan waktu itu belum berjalan dengan baik dan demikian
juga TRI sebagai alat Negara, belum dapat menguasai sepenuhnya, karena dari
pihak Rakyat umum ataupun organisasi-organisasi dan perorangan, masih memiliki
senjata.
Sesudah 1
malam mereka berada di Kutaraja, maka pada malam berikutnya, dengan tiba-tiba
syaa diundang oleh sdr Yusuf Haji Saleh untuk berhadir kerumahnya karena ada kenduri
katanya. Sehabis mahgrib, sayapun datanglah dan sesampai dirumahnya diKp Ateuk,
saya lihat telah banyak kawan-kawan lain yang sudah duluan hadir, diantaranya,
Said Usman, Said Ali, Sabar Datuk, Abdullah Masry, T Abdullah Hasan dan
lain-lain yang saya belum kenal, yaitu ayah Daud Tangse dan
pengikut-pengikutnya. Sesudah makan kenduri, sambil duduk-duduk dimulailah
pembicaraan oleh ayah Daud Tangse tentang tindakan Amir Husin Al Mujahid yang
dianggapnya tidak patut demikian. Kenapa dia berani mengangkat diri sendiri dan
apakah dia saja orang perjuangan? Saya juga orang perjuangan, begitulah yang
diucapkan ayah Daud Tangse tadi, kemudian disambungnya lagi, saya harus
bertindak dan saya juga berhak pakai jendral mayor. Walaupun pada itu, kamipun
turut berbicara dan memberikan beberapa pandangan yang baik agar jangan terjadi
kekacauan.
Diantaranya
saya pernah jelaskan pada bahwa menurut berita dalam surat kabar, katanya dia
diangkat atas kemauan rakyat. Jadi kalau benar demikian, nanti pada hari senin
pagi, kebetulan akan diadakan pelantikan ABRI, dilapangan Taman Sari, disaat
itu, Amir Husin Al Mujahid tentu turut hadir. Dan dalam kesempatan itu, kita
Tanya saja pada rakyat yang hadir, apakah benar mereka telah mengangkat Amir
Husin Al Mujahid jadi jenderal Mayor, kalau nanti dijawab tidak, dengan
sendirinya pangkal jenderal mayor itu harus dicopot kembali. Dan komandan ABRI
yang akan dilantik itu, adalah Said Usman yang turut bersama-sama berbicara
tentang rencana itu, rupanya oleh ayah Daud Tangse sudah dapat disetujui.
(sebenarnya, apa yang kami usulkan itu hanya sekedar suatu alasan saja, agar
dia tidak bertindak diluar garis).
Malam
pembicaraan itu, adalah malam minggu, setelah selesai pembicaraan itu kamipun
bubar dan kembali kerumah masing-masing. Pada hari minggu ±jam 8 pagi saya
pergi ke Ulee Lheue (Landtory) untuk shalat dan mandi-mandi disana. Pada jam 12
siang saya telah berada kembali di Kutaraja dan duduk minum-minum didepan Balai
Teuku Umar (BTU). Dulunya dibahagian muka ada disedia zeije untuk tamu-tamu dan
saya duduk menghadap ke Kali Aceh.
Kebetulan
pada saat itu saya lihat dia beberapa orang anggota PT (Polisi Tentara) sedang
lari-lari menuju kearah Mesjid Raya. Saya tidak menjadi perhatian apa-apa
tentang kejadian itu, saya pikir mungkin mereka sedang mengadakan latihan.
Kemudian saya pulang kerumah. Sekarang rumah dok Abna saya dan T Nyak Arif.
Karena
lelah, sayapun tertidur dirumah. Kira-kira pada jam 2 sore, baru saya
terbangun, dikagetkan oleh seorang pelopor yang menyatakan bahwa jenderal mayor
Amir Husin Al Mujahid telah diculik oleh rombongan pejuang dari tangse bersama
anggota PT dan telah dibawa kea rah Seulimeum, mendengar chabar tersebut,
sayapun melapor kepada Residen Aceh. Jadi laporan saya agak sedikit terlambat,
berita itu telah disampaikan terus ke Sigli dan Bireuen pada staf Divisi oleh T
Daud Syah. Waktu tiba di Seulimeum rupanya mereka agak lama berhenti dan
kejadian itu dapat dilihat oleh isteri T Taib. Ada kejadian yang lucu, karena
sedang mereka mencari-cari benzin untuk autonya, tiba-tiba Amir Husin Al
Mujahid sempat melarikan diri menuju ke Kenaloi.
Oleh sdr
Hasan (bekas mandor Tahunan) dulu mengejarnya sambil berteriak, Nica, Nica,
Tangkap. Oleh rakyat banyak disitu lalu ditangkap dan waktu dibawa kembali, dia
diikat tangan dan kaki lalu dipikul dengan 2 orang, tak ubahnya seperti orang
memikul barang. Setiba ditempat Abdullah masyarakat sangat marah atas perbuatan
sdr Hasan itu dan lalu segera dilepaskan ikatannya. Sewaktu dikejar tadi,
kebetulan sdr Hasan pernah juga menembak dengan pestol kolt yang sudah tua
rupanya bukan pelor yang keluar, tapi loopnya sekali terbang dan memang tidak
mengena. Kemudian mereka bawa terus maksud tujuan ke Sanggeue (Sigli). Dalam
auto yang dibawa ialah Amir Husin Al Mujahid, Abu Bakar Majid dan Ibnu Rasyid.
Mereka ini terlibat didalamnya, karena mereka diculik dulu di Aceh Hotel,
kebetulan Abu Bakar Majid dan Ajudannya Ibnu Rasyid berada dalam kamar sedang
berbicara dengan Amir Husin Al Mujahid yang dituju sebelahnya hanya ia sendiri,
tapi agar jangan diketahui oelh umum nanti terpaksa diangkat ketiga-tiganya.
Atas
laporan dari residen T Daudsyah tadi, rupanya tentara yang berada di Padang
Tiji telah menunggu kedatangan auto yang membawa Amir Husin Al Mujahid dan
kebetulan rombongan tentara yang di Bireuen dan Sigli sudah tiba juga disitu.
Achirnya yang menculik, tidak diculik kembali, yakni telah ditangkap oleh
tentara yang membelanya dan terus dibawa ke Sigli.
Walaupun
mereka telah ditangkap kembali, tetapi tidak diperlakukan secara kasar, karena
dilarang oleh Amir Husin Al Mujahid, akibat kata-kata Abdullah Masry di
Seulimeum yang memahami sdr Hasan yang berbuat sedikit kejam terhadapnya.
Rupanya baik juga pikiran Amir Husin Al Mujahid itu, mereka yang ditangkap
ditahan dan diperiksa di Sigli dan kemudian mereka bersama-sama rombongan
dibawa ke seulimeum dan ditahan sementara di Simeuleum. Sedangkan Mujahid terus
menuju kutaraja dengan rombongannya bersama divisi komandan dan stafnya. Waktu
Abdullah Masry dan kawan-kawannya ditahan di Seulimeum, pernah mereka dibawa ke
suatu tempat untuk digertak mau dibunuh. Sesampai ditempat itu, salah seorang kawannya
menangis, Abdullah Masry lalu berkata dengan lantang jangan menangis, nanti
kalau mati biar kata jadi setan dan kita habisi semua nyawa saudara-saudara
yang membunuh kita ini. Rupanya mereka memang tidak ada tujuan untuk dibunuh,
hanya gertak saja atau sebagai pukul semangat supaya takut dan mereka dibawa
kembali ke Seulimeum, kemudian ke Kutaraja. Setiba rombongan Divisi komandan ke
Kutaraja, salah seorang dari anggota PT baru namanya Said Ali (berasal dari
Perlak) datang kekantor saya di Kota Alam dan menyampaikan perintah komandan
divisi (Kolonel Husin Yusuf) supaya datang ke Aceh Hotel untuk sesuatu keperluan
saya bawa auto sendiri, katanya tidak usah, lebih baik bersama auto mereka
saja.
Saya
sendiri telah dapat merasakan bahwa saya pasti akan ditangkap. Sampai di Aceh
Hotel saya dibawa bertemu dengan Abu Bakar Majid (Kepala PT) dan menyampaikan
kepada saya bahwa sehubungan dengan penculikan Mujahid, maka saya perlu
didengar sedikit keterangan tentang itu. Dan untuk itu saya disuruh auto
ketempat pemeriksaan yang berkantor di Peunayong yaitu dikantor kodam I
sekarang.
Setiba
saya disitu, saya tidak dibenarkan kembali dan buat sementara harus tinggal
ditempat itu. Waktu itu saya baru pindah rumah yang tadinya didekat gereja
pante Pirak, kemudian pindah kerumah H Ibu Saa’dan. Sekarang dijalan T. Nyak
Arif menjaga jangan sampai diketahui isteri saya bahwa saya sudah ditahan, maka
saya buat surat diantar oleh seorang prajurit kerumah, saya katakan bahwa saya
banyak tugas, mungkin tak sempat pulang,supaya dibelikan sebuah kasur dan
kelambu + bantal untuk tempat tidur dikantor. Achirnya isteri saya tahu juga
bahwa saya ditahan, diberi tahu oleh Hasim Saleh, waktu dia datang kerumah
saya. Yang aneh lagi, begitu saya ditahan terus saja datang orang-orang dari
mereka diantaranya Said Ali PT dan lain-lain, untuk memeriksa sesuatunya dan
tentu teleponpun disikatnya, kemudian memeriksa seluruh pelosok rumah mencari
senjata. Mendengar pemeriksaan tersebut saya kirim kabar supaya Isteri saya
pulang segera ke kampong meninggalkan rumah itu dan bawa pulang semua
barang-barang kita yang ada disitu. Setelah isteri saya kembali ke kampong jawa
(dirumah sendiri) pernah juga datang lagi dari mereka yaitu Said Ali PT hendak
memereiksa lagi atau menggeledah rumah saya itu kalau-kalau ada disimpan
senjata. Tindakan mereka itu adalah sia-sia saja. Selama saya dalam tahanan.
Kira-kira beberapa hari lamanya, barulah mulai diperiksa. Pertanyaan-pernyataan
yang diajukan pada saya sama sekali tidak berarti sebagai suatu pemeriksaan.
Dan mereka lebih banyak mengulur-ulur waktu supaya saya terus dalam tahanan.
Dalam
suasana yang demikian itu, saya dengar pula bahwa Said Ali Kampung Jawa juga
sudah ditahan kemudian Said Usman turut ditahan. Said Usman ditangkap ditangkap
di Lhokseumawe waktu mau berangkat tugas ke Bukit Tinggi. Kereta api yang
ditumpangi Said Usman dari Lhokseumawe, sampai dikandang di stop dan Said Usman
diberitahu bahwa ada suatu hal penting yang berhubungan dengan ABRI di Kutaraja
supaya segera kembali ke lhokseumawe dan ditahan disitu, kemudian dia dibawa ke
Kutaraja dan ditahan di Aceh Hotel juga.
Selain
dari itu semua anggota PT lama juga telah ditahan semua senjata dilucuti
beberapa hari kemudian, saya dengar chabar dari seorang prajurit yang menjaga
saya, bahwa T Nyak Arif telah meninggal dunia sekarang dibawa pulang dengan
kereta api ke Kutaraja. Sayapun jadi tersentak dan perasaan saya jadi terharu
sekali, karena teringat tentang perjuangan beliau yang membela rakyat, walau
dizaman belanda dan juga dimasa jepang. Saya benar-benar sangat terharu sekali
pada waktu itu. Beliau benar-benar seorang pahlawan tanah air. Sebenarnya,
ditangkapnya T Nyak Arief itu tujuan utama ialah untuk mencopot pangkatnya guna
dipakai dibahu Tgk Amir Husin Al Mujahid. Walaupun diatur dengan segala macam
alasan-alasan yang memang tidak masuk akal. Beliau itu jelas seorang patriot
yang gigih menghadapi segala tindakan belanda maupun jepang yang menindas
rakyat, apalagi dimasa kemerdekaan, tentu beliau akan berbuat lebih banyak lagi,
demi untuk kepentingan rakyat banyak.
Waktu
beliau ditahan disadong dulu, sebenarnya beliau menderita penyakit kencing
manis, pernah dimintak datang Dr Mahyuddin ke Sadong, tapi mereka tidak
izinkan, dan tentang meninggalnya beliau itu apakah karena penyakitnya itu,
ataupun suatu pembunuhan masih tanda Tanya. Dan tentang tahanan 2 orang ulama
itu, menurut keterangan yang diperoleh mereka dibebaskan oleh Abubakar Majid,
Komandan PT karena Tgk M Hasbi adalah bekas gurunya di Merduati dulu. Setelah
saya dengar berita tentang meninggalnya T Nyak Arif, maka melihat-melihat juga
dari jauh menuju ke station kereta api, rupanya jenazah beliau tidak ditemukan
di Kutaraja, melainkan diturunkan di Lambaro dan terus dibawa ke Lamreung. Dan
jenazah beliau dimakamkan di Lamreung yang dihadiri oleh ribuan rakyat dan Alim
Ulama. Kita kembali tentang orang-orang yang dalam tahanan waktu itu,
diantaranya : saya sendiri, Said Usman, Said Ali, T.A Hamdan, Sabar Datuk, T
Abdullah, Abdullah Masry, Yusuf Haji Saleh, dan teman lain-lain dari korps
PT(Polisi Tentara) yang namanya saya sudah lupa. Kemudian dikumpulkan dan
sebagian ditahan di asrama Neusu dan kecuali teman-teman dari PT ditahan
ditempat lain.
Dalam
tahanan bersama saya, ialah Said Usman, Said Ali, T.A Hamdani, Yusuf Haji
Saleh, ayah Daud Tangse, Oom Sumamparo dan ada beberapa orang lagi dari anggota
TRI juga, saya lupa namanya. Pada waktu itu kami hanya menunggu-menunggu, kapan
dari kami masing-masing karena kamu sudah lama tidak dibayarkan ransum tentara,
maka pada suatu hari, saya, Said Usman dan Said Ali mintak izin pada pengawal
di asrama neusu, mau keluar dan menjumpai seorang PT (namanya Tgk Ali Piyeueng)
dikantornya diseberang jalan dari asrama Neusu.
Maksud
kami ialah untuk menanyakan tentang penyelesaian catu kami yang sudah lama
belum diberikan. Kebetulan waktu keluar dari asrama itu kami berjalan
bersama-sama sesampai ditangga kantor PT tersebut, tau-tau Tgk Ali Piyeueng
telah menelepon pada komandan P.T Abubakar Majid, yang katanya kami telah
berdemonstrasi menuju kepadanya sedang dia telah menghilang pula dari
kantornya.
Kami
terpaksa menunggu-nunggu dikantornya dan tiba-tiba datanglah sebuah kendaraan
bus mini yang dikawal oleh seorang anggota PT namanya Yusuf Sokonia Auto itu
berhenti pergi dimuka pintu asrama dan Yusuf Sokony langsung menemui kami dan
katanya atas perintah komandan PT kami harus dipindahkan ke Lhoknga, semua
harus siap-siap untuk naik ke mobil itu. Mendengar hal tersebut. Saya langsung
pula mintak padanya supaya kami dibawa menghadap Divisi komandan dulu. Kenapa
kami harus dibawa ke Lhoknga? Itu kan markas Pesindo dan kami anggota militer
kalau mau dibawa ketempat militer.
Sayapun
dan Said Usman, Said Ali terus naik ke auto dan diantar untuk menemui Divisi
komandan. Waktu itu Ayah Daud Tangse telah siap dengan bungkusan tikarnya mau
naik untuk pindah ke Lhoknga, lantas saya bilang padanya supaya kembali saja ke
asrama dulu, kamipun berangkat dan mencari Husin Yusuf, kebetulan dia berada
dikantor sentral telepon dan katanya pada Yusuf Sokoni supaya kami dibawa saja
berbicara dengan Abu Bakar Majid yang berkantor di K.M.K (sekarang kantor
kodim).
Setiba
kami disitu. Kebetulan Tgk Ali Piyeung juga sudah berada disitu. Kamipun
menghadaplah dan ditanya oleh Abubakar Majid kena apa kami berdemonstrasi tadi.
Kamipun heran dan kami jawab, bahwa bukan demonstrasi, kami sebenarnya ada
urusan masing-masing kebetulan berjalan bersma-sama bermaksud menjumpai Tgk Ali
Piyeung menanyakan tentang penyelesaian catu-catu kami yang sudah beberapa
bulan belum dibayar. Dan kami keluar dari asrama adalah seizin pengawal, itulah
yang ada kami lakukan dan bukan berdemonstrasi. Belum lagi kami sempat
meneruskan pembicaraan maka oleh Tgk Ali Piyeung pun terus mengaku suatu
kesilapan atas tindakannya itu dan mintak maaf pada kami.
Sesudah
jelas duduk persoalanya, kemudian oleh Abubakar Majid menyurh kami pindah dan
ditahan dirumahnya dirumah Pembina diujung sekali yang berhadapan dengan
perusahaan listrik Neusu. Yang ditahan disitu, ialah saya sendiri, Said Usman,
Said Ali dan T.A Hamdani dan lainnya masih ditahan di Asrama Neusu dan tidak
jadi dibawa ke Lhoknga. Selama kami ditahan dirumah Abubakar majid, tidak ada
diadakan pengawalan. Jadi kami bebas, hanya dalam lingkungan pekarangan rumah
itu saja. Dan Abubakar Majid hanya sendirian, belum bawa keluarganya. Ada suatu
kejadian, bahwa pada suatu waktu kira-kira jam 5 sore, saya mendengar bel
telepon dirumah, karena dia tidak ada, terpaksa saya yang meladeninya. Rupanya
yang bicara waktu adalah Syamaun Gaharu yang ditahan di Sigli, mau berbicara
dengan Abubakar Majid, jadi kamipun tertawalah sambil bicara dan saya katakana
Abu Bakar Majid Sudah keluar. Sedang kami berbicara, tiba-tiba perhubungan
diputuskan oleh central. Pada waktu itu masih diadakan sensor bicara dengan telepon
maupun surat-surat dan pos juga disensor.
Sesudah
beberapa minggu kami ditahan disitu, atas permintaan kami, dibolehkan pulang
kerumah secara bergiliran, pulang jam 12 malam dan harus kembali pada jam 5
pagi. Sesudah beberapa bulan kami dalam tahanan, baru dikumpulkan kesemua para
tahanan disatu tempat di rumah komandan kodim I sekarang, dulu rumah itu
kosong, kepunyaan DKA. Pada suatu hari, kami dapat berita-berita bahwa kepada
kami semua dibenarkan berolah raga dilapangan, dibenarkan gerak jalan pagi-pagi
dan dibenarkan pula nonton bioskop.
Keadaan
indah lebih diperlonggar, dan memang kalau dipikirkan secara wajar, kami juga
bukan orang yang bersalah, tapi dicari-cari kesalahan supaya kami tersisih dari
klik mereka. Memang begitulah situasi pada waktu itu. Pada suatu hari, datang
panggilan pada kami, yaitu : T. Mohd Syah, Said Usman, Said Ali, T.A Hamdani,
Yusuf Haji Saleh, Abdullah Masry, T Abdullah dan lain-lain, untuk diadakan
persidangan oleh pengadilan yang dikepalai oleh hakim yaitu Mr S.M Amin dan
jaksa penuntut adalah sdr Hasan Ali dengan anggota-anggota siding yaitu Tgk
Hasballah Indrapuri, Tgk Kamal dan lain-lain.
Persidangan
diadakan dalam ruangan kantor PT (kodim sekarang). Perkara yang dituntut atas
diri kami, terutama atas diri saya sendiri, yaitu tentang terjadinya penculikan
atas diri Amin Husin Al Mujahid. Setelah dibacakan beberapa laporan dan proses
verbal oleh jaksa, maka secara ringkas oleh hakim memberikan keputusannya,
masing-masing kami dikenakan hukuman 6 bulan penjara karena bersalah.
“Mengetahui akan terjadinya suatu kekacauan, tetapi tidak melaporkan kepada
pihak atasan” kira-kira begitulah artikel yang dikenakan atas diri kami,
sebelum diketok palu, kami harap-harap mungkin salah seorang dari para ulama
yang hadir itu akan memberikan sedikit pembelaan, rupanya mereka diam saja. Dan
kepada kami diberikan kesempatan membela diri, tetapi kemudian palupun diketok
dengan keputusan tetap 6 bulan penjara. Kemudian dinyatakan kepada kami, dalam
waktu 2 minggu boleh naik banding pada hakim tinggi atau ke Jakarta.
Sesudah
putus perkara, saya sendiri, Said Usman, Said Ali, T.A Hamdani dan Yusuf Haji
Saleh boleh bebas diluar sementara waktu 2 minggu itu, sedangkan teman-teman
lain, Abdullah Masry dan kawan-kawannya dari bekas PT dan anak buah Ayah Daud
Tangse dibawa ke Bireuen dan dimasukkan dalam penjara disana. Selama kami mulai
dibenarkan bebas diluar dengan sendirinya kami terus berfikir dan berusaha
mencari jalan keluar, jangan sampai masuk penjara.
Dalam pada
itu Jenderal mayor Amir Husin Al Mujahid telah menetap tinggal di Kutaraja
yaitu dirumah Aceh Tram dahulu di Neusu atau bekas kantor penguna perang daerah
Aceh yang banyak oknum-oknum tertentu menjadi kaya dari hasil pembahagian ialah
karet dan lain-lain. Dalam waktu 2 minggu itu kami terus berpikir dan berpikir
bagaimana caranya mengajukan banding ataupun mintak kebebasan, kalau urusan ke
Jakarta, itu tak mungkin sama sekali karena dalam suasana waktu itu rasanya
belum mengizinkan sampai ke pusat.
Sedangkan
ditilik dari keputusan Hukum yang dijatuhkan atas diri kamipun nampaknya
belumlah secara keadilan menurut hukum yang sebenarnya, dan waktu itu,
keadaanpun belum normal betul, justru masih berlaku hukum rimba, siapa yang
kuat dan berkuasa, dialah yang menang dan dapat berbuat sesukanya. Entah bagaimana,
kebetulan terpikir oleh kami, lebih baik kita coba mengadap Jenderal Mayor Amir
Husin Al Mujahid. Menurut perembukan kami, sebelum kita menghadap, lebih baik
kita antar dulu sesuatu buah tangan kepadanya, karena 1 minggu lagi akan mulai
mamegang puasa, pendapat kami itu memang cocok
dan oleh Yusuf Haji Solehpun membeli seekor lembu dan dibawanya sebagai
buah tangan kepada beliau itu. Besoknya kamipun pergi menghadap kerumahnya dan
diterima dengan baik sekali. Kamipun mulai buka bicara, bahwa kami ini
kesemuanya sudah bersalah dan oleh pengadilan sudah dijatuhkan hukuman
masing-masing 6 bulan penjara. Kami pikir, daripada dihukum, lebih baik kami
dikirim saja ke fion bertempur dengan musuh sebagai menebus kesalahan kami. Dan
karena satu minggu lagi akan memasuki bulan puasa, sedangkan kami harus masuk
penjara, kalau boleh kami harap sangat atas bantuan ayah agar kami dibenarkan
tinggal diluar selama dalam bulan puasa. Setelah didengarnya keterangan dan
permintaan kami itu, iapun terus mengatakan bahwa yang sebenarnya sdr-sdr ini
semua tidak ada yang bersalah, dan saya lebih kenal sdr-sdr. Ini hanya urusan
Husin Yusuf saja, maka jadi begitu. Kalau begitu baiklah sdr-sdr tinggal
dirumah saja dan nantiu dihari mamegang puasa datanglah kemari mengambil daging
sedikit, karena sayapun ada memotong sapi. Demikianlah jawabannya kepada kami.
Kamipun
bukan main merasa gembira dan setelah mengucapkan ribuan terima kasih, kamipun
pulang. Tiba dihari megang, kami masing-masing datang ke Neusu dan menerima
pembahagian 2 tumpuk seorang. Didalam bulan puasa kebetulan sdr-sdr Syamaun
Gaharu dan T.A Hamid Azwar telah dibawa kembali dari Sigli ke Kutaraja dalam
keadaan bebas, tetapi masih dalam pengawasan mereka. Syamaun Gaharu ditempatkan
dirumah Pak H Ibnu Sa’adan sekarang dan dijaga oleh seorang polisi dan T.A
hamid Azwar tinggal dirumahnya sendiri di Taman Sari.
Pada waktu
itu kamipun boleh bertemu dengannya dan berbicara-berbicara seperti biasa. Tapi
secara tidak langsung, kami juga ketahui bahwa selalu saja ada mata-mata yang
mengikuti langkah kami. Yang kalau mau bicara hal-hal yang penting sekali harus
cari tempat yang aman. Dalam kesempatan yang baik itu, setelah berbuka puasa
dirumah masing-masing, kami berkumpul kembali dan selalu duduk-duduk didalam
halaman Balai Teuku Umar (BTU) sambil minum-minum. Disitulah kami buat satu
rencana, guna menghindarkan diri dari tekanan-tekanan hukum rimba yang telah
diperlakukan atas diri kami.
Apakah
rencana itu??
Rencana
itu ialah rencana untuk keluar dari Aceh dan bagaimana caranya supaya bisa
keluar, baiklah akan saya uraikan seperti berikut :
Kami
sengaja duduk-duduk dihalaman Balai Teuku Umar dan berbicara bisa lebih leluasa
karena keempat-empat penjuru, kami dapat kuasai kalau-kalau ada mata-mata yang
mendengar pembicaraan kami. Dan karena tempat ini, cukup tenang, pasti tidak
mereka duga ada suatu pembicaraan rahasia dsb. Dan kalau ada orang yang kami
curigai, kami kodekan dan mengalihkan pembicaraan lain. Kadang-kadang sampai
mintak-mintak tambah minuman atau makanan supaya dapat bicara lebih panjang.
Mula-mula kami rencanakan keluar dengan sebuah motor boat yang dipimpin oleh Mr
Brem, tetapi karena keadaan cuaca dan suasana di laut sangat buruk (Musim
Barat) terpaksa diurungkan padahal persediaan bahan bakar dan lain-lain sudah
tersedia semua.
Rencana
kedua melalui jalan darat jurusan medan, inipun menurut pertimbangan banyak
pertimbangan banyak rintangan dijalanan terutama di Sigli, Bireuen dan
seterusnya, lebih banyak mush daripada kawan dan pasti gagal. kemudian rencana
yang ketiga, yaitu melalui Aceh Barat, kami sependapat semua, dan cocok karena
didaerah sama banyak kawan, akan tetapi masih terbentur tentang perhubungan dan
dengan apa kami harus berangkat. Kalau dengan auto, waktu itu auto sangat sukar
sekali kecuali auto tentara, kalau bisa satu-satunya jalan harus dengan auto
tentara. Tetapi inipun soal yang sangat pelik sekali dan sama dengan memasukkan
diri dalam perangkap. Kemudian sayapun mengajukan satu usul, kalau mungkin
dapat diterima. Saya katakan bahwa sdr Hasballah Haji (Komandan Resimen I)
sebagai pengganti saya, adalah kawan baik sekali dengan saya, kami dulu dizaman
jepang, satu cufay di Lamno dan selalu bertukar fikiran, mengenai pertentangan
ulama dan Ulee Balang. Dan pendirian dia memang baik dan dapat disesuaikan
bagaimana yang sebenarnya, jadi tidak berpihak-pihak.
Satu-satunya
jalan sekarang, ialah kita mintak bantuan dari Hasballah, mendengar keterangan
saya itu, oleh T.A Hamid Azwar terus saja kurang setuju, katanya diakan
orangnya Daud Bereueh. Itu benar, tapi dia dapat memisahkan diri antara yang
baik dan yang tidak baik, artinya kalau tujuan kita baik, saya yakin dia pasti
dapat dan mau membantu kita, sebabnya sudah mendalami benar-benar isi hatinya,
selama kami bersama-sama di Lamno dulu. Dan itu maka saya kemukakan, kepada
dialah kita mintak bantuan. Dan kalau saudara-saudara percaya kepada saya, kan
saya juga tidak mau sampai ditangkap lagi, kita ini kami senasib.
Sesudah
itu, masanya hening sebentar, dan kemudian diserahkanlah atas kebijaksanaan
saya dalam hal itu. Besoknya pagi-pagi jam 8 pagi, sayapun langsung pergi
menemui sdr Hasballah dan kebetulan saya menemui dia yang baru saja turun dari
rumah ayah Gani disamping gereja Peunayong. Sayapun berbicara dengan dia dan
mintak agar dia bersedia member waktu untuk bertemu dengan kami dirumah tahanan
Syamaun Gaharu, karena ada hal sangat penting yang akan dibicarakan.
Baiklah
katanya dan kamipun pergi bersama-sama menuju kerumah Syamaun Gaharu.
Kawan-kawan lain sudah duluan menunggu disitu. Setiba disitu, kamipun mulai
bicara bahwa keadaan kami sekarang nampaknya tidak diterima lagi di Aceh. Oleh
orang-orang tertentu, karenanya lebik baik kami keluar dari Aceh untuk berjuang
diluar Aceh jadi kami mintak bantuan saudara untuk menolong dalam hali ini. O,
boleh saja katanya, kenapa tidak bilang dari dulu-dulu saya sendiri boleh
antar, dan kapan mau berangkat. Demikian spontan sambutan baik daripadanya.
Kemudian kami lanjutkan, caranya jangan begitu. Kalau sdr Hasballah yang
mengantarnya, nanti akan terjadi hal-hal yang kurang baik bagi sdr sendiri.
Caranya yang lebih baik, ialah kami dapat lolos dan dari pihak sdr-sdrpun tidak
ada resiko apa-apa menurut yang kami rencanakan, sdr Hasballah atas nama
komandan Resimen I Aceh, membuat 1 surat perintah resmi kepada 3 orang, 2 supir
dan 1 montir namanya sdr Raba, Andah dan Basmian untuk pergi ke Meulaboh dengan
kendaraan Pick Up guna mengambil sesuatunya yang kira-kira ada di Meulaboh.
Hanya itu saja yang perlu sdr Hasballah buat dan kami nanti membonceng dalam
auto tersebut. Atas kemauan kami, seperti halnya orang-orang preman biasa
mintak numpang auto tentara jadi dengan cara demikian, kami rasa kita sama-sama
terlepas dari tindakan pihak lain.
Cara yang
kami atur itu memang sangat cocok sebelum berangkat, T.A Hamid Azwar telah
lebih dulu membisikkan kepada T Hamzah selaku kepala bahagian angkutan Divisi V
supaya mempersiapkan perkakas-perkakas serapnya dan lain-lain. Srd Abd Salam
sebagai pembantu T Hamzah terpaksa kerja siang malam melengkapi kendaraan
tersebut. Untuk menghilangkan kecurigaan orang, maka kopor pakaian kami
masing-masing beberapa hari sebelumnya, telah kami titip dan disimpan dirumah
supir-supir itu.
Kami ambil
ketetapan, bahwa kami akan berangkat nanti pada 27 hari puasa dan persis pada
saat sedang orang-orang berbuka puasa. Secara ………… bahwa kalaulah kita
berjalan-jalan kira-kira 15 menit lagi sebelum waktu berbuka menuju ke tempat
kendaraan yang sudah menunggu, kalaupun kita bertemu dengan orang lain (siapa
saja) sudah tentu mereka tidak mempunyai perhatian apa-apa, karena pada
saat-saat hampir berbuka itu, perhatian mereka tertuju dan terbayang
semata-mata tentang persediaan makanan yang ada dirumah. Jadi persis pada
saat-saat itulah kami berjalan masing-masing satu persatu menuju ke kendaraan
yang sudah menunggu ditepi jalan, dimuka kantor Ipeda sekarang. (waktu itu
disitu sangat sepi sekali dan gelap).
Kami semua
sudah berada ditempat kendaraan kecuali Syamaun Gaharu. Sebab dirumah Syamaun
ada seorang polisi juga. Untuk dapat keluar dengan bebas, kami sudah berikan
suatu akal padanya, supaya menyuruh beli rokok kaleng merk luar negeri pada
polisi itu sampai dapat dan supaya diberikan 7 wangnya yang cukup + hadiah buat
polisi itu agak besar sedikit supaya dia cari benar-benar sampai dapat. Padahal
rokok kaleng tersebut waktu itu masih sukar didapati di Kutaraja, halmana
dilakukan, hanya untuk mengulur waktu agar Syamaun Gaharu dapat keluar dengan
bebas. Begitu polisi tadi pergi, maka Syamaun Gaharu pun keluar menuju ke Kendaraan.
Kami semua pakai uniform tentara. Syamaun Gaharu duduk disamping supir dan kami
berempat duduk dibelakang. Dimuka kendaraan dipasang bendera Komandan Divisi,
waktu itu, kalau tidak salah, benderanya warna kuning dan gambar hati
ditengah-tengahnya?
Jadi
penumpang kendaraan itu ialah:
Syamaun
Gaharu Kolonel
T.A Hamid
Azwar Mayor
T Mohd
Syah Mayor
Said Usman Mayor
T.A
Hamdani Letnan Satu
Supirnya
Rabu dan Andal
Montirnya
Basiman
Perlengkapan-perlengkapan
yang dibawa :
Makanan-makanan
dalam kaleng
Rokok dan
minuman-minuman dalam kaleng
Kopor
pakaian masing-masing
Senjata
pistol ada 3 pucuk dan alat-alat kendaraan (serapnya) cukup semua.
Kira-kira
persis sedang waktu berbuka, kamipun start melalui jalan Jambo Tape-Taman
Pahlawan-Jalan Neusu-melalui jalan muka halaman bangunan Listrik Neusu-Jalan
raya yang menuju ke Lhoknga.
Yang kami
sedikit sangsikan, ialah kalau-kalau sampai dipos jaga Lhoknga. Tetapi karena
perhitungan kami memang sudah matang sekali dan waktunya sedang berbuka puasa,
sudah tentu penjaga pos tersebut juga sibuk dengan makan-makan dan pasti dia
agak lengah waktu itu. Dan yang jaga itupun adalah tentara yang belum terlatih
sama sekali dan apa arti jaga itupun dia belum tahu. Yang dengan pertolongan
Allah SWT, memang pos jaga di Lhoknga kosong dan auto kamipun seolah-olah
seperti terbang saja melewati pos itu.
Sesudah
melewati pos Lhoknga, perasaan kami sudah sedikit lega dan dengan kecepatan
tinggi auto berjalan terus dengan aman cukup waspada, kalau-kalau ada rintangan
lain. Kira-kira sampai ditanjakan gunung kulu, kebetulan dari hadapan kami ada
sebuah auto yang berhenti karena mogok karena jalan agak sempit, auto kamipun
berjalan pelan-pelan dan tiba-tiba datang seorang yang kami kenal yaitu anggota
PT dari Aceh Barat dan dia berasal dari montasik, diapun menegur kami dengan
sebutan Merdeka! Saya jawab Merdeka! Dan dia Tanya mau kemana pak, saya jawab
mau ke Meulaboh, tolonglah Autonya itu digeser sedikit kepinggir, agar bisa
kami lewat, kata saya, menurut penglihatan kami anggota PT itu nampaknya ada
sedikit curiga, kelihatan dari pandangannya waktu berhadapan muka dengan kami.
Tapi diapun tidak tanyakan lebih lanjut. Lewat dari situ kami telah masuk
daerah Lamno dan kami kejar ke rakit Lam Besoe, setelah menyeberang barulah
kami dapat bernapas dengan lega dan benar-benar merasa aman.
Kami
berangkat lagi, hanya satu kali bocor ban dan kemudian kira-kira pada jam 6
pagi kami baru sampai di Meulaboh dan terus kerumah sdr Wahab Makmur, selaku
komandan Resimen Meulaboh waktu itu. Diapun agak terkejut melihat kami
tiba-tiba telah berada dirumahnya. Kami ceritakan sedikit tentang rencana kami
sambil makan pagi dirumahnya. Diapun menyokong sepenuhnya. Dan kami mintak
kesediaannya pda itu hari juga mengadakan latihan perang-perangan di meulaboh
dari yang penting agar sentral telepon segera dikuasai serta memutuskan
perhubungan. Ini maksudnya supaya kalau ada telepon dari Kutaraja, buat
sementara tidak dapat dilayani, sambil memberi waktu kepada kami dalam
perjalanan menuju ke Aceh Selatan (Tapak Tuan). Waktu berangkat dari meulaboh,
memang ada beberapa anggota PT yang berada dijalanan melihat kami dalam
kendaraan.
Sampai
disatu tempat penyeberangan yaitu namanya Kroung Baro? Kebetulan auto kami
tidak bisa lewat karena air pasang besar dan jembatan disitu sudah rusak jadi
harus masuk dalam sungai kalau mau lewat ke seberang. Secara kebetulan saja dan
memang semua itu adalah atas kehendak Allah SWT, diseberang sana telah ada pula
satu kendaraan lain yaitu mobil penumpang yang mau kembali ke Tapak Tuan. Kamipun
berpisah dengan kawan-kawan kami yang setia itu, yaitu sdr Rabu, Andal dan
Basiman dengan saling meneteskan airmata dan sungguh sangat terharu sekali
waktu itu.
Sebab
rencana semula, kendaraan yang kami bawa itu akan dipakai terus sampai ditempat
tujuan, melalui jalan Runding ke Aceh Tenggara dan terus ke Medan, tapi karena
terhalang disitu, terpaksalah mereka kembali dengan sangat sedih sekali kami
telah berikan nasehat-nasehat pada mereka apa dalam pemeriksaan nanti dapat
menjawab dengan tepat, sehingga mereka terhindar dari suatu tuduhan.
Kamipun
naik mobil penumpang tersebut dan dengan selamat tibalah di Tapak Tuan,
komandan batalyon di Tapak Tuan adalah Habib Muhamad Syarif (sekarang Letkol Purnawirawan).
Kamipun menceritakan sesuatunya yang terjadi diKutaraja. Kami disambutnya
dengan baik dan gembira sekali. Waktu itu ialah pada 29 hari puasa dan besoknya
Hari raya. Pada malam hari sambil istirahat, kamipun ceritera lagi tentang coup
yang dilakukan oleh TPR, karenanya kami mau berangkat terus ke Prapat menghadap
Panglima Sumatera (General Mayor R Suharjo Harjowarjoyo) dari itu lebih baik
kami berangkat besoknya. Kami tidak diizinkan berangkat dan tinggal beberapa
hari di Tapak Tuan, dan segala resiko saya tanggung katanya. Saya tidak tahu
kalau sekarang Husin Yusuf jadi Divisi Komandan di Kutaraja karena tidak ada
hitam atas putih dimeja saya.
Yang saya
ketahui sdr Syamaun Gaharulah selaku Divisi komandan sekarang. Tidak usah
takut-takut saya jamin keselamatan sdr-sdr kira-kira begitulah yang saya masih
ingat kata-kata yang diucapkan oleh habib Muhamad Syarif waktu itu. Kemudian
kami nyatakan padanya, bahwa sambutan habib itu sangat kami hargakan, akan
tetapi, walau bagaimanapun mereka sekarang berkuasa dan untuk menghindari
pengejaran terhadap kami, baiklah kami tinggal disini untuk 2 malam saja.
Besoknya
pada hari raya, chusus untuk pesta kecil dengan kami, Habib sudah menyuruh
potong seekor kambing dan pengurusannya diatur oleh seorang opsir namanya
Amiruddin. Kemudian dengan sebuah kendaraan (Motor barang) yang sudah tua
sekali, dari batalyon dan diantar oleh seorang opsir namanya Iskandar kamipun
berangkat menuju bakongan. Akan tetapi kami tidak dapat terus dengan motor
tersebut karena disuatu tempat ada jembatan rusak dan terpaksa kami turun
disitu. Sdr Iskandar mencari 2 buah sepeda untuk pengangkut barang-barang kami
dan sambil mendorong speda tersebut berganti-ganti sejauh kira-kira 30 Km.
berjalan kaki.
Bagaimana
letihnya kami waktu itu dan sebentar-bentar kami berhenti cari air minum
ditelaga yang berada ditepi-tepi hutan bakau ditepi jalan. Badan kami basah
kuyub dengan keringat karena jalan didaerah itu memang ditepi pantai jadi kalau
speda itu didorong, kadang-kadang bukan maju tapi bannya masuk kedalam pasir,
apalagi barang-barang kamipun sedikit berat. Walaupun demikian kami toch selalu
dalam gembira. Kira-kira pada jam 5 sore, kamipun telah sampai dari jauh, kami
lihat sepasukan tentara (TRI) berdiri dalam barisan.
Rupanya
pasukan itu, ialah sebagai penghormatan menyambut kedatangan divisi komandan ke
Bakongan. Sesudah itu, kamipun dibawa ke Asrama(rumah) yang memang sudah
dipersiapkan lebih dahulu untuk menerima kami. Kami disajikan minuman dan
diberitahukan dimana kamar tidur, kamar mandi dan sebagainya, sesudah maghrib,
kamipun dibawa untuk bersantap malam disuatu tempat yang sudah disediakan
secara baik sekali.
Menurut
penyelidikan kami rupanya oleh Habib memang sudah ditelepon lebih dulu tentang
kedatangan Divisi komandan dan staf akan datang ke Bakongan. Dari itulah maka
terjadi penyambutan yang meriah terhadap kami.
Mereka
tidak ketahui tentang keadaan kami yang sebenarnya, sambil duduk-duduk dengan
para opsir-opsir disitu, Syamaun Gaharu menerangkan, sebenarnya kami dengan
auto sendiri mau mengadakan inspeksi ke daerah ini, tapi karena jembatan rusak,
maka terpaksa jalan kaki.
Maksud
kami ialah untuk meninjau dari dekat keadaan-keadaan didaerah ini dan kami akan
berangkat terus ke Singkil. Yang saya masih ingat, diantara tentara yang
mengambil kami dibakongan itu, ada seorang yang saya kenal namanya Zulyaden
daripada waktu jalan pernah diangkat jadi perwakilan pemerintahan di Sinabang.
Besoknya
maksud kami terus mau berangkat lagi dan pada malamnya kami suruh lihat-lihat
ke pelabuhan, apakah mungkin ada perahu layar (Pencalang) yang menuju ke
Singkil. Kebetulan saja, memang seperti telah disediakan dan ada satu pencalang
yang mau berangkat ke Singkil besok, memang telah ditakdirkan Allah SWT,
sehingga perjalanan kami tidak pernah terhalang dan seperti sudah diatur. Kami
tidak pernah terhalang dan seperti sudah diatur. Kami hanya menyediakan bahan
makanan mentah (beras, ikan asin, kopi dan gula) dan besoknya berangkatlah naik
pencalang menuju ke Singkil. Sebelum tiba disingkil, kami mendarat disatu
kampong dan daerah itu dipimpin oleh seorang kepala negeri atau camat kalau
sekarang. Jadi kami tidak jadi melalui laut lagi dan bermalam dirumah camat itu
(saya lupa namanya) kami diladeni seperti tamu terhormat dan ramah sekali.
Besoknya
setelah makan pagi kami berangkat lagi dengan 3 buah sampan, melalui tali air
yang berliku-liku melalui hutan-hutan dan kira-kira pada jam 5 sore, kami
sampai disungai Singkil yang lebar dan nampaknya agak ngeri. Dari sungai
Singkil kira-kira setengah jam didayung sampailah kami dipelabuhan (boom)
Singkil yang sudah usang, kamipun terus mendarat dan menuju kerumah komandan
tentara disingkil waktu sampai disitu, kebetulan pula sdr Nyak Adam Kamil telah
berada disitu.
Rupanya
dia dalam urusan tugas ke Singkil waktu malamnya sedang kami duduk-duduk
tiba-tiba datang beberapa orang tamu, ingin bertemu dan berkenalan dengan kami,
yaitu dari instansi kepolisian dan kejaksaan daerah Singkil. Kami sedikit
terkejut juga, dan kami sangka ada urusan yang berhubungan dengan kepergian
kami itu. Rupanya tamu itu hanya sebagai satu kehormatan, ingin bertemu dengan
komandan Divisi dan kamipun berbicaralah secara biasa.
Pada malam
itu juga kami suruh lihat ke pantai, mungkin ada pencalang yang mau ke Sibolga,
kebetulan saja memang sudah ada 1 pencalang disitu dan tujuan ke sibolga. Disinipun
satu hal yang memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Kami hanya disuruh
sediakan bahan-bahan makanan untuk 3 hari lamanya. Besoknya kira-kira jam 8
pagi kamipun berangkatlah dengan pencalang itu.
Muatan
pencalang hanya daun nipah (daun rokok) dan lain-lain. Sedang penumpangnya
hanya kami 5 orang. Jadi semuanya 7 orang dengan juru mudi dan pembantunya.
Kira-kira pada sore hari kami sampai disatu pulau tempat singgahan
perahu-perahu seperti halnya (terminal bus) dan kami menginap disitu. Pulau itu
sungguh indah, pasirnya putih dan banyak tumbuh kelapa-kelapa yang berjatuhan.
Disitu telah ada juga 2 buah perahu lain yang lebih dulu singgah dipulau itu.
Besoknya
setelah sarapan pagi, udara sangat cerah dan baik sekali maka oleh pak juragan
menanya pada kami, apa kita berangkat? Kami tentu tidak mengetahui tentang
keadaan laut, tentu saja setuju untuk berangkat apalagi udaranya memang baik
sekali. Kira-kira 15 menit baru keluar dari pulau itu, tiba-tiba saja dengan
tidak diduga-duga udarapun kembali menjadi gelap dan turunlah hujan lebat dan
badaipun datang serta gelombangpun mulai mengganas.
Jurumudi
kami jadi panic karena pencalang sudah dihantam gelombang dari kiri kekanan da
iapun perintahkan kami supaya menimbang perahu dan cari keseimbangan agar
pencalang jangan berat sebelah. Pendeknya suasana benar-benar telah sangat
menakutkan, karena kami tidak dapat melihat apa-apa selain menghadapi gelombang
yang semakin dahsyat sekali.
Sebenarnya
kami belum jauh dari pangkalan tadi, tetapi karena tak tentu arah lagi dan
sangat gelap pula, maka kami diombang-ambing terus sehari suntuk dan achirnya
kira-kira pada jam 5 sore, barulah keadaan sedikit reda dan kami rupanya sudah
dekat dengan pulau sorkam. Pencalang kami berhenti dan berlabuh dekat pantai.
Kami Tanya pada juru mudi apa kita bisa mendarat ke Sorkam. Bisa katanya dan
kira-kira setengah jam berperahu sampai ke pantai sorkam. Kalau begitu cobalah
diperiksa dulu ke pulau itu apa ada orang. Kebetulan disitu ada 2 orang dan
dengan 2 perahunya sudah penuh muatan kelapa dan mau kembali besoknya ke
Sorkam. Kamipun mintak pada juru mudi supaya diturunkan disitu saja, kamipun
membayar ongkos pencalang dan dengan perahu kecil kami diantar kepantai pulau
itu. Setiba disitu kami terus menjumpai 2 orang yang ada disitu dan mintak
bantuan agar kami mau dibawa ke sorkam.
Katanya,
perahu kami sudah penuh dengan buah kelapa bagaimana. Begini kata kami, buah
kelapa itu kalau dijual berapa harganya semua, barulah kami bayar harganya itu
dan bongkar saja dulu, antar kami kedarat. Nanti terserah apa sdr-sdr mau ambil
lagi kelapanya, sesudah diantar kami. Orang itupun tentu sangat senang. Pada
malam itu kami hanya makan nasi tok campur dengan kelapa tanpa garam, karena
persediaan orang itupun sudah habis semua, untung ada sisa beras sedikit. Dan dipulau itu
katanya banyak ular, jadi kalau tidur nanti harus dipasang api didekat kita
kami dimalam itu tidak bisa tidur, mana perut rasa lapar dan takut ular lagi.
Besoknya
berangkatlah kami dengan perahu itu kedarat, sampai didarat, disitu ditepi
pantai, kebetulan ada warung nasi kecil-kecilan, kamipun makanlah
sekenyang-kenyangnya sambil istirahat sebentar dan menanyakan keadaan disitu
pada salah seorang yang kebetulan orang itu juga sengaja menemui kami untuk
berkenalan. Kemudian kami mintak supaya ditolong membawa kami menjumpai kepala
pemerintah di Sorkam. Saudara itupun terus dengan senang hati membawa kami dan
sampai bertemu dengan kepala pemerintahan tersebut yaitu camat sorkam.
Kamipun
tinggal dirumah camat dan bermalam disitu. Dalam pembicaraan dengan camat kami
sengaja lebih memperkenalkan dan menjelaskan diri kami. Karena sepintas lalu
nampaknya dia ada menaruh kecurigaan, karena yang menjadi pertanyaan baginya,
mengapa kami mendarat dari satu pulau.
Dan dari
pihak orang yang membawa kami tadi rupanya dia sudah melaporkan juga pada alat
Negara yang berada di Sorkam (TRI). Jadi kira-kira mereka menyangka bahwa kami
ini menyamar sebagai anggota TRI dan
mereka duga kami ini adalah dari pihak NiCa.
Perhubungan
dari Sorkam ke Sibolga hanya dengan kendaraan (bus) tetapi inipun jarang-jarang
ada bus yang datang kesitu. Karena kami telah hamper seminggu tinggal di
Sorkam, dan keterangan-keterangan yang didengar dari kami, semakin jelas bagi
camat dan iapun tidak mencurigai lagi bagi kami, hanya bagi TRI yang berada
disorkam itu, masih mengawasi kami secara tidak langsung dan dia sudah
melaporkan ke sibolga dan dari sibolga supaya memerintahkan supaya kami harus
tetap tinggal di sorkam. Maksudnya mereka dari sibolga akan datang ke sorkam
untuk membekuk kami. Dan orang yang membantu kami dipantai itu rupanya
mata-mata.
Pada suatu
waktu pernah Syamaun Gaharu pergi menjumpai pak Dr F.L Tobing yang kebetulan
rumahnya tidak jauh dari sorkam arah ke sibolga. Sebab dia mempunyai kendaraan
pribadi. Tapi hasilnya gagal. Dalam pada itu datanglah sebuah bus ke Sorkam,
kamipun bersiaplah untuk berangkat, tapi oleh anggota tentara yang mengawasi
mintak supaya kami jangan berangkat dulu, nanti akan dijemput katanya, tidak
usah dijemput, biarlah dengan bus itu saja dan sdr boleh ikut bersama ke sibolga.
Sebenarnya selama di sorkam, kami dapat rasakan, bahwa kami secara tidak
langsung adalah sebagai tahanan mereka. Alhasil kami dan 2 orang anggota
tentara turut bersama-sama dalam bus berangkat menuju ke sibolga, sampai
ditengah jalan, bus itu distop oleh rombongan tentara yang datang dari sibolga
dengan kendaraannya.
Kamipun
turun dan semua dengan pakaian militer. Melihat kami dalam keadaan demikian,
kepala rombongan yang dari sibolga tadi terus saja memberi hormat, dan sambil
marah-marah diapun memanggil 2 orang tentara tadi dan dimarahin lagi. Katanya
kenapa kami tidak jemput bapak-bapak ini, apa kamu tidak turut perintah. Untuk
menghindari kemarahan mereka itu kamipun mencampuri persoalanyannya dengan
menyatakan bahwa dia tidak bersalah, kami yang mau naik bus ini. Tak usah
dimarahi dia lagi, marilah kita berangkat terus ke sibolga nanti disana kita
bicara lebih lanjut. Sampai ke sibolga bus tadi kami suruh berhenti dimuka
kantor PT (Polisi Tentara) di Sibolga.
Kami semua
masuk dalam kantor dan menjumpai kepala PT dan disitu kami jelaskanlah tentang
diri kami dan tentang situasi yang terjadi di Aceh. Pendeknya kami ceriterakan
sevara terus terang semuanya kepada PT tadi. Dan untuk lebih mendekatkan
perhatiannya kepada kami, pernah kami Tanya padanya apakah dia kenal seorang
bernama A. Muzakkir Walad yang dulu pernah mengikuti sekolah PT di Bukit
Tinggi. Kebetulan sekali katanya, bahwa sdr itu sama-sama disekolah itu
katanya.
Dan sdr A
Muzakkir Walad bahkan yang paling pandai disekolah dulu. Kemudian diapun telah
memahami dan percaya penuh apa yang kami terangkan itu. Dan kepala PT itupun
adalah keturunan orang baik-baik pula. Setelah selesai pembicaraan, kamipun
mintak tolong mencari tempat (hotel) untuk menginap dan atas tanggungan kami
sendiri. Diapun memerintahkan pada seorang PT untuk mengurus kami sampai beres.
Kamipun
menginap disebuah hotel dan istirahat disitu kira-kira seminggu lamanya, sambil
memikirkan bagaimana caranya untuk pergi ke Prapat. Waktu itu dari sibolga ke
Prapat banyak sekali rintangan, kalau kami sendiri yang pergi tidak mungkin
bisa tembus. Karenanya kami buatlah rencana baru lagi yang kira-kira akan
berhasil baik. Waktu itu komandan resimen di Sibolga ialah Mohamad Din. Kamipun
pergilah menjumpai dia dirumahnya sambutannya kurang menyenangkan dan angkuh.
Kamipun kembali ke Hotel dan kemudian menjumpai lagi kepala PT. kami mintak
supaya diberikan 2 orang anggota PT guna membawa kami ke prapat untuk
menghindari pemeriksaan dijalan-jalan oleh pos-pos tentara atas diri kami, maka
selama dalam perjalanan itu, anggap saja kami ini seorang tahanan yang akan
diserahkan ke komando sumatera diprapat, jadi tegasnya 2 orang PT itu atas
perintah kepala PT sibolga, pergi ke prapat membawa 5 orang tahanan untuk
diserahkan kepada komando sumatera.
Dan
senjata kami, kami serahkan pada PT tadi, segala ongkos-ongkos dan wang makannya,
kami yang tanggung semua. Demikianlah rencana yang kami atur dan kesemuanya itu
disetujui oleh kepala PT sibolga. Dengan menyewa sebuah kendaraan, kamipun
berangkatlah menuju ke Prapat. Sampai disiborong-borong, PT tadi pergi melapor
pada komandan pasukan disana dan sampai 2 jam lebih mereka berurusan, barulah
selesai dan terus berangkat.
Rupanya
menurut PT itu mereka hendak mengambil senjata yang kami serahkan itu tadi tapi
dipertahankannya dengan cukup alasan. Sampai di balige, kami mintak diturunkan
oleh komandan pasukan disitu dan setelah dilihatnya, kamipun dibenarkan
berangkat. Disini kami sedikit gentar juga, karena kami lihat mereka itu rambut
panjang, pakai kalung dileher dan nampaknya agak angker sedikit.
Kamipun
sampai di Prapat dan langsung masuk ke komplek komando sumatera, tetapi sayang
sekali karena bapak Jenderal Mayor R Suharjo Harjowarjoyo tidak ada ditempat,
sudah pergi ke Tanjung Karang (Sumatera Selatan) dan wakilnya Pak Hasan Kasim
juga sudah pergi ke Aceh mengikuti rombongan Pak A.K Gani. Oleh karena itu,
terpaksa kami teruskan ke Pematang Siantar. Kami terus melapor pada komandan Divisi
yaitu Hackman Sitompul dan kepala komandan PT Ahmad Taher (sekarang Menteri)
kedua-duanya adalah kawan baik kami waktu di Giyugun dahulu.
Kami
tinggal dipenginapan menyewe 2 kamar dan istirahat di Siantar sambil menunggu
kembalinya pak Hasan Kasim dari Aceh. Selama di P. Siantar kami pergi menjumpai
pak gubernur Mr Hasan dan senjata kami jual padanya untuk tambah belanja kami.
Kira-kira 15 hari kami di Pematang Siantar, kembalilah rombongan pak Dr A.K
Gani dan istirahat di P.Siantar. kamipun menghadap dan hal-hal yang akan kami
bicarakan telah disusun oleh Pak Syamaun Gaharu diatas kertas untuk diserahkan
nanti waktu hari pertama, kami hanya dapat bertemu dengan pak Dr A.K Gani dan
diterima dengan baik. Setelah diserahkan kertas tadi hanya yang ditanya, kena
apa T Nyak Arif dibunuh di Aceh, oleh Syamaun Gaharu diberilah beberapa
penjelasan dalam rangka meninggalnya T Nyak Arif.
Kemudian
katanya lagi, ini hari Pak hasan kasim tidak ada, kembalilah besok pagi lagi.
Besoknya kami kembali dan kebetulan kedua beliau-beliau itu ada disitu. Tanpa
banyak bicara oleh pak Dr A.K. Gani terus member perintah, sdr-sdr semua bekerja
kembali, Syamaun Gaharu, T.A Hamid Azwar dan T. Mohd Syah pindah ke Sub
Komandemen I di Palembang dan Said Usman dan T.A Hamdani pindah ke sub
komandemen II di Bukit Tinggi.
Berangkat bersama-sama rombongan pak Gani
begitulah perintahnya dengan lisan kepada kami dan besok kita berangkat. Tak
usah bawa pakaian banyak-banyak disana banyak pakaian, kata pak Gani lagi
kepada kami. Kamipun berangkatlah bersama dengan rombongan yang diatur oleh
seorang PT dan Palembang namanya Ahmad Malaiya.
Dalam
perjalanan singgah di Padang Sidempuan dan terus ke Bukit Tinggi, mayor Said
Usman dan Hamdani tinggal di Bukit Tinggi, pada Sub Komandemen II. Kira-kira 2
malam di bukit Tinggi berangkat lagi menuju ke Lahat dan waktu rombongan
singgah di Muara Tebo, bertemu dengan rombongan General mayor R Suharjo
Harjowardoyo. Setelah melaporkan diri kepadanya, maka Syamaun Gaharu dan T.A Hamid Azwar turut bersama rombongan
Pak Harjo ke Jambi dan saya sendiri terus dengan rombongan Pak Gani. Rombongan
Pak Gani menginap 1 malam di Muara Tebu besoknya terus berangkat menuju ke
Lahat. Dari lahat dengan kereta api ekstra menuju ke kreta pati dan dengan
kapal melalui sungai musi terus ke station kota di Palembang. Selama dalam
perjalanan banyak juga tempat-tempat yang diadakan pidato-pidato oleh pak Gani.
Waktu sampai di Station Kerta Pati, penyambutan disitu sangat meriah sekali,
kira-kira seperti menyambut disitu sangat meriah sekali. Kira-kira seperti
menyambut kedatangan presiden, padahal beliau hanya kembali ke posnya di
Palembang. Kebetulan saja waktu saya melihat-lihat keliling diantara para
opsir-opsir TRI yang dalam barisan disitu saya lihat beberapa orang yang saya
kenal yaitu Letnan Kolonel Barlian, dan Letnan Kolonel A Bunyani.
Kedua-duanya
adalah pernah dikirim ke Singapore oleh jepang dulu dalam mengikuti sekolah
syonan Kda Kunrenzyo, selama 3 bulan lamanya, jadi kami memang sudah berkenalan
selama sama-sama disana. Sampai di Palembang saya disuruh istirahat dulu
dirumah Pak Gani sendiri.
Setelah
beberapa hari disitu, baru datang T.A Hamid Azwar dan Syamaun Gaharu, karena
kami lihat dirumah Pak Gani itu sangat bebas sekali, kamipun merasa kurang enak
dan kami pindah ke penginapan. Saya ditempatkan di Staff Sub Komandemen I dan
TA Hamid Azwar dibahagian Intendance. Sedangkan Pak Syamaun Gaharu selalu
bersama Pak Suharjo melakukan Inspeksi. Sebagai komandan Sub Komandemen I ialah
Kolonel M Simbolon.
Beberapa
bulan kemudian Palembang diserang oleh Belanda dan terjadi perlawanan dengan
TRI dalam suasana pertempuran itu, sebenarnya dari pasukan belanda telah pernah
mintak perdamaian, tetapi dari pihak kita tidak begitu mengacuhkan, hal mana
ialah dari desakan-desakan dari organisasi-organisasi yang berada di Palembang
mengusulkan pada Panglima supaya hantam terus saja, padahal, mereka itu hanya
omong besar saja, sedang persediaan, kita mengenai persendjataan dan
perlengkapan lain-lain telah semakin berkurang, lebih-lebih tentang amunisinya.
Alhasil
kemudian, dari pihak kita pula yang mintak perdamaian dan dari pihak belanda
pun tentu lebih licik dan disuruh pimpinan kita menjumpai mereka dengan
mengibarkan bendera putih untuk berunding. Keputusannya kita harus mengosongkan
daerah Kota Palembang dan mundur ke Lahat setelah beberapa bulan berada di
Lahat, timbul lagi klets dengan belanda dan kita mundur lagi ke lubuk linggau.
Syamaun
Gaharu, waktu itu telah berada di Lampreng, memimpin resimen disana, selama
bermarkas di Lahat, tentara kita terus bergerak bergerilya dihutan-hutan dan
setelah markas kita berada di Lubuk Linggau, kami dapat chabar bahwa colonel
Bambang Oetoyo selaku Komandan Divisi VIII Palembang telah cedera tangannya,
waktu mencoba tes sebuah granat tangan yang dibuat sendiri oleh kita.
Selama
dalam perawatan dirumah sakit lubuk linggau, banyak juga dibantu oleh Dr Ibnu Sutowo
yang waktu itu beliau termasuk staf sub komandemen I. kami sudah saling
kenal-mengenal, karena sama-sama staf komandemen I.
Selama
dilubuk linggau saya sudah ditugaskan sebagai kepala sub SK IIa sektor Daerah
Divisi VIII Palembang terhitung mulai 1 september 1947 saya selalu bolak balik
dari Lubuk Linggau ke Jambi mengurus perlengkapan Tentara, karena Jambi
ditetapkan sebagai pusat pembelian.
Suasana
pertempuran dengan Belanda berjalan terus dipedalaman daerah Palembang karena
merasa capek sekali, apalagi selama saya bertugas di intendance itu tidak ada
istirahat, siang malam jalan terus dengan sebuah auto tua, bahkan saya terbalik
disatu tempat untung saja tidak mendapat cedera, maka sayapun mintak cuti dan
pergi ke bukit tinggi, apalagi sudah kangen sekali ingin pulang ke aceh. Saya
buat permohonan pada panglima komandemen sumatera waktu itu dijabat oleh pak
General Mayor R Sutopo dan permohon saya diperkenankan.
Saya
diberi cuti selama 3 bulan dan pada tgl 15 april 1948 saya berangkat kembali ke
Aceh dengan menumpang kendaraan dari bukit tinggi sampai Sibolga. Kemudian dari
sibolga menumpang dengan perahu pencalang ke Aceh. Bersama saya kebetulan ada
pula seorang yang baru pulang dari Idi namanya Abdurrahman dan seorang lagi
dari bukit tinggi yaitu Ahmad Abdullah.
Suasana
dilaut, waktu itu belum aman betul, karena masih selalu saja tentara belanda
mengganggu dimana-mana. Akan tetapi demi panggilan untuk pulang menemui anak
isteri saya yang sudah 1 tahun lebih saya tinggalkan, saya nekad saja
mengarungi lautan dengan pencalang pakai layar. Tetapi saya sudah sedia 2 buah
kopor, 1 untuk pakaian preman dan 1 lagi pakaian militer. Kalau ada pencegatan
oleh belanda, koper pakaian militer akan saya lenyapkan ke laut demikian
rencana saya. Kebetulan keadaan dilaut aman saja dan pencalang kami berlayar
dengan cepat karena angin baik sekali.
Berangkat
dari sibolga pada waktu malam dan pada jam 4 sore besoknya kami singgah disuatu
tempat kira-kira 4 km jauhnya sebelum Meukek. Kami turun disitu dan berjalan
kaki ke Meukek, sebelumnya, kami sampai di kantor kecamatan dan menginap disitu
1 malam.
Besoknya
kami terus menuju ke kota meukek dan dengan kendaraan bus terus menuju ke kota
meukek dan dengan kendaraan bus terus ke meulaboh. Sampai di Blang Pidie, kami
tidak dapat meneruskan perjalanan, karena waktu itu sedang hebatnya pertempuran
antara Raja Tampak dengan Tentara kita. Saya menemui Habib Mohamad Syarif di
Blang Pidie, karena dia adalah sebagai pimpinan dari pasukan kita yang
menghadapi Raja Tampak tersebut. Menurut Habib, katanya tak usah buru-buru
pulang, nginap di Blang Pidie dulu beberapa hari lamanya, karena situasi dalam
perjalanan belum mengizinkan. Kamipun pernah dijamu makan dirumahnya di Blang
Pidie, sesudah keadaan agak reda sedikit, kamipun boleh berangkat, dan sampai
di Lam Ze (markas pos TRI) kami menginap disitu 2 malam, kemudian dengan
diantar oleh 2 orang prejurit menumpang kendaraan umum baru kami berangkat dari
Lam Ze menuju ke Meulaboh. Dengan perlindungan dari ALLAH SWT mudah-mudahan
selama dalam perjalanan tidak terjadi apa-apa dan kira-kira pada jam 10 pagi
kami tiba di Meulaboh setelah satu malam dalam perjalanan.
Saya terus
menuju ke kantor resimen meulaboh dan bertemu dengan Mayor T Manyak kepadanya
saya mintak bantuan untuk menyuruh antar saya dengan autonya ke Kutaraja. Pada
malam itu saya menginap dirumah Kapten Ibrahim Hatta sebagai kepala staff
resimen, besoknya saya berangkat menuju ke Kutaraja. Sesampainya di Lamno saya
telepon kepada sdr Hasballah komandan Resimen Kutaraja untuk tolong dikabarkan
kerumah saya bahwa saya sudah kembali kira-kira pada jam 6 sore saya sudah
sampai dirumah di kampong jawa.
Bagaimana
terharunya perasaan saya waktu bertemu dengan anak dan istri saya yang sekian
lama ditinggalkan tidak dapat dilukiskan disini. Sebenarnya isteri saya
benar-benar sangat tabah dan sabar menanti saya kembali, walaupun selama
ditinggalkan cukup menderita lahir batin. Syukur saya panjatkan kepada ALLAH
SWT yang telah melindungi hambanya yang demikian sabar itu.
Selama
kami berangkat keluar daerah Aceh, pernah juga dari pihak mereka mengadakan
propokasi bahwa kami sudah ditangkap lagi. Katanya setelah beberapa lama saya
istirahat, sambil mengunjungi kawan-kawan lama yang saya tinggalkan, saya
mendengar berita, bahwa Panglima komandemen sumatera dengan rombongannya akan
tiba di Kutaraja. Sayapun ingin menemuinya mau mintak pindah ke Kutaraja.
Permintaan
saya dikabulkan dan dengan siap. Panglima Divisi X TNI komandemen Sumatera
tanggal 21 Juni 1948 no DX-158/SP/1948 yang ditandatangani oleh kepala staf
(Kolonel H Sitompul) saya ditempatkan dalam staf resimen II dan berfungsi
sebagai kepala staf Resimen. Sebagaimana telah diterangkan bahwa, setelah
dilakukan Coup itu oleh TPR. Maka pimpinan Divisi V berpindah ke tangan Kolonel
Husin Yusuf sebagai komandan Divisi V Kutaraja.
Pada masa
itu telah berdiri pula barisan-barisan pejuang bersenjata diantaranya :
Divisi
Rencong Komandannya Nyak Neh Lhoknga
Divisi
Mujahidin Komandannya CikMat Rahmany
Divisi
Paya Bakong Komandannya Husin Al Mujahid
Dalam awal
tahun 1947 Divisi V berubah menjadi Divisi Gajah I, kemudian Divisi Gajah I dan
Divisi Gajah II diconsolider menjadi 1 Divisi yaitu Divisi X TRI staf divisi
berkedudukan di Bah Jambi (Pematang Siantar)
Susunan
staf sebagai berikut :
Komandan
Divisi : Kolonel Husin Yusuf
Kepala
Staf : Kolonel H
Sitompul
Komandan
Resimen I : Letkol Jamin Ginting
Komandan
Resimen II : Letkol Kasim Nasution
Komandan
Resimen III : Ricardo Siahaan
Komandan
Resimen IV : Letkol Hasballah
Komandan
Resimen V : Letkol Cut Rachman
Komandan
Resimen VI :Letkol A Wahab Makmur
Komandan
Artileri : Letkol Nurdin Sufi
Pada
pertengahan tahun 1947, yaitu masa agresi pertama, divisi X TRI pecah, resimen
II dan III pindah ke Tapanuli. Anggota dan Divisi X yang dapat mengundurkan
diri arah ke Aceh, menyusun kembali kekuatannya dan dengan demikian staf divisi
mempunyai bentuk susunan baru yaitu :
Komandan
Divisi : Jenderal Mayor Tgk
Mohd Daud Bereueh, tevens Gubernur Militer Aceh dan Tanah Kalo
Kepala
Staf : Kolonel H
Sitompul
Komandan-komandan
Resimen tetap sebagai semula, terkecuali Resimen II dan III yang telah masuk
daerah Tapanuli, dalam agresi ini dibentuk komando sector barat, utara (KSBD)
di medan area dengan komandannya Mayor nyak Adam kamil. Pada tanggal 1-2-1948
diadakan seleksi dalam tentara dan penurunan pangkat setingkat dari letnan dua
keatas, kemudian terjadi penggabungan Tentara dan Laskar menjadi Divisi X TNI
(Tentara nasional Indonesia)
Dengan
gabungan yang terjadi ini divisi X TNI terbentuk lagi dengan susunannya yang baru
pula yaitu:
Komandan
Divisi : Jenderal Mayor Tgk
Mohd Daud Bereueh
Kepala
Staf : Letkol Cut
Mat Rahmany
Komandan
Resimen I : Mayor Hasballah
Komandan
Resimen II : Kapten Abdurrahman (Alm)
Komandan
Resimen III : Kapten T. Manyak
Komandan
Resimen IV : Mayor Jamin Ginting
Komandan
Resimen V : Kapten Alamsyah
Komandan
Artileri : Mayor Nyak Neh
Lhoknga
Pada
tanggal 9-10-1948 diadakan Reconstruksi, rasionalisasi. Dalam masa ini, susunan
komando dan ketentuan Divisi X Berobah menjadi :
Komandan
Divisi : Tetap Jenderal
Mayor Tgk Daud Bereueh
Kepala
Staf : Letkol
Askari
Komandan
Brigade I : Mayor Hasballah,
stafnya di Bireuen
Komandan
Brigade II : Mayor Mohd Nazir,
stafnya di Langsa
Komandan
Brigade III : Mayor Jamani Ginting,
stafnya di Kotacane
Komandan Brigade
IV : Mayor Nyak Neh
Brigade
Mohd Nazir diliquider dan sebagian besar pindah ke Sumatera Timur, brigade
Jamin Ginting juga pindah ke Sumatera Timur. Pada pertengahan tahun 1950
territorium Aceh dileburkan dan dibentuklah Brigade 24 (Husin Yusuf dipecat
oleh Kolonel Kawilarang) timbang terima dilakukan oleh komandan Brigade 24
yaitu mayor Hasballah dengan Ex Komandan Territorium Aceh Letkol Husin Yusuf.
Demobilisasi dijalankan dengan teratur dan pada tanggal 1 juni 1950 Brigade
Aceh mempunyai susunan seperti berikut :
Komandan
Brigade : Mayor Hasballah
Brigade
Mayor : Mayor Husnisyah
Kapten
Staf : Kapten T.
Mohd Syah
Komandan
Batalyon I : Kapten Nyak Adam kamil
Komandan
batalyon II : Kapten alamsyah
Komandan
Batalyon III : Kapten Hasan Saleh
Perwira
Territorial : Kapten S.M Gedong
7 kompi
territorial dan 2 kompi pengawal kompi-kompi territorial tersebut ialah :
1. Kapten
T. Manyak Komandan Kompi Territorial 1/A di Meulaboh
2. Kapten
A.M Namploh Komandan Kompi Territorial 2/A di Bireuen
3. Kapten
Hasbi Wahidi Komandan Kompi Territorial 3/A di Sigli
4. Kapten
Abd Rachman Komandan Kompi Territorial 4/A di Kutaraja
5. Kapten
M Nurdin Komandan Kompi Territorial 5/A di Kutaraja
6. Letnan
1 M. Daud Hasan Komandan Kompi Territorial 6/A di Bireuen
7. Kapten
Ajad Musji Komandan Kompi Territorial 7/A di Kutaraja
Jumlah
tenaga manusia semua = 5336 orang
Brigade A
(Aceh) tersebut kemudian dinamakan Brigade CC yang susunan staff dan
kesatuannya adalah sama. Brigade CC tersebut tunduk ke T & T I Sumatera
Utara di Medan. Kemudian atas perintah dan Panglima T & T I staf brigade CC
dipindahkan ke Tarutung. Batalyon I yang dipimpin oleh Nyak Adam kamil pindah
ke Padang Sidempuan, batalyon II yang dipimpin oleh Kapten Alamsyah tetap di
Langsa dan Batalyon III yang dipimpin oleh Kapten Hasan Saleh bertugas ke
Sulawesi.
Tidak lama
saya bertugas di Tarutung, kemudian dipindahkan ke komando T & T I di medan
dan diperbantukan di Bahagian IV. Selama bertugas di T & T I saya lebih
banyak menekan perasaan karena, rumah tidak diberikan, tugas yang tertentupun
tidak diberikan dan banyak hal-hal lain lagi yang menjatuhkan wibawa saya
selaku seorang Kapten. Karenanya saya mintak pindah ke kesatuan lain ataupun
tugas di lapangan. Inipun tidak diperkenankan.
Kemudian
saya mintak berhenti dan dalam hal ini oleh Panglima M. Simbolon tidak dibenar
dan disuruh bersabar. Pada suatu hari saya menghadap kepala staf, yaitu Letkol
M MR Karta Kusuma hendak bicara sesuatunya. Waktu saya berhadapan dengannya,
penerimaannya agak kurang wajar.
BERHENTI
DARI TNI ATAS PERMINTAAN SENDIRI
Dan agak
kasar terhadap saya, karena itu sayapun terpaksa menentangnya dan terjadilah
pertengkaran, tapi kemudian pergi, tidak mau meladeni lagi. Besoknya saya ingin
bertemu lagi dengan Kepala Staf, tapi dia menghilang dan nampaknya tidak mau
meladeni saya. Sayapun datang kerumahnya, juga tidak mau diterimanya, katanya
pada pengawal berurusan di Kantor saja. Sayapun tidak mengerti mengapa dia
begitu kurang senang menemui saya. Waktu itu saya memang sudah kesal sekali dan
tanpa pikir panjang sayapun membuat permohon berhenti ataupun diberikan cuti.
Saya
diperkenankan cuti tanpa batas. Selama dalam cuti sayapun kembali ke Kutaraja
dan tinggal dirumah di kampong jawa. Untuk mencari suatu kesibukan sehari-hari
maka saya membuat suatu rencana tentang perusahaan unggas (peternakan itik dan
ayam). Sudah kira-kira 3 bulan saya dalam cuti, barulah saya terima surat
pemberhentian saya dengan hormat terhitung mulai 1 desember 1951 dengan pangkat
terakhir Kapten TNI.
Kemudian
tentang rencana pemeliharaan itik dan ayam saya lanjutkan dan dengan bantuan
dari adik ipar saya (Abdullah Masry) saya diberinya pokok kerja sebanyak Rp
15.000,- (jumlah ini waktu itu cukup besar). Dengan pokok sebanyak itu sayapun
mulailah membangun kandang-kandangnya dan membeli alat-alat yang diperlukan.
Saya punya
kawan 2 orang yaitu Abubakar Sungkar dan Abdul Jalil, kami bekerja sama untuk
membangun perusahaan tersebut. Setelah siap kandangnya, sayapun pergi ke Medan
mencari bibit Itik yang sudah besar di Padang Blarang Binjai. Sebab disitu dulu
ada orang cina piara itik besar-besaran dan waktu saya masih di Medan dulu,
sering datang kesitu melihat-lihat dan saya janjikan dengannya nanti saat-saat
saya akan piara itik juga dan saya beli bibit dari sini, bloeh saja katanya.
Rupanya
waktu saya datang kesitu, perusahaan itu sudah tidak ada lagi, hanya tinggal
kebun rambutan saja. Sayapun cari ditempat lain, tapi bibit itik yang sudah
besar memang tidak ada. Karena sudah gagal, maka saya pergi ke Centraal Pasar
Medan dan disitu memang ada satu toko chusus ditetaskan telur itik dan ayam.
Saya beli anak itik sebanyak 1100 ekor dimasukkan dalam peti-peti sebanyak 10
buah peti dan dengan kapal terbang saya bawa pulang ke Aceh. Tempat usaha saya
ialah di Pelanggahan diatas tanah kepunyaan adik saya Abdullah Masry.
Kira-kira
5 bulan saya usaha, hanya tinggal 300 ekor lainnya mati semua. Dibulan yang ke
6 barulah mulai bertelur satu-satu ekor. Karena tempat pemeliharaan itu kurang
cocok mati lagi 100 ekor. Alhasil tinggal sebanyak 200 ekor saja. Walaupun
waktu itu saya cukup merana, apalagi karena yang dua orang itu sudah undur
diri, tapi saya masih bertahan terus.
Dalam pada
itu pada suatu hari, datanglah sdr Hasan Saleh ketempat saya. Dia dalam cuti
rupanya, bicara-bicara sebentar dengan saya kemudian diapun pergi. Saya heran
juga atas kedatangannya itu dan tidak ada yang penting yang dibicarakan.
Katanya hanya melihat kawan lama.
Sesudah
itu kira-kira 1 minggu berselang, dia datang lagi menemui saya. Tapi tak ada
yang penting dalam pembicaraan kami. Saya Tanya apa mau juga piara itik seperti
saya, diapun hanya ketawa saja. Katanya sekedar melihat-lihat saja. Kalau
menurut penglihatan saya sebenarnya dia memang ada sesuatu maksud, tetapi
mungkin tidak berani membicarakan. Karena telah mulai suka meneruskan
pemeliharaan di Pelanggahan, maka perusahaan saya, diungsikan ke Tungkop pada
tanah T Sulaiman adik dari T Hanafiah Tungkop. Disitu kebetulan ada rumah yang
dalam dan tetap tergenang air. Kebetulan pula dia punya gudang tempat sale
kelapa yang kosong itik saya dimasukkan disitu sebagai kandangnya, dan pagi
hari saya lepaskan dalam sawah tadi. Selama disitu, itik saya sangat gembira
sekali, karena dia dapat makan istimewa seperti anak-anak ikan dan lain-lain
sehingga kira-kira 1 minggu saya disitu, itik sayapun mulai bertelur tiap-tiap
hari sebanyak 40 butir. Telur tersebut setelah dikumpulkan lebih banyak maka
saya asinkan sendiri. Permasarannya saya bawa pulang kerumah di Kampong Jawa
dan orang-orang kampong sangat suka membelinya, karena telur saya itu dijamin
baik. Jadi tidak sempat dibawa ke pasar dikampungpun sudah habis.
Sebenarnya
ditinjau dari sudut perusahaan saya sudah banyak rugi. Tetapi karena saya mulai
piara dari anak itik yang baru menetas dan sampai dia bertelur, saya anggap itu
satu keuntungan juga bagi saya sebagai pengalaman. Kira-kira 1 Bulan saya
tinggal di Tungkop, sayapun telah letih sekali dan ingin beristirahat.
Itik-itik saya itu saya jual semua kepada T. Hanafiah abang dari T. Sulaiman.
Demikian juga semua alat-alat lain yang masih berada dipelanggahan, saya jual
semua kepada sdr Ibrahim Miga. Rencana saya mau keluar dan akan pergi ke
Jakarta. Dalam pada itu saya selalu duduk-duduk sambil tukar pikiran dengan
kawan-kawan di Kamar kerja sdr Ibrahim Miga ditoko Meuraksa (Toko Meubel)
dibahagian atas.
Menurut
perhitungan saya kira-kira 1 minggu lagi akan berangkat. Akan tetapi sebelum
tiba saatnya rupanya rupanya sudah terjadi hal yang mengejutkan. Yakni
pohon-pohon asam dipinggir jalan antara Tanjung ke Lambaro telah ditumbangkan
ke Jalan. Jelasnya pada tanggal 23 september 1953 terjadilah pemberontakan DI.
Menentang pemerintahan RI. Sebelum dimulainya pemberontakan itu, sebenarnya
segala-galanya memang sudah Nampak ada gejala lain. Waktu saya ungsikan itik
saya ke Tungkop dulu, selalu saya lihat kesibukan tentang pembentukan
Pandu-pandu Islam, pidato-pidato di Mesjid, bahkan kadang-kadang mereka
berpapasan dengan saya dijalanan. Pendeknya pada masa itu lebih banyak mereka
tonjolkan soal agama.
Barulah
saya ingat kembali tentang kedatangan Hasan Saleh 2x ketempat saya di
Peulanggahan, mungkin dia mau ajak saya turut memberontak, tetapi tidak jadi
dibicarakan, pada saat itu dari pihak pemerintahpun mulai sibuk untuk
menghadapi peristiwa itu. Orang-orang yang dicurigai mulai ditangkap.
Sebahagian besar anggota TNI yang terdiri dari putra-putra Aceh di Kutaraja dan
ditempat lain, banyak yang ditangkap. Komandan K.M.K di Kutaraja juga telah
ditangkap (waktu itu Hasbi Wahidi).
Melihat
kejadian itu, sayapun turut kecewa, jangan-jangan saya akan ditangkap pula
karena banyak juga yang dari bekas Tentara yang telah ditangkap. Karenanya
dalam suasana yang amat panas itu, sayapun pergi menjumpai Kapten Sumarhadi
selaku perwira urusan Territorial di kodam I, bersama dengan Abdullah Masry, guna
memperkenalkan diri, jangan sampai salah pengertian terhadap diri saya, saya
katakan terus terang bahwa kalau saya 100% anti mereka.
Oleh
Kapten tersebut rupanya dapat difahami mengenai keterangan saya itu. Kemudian
katanya kepada saya, kalau begitu sdr harus menolong membantu kami dalam
mengatasi pemberontakan itu. Saya bersedia, tetapi keadaan saya harus dijamin
pula, pertama saya harus diberikan senjata dan kedua tentang pembiayaan saya.
O, itu boleh saja, katanya. Dan langsung itu hari juga saya diberinya sepucuk
pestol dan pelurunya. Tentang pembiayaan, nanti bisa dihubungi saja Abdullah
Masry. Dan tugas yang diberikan pada saya itu adalah dibidang hal-hal yang
menyangkut urusan Territorial dalam daerah Aceh. Sayapun menerima sepucuk
pestol + surat keterangan dan kembali kerumah.
Kemudian
dalam beberapa hari sesudah itu Abdullah Masry ditugaskan ke Aceh Pidie di
Sigli untuk pejabat PDM disana, menggantikan PDM lama sdr Syahadat. Dan sayapun
ditugaskan ke Sigli dan kami berangkat bersama 1 Batalyon Tentara yang
komandannya Kapten Bauwadi, kami berangkat dengan sebuah kapal. Sebenarnya
desas desus akan meletusnya pemberontakan di Aceh telah santer sekali, karena
terjadinya ketegangan-ketegangan disana-sini, karena penghapusan Propinsi Aceh
dan disatukan dengan Propinsi Sumatera Utara, maka daerah Aceh, menjadi satu
Keresidenan yang dipimpin oleh Pak Danubroto sebagai Residen Koordinator dan
tinggal di Kutaraja. Dalam suasana yang demikian hangat dan tegang itu dengan
bermacam propokasi yang dilontarkan atas dirinya Pak Danubroto, maka pak
Danubrotopun terpaksa angkat kaki dari Aceh.
Penggantinya
ialah Tgk Sulaiman Daud, yang tadinya adalah Bupati Aceh Utara. Dan waktu itu
Tgk M Daud Bereueh telah kembali kekampungnya di Usi Beureeneun. Banyak
laporan-laporan yang tegas telah dikirim ke pusat (Jakarta) terutama dari
masyarakat Aceh Pidie, bahwa dalam waktu dekat akan terjadi pemberontakan di
Aceh. Akan tetapi dari pusat menganggap sepi (tidak jadi perhatian). Mungkin
disana ada oknum-oknum yang mengelabui mata pemerintahan. Kalau pusat hendak
mencek Via Instansi pemerintah sendiri ke Aceh, sudah pasti keadaannya tidak
apa-apa katanya, karena dan justru mereka sendirilah yang akan melakukan
pemberontakan itu.
Sebagai
buktinya bahwa, Tgk Sulaiman Daud Residen Koordinator pun turut serta dalam
pemberontakan itu. Dan dari Aceh Pidie sejak dari bupatinya wedananya,
camat-camatnya dan lain-lain oknum, tegasnya seluruh Instansi pemerintahan
sipil telah vacuum di Aceh Pidie dan demikian pula banyak bupati-bupati didaerah
lain yang telah turut serta dalam pemberontakan. Selama kami berada di Aceh
Pidie yaitu di Sigli waktu itu daerah yang aman hanya dalam kota Sigli saja.
Diluar kota, bahkan Pekan Pidie pun dikuasai oleh mereka. Abdullah Masry telah
mulai Aktif dalam urusan PDM dan saya turut membantunya dalam bidang pemberian
Territorial, kami tinggal disatu rumah usang dekat jembatan berhadapan dengan
kantor bupati. Kamipun siang malam memikirkan bagaimana caranya mengatasi
kekacauan itu.
Alat
Negara (Tentara) yang ditugaskan ke Sigli terjadi beberapa
pergantian-pergantian dan tiap-tiap pasukan baru itu mempunyai cara-cara
tersendiri pula, inipun kadang-kadang menimbulkan problema yang rumit yang
harus dihadapi, pada prinsipnya, untuk menumpas pemberontakan itu, telah
dikeluarkan satu buku/consepsi oleh panglima KDMA (Mayor Syamaun Gaharu) yang
namanya “Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana” tentang gagasan itu, semua orang
sudah tahu dan juga dapat baca namanya itu. Tetapi bagaimana yang sebenarnya
dapat berhasil, kalau tidak disusun secara mendetail, cara-cara pemulihan
keamanan, cara-cara bekerja oleh pihak Tentara kita yang silih bertukar-tukar
atau berganti-ganti itu. Sedang yang mereka lakukannya hanya operasi dari
tembak gerombolan. Pendeknya asal dicurigai, hantam terus. Padahal alat Negara
kita sendiri, sebenarnya belum kenal yang mana gerombolan DI/TII dan yang mana
rakyat biasa (yang bukan DI/TII)
Kalaulah
kita belum bisa memisahkan diantara Rakyat dan gerombolan, sudah tentu
menyulitkan bagi kita dalam bertindak sehari-hari. Kalau ini belum dapat
dipisahkan, maka tindakan kita akan menimbulkan pengorbanan bagi yang tidak
bersalah. Sering terjadi dalam tindakan operasi kepedalaman, kadang-kadang ada
penduduk yang ketakutan, tentu mereka lari, kalau ini dilihat oleh tentara kita
yang sedang beroperasi tadi, sudah pasti terus ditembak tanpa ampun, karena
disangkanya tentu gerombolan. Banyak terjadi bermacam-macam hal karena belum
kenal kawan dan lawan (Penduduk biasa dan Gerombolan) apalagi cara-caranya
pelaksanaan pemulihan keamanan itu belum mempunyai cara-cara tersendiri dan ini
termasuk dalam Psikological (Ilmu jiwa) karena kerukunan Instansi pemerintahan
di Aceh Pidie maka salah seorang pegawai dari kantor Bupati Pidie yaitu Pak M.
Ilyas Komin dialah yang memkoordineer urusan badan lain. Sebagai Gubernur
Sumatera Utara, ialah Pak Mr S.M Amin.
Daerah
Pidie, adalah satu-satunya daerah yang termasuk pusat kegiatan pemberontakan,
dan seluruh Pamong Praja mulai dari Bupati, wedana, Assisten wedana dari
guru-guru kepala penerangan dan lain-lain turut terlibat dalam pemberontakan
itu. Dalam pada itu datanglah meninjau ke Sigli Gubernur dan rombongan.
Diantaranya kami lihat turut dalam rombongan itu ialah T.M Ali Panglima Polem.
Rupanya kedatangan gubernur itu adalah dalam rangka pelantikan T.M Ali Panglima
Polem menjadi bupati Pidie. Sebelum gubernur datang ke Sigli, kami
masing-masing T Mohd Syah, T Sulaiman Effendi, T Sulaiman Syah telah diangkat
oleh suatu badan pemerintahan Kabupaten Pidie. Untuk menjadi wedana Sigli, wedana
Kota Bhakti dan wedana Meureudu.
Dengan
terisinya jabatan bupati itu, urusan Pemerintahan telah mulai berjalan dengan
baik dan pengisian camat-camat pun mulai disusun kembali, diantara mana-mana
camat itu yang saya masih ingat ialah : T.H Oebit, T Sulaiman, Pak Musa, T Raja
Ibrahim, T Harun, Anas Ramli, T.R Abdullah, T.M Ali. T. Abd Hamid Nyak Abid,
Pak Zainuddin, T Abubakar dan lain-lain.
Waktu itu
sebenarnya sangat sukar sekali dicari orang-orang yang mau bersedia duduk dalam
badan pemerintahan, seperti diangkat untuk jadi camat, tantangannya adalah
nyawanya. Dengan tersisanya lowongan-lowongan itu, maka secara merangkak,
pemerintahan di Kecamatan-kecamatan telah dapat berjalan, walaupun
bermacam-macam rintangan harus dihadapinya. Didaerah-daerah yang belum ada alat
Negara yang menetap disana, maka camat-camat hanya bekerja disiag hari saja
sedang pada malamnya terpaksa kembali ke Kota Sigli, kerja sama antara tentara
kepolisian dan pemerintahan sipil baik sekali. Dalam pada itu telah dibentuk
juga satu badan yang namanya Badan Keamanan kabupaten.
Guna
memisahkan rakyat yang tidak bersalah dengan yang turut memberontak, maka kami
menemui satu cara, membuat pengumuman yang meluas kedaerah yang berdekatan
dengan Kota Sigli, supaya masing-masing penduduk yang tidak turut dengan
pemberontak, hendaklah melaporkan diri ke Sigli kekantor PDM Sigli, dengan
membawa bendera putih dan berjalan dalam satu kelompok bersama-sama. Setelah
beberapa hari setelahnya pengumuman itu banyak jumlah rakyat turun ke Sigli dengan
membawa bendera putih. Sampai di Sigli mereka diterima dengan baik, kemudian
diberikan beberapa petunjuk dan diberikan surat jalan. Kemudian mereka kembali
kekampongnya masing-masing sebenarnya untuk memisahkan mereka itu agak sukar
juga, karena waktu itu hamper seluruh daerah pedalaman didesa-desa sudah
dikuasai gerombolan pemeberontak.
Karena
mereka bermukim disana, dengan sendirinya penduduk yang tinggal disitu harus
pula menurut perintah mereka. Kalau tidak tentu berbahaya bagi diri mereka. Dan
kalau kita Tanya keadaan gerombolanpun, mereka tidak berani memberikan sesuatu
keterangan. Kalau ketahuan mereka akan ditindak oleh gerombolan, bahkan
kadang-kadang sampai dibunuh. Sungguhpun demikian masih ada jalan keluar yang
akan ditempuh. Kami selalu mengadakan diskusi dengan alat Negara yang
beroperasi dan menyampaikan ide-ide yang baik sehingga hasilnya untuk
memperkecil musuh dan memperbanyak kawan.
Kalau
terjadi vuur kontak antara gerombolan dan alat Negara, kadang-kadang dari pihak
kita suka membalas begitu saja, darimana sasaran datangnya peluru. Yang penting
bagi mereka, tembakan balasan. Apakah menguntungkan atau rugi kurang
diperhitungkan. Kadang-kadang pihak gerombolan menyerang dimalam hari. Dan
pihak kitapun tanpa pikir panjang membalasnya kearah itu. Padahal habis mereka
tembak, terus lari.
Karena
kami juga bekas tentara, sudah tentu serba sedikitnya masih mengerti tentang
taktik-taktik pertempuran dan lain-lain. Oleh karenanya kami selalu pula
memberikan pandangan yang berguna kepada Alat Negara kita, umpamanya kalau ada
terjadi tembakan-tembakan dari pihak gerombolan, ini harus diselidiki
benar-benar dari arah mana datangnya letusannya.
Sebab
mereka kadang-kadang bersembunyi didalam mesjid atau surau, atau meunasah,
kemudian mereka tembak, supaya kita akan membalas kearah itu. Apa yang terjadi?
Mesjid tadi jadi tertembak, dan apa kata mereka? Nah lihat mesjidpun ditembak
oleh kafir. Dan bagi rakyatpun hal itu bertambah marah sekali. Dengan demikian
rakyat telah ditarik oleh mereka, dan secara politik kita sudah kalah. Kemudian
ada lagi yang mereka takut-takutkan rakyat, katanya kalau lihat tentara
pancasila datang, terus lari, kalau tidak nanti ditembak. Sebenarnya karena
mereka larilah, maka ditembak, sebab oleh tentara kita disangkanya mereka gerombolan.
Kalau
mereka tidak lari, tentu tidak akan ditembak, tetapi dengan cara propaganda
demikian, maka dengan sendirinya rakyat banyak dipedalaman akan terpengaruh
sekali dan bertambah anti terhadap kita. Kemudian ada satu cara lain lagi,
biasanya kalau tentara kita sedang patrol dan bertemu dengan rakyat
dipedalaman, kadang-kadang tentara kita bertanya apa ada lihat gerombolan
disini, maka oleh Rakyat dijawabnya Islam bahasa daerah Hom (artinya tidak
tahu) padahal mungkin mereka tahu. Tetapi jawaban hom itu maksudnya, jangan
dicampurkan urusan saya dengan urusan dia, berarti jangan Tanya-tanyalah, dan
cari sendiri sebab kalau mereka beri tahu, pasti mereka nanti akan dapat
siksaan dari gerombolan.
Ada cara
lain lagi yang mereka lakukan, umpannya sengaja disuruh beritahu pada rakyat,
bahwa gerombolan ada bersembunyi disatu tempat, supaya tentara datang kesitu.
Nanti kalau tentara kita datang mereka tentu sudah pergi. Dan yang beritahu
tadi tentu kena marah dari tentara kita. Hal inipun supaya rakyat bertambah
anti pada tentara pancasila.
Kadang-kadang
mereka bersembunyi didalam kawanan lembu, dan mereka tembak terhadap tentara
kita, dan membalas kearah itu, sudah tentu akan kena lembunya, sedang mereka
sudah lari. Lantas katanya pada rakyat, nah lihat, lembu-lembupun ditembak. Apa
itu bukan kapir. Itu semua adalah rencana mereka, supaya rakyat semakin jauh
dan tidak percaya pada tentara kita lagi. Pendeknya bermacam-macam cara yang
mereka lakukan dan kalau pihak kita tidak hati-hati maka rakyat banyak akan
menjadi musuh kita, secara tidak langsung. Kami mencoba memberikan beberapa
pandangan luas dalam cara menghadapi mereka itu yaitu seperti berikut :
1. Dalam
faktor pemberontakan itu, mereka lebih banyak tergantung atas bantuan rakyat.
Kalau tidak dibantu oleh rakyat, mereka tidak bisa bertahan lama, karena soal
makanan ialah pokok utama.
2. Jadi
mereka sekarang sudah menarik dan menguasai rakyat banyak menjadi kawan mereka
disamping dengan kekerasan (paksaan), ditambah lagi dengan bermacam-macam cara
menakutkan seperti yang telah diterangkan diatas tadi.
3. Bagi
mereka setiap saat dapat mengetahui dimana kita berada, berapa kekuatan kita,
pendeknya mereka dapat ketahui semua keadaan kita dengan mudah, karena mereka
suruh selidiki dengan perantaraan rakyat. Mereka telah atur sesuatunya, seperti
kode-kode tanda bahaya dan sebagainya, yang semua itu disampaikan oleh rakyat
dengan kode-kode pula.
4. Pemulihan
keamanan baru dapat berhasil baik, apabila kita dapat menarik kembali dan
menguasai pula rakyat banyak itu, supaya menjadi kawan saja. Jadi kita tidak
perlu harus langsung berhadapan gerombolan. Kita harus menarik lebih dulu
rakyat yang telah dikuasai oleh mereka. Kalau ini telah tercapai, maka dengan
mudah mereka (gerombolan) akan menyerah dengan Cuma-Cuma.
5. Dalam
operasi kita kekampong-kampong itu, kita harus lebih banyak membujuk,
memperlihatkan achlak yang baik, bawa obat-obat dan lain-lain yang dibutuhkan
rakyat. Pendeknya kita harus lebih banyak mendekatinya agar dapat kepercayaan
kembali. Dalam hal mana, kita harus hati-hati dan waspada jangan sampai masuk
perangkap. Dan yang penting sekali kita harus pandai mengambil hati rakyat,
kalau telah dapat kepercayaan dari rakyat, berarti kita telah dapat menarik
mereka untuk membantu kita.
Dengan
demikian, maka pihak gerombolan akan bertambah sulit, karena suplay makanan
akan macet dan berita-berita tentang kita pun tidak akan mereka terima lagi.
Lama kelamaan mereka akan menjauhkan diri terus ke gunung-gunung dan kalaulah
kita hanya jaga-jaga saja diperbatasan, sudah pasti mereka akan terjepit dan
jalan keluar bagi mereka hanya menyerah.
Problema
pemulihan keamanan memang ada bermacam-macam cara, tapi yang kami kemukakan itu
adalah lebih efficien dan memang harus demikian. Sebab kalau kita belum dapat
menarik rakyat untuk kawan kita, saya rasa kita harus menghadapi banyak
rintangan-rintangan, selain menghadapi gerombolan sendiri, juga harus
menghadapi rakyat banyak yang turut memusuhi kita.
Apa yang
kami kemukakan itu dari pihak alat Negara kitapun telah dapat dipahami dan
telah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan memperoleh hasil yang sukses
pula.selama bupati T.M Ali Panglima Polem di Sigli banyak pula hal-hal yang
sulit yang dapat diatasi beliau, waktu sedang putus perhubungan darat dan
economi pun dalam keadaan kacau, maka atas kebijaksanaan bupati telah pergi ke
Medan dan tiba-tiba waktu kembali telah membawa kapal Nukaha serta
bermacam-macam barang kebutuhan rakyat di Aceh Pidie.
Waktu itu
pelabuhan sigli sudah ditutup, tapi karena kapal sudah mulai datang lagi, maka
pelabuhan pun dibuka kembali dengan aktif. Dan T Bitai telah pula mendirikan
Veem. Selain itu ia adalah juga sebagai agen dari kapal tersebut. Kegiatan
kerja selama Bupati T.M Ali Panglima Polem bertugas di Sigli bertambah maju.
Kewedanaan-kewedanaan telah terisi dan dibidang lalu lintas ekonomi rakyatpun
telah mulai berjalan sedikit demi sedikit, terutama dengan adanya kapal Nukaha
secara kontinu singgah di pelabuhan Sigli.
Kemudian
bupati T.M Ali Panglima Polem dipindahkan ke Medan dan diganti oleh bupati Tgk
Usman Aziz. Dalam rangka meningkatkan pemulihan keamanan di kabupaten Pidie,
maka kami telah membuat rencana penerangan dari bergerak ke kecamatan-kecamatan
dengan satu rombongan yang terdiri dari kepala pemerintahan, kepala penerangan,
alim ulama, Dr kepala kesehatan, dari instansi militer dan kepolisian, dari
pekerjaan umum dan lain-lain lengkap semuanya.
Didalam
perjalanan, kadang-kadang rombongan kami pernah diserang oleh gerombolan, akan
tetapi dengan lindungan Allah SWT tidak ada yang korban, ditiap-tiap kecamatan
telah ditempati pos-pos alat Negara dan camat-camatpun semua telah mulai
tinggal didaerahnya masing-masing. Dengan demikian maka pemerintahan sudah
berjalan lebih luar lagi dan rakyatpun telah banyak yang sadar dan insyaf dan lebih
banyak yang sadar dan insyaf dan lebih banyak memberikan bantuan kepada
pemerintahan RI.
Kemudian
saya dipindahkan ke Meureudu karena wadana T Sulaimansyah telah ditahan oleh
alat Negara di mereudu (waktu itu batalyon Darmansyah) yang bertugas di Meureudu.
Setelah saya berada di Meureudu, datanglah Bupati dan kami bersama kepala
polisi Pak Pudilang menghubungi komandan batalyon (Darmansyah) membicarakan
tentang penahanan T Sulaimansyah, agar dapat dibebaskan kembali. Karena dia
memang bukan kesalahan berat, sedikit urusan sentiment, maka diapun dapat
dibebaskan. Setelah kami nasehati seperlunya, maka dia dipindahkan ke Kantor
Bupati Sigli.
Saya terus
diklet aseering sampai 6 bulan lamanya di Meureudu waktu itu suasana keamanan
masih terganggu. Kepala-kepala kampong dan kepala mukim, karena kesalahfahaman,
ada yang ditahan oleh alat Negara. Tetapi dengan memberikan
penjelasan-penjelasan kepada alat Negara maka mereka dapat dilepaskan kembali.
Dalam daerah kewedanaan Meureudupun kami terus bergerak dengan rombongan
Tentara dan sipil memberikan penerangan-penerangan ke pelosok-pelosok pedesaan.
Suatu
ketika, waktu kami berangkat menuju ke Jangka Buya, pihak gerombolan rupanya
sudah tahu lebih dulu dan mereka telah siap menunggu rombongan kami dipendakian
Uelee Gle. Tetapi dengan pertolongan ALLAH SWT, kebetulan saja kira-kira ± 100
meter lagi mau mendaki, auto saya jeep merah mogok. Karena itu terpaksa
rombongan berhenti. Oleh gerombolan yang telah menunggu dipegunungan itu,
disangkanya kami sengaja berhenti untuk mengadakan Linderlaag, maka diam-diam
telah menghilang dari situ. Kemudian dalam waktu ½ jam jeep saya hidup kembali
dan rombonganpun berangkat. Setelah mengadakan penerangan dan mengobati
orang-orang sakit oleh bahagia kesehatan, kami kembali ke Meureudu. Tetapi
sampai disatu bukit antara jangka Buya dengan Oelee Gle, kami ditembak oleh
gerombolan. Disitu terjadi sedikit heboh, karena kekeliruan dari pihak anggota
kepolisian yang turut rombongan pengamanan. Padahal gerombolan hanya menembak
2x untuk mengejutkan dan terus lari.
Tetapi
oleh kepolisian tadi yang berada dibagian belakang rombongan, terus saja
membalas yang bertubi-tubi tanpa turun dari kendaraan, karena tempat kejadian
itu sudah dekat dengan pos alat Negara yang berada Oelee Gle, maka merekapun
sudah siap hendak membantu. Kemudian oleh komandan keamanan dari rombongan
(tentara) memerintahkan supaya distop tindakan polisi itu, karena tindakan
tersebut salah sekali dalam taktik pertempuran. Pengejaran dilakukan ke
sawah-sawah dan ke bukit-bukit tadi, tapi gerombolan telah menghilang lebih
jauh dan keadaan telah aman kembali.
Kamipun
berangkat lagi menuju ke Meuereudu. Dari tentara Oelee Gle, kami dapat
keterangan, bahwa mereka telah menyerang gerombolan tadi malam. Jadi gerombolan
rupanya hendak membalas kembali dan menunggu rombongan kami dipendakian bukit
Oelee Gle. Karena disitu mereka gagal, maka coba peruntungan menunggu ditempat
tadi. Barulah kami ketahui keadaan sebenarnya.
Besoknya
kami berangkat lagi menuju ke kecamatan Trieng Gadeng ke Kampong Peudoek, dan
mereka yang merasa takut-takut akibat tembakan di Jangka Buya, banyak tidak
turut serta dan barisan keamananpun hanya dari tentara saja. Tetapi kendaraan
di Peudoek itu tiada gangguan apa-apa.
Demikianlah
penerangan-penerangan yang kami lakukan ke beberapa pedesaan dalam kewedanaan
Meureudu dan keadaan keamananpun semakin meningkat. Selama 6 bulan saya
didetasir, kemudian dengan resmi dipindahkan menjadi wedana Meureudu. Dalam
waktu itu, keadaan sudah berubah, karena telah diadakan perdamaian dengan
status yang terbatas harus dipatuhi oleh mereka.
Sayapun
telah agak bebas pulang balik ke Sigli, karena selama saya pindah ke Meureudu,
keluarga saya masih tinggal di Sigli. Tidak lama kemudian, sayapun dipindahkan
ke Lhokseumawe dengan kenaikan pangkat, menjadi Patih Kabupaten Aceh Utara.
Selama beberapa tahun saya bertugas di Aceh Utara kemudian saya dipindahkan
lagi ke Banda Aceh ke kantor gubernur. Dikantor gubernur saya tidak diberikan
tugas tertentu dan saya ditempatkan dalam 1 kamar dengan Abdul Wahab Dahlawy
dan Abdul Gafur. Pada waktu itu adalah dalam masa peralihan dari gubernur A.
Hasyimi kepada gubernur Nyak Adam Kamil. Kira-kira beberapa bulan dikantor
Gubernur kemudian saya dipindahkan ke kantor walikiota. Walikotanya ialah T Usman
Yakob.
Selama
dipindahkan ke Banda Aceh, saya cukup menderita rumah tidak diberikan dan saya
terpaksa menumpang dirumah adik saya Abdullah Masry di merduati. Sebenarnya
dalam rangka kepindahan saya ke banda Aceh, saya telah berhak dinaikkan satu
tingkat menjadi bupati, tetapi karena format telah tertutup, katanya, maka
dipindahkan ke Kotamadya, karena disana masih terbuka lowongan bupati.
Setelah
beberapa lama kemudian, barulah saya diusahakan ke pusat tentang kenaikan
tersebut hal mana lama juga terpendam di kementrian dalam negeri. Susulan
diteruskan beberapa kali. Tapi belum juga ada keputusan . kemudian saya kirim
surat pada anak saya HT A Mahmudy, karena dia bertugas di kementrian agama
pusat, dan dengan pengurusannya pada staf kementrian dalam negeri. Barulah
dikeluarkan surat keputusan dan dinaikkan jadi bupati (ahli tata praja).
Berhubung
walikota T Usman Yakob telah habis masa tugasnya maka ia diberhentikan dengan
hormat dari jabatan walikota dan diganti oleh saya sebagai pejabat walikota
atas penunjukan pemerintah pusat. Selama dalam jabatan tersebut, saya cukup
menderita, karena apa yang diserahterimakan kepada saya hanyalah hutang-hutang
pemerintah dan beberapa perkara yang belum dan yang dalam pengurusan pengadilan
negeri.
Dalam
memimpin pemerintahan kotamadya Banda Aceh saya tidak dapat berbuat banyak,
selain meneruskan mempersiapkan pembangunan pasar ikan dan daging di Peunayong.
Tentang kebersihan kota yang menjadi pembicaraan sehari-hari dan masyarakat
kota dan perbaikan jalan-jalan yang berlubang-lubang dalam kota, hanya dapat
dilakukan dengan timbal sulam secara darurat dari aspal Gle Genteng.
Sebenarnya
dalam periode tersebut, kotamadya sangat tertekan sekali, disebabkan ada
sedikit ketegangan antara T Usman Jakob dengan Nyak Adam Kamil. Oleh karenanya
segala bantuan dari kantor gubernur menjadi macet. Selain dari itu, tugas saya
yang prinsip sekali ialah menyusun anggota DPRD GR yang disesuaikan menurut
procedure yang sebenarnya. Setelah menyusun anggota DPRD GR dengan lengkap dari
masing-masing fraksi, yang kemudian mendapat pengesahan dari pihak atasan.
Mulailah
para anggota yang terhormat itu mengadakan sidangnya, memilih ketua dan wakil
ketua dan lain-lain hal yang diperlukan sama kelengkapan alat-alat pekerjaan
DPRD GR itu. Achirnya mulai pulalah mereka memilih calon walikota baru. Suasana
memilih calon walikota itu bukanlah seperti yang lazim berlaku, tetapi ada
mengandung suatu urusan politik yang telah ditentukan oleh pihak penguasa dan
tercatatlah 2 orang, yaitu kapten T Ibrahim dan H Jafar Hanafiah. Calon yang
kedua ini, sebenarnya hanya melengkapi saja, sebab tidak boleh calon tunggal
yang sebenarnya T Ibrahim itu adalah tunjukan dari kodam I (T Hamzah).
Waktu saya
dilantik dulu gubernur propinsi Aceh ialah Brigjen Nyak Adam Kamil. Pada siangnya
saya dilantik dan pada malamnya saya disuruh datang kerumahnya dalam urusan
dinas. Saya pernah uraikan panjang lebar tentang kesukaran-kesukaran yang saya
hadapi dan sangat perlu bantuan biaya dan lain-lain demi berjalannya program
kerja kotamadya. Oleh gubernurpun langsung katanya boleh membantu. Dulu katanya
tertahan, karena ada sedikit klep dengan T Usman yacob. Sedang saya membuat
suatu rencana kerja yang akan diajukan ke Propinsi, rupanya dengan mendadak,
yakni baru seminggu saja bertugas, tiba-tiba tanpa saya ketahui, Nyak Adam
Kamil dipindahkan berangkat Ke jawa (Untuk Sekolah) dan penggantinya sementara
diserah terimakan kepada Residen fahim Hasyimi dan Bupati Kuswandi kemudian,
untuk pejabat gubernur Aceh ditunjuk Kolonel Hasbi Wahidy, yang tadinya selaku
kepala staf kodam I.
Susunannya
atas keberangkatan Nyak Adam Kamil untuk melanjutkan sekolahnya ke Jakarta,
saya sungguh sangat sedih sekali, karena saya sudah mengharap-harap akan
mendapat bantuan yang lebih banyak selama saya menjabat walikota. Tetapi semua
itu, memang tidak dapat kita tentukan, karena segala putusan terachir adalah
dari ALLAH SWT. Sayapun bekerja seperti biasa saja menurut keadaan yang cukup
gawat apa yang ditinggalkan oleh T Usman Yacob.
Kemudian
pada sidang DPRD GR chusus untuk memilih walikota baru itu, terpilihlah T
Ibrahim menjadi walikota kotamadya Banda Aceh. Dan setelah timbang terima
dengan saya, maka sayapun dipindahkan ke kantor gubernur dan ditempatkan
dibagian Inspektorat/ pengawasan. Kemudian dalam rangka pemilihan gubernur
definitif maka terpilih pula sdr Muzakkir Walad menjadi gubernur Propinsi Aceh.
Setelah bertugas beberapa lama kemudian masa pensiunpun telah tiba, dan sayapun
dipensiunkan dengan pangkat terachir sebagai bupati (golongan IV a).
Demikianlah
uraian saya semua itu untuk menjadi kenang-kenangan bagi saya sendiri dan bagi
siapa yang membacanya.
Banda
Aceh 31 mai 1984
T.
Mohd Syah
ditulis kembali oleh popoen atjeh dari text asli bahasa aceh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar