Kamis, 14 November 2013

BAB X HIKAYAT KEHIDUPAN




KEPAHITAN HIDUP

Malam-malam begitu mencekam
Baja-baja tidak lelahnya mencari mangsa
Jiwa-jiwa tak berdosa menjadi korban
Hantu-hantu terus bergentayangan
Sosok wanita berparas jeita
Dengan buah hati kecilnya berlari tertatih-tatih
Dari kejaran hawa nafsu tak pernah merasa lelah
Karena hidup harus terus berjalan
Disebuah rumah tua kelam ia menyelamatkan diri
Menanti tangan-tangan Ilahi yang akan menolongnya
Melalui ucapan Zikir kepada Tuhan menunggu fajar tiba
Menunggu hadirnya pertolongan
Bersama mutiara hatinya dia terus berdoa dalam hati
Hingga datanglah satu sosok menyelamatkan dirinya
Dan mengembalikannya ketengah keluarganya
Ditempat-tempat Umat berdoa kehadiran Ilahi

Popoen Atjeh
05-11-2005











DOA KEBAJIKAN

Hai manusia yang berjiwa besar
Layknya seorang prajurit penumpas segala kemungkaran
Izinkanlah hati untuk berjuang
Demi negeri yang diambang kehancuran
Karena hantu-hantu jalanan menggerayangi
Demi masa yang telah terlewati oleh waktu
Berjuanglah demi satu cita-cita
Dialam pikiran perasaan cinta
Menerawang jauh kedalam sudut palung hati
Mendalami segala makna dosa
Hadirkan doa dalam setiap perjuangan
Bila jiwa-jiwa telah pergi
Kubuatkan sebuah singgasana diatas pasir agar jiwamu
Tak lagi merasakan pahitnya hidup
Pedihnya darah tertumpah jangan biarkan
Tangisan kekasih hanya jadi bulan-bulanan
Capailah cita-cita maha luhur
Dari setiap hati yang mencintai
Siramlah bunga-bunga harum ditaman penuh kasih
Dalam keridhaan hati yang suci dan bersih

Popoen Atjeh
04-10-2005










KESENDIRIAN

Putri terlahir dalam kesendirian
Berjuang untuk mendapatkan kembali kebebasan
Dalam kebingungan kau berjalan
Untuk mencari pencahayaan hati
Butir debu memenuhi tubuhmu
Parasmu dipenuhi butir pasir dilaut
Dari tiap-tiap butir tercipta bentuk-bentuk baru
Tiap tiap bentuk terjadi dari bintik-bintik
Terlukiskan wajah penuh duka
Dalam kerelaan hati dan keridhaan jiwa
Tercipta makna diri menyatu mengalun dalam ungkapan kasih
Kasih pergi meninggalkan cinta
Cinta tak mampu untuk membendung hasrat
Hasrat dalam diri ingin menggauli
Sayang dalam harga suatu cawan bunga mawar
Mawar ditaburi melati diatas pembaringan
Nan suci lagi harum kembang setaman
Dipayungi oleh luka yang menetes
Mengalir bagai air dari cawan sucimu

Popoen Atjeh
20-12-2005











DEWI MIMPI

Takdir alam mimpikan hati
Sosok dewi bergaun biru
Anggun dan bijaksana
Namun kesedihan dan tangisan mengiringi langkahnya
Airmata beruraian menghiasi parasnya
Cahaya nirmala mengitarinya
Dalam kesepian ditepian pantai
Sambil tangan menggenggam mahkota kemegahan
Bendera singgasana sang Ratu
Yang sedang terbakar api kemunafikan
Dia terus menyiraminya dengan air laut
Namun api tak pernah bisa padam
Api terus berkobar tak mau menghiraukan tangisan sang Putri
Ia terus menangis karena ketidakberdayaan
Menjaga keindahan yang ditinggalkan
Darah berceceran dari tangan sucinya
Ia terus saja merasa bersalah atas semua prahara
Ketika aku mendekatinya dia berucap
Takdir tak dapat dihindari hanya mengikuti
Bangunkan kembali hati-hati perjuangan dalam diri manusia ini
Untuk kembali memperjuangkan negeri tercinta
Titipan para pendahulu yang begitu gagahnya
Lalu akupun berlalu dari hadapan sang putri
Hinggaku tersadar dan terbangun dari alam mimpiku
Dialam sang putri Nurul Alam
Ratu dimasa lalu

Popoen Atjeh
13-02-2003




SETITIK KASIH

Kulihat kejalan kemudian kurasakan dalam urat hatiku
Getar-getar pilu tangisan dikeramaian
Kulihat roda-roda besi berputar tak tentu arah
Tak tahu lagi kemana harus melangkah
Bebek-bebek seperti hilang akal
Mondar-mandir sana sini mengganggu hati
Ada kuda ada kijang
Masing-masing mempercantik diri
Siapakah diantara mereka yang kencang larinya
Bagus bulunya, cantik warnanya
Ada satu merpati dibawakan oleh permaisuri seiring nafasku berjalan
Kulihat betapa angkuhnya permaisuri
Yang mempertontonkan merpati usang
Hanya dibalut bulu-bulu keemasan
Tikus-tikus berkeliaran mencari makan
Kucing-kucing sedang bercinta tak kenal waktu
Anjing-anjing sedang menjilati sebuah tulang yang berulat
Oh nafasku makin sesak terasa
Ternyata hembusan angin yang menerpa
Dari binatang-binatang itu membuatku kalang kabut
Mencari perlindungan hanya dengan mata ku memandang
Keramaian itu tak ingin kuingat didalam hati

Popoen Atjeh
02-10-2005








THALITA CINTA

Cinta adalah permata indah
Dalam kemurnian yang berkilauan
Dimiliki di relung hati
Jika cinta memanggilmu
Pastinya kau akan ikuti jalan-jalan yang ditunjuknya
Walaupun berliku-liku namun tak pernah kau merasa lelah
Hati adalah seekor lebah yang akan hinggap ke banyak cinta
Namun hanya cinta sejati yang dapat menghentikan langkahnya
Biduk-biduk cinta telah ditambatkan dipelabuhan terakhir kasih
Dengan aroma wewangian yang ditanamkan
Semua akan menyukai harumnya cinta
Demikianlah cinta itu yang akan berkorban
Walaupun badai datang silih berganti
Namun ia tetap satu dalam lingkaran kehidupan
Yang tak akan dapat dipisahkan oleh rasa yang tertinggal
Semua hanya mengikuti arus cinta itu
Kedalam kubah istana asmara
Yang dipenuhi oleh cawan-cawan kerinduan
Dipayungi kasih abadi

Popoen Atjeh
17 November 2007











WAKTU YANG BERLALU

Penantian hidup yang tak seberapa lamanya
Namun hujan tak turun juga
Aku tidak akan memberikan kesempatan padanya
Untuk mengungkapkan ketololan hatinya
Dalam perjalanan panjang penuh liku
Dalam setiap keremangan senja
Aku melihat tangan-tangan itu
Masih berusaha meraihku
Untuk membawaku pada
Penantian menunggu terlepasnya
Cengkeraman maut
Menenggelamkan jiwa-jiwa tak berdosa
Tanpa mengetahui apa sebabnya
Jiwanya dirampas

Popoen Atjeh
07-10-2003
















DERITAKU

Hidupku ini bagaikan terbuang
Dipakai dan ditinggalkan
Hanya materi yang kudapat tidak cinta
Ingin kucari makna hidup ini
Namun tak bisa kumenolak hasrat
Hari ini dia, besok entah siapa
Yang akan menjamahku
Suatu malam aku terlalu riang gembira
Karena sosok itu mengajakku
Ketepian kota pinggir pantai
Merasakan indahnya malam itu berdua
Sampai fajar tiba
Pagi itu kami masih berdua
Ditepian pantai
Tiba-tiba tanah bergetar
Aku merasakan bagaikan berada dalam akhir suatu masa
Tiba-tiba gulungan ombak itu datang menerpaku
Pasanganku entah kemana hilangnya
Tapi aku masih berusaha bertahan
Akan terjangan ombak-ombak itu
Satu keinginan hati paling dalam
Memohon sujud kehadirat Ilahi
Meminta diampunkan segala dosaku
Cukup sampai hari ini saja aku begini
Bersihkanlah jiwaku dan ragaku yang telah kotor
Sucikanlah kembali semuanya
Bila aku dipanggil hari ini
Kumohon maaf dari Ilahi
Ketika kusadari tak ingin kuulangi lagi dosa-dosaku
Hanya Tuhanku lah yang mampu menolongku
Dengan penuh doa kepadanya
Tuhanku telah menolongku
Menciptakan kembali hari-hari baruku yang kuingin
Tidak lagi seperti dulu bersihkan kembali jiwa yang telah kotor

Popoen Atjeh
08-10-2005
































KEREMANGAN SENJA

Suatu sore kumelihat ribuan orang berbondong-bondong
Datang ke suatu tempat
Dimana hadirnya seorang bintang gemerlap
Yang membawakan beberapa nyanyian percintaan
Hingga muda-mudi terbawa kedalam suasana
Disisi lain kota ketika malam tiba kumelihat
Anak-anak sedang mengolah suara nyanyian
Untuk memperdengarkan Ayat-ayat suci
Namun malam itu semua orang telah terlelap dengan mimpinya
Tidak ada yang mau datang
Tidak ada yang mau mendengar lagi
Suara lantunan Ayat-ayat suci
Semua sudah terlena dengan lantunan nyanyian percintaan
Hingga semua larut dalam bercinta
Mengapa semua orang tak lagi mau mendengar
Lantunan Ayat-ayat suci
Hanya merasa ingin mendengarkan
Suara musik demikian kerasnya
Sianak hilang telah kembali terbang
Kembali ketanah impian
Meninggalkan hati untuk para pemuja
Hingga kumelihat yang kuasa
Marah pada umatnya yang telah lupa pada penciptanya
Hanya memikirkan kesenangan pribadi
Hingga cengkeraman mengoyak jiwa-jiwa yang berdosa padanya
Dimanakan setitik harapan itu?

Popoen Atjeh
10-10-2005




ANEUK DARA LON SAYANG

Suasana mengguncang dalam dada
Segala amarah tak lagi keluar
Hanya perasaan dalam hati saja
Sayang sangatlah sayang
Sembilan bulan dalam kandungan ibunda
Dalam perjuangannya memberikan cahaya kehidupan
Kepada dara buah hati
Mutiara hati didalam buaian kasih sampai mengenal dunia
Ketika bunda melepas buah hati untuk menuntut ilmu
Kekota penuh harapan dan dengan perasaan haru
Keinginana agar anak menjadi orang yang terpelajar
Ketika ada rezeki selalu akan disampaikan
Mengingat buah hati jauh dimata agar tidak ada kekurangan
Sayang begitu sayang
Ketika sudah bersinar cerah pada waktunya
Anak dara tergoda kemewahan dan kesenangan
Mahkotanya terenggut oleh para pemuja kemunafikan
Sang kumbang yang hanya mau mengambil sarinya
Telah hilang semua cita-citanya
Akibat pengaruh kebusukan dunia
Hingga tidak ada lagi bunga berseri
Malang melintang dalam jagad insan
Ajing rakus mencari mangsa
Tinggalah anak dara dalam kegalauan hati
Tak sanggup `tuk hidup
Tak sanggup `tuk menerima siksaan
Terhina oleh penderitaan akibat keluguan diri
Norma-norma telah terbuang percuma
Semua yang pernah menjadi ajaran
Hanyalah tinggal sebuah batu nisan
Segalanya musnah dan tak akan bisa kembali
Hanya bisa menunggu keajaiban dari tangan-tangan kasih
Menjadikan diri tertutup selamanya

Popoen Atjeh
16-10-2005

Rabu, 13 November 2013

BAB IX MENTARI DI PAGI HARI




KARENA KITA

Kita semua terlahir
Hanya untuk menghirup udara
Dibawah sinar matahari yang sama
Dan karena kita berjalan dibawah sinar bulan yang sama
Menghirup udara yang sama
Sudah seharusnya kita semua menyembah
Pada Maha Pencipta yang sama
Karena kita semua sama
Walaupun berbeda bahasa
Walaupun berbeda ras suku bangsa
Walaupun berbeda warna kulit
Namun kita tetap sama-sama ciptaan Tuhan
Oleh karenanya hanya KepadaNya kita menyembah
Dan hanya kepada Rasulnya kita meminta pertolongan
Untuk dapat hidup didunia dengan berjuta-juta ilmu
Yang semua terdapat didalam kitab yang dianugerahi kepada Rasulnya
Dan kita hanya harus percaya kepada Allah dan Rasulnya
Sebagai utusannya
Tanpa kita perlu mengenal rasul kepalsuan
Yang hanya akan menghacurkan rasa cinta kita
Dan hanya akan mengajarkan pada
Kekafiran umat dalam kesucian ilmu
Popoen Atjeh
11-11-2007






BENDERA PUTIH

Disini bersamaku
Menangis dalam kesepian
Kuingin pergi
Kuingin tidur
Tapi aku tak pernah bisa tenang
Karena suara-suara mengerikan diluar
Senjata yang menembak membabi buta
Dan selalu membunuhi orang tanpa alasan
Aku tidak mendengar kau pergi
Aku hanya ingin tahu pikiranmu masih disini
Aku tidak bisa membantumu
Tidak ingin melukai hati temanku
Tapi ketika duniaku hilang ku tak dapat mencarinya
Semua hilang akibat perselisihan berkepanjangan
Dan pertentangan dua pihak
Yang hanya mementingkan diri sendiri
Entah sampai kapan ku harus menangis dimalam hari
Aku hanya inginkan ketenangan dalam hidupku tanpa ada
Perselisihan diantara para pemuja kejahatan
Kuingin semua berakhir dengan tenang
Damai dan tentram selamanya
Menjadi satu dalam kearifan yang kuingini

Dedicated to conflict to incompliant
Popoen Atjeh
12-11-2007







BUNGA MAWAR KENANGAN

Mawar indah ditaman tak seindah
Salam mesra yang kau berikan
Tapi dapat memaknai sebuah ungkapan hatimu
Betapa arti hadirmu sangatlah penting
Dipuji dengan segenap perhatian
Mungkin bukan waktunya untuk berucap
Akan tetapi aku selalu yakin
Betapa nilai seseorang sangat terasa
Justru ketika dia tiada lagi disini
Namun hidup haruslah tetap berjalan
Meninggalkan waktu yang telah berlalu
Hanya cinta yang bisa mengubah perasaan
Mengubah kasih yang lama terkubur dapat kembali hidup
Kehidupan penuh dengan rahasia yang terpendam
Bila emosi terus saja mengisi ruang gerak
Dan logika lama tak dipakai lagi
Terbuktikan banyak kerugian yang didapat tanpa perasaan
Bila otak dan pikiran tak lagi menyatu
Maka hanya hati yang bicara dan mulut tertutup
Kenanganmu akan cinta akan terus abadi jauh dilubuk hatiku
Walaupun dirimu tak pernah bisa kembali
Selamanya selalu bersama cintamu !!!

Dedicated to one love
Popoen Atjeh
12122005







CERMIN JIWA

Ada apa dengan perasaan
Gelisah, galau dalam hati
Terpuruk disudut kamar
Yang berbuih salju putih
Diantara tiap-tiap buih
Senantiasa tersimpan suatu portal
Kadang bersih kadang hitam dalam kegalauan
Aku mencari jatidiriku yang telah hilang
Tak tahu arah kemana akan pergi
Hanya kemarahan yang membakar
Menjadi cermin jiwa
Apakah masih sadar atau sudah mati perasaan
Atau hanya angin lalu
Yang berisik menyisik
Relung-relung pintu rumah sunyi
Ditepian telaga berwarna
Biru, merah, jingga
Dalam kegelapan
Putih, hitam, hijau
Dalam kegelapan
Kemudian coklat kehijauan
Dalam penerangan ratu cahaya
Yang akan kembali senja
Menanti esok tiba

Popoen Atjeh
23042006






CAHAYA KALBU

Kalbuku pergi meninggalkanku
Selembut awan menyelubungi
Dalam temaram senja perbukitan
Menuju kota penuh cahaya
Bertemu para bidadari
Ditanah impian Cinderella
Yang selalu menasehati, mengajarkan dan mengasuh
Anak-anak suci titipan Ilahi
Kalbuku bertanya dewi cinta
Kemanakah jalan yang harus kutempuh
Jawabnya hanya jalan cinta yang diberkati Tuhan
Berjalanlah dengan penuh cinta kasih pada sesame manusia
Sambil tak lupa berdoa kehadirat Tuhan
Semua kesenangan harus disertai rasa cinta
Kalbuku menemui Putri Ridha
Kembali bertanya kemanakah perginya kesenangan
Jawabnya kesenangan hanyalah
Sosok yang terpencil dalam kesendirian hati
Hanya kerelaan hati yang bisa meraih segala kebahagiaan
Jiwa-jiwa yang rela
Selalu dalam lindungan Tuhan
Tak pernah merasa menang atau kalah
Kalbuku kembali bertatap muka dengan putih salju
Dan bertanya bagaimanakah hati
Jawabnya jagalah hati dengan sebersih-bersihnya
Sesungguhnya hati yang putih bersih
Seputih salju mencerminkan
Jiwa yang sehat yang tak bisa
Berfikir akan suatu keburukan
Langit menaburkan salju
Memutihkan seluruh alam
Begitu juga hati yang putih
Akhirnya serentak ketiganya berkata
Dalam sebuah cinta yang murni
Terdapat kerelaan akan suatu problema nyata
Hanya hati yang putih bersihlah yang selalu bisa
Berakhlak sabar dan ikhlas menerima segala cobaan
Dalam hidup suka dan duka selalu menjadi bunga-bunga
Keindahan dalam kehidupan yang harus selalu disiram
Agar selalu tumbuh dan wanginya semerbak aroma alam
Anggunnya jiwa yang mampu berbuat kebaikan
Kalbuku memohon pamit pada ketiga putri
Dengan mengucap salam kalbuku kembali bersamaku

Popoen Atjeh
09112005























PELABUHAN TERAKHIR

Ketika berada dalam sebuah kapal
Ditengah lautan luas penuh kasih
Untuk mencari tempat berlabuh
Gulungan ombak dilautan berpacu-pacu dengan angin
Dan terbelah oleh deru mesin kapal
Ada ratusan kapal dilautan
Dengan masing-masing tujuannya
Kemudian kapal ini berlabuh disuatu kota
Dimana terlihat kemunafikan merajalela
Kearifan telah lama ditinggalkan
Kapal kembali berlayar dan berlabuh di pelabuhan kedua
Istana-istana pencakar langit
Menghiasi kekejaman terselubung para pengukir nafsu
Jutaan tangis disudut-sudut lorong-lorong kota terdengar
Dimana sikaya menginjak-injak simiskin
Kapal kembali berpesiar
Untuk berlabuh di palabuhan terakhir
Dimana kota itu telah lama mati
Tidak ada lagi keadilan yang berkuasa hanyalah militer
Dengan kekuasaan otoriternya
Rakyat kecil selalu dijadikan tumbal
Yang pada sesungguhnya pemimpinnya
Hanyalah seorang lamit rakyat jelata
Kapal kembali kelautan untuk berlayar
Tiba-tiba ombak besar menerpa
Kapal terombang-ambing tak tentu arah
Gulungan ombak tinggi menerpa
Kesana kemari hingga kapal terhenti selama beberapa hari
Hingga akhirnya berlabuh
Disebuah kota yang telah hancur oleh kemarahan sang laut
Namun dikota itu itulah aku menemukan berbagai kearifan
Cinta kasih kepada Sang Pencipta
Kota itu telah terhukum
Oleh perlakuan-perlakuan najis
Bangsat-bangsat yang hidup
Namun oleh kemarahan Ilahi
Melalui tangan-tangan laut
Semua mereka telah dimusnahkan
Aku bahagia turun dikota ini
Inilah kota pelabuhan terakhirku
Tanahku berpijak untuk tinggal dan mencari ilmu yang lebih
Agarku bisa mencapai kearifan

Popoen Atjeh
09-11-2005
























LAUTAN HATI

Hatiku tenggelam bersama air
Dikedalam laut dasar
Mencari jiwa-jiwa terbenam
Dalam ganasnya hari
Bertanya pada hati-hati yang lain
Dari jiwa-jiwa terpuruk
Hatiku bertanya…
Dimanakan adanya rasa cinta
Cinta telah lama kami buang
Karena tidak perlu dipahami
Hatiku bertanya lagi…
Dimanakan adanya kebaikan
Kebaikan hanya ada di kaki kami
Karena mereka mengemis untuk kami
Kembali hatiku bertanya…
Dimanakah adanya kesenangan
Kesenangan selalu berjalan disamping kami
Dan kami selalu menyembah padanya
Untuk terakhir kalinya hatiku bertanya lagi…
Dimanakah adanya kejahatan
Kejahatan kami simpan dalam peraduan
Otak kami telah memberikan istana untuknya
Hatiku merasakan gulungan ombak terbuang
Menyeret segala pengukir berhala kesenangan pada penderitaan
Yang tak pernah mencintai dan dicintai
Segala musnah hanya dalam satu ungkapan hati

Popoen Atjeh
19-10-2005




BERTAHAN DAN TETAP TEGAR HATI

Kala malam datang
Dan rasa lelah menyelimuti
Mata-mata terlelap
Buih-buih air laut
Dalam pantai pengasingan
Memercikkan hawa dingin
Menusuk ke raga
Kabut dari gunung
Menjuntaikan kakinya
Selembar kerudung yang menghiasi
Wajah sesosok gadis
Terdiam dalam bentangan malam
Dara suci mengalir darah dari kening bersih putih
Menetes hingga ke pipi mungil berlesung pipit
Air mata jatuh dari mata sebening kaca
Menetes hingga membasahi bibir yang berlipstic merah mawar
Jiwa merana dalam kegalauan hanya hati yang mampu berkata
Sedang mulut terkatup rapat
Angin panas bara dendam menusuk kedalam dada
Hati terpukul melihat dara jelita
Tersendiri dalam kacaunya negeri

Dedicated to Itjoet
Popoen Atjeh
07-11-2004








HATI YANG KESEPIAN

Aku terhanyut dalam sepi menyelubungi
Hanya terlihat angin dingin menerpa
Tapa mengerti segala makna
Namun kehadiranmu membuatku tegar
Menghadapi kenyataan kehidupan
Genangan air kotor menyelimuti
Meracuni segala urat sarafku
Ku tak tahu harus berbuat apa?
Semua terjadi diluar rasaku
Terima kasih
Karena kau mau menemani
Dalam kepedihan atas keterhinaan
Dari penderitaan yang berkepanjangan ini
Menunggu kabut prahara itu hilang
Tanpa ada lagi debu tersisa

Popoen Atjeh
30-02-2003















NEGERIKU TERCINTA

Kutatap pesisir pantai disana
Terduduk termenung sosok wanita kerudung hitam
Penuh luka dan duka
Kamu menatapnya tanpa perasaan
Ketika kamu hanya memikirkan kesenanganmu sendiri
Wanita itu tenggelam dalam prhara
Kamu mencoba mencari kesenangan
Tapi kamu tidak menemukannya
Bidadari itu bernyanyi
Tapi kau tak pernah tahu bahasa itu
Terus bernyanyi seperti malaikat yang tidak pernah memaafkan
Para pendosa
Disisi jalan kau lihat betapa penuh kenistaan
Pada semua kesenangan pengukir berhala nafsu
Diantara semua duka dan luka-luka itu
Kau lihatlah harapan yang tumbuh bagaikan langit
Yang tidak tertutupi awan lagi
Bangunkan kembali jiwa-jiwa yang tenggelam
Agar dapat kembali ke jalan kebenaran

Popoen Atjeh
20-09-2005